
Seperti biasa rutinitas ku setiap pagi menyuci, menyiapkan sarapan,dan beberes tak pernah absen ku kerjakan sebelum pergi mencari sesuap nasi d luar sana.
Rencana nya aku ingin lanjut mencari barang bekas, kebetulan hari ini si bungsu tidak ku ajak, karena ada Mas Agus d rumah jadi aku agak leluasa bergerak mencari barang bekas.
"Kamu mau pergi sekarang ?"ucap mas Agus suami ku.
"Ya, mas keburu siang nanti takutnya tak ada lagi barang bekas yang bisa ku cari".Ujar ku.
"Ya sudah,tapi aku minta uang dulu,mulut ku rasa hambar karena tak merokok".
Aku hanya bisa menghela nafas sembari memberikan uang lima ribu rupiah untuk dia membeli rokok.Memang dari dulu sebelum kami menikah pun dia memang sudah perokok aktif sampai sekarang.
"Cuma lima ribu ning? ckkkk pelit sekali kamu".ucap nya.
"Cuma itu sisa uang semalam,kalau mau lebih kerja makanya". Ucap ku kesal dan berlalu pergi tanpa mendengar jawaban dari dia yang sudah pasti menyakitkan hati.
__ADS_1
Sebenarnya sewaktu kami menikah keluarga besar ku sempat tak merestui,namun aku terus meyakinkan kedua orangtua ku bahwa memang dia lelaki yang layak untuk ku.
Dulu, sebelum menikah dengan ku, dia buruh pabrik namun waktu anak pertama kami berusia 1 tahun dia di PHK dari pabrik tempat nya bekerja,dan sampai sekarang belum ada pekerjaan tetap.
Matahari mulai tinggi aku memutuskan untuk pulang ke rumah,barang bekas yang ku kumpulkan juga sudah lumayan banyak,tinggal nanti di gabung kan sama barang bekas yang semalam dan d jual ke pengepul barang bekas.
Sesampainya di rumah,ku letak kan barang bekas yang tadi ku kumpulkan kepojokan agar tak menghalangi orang jalan.
"Assalamualaikum... ".Aku mengucapkan salam tetapi tidak ada yang menyahu.
Lalu aku masuk ke kamar,ternyata mas agus sedang tertidur pulas memeluk guling,sedikit kesal ku rasa,di saat istri nya bergelut di tengah terik matahari,mencari sesuap nasi untuk memenuhi kebutuhan sejengkal perut nya,dia malah tertidur pulas.
Ku hembus kan napas perlahan untuk mengurangi sedikit kekesalan di hati ku,namun tiba-tiba terdengar tangisan anak ku dari luar rumah,bergegas aku berlari mencarinya.
"Kenapa aisyah menangis?".Ku peluk tubuh mungil nya agar dia berhenti menangis.
__ADS_1
"Kenapa asyifa adik mu menangis? " Ucap ku.
"Anak-anak tetangga kita disana itu lagi main ,Aisyah tak boleh main bersama mereka terus adek d dorong sama salah satu dari mereka dan adek di katain anak miskin".Adu sang kakak..
"Mereka juga sengaja,memamerkan jajanan nya dan mengolok-ngolok agar adek menangis".Sambung nya.
Mendengar itu hati ku teriris,luka tapi tak berdarah nyeri terasa melihat anak ku di perlakukan begini.
"Ya sudah,jangan menangis sayang,nanti kita beli ya,tapi bantuin mama dulu membawa barang-barang bekas ini ke pengepul biar kita jual.Setelah itu kita beli jajan yang adek dan kakak mau,Ok!".ucap ku.
" Ok ma!!!".. jawab mereka serempak.
Kami bersama membawa barang-barang bekas yang terkumpul untuk d tukar kan dengan sejumlah uang,setelah itu ku belikan mereka ice cream seharga tiga ribu rupiah yang mereka inginkan.
Melihat mereka tersenyum ada sedikit rasa bahagia bercampur haru,hanya untuk es krim seharga itu aku baru mampu membeli kan nya sekarang.
__ADS_1
Mulai sekarang,aku harus berusaha lebih keras untuk membahagiakan mereka,buah hati ku,harta satu-satu nya yang ku miliki,apa pun caranya,walau badai akan ku tempuh asal senyum itu tak kan pudar.