Istri Kecil CEO Prik

Istri Kecil CEO Prik
Chapter 05.


__ADS_3

"Anjingg!!"


BRAKK!!


Fay melempar mangkuk ramen di hadapannya ke arah Bara. Menatap tajam ke arah pria yang kini terlihat ketakutan di sana. Fay berdiri dan berjalan ke arah pintu rumahnya, "Keluar dari rumah gue, Cok!!" Fay bersungut-sungut dengan jari telunjuk mengarah ke mulut pintu.


Bara berdiri dan melepas jas nya yang terkena kuah ramen tadi. Bergidik jijik sembari melempar kain tersebut. Dia berjalan ke arah Fay, hendak menjelaskan pada gadis cantik tersebut.


JDUAG!!


Fay menendang perut Bara hingga jatuh tersungkur, "Elu mau ngapain?! Jangan macem-macem ama gue, dasar ASSUU!!" Fay memasang kuda-kuda hendak menendang Bara lagi.


Bara gelagapan, tidak menyangka jika gadis cilik ini ternyata sangat galak, "Aku bercanda! Ya Tuhan ... aku benar-benar bercanda. Bara tersenyum konyol sembari mengelap lantai berdebu di sampingnya, "Baby Fay--"


"Anj!! Sekali lagi elu manggil gue dengan panggilan menjijikkan seperti itu. Gue nggak segan bakal potong burung elu!"


Bara melotot takut, reflek menutup area privasinya, "Astaga!! Ja-jangan ... ini masa depan kita, Say--"


"Jancokk!!"


"I-iya, maaf, maaf ... aku salah. Ya Tuhan, aku selalu salah bicara." Bara menepuk bibirnya sendiri yang selalu saja keceplosan bicara.


Bara kembali menepuk lantai di sampingnya, "Fay ... duduk sini, Nak. Om, eh ... abang mau bicara, ini serius. Ok!" Bara mengangkat dua jarinya.


Fay merotasi bola matanya dan duduk dengan terpaksa di dekat Bara. Bara menelan ludahnya berat, dan mulai berbicara, "Apa kau bisa bela diri?" tanya Bara kemudian.


Fay menaikkan sebelah alisnya, mendekatkan wajahnya di depan wajah Bara, "Elu pengen coba? Jika cuma bikin leher elu sengklek, keknya bukan hal sulit bagi gue."



Bara menggeleng brutal, dia masih ingin hidup seribu tahun lagi ngomong-ngomong. Bara kembali membahas tentang pekerjaan yang harus Fay lakukan.

__ADS_1


"Tugasmu hanya mengawasi putriku, dia menjadi bahan bulyan di sekolahnya."


Fay reflek menarik sudut bibirnya ke atas, apa dia tidak salah dengar? Ok, baiklah .. Fay sedikit tertarik dengan pembahasan satu ini. Bara menceritakan panjang lebar tentang putrinya yang tentunya itu sangat lucu di pendengaran Fay, semua yang diceritakan Bara sangat berbanding terbalik. Kasihan sekali pria mesum ini, yang sepertinya selalu ditipu oleh putri kesayangannya.


"Berapa gaji gue?" tanya Fay, karena ini merupakan poin terpenting.


Bara mengambil kertas cek dari dalam dompetnya dan menuliskan nominal di atas kertas tersebut, "Sepuluh juta dalam seminggu."


Bola mata Fay berbinar, dengan cepat dia merampas kertas cek tersebut dari tangan bara. Namun bara mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Eitss! Ada persyaratan yang harus kamu lakukan, Baby Fay." Bara berlari keluar dari rumah Fay mengambil sesuatu lalu kembali lagi.


"Ini." Bara memberikan map berisikan perjanjian kontrak kerja kepada Fay.


Fay menerimanya dan membaca isi surat perjanjian tersebut. Beberapa detik kemudian bola matanya melebar, "Brengsek! Kenapa gue harus tinggal ama elu?! Kagak! Gue kagak sudi!" Fay melempar kertas tersebut ke arah Bara dan kemudian bersedekap dada sembari membuang muka.


"Fay ... aku jarang di rumah, anakku sendirian. Aku ingin kau menemaninya, kalian bisa berangkat sekolah bersama, mungkin anakku akan bahagia jika memiliki teman gadis sepertimu apalagi kalian satu kelas bukan?" Bara berucap lembut, berusaha meyakinkan Fay.


"Hm," Fay mengangguk setuju dengan persyaratan yang diberikan Bara.


Suasana mendadak hening karena tidak ada pembicaraan. Fay pun juga merasa risih karena Bara terus saja menatap wajahnya.


"Udah malem, pulang gih! Gue ngantuk mo tidur." ucap Fay, kali ini dengan sedikit kelembutan.


Bara tersenyum lebar, jantungnya semakin meletup tidak karuan. Ini kali pertama Fay berucap lembut menurut dirinya, ingin sekali Bara memeluk Fay saat ini juga. Baru saja Bara merentangkan kedua tangannya, Fay sudah terlebih dahulu mengangkat kepalan tangannya ke arah pria tersebut.


Bara tertawa hambar dengan kedua tangan terangkat, memohon ampun.


"Ok .. ok, aku pulang." kekehnya, perlahan berdiri dan---


Cupp!!!

__ADS_1


Satu kecupan lolos di pipi Fay.


"JANCOKK!!! ASSUU!!" Fay berdiri dan siap menendang pantat Bara. Namun Bara terlebih dahulu berlari seperti seekor kucing ketakutan.


"MAAFKAN AKU!!! AKU MENCINTAIMU, BABY FAY!!" Bara melayangkan flying kiss nya ke arah Fay sembari masuk ke dalam mobilnya.


Selepas kepergian Bara, Fay mengatubkan bibirnya rapat. Meraba pipinya bekas kecupan yang diberikan pria prik tadi. Rasa itu masih begitu melekat, kumis tipis seperti bulu landak yang menancap di daging pipi mulusnya. Sontak mata Fay melebar saat menyadari semuanya. Dengan cepat dia menggosok pipinya menggunakan telapak tangannya.


"Sial! Sial! Sial! Dasar pria gila! Kenapa dia mencium pipiku?! Astaga!!" geli Fay sebelum kemudian memilih untuk tidur.


Baru saja dia menginjakkan kaki di atas kasur, ponselnya berdering dengan malas Fay mengangkat panggilan telepon dari nomor baru di layar ponselnya. Mengira jika itu panggilan dari Bara.


"Ada apalagi, hah?! Kau ingin mati--" ucapan Fay terhenti saat sosok yang menghubunginya bicara.


"Datang ke tempat XXX, ada tugas untukmu."


Fay terpaku, tanpa membuang waktu dia segera bersiap. Menyambar hody hitamnya dan segera pergi ke tempat yang diperintahkan sosok misterius tersebut.



Fay segera menuju ke suatu tempat. Yah, sebuah taman bermain kosong yang terlihat ditumbuhi banyak rumput liar di sana. Dia menelisik ke segala arah menunggu kedatangan seseorang.


Tak lama sosok yang Fay tunggu pun tiba. seorang pria dengan berpakaian serba hitam, menghampiri Fay lalu memberikan sebuah amplop untuknya. Fay menerimanya lalu kembali pulang.


Sesampainya di rumah, Fay membuka isi amplop tersebut. Sebuah foto seorang wanita dewasa. Tertuliskan di belakang foto tersebut. "Dia target yang sesungguhnya."



Fay menggertakkan gigi-giginya, meremat erat foto yang ada di telapak tangannya. Kedua matanya terasa memanas, dan siap mengalirkan air mata.


"Kau harus membayar semuanya!! Kau harus merasakan apa yang sudah aku rasakan! Keluargamu harus hancur!!! Manusia biadab!!! Bajingann!!!" Fay menangis sesenggukan, memukul lantai di bawahnya sekuat tenaga. Melampiaskan rasa sakit yang selalu ia rasakan beberapa tahun belakangan. Tanpa peduli jika punggung jemarinya sudah terluka dan darah berceceran di atas lantainya.

__ADS_1


Sampai tengah malam Fay menangis hingga tertidur karena kelelahan.


__ADS_2