
Tubuh Fay hampir saja terjengkang ke belakang jika saja Bara tidak segera meraih pinggangnya, menariknya hingga tubuh mereka tertempel tanpa ada jarak.
GLEG!!
Bara menelan ludahnya berat saat merasakan tubuh Fay menempel dengan tubuhnya. Dan juga tato bunga mawar yang tergambar di bagian perut Fay yang hanya mengenakan baju crop membuat Bara semakin tertarik. So sexy, batin Bara.
Fay segera mendorong tubuh Bara dan menegakkan tubuhnya dengan perasaan canggung.
"Ngapain elo ke rumah gue?!" sarkas Fay.
"Tentu saja bertemu denganmu."
"Ck, taii!" Fay hendak menutup pintu reotnya namun Bara dengan cepat menahan daun pintu tersebut.
Fay membuka pintunya dan bersedekap dada, menggerakkan dagunya meminta Bara untuk melanjutkan ucapannya lagi.
Bara menampilkan senyuman terbaiknya dan kembali berucap dengan cepat sebelum Fay kembali menutup pintu rumahnya, "Aku punya pekerjaan untukmu."
"Gue nggak butuh!" Fay kembali menutup pintunya.
"Aku akan memberikan gaji besar untukmu!" Teriak Bara.
Fay membuka pintunya lagi dan menatap datar wajah Bara yang masih senantiasa tersenyum cerah.
"Gue nggak butuh, suu!!"
BLAMM!!
Fay membanting pintu rumahnya dengan kasar hingga daun pintu tersebut bergetar. Bara segera menahan dari luar agar papan reot itu tidak terlepas. Lalu mundur perlahan, dia kembali tersenyum bodoh sembari memegang kedua pipinya.
"Yaoloh .. yaoloh .. yaoloh .. apa aku bermimpi? Dia sangat menggemaskan!!!"
Bara lari di tempat dengan kedua tangan memegang pipinya sendiri.
Fay membuka pintu rumahnya lagi untuk kesekian kali, menatap geli ke arah Bara. "Elu kek jamet!"
Bara tak peduli dia berlari mendekat ke arah Fay dan memberikan kartu namanya. Fay menerima kertas kecil tersebut dan menatap datar sosok pria aneh di hadapannya.
"Fay ..."
Bara memainkan kedua mata genitnya. Membuat Fay bergidik sembari mengelus tengkuknya yang terasa meremang.
"Matamu cacingan, Cok!!" Lalu kembali menutup pintunya lagi.
Bara tersenyum sendiri, memegang dadanya yang terasa berdentum bak gunung mau meletus. Dia sangat senang menatap rumah reot Fay, sampah berserakan di mana-mana. Rumput memanjang di segala penjuru halaman, pot bunga yang terjungkal bekas cekeran ayam dan jangan lupakan bau semerbak khas aroma taiik kucing yang entah dimana keberadaannya. Bagi Bara itu adalah surga, pemandangan surgawi yang menyimpan sosok bidadari cantik di dalamnya. Katakanlah jika mata dan batin Bara benar-benar piccek!
__ADS_1
Bara memutuskan untuk pulang, dia sangat senang karena sudah menemukan tempat tinggal Fay dan melihat wajah cantiknya. Memang benar Fay memiliki wajah cantik sekaligus garang, tetapi hal itulah yang membuat seorang CEO seperti Bara mampu tergila-gila. Memang agak lain wanita idaman CEO yang satu ini.
.
.
Keesokan harinya, Fay baru saja bangun dan mulai bersiap-siap pergi ke sekolah seperti biasa. Tak lupa dia membuang sampah bekas makan malamnya terlebih dahulu. Baru saja membuka pintu, ia sudah dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang kini sedang berdiri di depan pintu dengan seonggok bahan makanan dipelukannya.
"Selamat pagi, kucing nakal."
Fay mengangkat sampah ditangan kanannya, siap melempar ke arah sosok pria yang tak lain adalah Bara.
"Fay ... bersikaplah manis sedikit pada pria tampan ini." melas Bara.
BRAKK!!
Fay melempar kantong sampah sembarangan, lalu masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia belum mandi dan sudah disambut oleh senyuman pria aneh itu. Pagi Fay yang abstrak semakin hancur dengan kedatangan Bara. Bara segera masuk ke rumah Fay, dan menuju ke arah dapur.
"Kau belum masak sarapan?" tanyanya sembari melihat meja makan yang masih kosong.
"Kamu nanya?" Astaga!! sepertinya Fay jadi korban si rambut cepmek.
"Fay ..." Bara memasang wajah melas, sembari menumpukan dagunya dengan kedua lengan. Menatap sedih ke arah gadis di hadapannya. Fay selalu saja mengabaikan dirinya, tak bisakah dia tersenyum sedikit saja untuk Bara?
Bara menangkup kedua pipinya dengan mulut terbuka dan bola mata melotot. "Kau tidak pernah sarapan? Bagaimana jika kamu sakit? Mulai sekarang, aku yang akan memasakkan makanan untukmu." Bara bergegas berdiri dan mulai menyiapkan bahan makanan yang ia bawa.
Sedang Fay duduk santai melihat apa yang akan pria aneh itu lakukan di pantry dapurnya.
"Elu bisa masak?" tanya Fay yang merasa tidak yakin.
Bara membalik badan dan tersenyum bodoh. Memperlihatkan layar ponselnya yang tertera Vidio tutorial memasak, "Aku juga sedang berusaha."
Fay mendengus kesal, ternyata pria itu benar-benar bodoh. Fay memutuskan untuk mandi membiarkan Bara sibuk dengan peralatan dapur.
Beberapa menit kemudian, Fay sudah siap dan menuju ke arah dapur. Sedikit kasihan melihat Bara terjengit kesakitan, mungkin pria aneh itu terkena panci panas.
"Elu belum kelar?" tanya Fay.
Bara dengan cepat menyajikan masakan ke atas meja, "Sarapan dulu, Sayang."
Fay mendelik tajam, dia benar-benar tidak suka dengan panggilan menjijikkan itu. Bara yang mengerti segera terkekeh, "Maaf, aku selalu terbiasa memanggil putriku dengan sebutan sayang."
Fay jadi penasaran dengan anak pria di hadapannya ini. Siapa dia? Haruskah Fay bertanya?
__ADS_1
Bara menyajikan makanan ke dalam piring dan memberikannya kepada Fay, "Apa kau berteman baik dengan putriku? Dia sekelas denganmu. Dia anak yang sangat baik, aku sangat menyayanginya."
"Siapa nama anak elu?"
"Serly, kau pasti mengenalnya." seru Bara dengan wajah antusiasnya.
Fay terdiam dengan lirikan mata tajam. Namun enggan untuk menjawab ucapan Bara. Dia mencoba memakan masakan yang baru saja dibuat Bara, menyuapkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya dan---
"Ummpphh!!" Fay meraih tisu dan mengeluarkan makanan yang baru masuk ke dalam mulutnya, "brengsek!! Elu mau ngeracunin gue?! Pergi dari rumah gue sekarang juga!!" amuk Fay.
Bara kebingungan dia mencoba makanan yang ada di hadapannya, sontak kedua matanya membola lebar. Pantas saja Fay marah, ternyata Bara salah memasukkan bumbu. Dia pikir tadi yang ia masukkan bumbu nasi goreng instan ternyata bubuk merica. Bara berlari keluar dari rumah Fay.
JDUAGG!!!
"Astaga!! Fay ... tega sekali melempar kepala calon suamimu dengan baskom!" Bara mengelus kepalanya yang baru saja terkena lemparan baskom oleh Fay.
"Anjinggg!!! Pagi-pagi elu udah buat onar di rumah gue!! Pergi Cok!!" Fay melepaskan sepatunya siap melempar ke arah Bara. Bara segera masuk ke dalam mobil dan menampilkan senyuman terbaiknya.
"Fayy ... I love you!!"
Fay berpura-pura seperti hendak muntah mendengar ucapan Bara. Dia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di punggung pergelangan tangannya. Sial! Ternyata dia sudah telat ke sekolah gara-gara ulah Bara. Fay memutuskan untuk berganti baju dan pergi ke tempat kerjanya.
Fay harus melunasi pembayaran sekolah yang sudah menunggak beberapa bulan jika ingin melanjutkan sekolah. Setidaknya dia bisa mendapatkan ijazah SMP, agar bisa bekerja menjadi TKI ke Korea suatu saat nanti. Hah, orang seperti Fay harus jadi apa jika tidak bekerja menjadi babu. Kecuali ada CEO somplak yang datang dan mempersunting dirinya menjadi istri.
Tok ... Tok ...
Fay baru saja berganti baju, lalu berlari menuju ke arah pintu rumahnya.
PLAKKK!!
Fay tersungkur karena tamparan kasar dari pria yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Bahkan sudut bibirnya sampai mengeluarkan darah segar, Fay bangun dan menatap tajam sosok pria yang baru saja menamparnya.
"Jancokk!! Cuih!!" Fay meludah ke arah wajah pria di hadapannya.
"Gadis BRENGSEKK!!!"
BRAKK!!!
Tubuh Fay terhempas menabrak pintu rumahnya.
"Kapan kau akan melunasi hutang orang tuamu! Hah?!!"
"Mata elu picekk, hah!! Gue nggak punya duit, gue harus bayar pakek apa, cokk??!" frustasi Fay, air mata sudah mengalir di kedua pelupuk matanya. Ingin sekali dia berlari dan menenggelamkan dirinya ke dalam lautan. Sungguh, penderitaan yang Fay alami benar-benar memuakkan. Dia harus mendapatkan hinaan setiap hari. Fay lelah, mental dan fisiknya benar-benar dipermainkan oleh takdir.
"Kami berikan waktu satu bulan lagi, jika kau tidak bisa membayar hutangmu! Maka kau harus bersiap menjadi istri simpanan bos kami!" Para penagih hutang itu pergi meninggalkan Fay.
"Brengsek! Sialan!!! Anjingg!!" Fay mengumpat di sela isakan tangisnya.
__ADS_1