Istri Kecil CEO Prik

Istri Kecil CEO Prik
Chapter 06.


__ADS_3

Tok ... Tok ...


Fay membuka kedua matanya saat mendengar bunyi ketukan pintu, kelopak matanya menyipit terkena cahaya matahari yang menerobos masuk lewat sela-sela jendela rusaknya. Kemudian melirik ke arah samping dan melihat jam weker sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi.


Fay mendudukkan tubuhnya, kepalanya terasa pusing. Mungkin efek terlalu lama menangis semalam.


"Shhh ..." Dia mendesis saat merasa tangannya kebas, luka di punggung telapak tangannya masih terlihat basah. Dengan malas dia berdiri, melangkah lunglai menuju ke arah pintu.


Hah! Fay sampai lupa jika hari ini adalah hari dimana dirinya mulai bekerja dengan Bara. Yang artinya dia harus tinggal bersama pria tersebut.


"Kau baru bangun?" tanya Bara yang kini ikut mengekor dibelakang Fay.


"Hm." gumam Fay dengan malasnya, sembari menuang air minum untuk ia minum sendiri.


Bara sedikit risau dengan kediaman Fay yang terkesan sangat kotor terlebih lantai rumah yang--


"Fay ... itu darah apa?" tanya Bara saat melihat bercak darah yang sudah mengering di atas lantai dekat kasur Fay.


Fay menoleh ke arah bercak darah yang dimaksud Bara. Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada pria aneh ini.


"Oh, gue lagi dapet." alasannya.


Bara bergidik ngeri, dengan bodohnya dia membungkuk dan melihat ke arah bagian pantat Fay.


"JANCOKK!! Matamu!!" Fay hampir saja mengguyur kepala Bara menggunakan air minum yang ia pegang.


Dengan cepat Bara mundur sembari menggaruk belakang kepalanya, "Aku hanya ingin melihat, celanamu tembus apa tidak."


"Astaga!! Kenapa manusia gila seperti dia idup di dunia ini, Ya Tuhan!!" geram Fay, mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


Fay beranjak menuju ke arah lemari reot tanpa pintu di sebelahnya, mengambil beberapa helai baju usang dan memasukkannya ke dalam ransel. Karena memang baju-baju gadis itu bisa dihitung dengan jari. Bara ikut membantu mengemasi baju Fay, dia terkikik ketika menemukan sesuatu.


CD sarang laba-laba berwarna merah. Bara mengangkat kain tipis tersebut di depan wajahnya.


"Wah ... ini sangat mirip milik putriku." serunya, lalu kembali mengangkat kain berbentuk tutup kerang senada dengan CD tersebut, "ini juga!! Tapi lebih besar milikmu!"


Fay terkejut dan segera merampas harta berharga miliknya. "Woeee!!! Dasar pria mesum!! Bisa nggak sih sebentar aja elu diem dan jangan buat kepala gue terasa mau pecah?!"


Bara cemberut lalu duduk bersila di atas kasur Fay, dia takut mendengar teriakan bocah cantik itu. Terkadang Bara berpikir, kenapa dia selalu salah di mata Fay? Woelahh! Sadarlah tuan, sifatmu terlalu prik dan sulit dijelaskan dengan akal sehat.


Fay menggelengkan kepalanya frustasi, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti hidup satu atap dengan pria itu? Semoga saja Fay tidak gila dadakan.


Bara tanpa sengaja menatap ke arah punggung jemari Fay yang terlihat terdapat banyak luka. Dengan cepat dia berdiri dan meraih tangan gadis tersebut.


"Fay ... kenapa jarimu terluka?! Apa ada yang menyakitimu lagi?"


Fay meraih tas ranselnya dan berjalan mendahului Bara. Bara hanya bungkam dan berjalan mengekor di belakang Fay.


"Fay, pintu rumahmu tidak kau kunci?"


Fay berhenti dan menengok ke arah Bara dengan tatapan sinisnya, "Nggak bakal ada yang nyuri, rumah gue kagak ada barang berharganya!"


Bara mengangguk dan kembali mengajak Fay menuju ke arah mobilnya. Mereka pun pergi menuju kediaman Bara. Fay menatap sedih rumah reotnya dari kejauhan. Meski rumah itu tidak layak pakai setidaknya dia merasa nyaman tinggal di sana sendirian.


Satu jam kemudian mereka sampai di kediaman Bara. Rumah yang begitu besar dan megah, membuat Fay sedikit tercengang namun dengan cepat dia kembali memasang wajah datarnya. Bara membantu Fay membawa tas ranselnya, masuk ke dalam rumah megah tersebut.


"Ini kamarmu, jika tidak suka kau boleh pindah ke kamar atas." ujar Bara.


Fay menggeleng pelan, kamar yang diberikan Bara jauh lebih besar dua kali lipat dari rumahnya. Namun tetap saja dia merasa asing dan tidak nyaman. Fay terbiasa hidup sendirian dan sekarang harus tinggal dengan orang asing.

__ADS_1


"Fay, aku akan memanggil Serly, jika kau sudah selesai merapikan bajumu datang ke ruang tamu, ok."


Fay mengangguk sebagai jawaban, dia segera merapikan baju-bajunya. Lalu menuruti permintaan Bara, di tengah perjalanan dia menatap foto keluarga Bara yang terpasang di dinding. Tersungging senyuman sinis dari bibir Fay.


"Ck, Asuu!!" gumamnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tamu. Disana sudah ada Bara dan Serly, Serly terlihat begitu terkejut dengan keberadaan Fay.


"Pa!! dia--" Serly menunjuk ke arah Fay.


Fay hanya santai berjalan menuju ke arah mereka, dengan kedua tangan tersilang di depan dada. Fay mendudukkan tubuhnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah syok Serly.


"Ada apa? Bukankah dia temanmu? Mulai sekarang dia yang akan menjadi pengawalmu di sekolah." jelas Bara.


Serly terlihat tidak suka dengan ucapan sang ayah namun dengan cepat gadis itu memasang wajah imutnya dan memeluk tubuh Bara, "Em apapun yang Papa lakukan semua demi kebaikanku."


Fay berdecak mual melihat interaksi menjijikkan di hadapannya, "Dasar medusa." cibirnya.


Bara mendelik tajam ke arah Fay, dia tidak suka mendengar cibiran yang keluar dari bibir gadis di hadapannya itu.


"Jaga ucapanmu! Kau tidak boleh bicara kurang ajar dengan putriku!"


Fay mengangguk malas, "Iya, Tuan." ucapnya penuh penekanan.


Serly berseringai, di dalam rumah ini tidak ada yang bisa menentang dirinya. Terutama gadis gembel yang baru saja masuk ke dalam rumahnya ini.


"Putriku sudah sangat menderita, dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, dan dia harus menerima perlakuan kasar dari teman-temannya." Bara mengecup pucuk kepala Serly penuh kasih sayang.


Fay menunduk, sembari menyembunyikan kepalan tangannya di bawah meja.


"Manusia seperti kalian tidak layak hidup bahagia di dunia ini."

__ADS_1


__ADS_2