
"Ningsih nama ku,aku adalah ibu dari 2 anak perempuan,keseharian ku yaitu menjadi buruh cuci,dan pekerjaan apa saja yang ada asal kan halal yg bisa untuk menyambung sejengkal perut kami sekeluarga.Suamiku pekerja serabutan meskipun begitu aku masih bersyukur setidaknya aku masih mempunyai sandaran nyaman saat lelah walau terkadang suamiku harus menganggur dalam waktu yang lama namun aku percaya Tuhan akan selalu membantu hambanya yang mau berusaha"
"Bu.. sepatu kakak sudah menganga di bagian depan" ucap Asifa anak sulung ku yang kini memasuki kelas 3 sekolah dasar.
Aku menghela nafas dalam, jangankan membeli sepatu untuk makan hari ini cuma tersisa secangkir beras dan tak akan cukup untuk sekedar mengganjal perut kami hari ini.
"Ya,nanti ibu beli kan yang baru jika sudah ada uang nya ya kak." ucap ku untuk membesarkan hatinya dan entah keberapa kalinya kalimat ini terus terusan menjadi andalan ku tanpa bisa mewujudkan nya.
"Sementara pakai it dulu ya kakak! ini sarapan kamu habis kan". sembari menyodorkan ubi rebus ke hadapan nya,kebetulan ada beberapa ubi di kasih sama tetangga yg mempunyai ladang yang tak jauh dari rumah kami.
Beruntung rumah yang kami tempati ini adalah rumah peninggalan orang tua ku dulu jadi tak perlu memikirkan biaya sewa lagi.
Setelah si sulung pergi bergegas aku bangun kan si bungsu ku yang masih terlelap karena aku akan keliling mencari cucian yang akan menjadi harapan untuk aku mendapatkan uang, sedang kan suami ku Mas Agus sudah pergi pagi - pagi sekali ke pasar untuk menjadi kuli panggul.
"Assalamualaikum bu Tini.. ada cucian tidak bu hari ini? "ucapku.
__ADS_1
"Waalaikum salam..,maaf ningsih sekarang saya tidak mengambil upah mencuci lagi.Alhamdulillah saya baru beli mesin cuci kemarin.ujar nya.
" Oh begitu ya bu,y sudah gak papa bu, saya duluan y bu, mari bu..!! "
"Ya Ningsih.. maaf ya"
Aku terus berjalan,sambil menggenggam erat putri ku aisyah yang berusia 5 tahun dengan perasaan bimbang, karena sudah ada 3 rumah sebelum bu Tini yang kami datangin yang menolak dengan halus jasa ku untuk mencuci baju mereka,aku bingung bagaimana caranya aku mendapatkan pekerjaan biar dapur rumah ku tetap mengepul walau seadanya.
Aku terus berjalan,dan dari jauh aku melihat ada tumpukan barang-barang bekas di depan sebuah gudang,tanpa pikir panjang bergegas aku memunguti sampah-sampah yang bisa laku di loak atau pengepul barang bekas dan untung nya ada goni juga yang bisa aku pakai untuk mengangkat semua nya.
Malam hari, semua berkumpul melepas penat di dalam rumah sederhana ini.Kami makan bersama menikmati lauk seadanya,meski hanya tempe dan sayur bayam tidak mengurangi rasa syukur di hati kami.
Setelah selesai makan, kami berkumpul di ruang keluarga yang merangkap sebagai ruang tamu dan ruang makan, dengan tv tabung yang sudah usang namun masih bagus gambarnya.
"Ning, pijat kan badan ku sakit semua "keluh nya
__ADS_1
"Yo mas sini biar tak pijet".
"Badan ku ini sakit semua,aku tak bisa jadi kuli panggul lagi,sudah it pendapatan nya juga kecil,besok aku d rumah aja, nunggu panggilan kerja aja dari paijo mandor di tempat ku bekerja dulu." sambil meringis dia berbicara kepada ku .
"Syukuri to pak e.. jangan mengeluh,mudah-mudahan besok ada kerjaan lebih bagus dari ini".Sambung ku.
"shhh.. hh kamu sih enak ngomong nya,lah badan ku yang ngerasain,udah hampir copot ini semua badan ku, linu rasanya".
"sama to pak,itu barang-barang bekas yang di depan ya aku sendirian yang angkat.Nama nya kerja semua ya capek to pak."
"Jangan sama kan itu toh, pokoe besok aku d rumah,badan ku masih linu" balas nya sewot
"Ya sudah pak istirahat aja, biar besok pulih"
ujar ku tak mau memperpanjang
__ADS_1
Mas Agus memang seperti itu setiap pulang pasti mengeluh,dan keesokannya pasti dia akan berdiam di rumah tanpa berusaha lebih.
Aku malas ribut,biar lah selagi aku mampu untuk bekerja biar lah yang penting rumah tangga ku jauh dari pertengkaran.