Istriku Cintaku

Istriku Cintaku
Episode 9


__ADS_3

HAPPY READING..


BUDAYAKAN VOTE DAN LIKE SEBELUM BACA. DUKUNG AUTHOR .. GRATIS KOK... đŸ€—đŸ€—


__________________________________



Setelah kejadian di depan gedung apartemenya,Evelyn kembali sibuk di kantornya. Bahkan Russel tidak lagi kekantornya seperti waktu itu,karena mereka sudah sepakat jika bukan keperluan pernikahan,mereka tidak akan bertemu.


Bahkan Nancy dan Rosaline gemas dengan kedua calon mempelai yang akan menikah empat hari lagi,tapi mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Rosaline sudah mengingatkan Russel untuk mengurangi pekerjaan nya dan mulai membahas pernikahan nya. Tapi,putranya yang sangat tampan itu hanya melimpahkan semuanya pada Mommynya ini.


Sedangkan Nancy juga sudah mengatakan hal yang sama,tapi respon Evelyn hanya diam dengan wajah datar. Nancy tahu jika putrinya itu sangat kecewa denganya dan juga suaminya. Tapi,ini semua demi kebaikan Evelyn sendiri. Nancy tidak ingin putrinya itu mengalami keterpurukan lagi.


DRRRTTT DRRTTTT DRRRTT


Evelyn mengalihkan matanya menatap ponselnya yang menyala dan menampilkan nomor baru. Evelyn heran dan tidak ingin mengangkatnya karena tidak mengenal nomor itu. Panggilan berhenti,tapi setelah itu kembali berdering.


Menghela nafas,Evelyn menaruh pensilnya dan mengangkat panggilan itu.”Hal---”


“Kau mengabaikan panggilanku?! Apa kau tahu,kau sudah mengganggu waktuku.!”cecar suara yang Evelyn tahu siapa pemilik suara itu. Mendengus,Evelyn rasa orang ini harus dibawa kerumah sakit untuk cek otak.


“Kau fikir aku tahu nomormu? Jika pun aku tahu,sudah aku block nomor mu dari ponselku.!” Sentak Evelyn yang kesal dengan Russel yang tiba-tiba mencecarnya. Apa dia fikir waktunya seberharga itu? Dia pun juga terganggu dengan panggilan Russel yang tiada henti.


Terdengar suara dengusan di telinga Evelyn. Ia tahu jika Russel pasti kesal,dan dia tidak peduli akan hal itu.


“Jam berapa kau selesai.”


Evelyn mengangkat alisnya mendengar suara Russel yang datar?”What going on?” tanya Evelyn heran.


“Mommy menyuruhku untuk mengajakmu ke Bridal Boutique bersama.”


Evelyn mengerutkan keningnya. Bridal Boutique? “apakah sudah waktunya fitting baju?” tanya nya heran.


“Yeah sepertinya begitu.”


Ketika mengingat kata fitting membuat jari Evelyn bergetar. Hal ini membuatnya trauma dengan kejadian masa lalu. Kilasan kilasan itu terlihat dimata Evelyn,dan itu membuatnya sesak.


Russel mengerutkan keningnya ketika mendengar nafas memburu di telinganya. Ada apa dengan Evelyn? Kenapa nafasnya seperti itu?


“Eve? Are you okay?” tanya nya dari sebrang. Evelyn menjauhkan ponselnya dan meminum segelas air putih untuk menetralkan tubuhnya.


“Eve?! Tell me,are okay?!” Evelyn bisa mendengar teriakan Russel di telephone,segera Evelyn menjawabnya dari pada nanti Russel akan mengatakanya pada Momma nya.


“Yeah,I’m okay. “jawab Evelyn dengan suara yang normal.


Hening,Evelyn rasa Russel tidak percaya dengan perkataan nya. “Are you sure?” tanya nya tidak yakin.


“Yeah,sure. Dan tentang fitting baju,kita bisa ketemu di—“ belum selesai Evelyn bicara,Russel sudah memotongnya.


“No.! Aku akan menjemputmu,tidak ada bantahan.!” Ucapnya dengan nada tegas.


“Baiklah,terserah kau saja. Kau bisa kemari setelah jam 6 sore.” Ucapn Evelyn lalu menutupnya sepihak dengan wajah kesal.


Dia pikir siapa,bisa mengatur hidupnya? Batin Evelyn kesal.


Sedangkan Russel menatap ponselnya dengan wajah tidak percaya. What? Dia mematikan sepihak?! Russel kesal bukan main.


TOK TOK TOK


“Ya masuk.!” Teriak Russel kesal. Daniel masuk dengan wajah ragu-ragu.

__ADS_1


“Ada apa Daniel?” tanya Russel pada asisten nya itu.


“saya kira anda memanggil saya,karena mendengar teriakan dari dalam.” Jawab Daniel meringis. Tadi,dirinya mendengar teriakan dari dalam ruangan bos nya itu. Dia kira dirinya dipanggil,tapi sepertinya tidak.


Russel tidak menjawab dan tidak menjelaskan kenapa dirinya berteriak tadi. Tidak mungkin bukan dirinya mengatakan jika dirinya berniat lari ke kantor Evelyn untuk melihat kondisi wanita itu? Bahkan jantungnya sekarang masih berdegub cepat karena wanita tadi.


“Daniel,kosongkan waktuku dari jam 6 sore. Aku tidak mau menerima pekerjaan apapun setelah itu,mengerti?!” perintah nya pada asisten nya bernama Daniel itu.


“Baik sir, saya laksanakan.” Jawab Daniel menganggukan kepalanya dan permisi keluar.


Setelah Daniel pergi,Russel masih memikirkan Evelyn. Entah apa yang terjadi dengan nya tadi,tapi hal itu membuatnya terganggu. Entah terganggu karena khawatir ataukah terganggu karena penasaran?


***



“Mom,kau yakin dengan laki-laki itu?”


Nancy menghembuskan nafasnya lelah,Lily—putrinya—itu tidak ada habisnya bertanya seperti itu,bahkan setelah dirinya tiba di London pertanyaan itu terus dia ajukan padanya dan suaminya.


“Lily,kau sudah bertanya berapa kali? Kenapa kau selalu bertanya seperti itu?” tanya Nancy menatap putri bungsunya itu heran.


“Kau tahu kenapa aku seperti ini Mom,ini menyangkut hidup kakak ku.!”seru Lily pada Momma nya.


“Kakakmu juga putriku. Momma tidak mungkin menjerumuskan Evelyn kedalam bencana sayang. Momma juga sangat menyayangi Evelyn sepertimu—“ jelas Nancy mencoba memberi pengertian pada putri bungsunya itu.


Nancy tahu jika Lily begitu menyayangi Evelyn,bahkan menukar nyawa pun akan Lily berikan jika itu bisa membuat Evelyn bahagia. Hal itu membuat Nancy terharu dengan sikap Lily,tapi kadang kala sikap Lily yang menyayangi kakaknya itu membuatnya frustasi. Bagaimana tidak,sejak mereka mengatakan jika Evelyn akan dijodohkan,Lily langsung terbang ke London dan mencecar mereka dengan berbagai pertanyaan.


Bahkan Lily menolak keras setelah tahu siapa laki-laki yang akan menjadi kakak iparnya itu. Tapi Nancy dan Thomas tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan perjodohan ini. Hal itu membuat Lily kesal dan kecewa.


“Momma tidak tahu seperti apa Russel itu—“ sungut Lily.


Lily mendengus mendengar kata baik di diri Russel. Baik apanya? Gonta ganti wanita itu namanya baik?! Huh?!


“Oh yah,bukankah kau harusnya kembali ke London?”tanya Nancy pada putrinya.


“Tidak! Aku tidak akan kembali ke London sebelum pernikahan ini di batalkan.!”seru Lily bersungut-sungut.


“Dan pernikahan ini tidak akan batal. Bahkan sekarang mereka sedang fitting baju bersama.”ucap Nancy yang justru membuat Lily terkesiap kaget.


“What? Fitting baju?!” sentak Lily kaget,jantungnya berdegub kencang dan fikiranya melayang kemana-mana.


“Yeah,ada apa dengan reaksimu?”tanya Nancy heran melihat tingkah putrinya itu.


“Mom,inikah yang kau sebut sangat menyayangi kakak?!”tanya Lily dengan mata yang tiba-tiba memerah menahan tangis.


“Apa maksudmu?” Nancy tidak tahu maksud Lily,tapi melihat ekspresi nya yang begitu takut,entah kenapa dirinya pun ikut merasakan.


“apa kau lupa? Pada saat apa Peter pergi untuk selamanya?!” suara nya bergetar,jika Lily tidak menahanya sudah sedari tadi dirinya menangis.


DEG


Nancy tersentak dan seperti teringat sesuatu,matanya menatap Lily melebar seolah apa yang di fikirkan benar adanya. “Yeah Mom,saat mereka fitting baju.! Lalu—apa kau kira kakakku akan baik-baik saja?!”sindir nya membuat Nancy berdiri dan masuk kamarnya.


Tidak lama,Nancy keluar dengan tas kecilnya dan juga mantel,berlari terburu-buru dengan raut wajah pucatnya. Sontak,Lily langsung menghentikan Momma nya dan tersadar jika dirinya terlalu menekan,membuat Momma nya drop.


“Mom,kau mau kemana?!” serunya menghentikan langkah Nancy yang sudah berada di pintu depan.


“Aku harus menemaninya,Lily. Evelyn tidak mau jika Russel tahu masa lalunya. Bagaimana jika trauma nya kambuh saat bersama Russel?!”pekik Nancy khawatir.


“Baiklah,kita kesana bersama. Momma tidak boleh menyetir,ingat pesan Dadda.!”ucapnya lalu merempas kunci mobil yang berada di tangan Nancy.

__ADS_1


Mereka langsung masuk kedalam mobil dan pergi ke tempat Bridal Boutique yang mereka datangi. Kedua anak dan ibu itu saling menguatkan dan berfikir positif tentang Evelyn disana. Mereka hanya berharap Evelyn baik-baik saja.


Dua puluh menit kemudian,mereka sampai di Bridal Boutique dan masuk kedalam mencari Evelyn. Ketika masuk,mereka langsung melihat Evelyn dan Russel sudah berpakaian rapi dengan Tuxedo biru pekat dengan dalaman kemeja hitam dan juga gaun putih yang membentang lantai dan juga bahu mulus Evelyn.


Mereka nampak serasi.


“Mom,kau kesini?” bukan Evelyn,melainkan Russel yang bertanya pada Nancy dan menyebutnya Mom. Hal itu membuat Evelyn menatap heran Russel yang langsung akrab dengan ibunya itu. Sedangkan Lily sudah tahu jika Russel memanggil ibunya dengan sebutan Mom,sama seperti dirinya. Tetapi,sekarang bukan fokus dengan panggilan Russel pada ibunya,melainkan Lily menatap wajah Evelyn seksama.


“Hah? Ah yeah,aku ingin melihat kalian memakai baju pengantin ini secara langsung.”ucap Nancy beralasan.


“Ah begitu.” Gumam Russel. Tiba-tiba dirinya menarik pinggang Evelyn dan menempelkan tubuh mereka. Sontak hal itu membuat Evelyn kaget dan gugup.


“Bagaimana menurutmu Mom? Kami serasi bukan?”tanya nya dengan senyum lebar. Ketika melihat Evelyn dalam balutan gaun ini,rasanya ada yang berontak dan ingin segera keluar. Tapi dirinya menahan hal itu,atau nyawanya akan hilang saat ini juga di tangan mertuanya.


“Yah,kalian sangat serasi. Tidak sia-sia kami memilihkan baju ini untuk kalian. Kalian sangat cocok,bukan begitu Lily?”seru Nancy bersemangat.


Lily tersentak ketika namanya di panggil.


“yeah.” Jawabnya tidak ikhlas,tapi Russel tidak peduli dengan adik iparnya yang memiliki aura musuh denganya itu. Entahlah,apa yang membuat adik iparnya itu tidak suka denganya. Apakah,dia salah satu wanita yang dia tiduri? OH MY GOD! Jika hal itu benar terjadi,pernikahan ini tidak akan berlangsung dan namanya akan tercoreng.huhu


Evelyn mencoba melepas tangan Russel yang berada di pinggangnya. “Aku ingin melepas gaunya,terasa sesak dan berat.” Keluh Evelyn.


Terpaksa,Russel melepas tanganya yang berada di pinggang Evelyn.”baiklah,kau dulu yang ganti. Aku akan menemani Momma disini.”ucap Russel yang bertingkah seperti pria baik.


Evelyn tidak peduli dan masuk kedalam ruang ganti. Lily pun juga pamit ingin membantu kakak nya melepas gaun pernikahanya. Dan hanya tertinggal Nancy dan Russel di halaman Boutique itu.


Lily masuk dan menatap Evelyn tajam yang sudah berada di depan cermin. Lily bisa melihat wajah Evelyn dari cermin itu.


“Dia datang lagi?”


Evelyn menatap adiknya datar melalui cermin.”Bukan urusanmu.!” Ucapnya datar dan terkesan dingin.


Lily tidak peduli dengan reaksi Evelyn yang sekarang sedang menatapnya datar dan tajam.


“Dia datang lagi,bukan.” Ini bukan lagi pertanyaan,melainkan pernyataan melihat tangan Evelyn yang bergetar.


Evelyn tidak menjawab,bola matanya bergerak liar dan kelopak matanya pun terpejam beberapa kali.


Lily ingin mendekat,tapi dia takut jika Evelyn akan histeris dan membuat Russel kemari dan melihatnya. “Kau—tidak melukai dirimu—bukan?”


“Apa kau melihat darah disini?” Evelyn membalik pertanyaan adiknya yang super cerewet itu.


Mata Lily bergerak melihat tubuh Evelyn dan mendapati tidak adanya luka. Hal itu membuatnya lega. “Tapi,kenapa aku merasakan sesak? Apa itu kau?”


Ikatan batin yang sering dibilang orang mungkin ada benarnya juga. Karena ikatan itu yang selalu dirasakan oleh mereka berdua. Jika bukan Lily yang merasakan,maka itu adalah Evelyn. Ikatan ini membuat seseorang bisa lebih dekat,atau juga malah renggang. Evelyn pun kadang kesal dengan ikatan yang hanya dirasakan oleh Lily itu.


Adiknya yang cerewet akan tambah cerewet jika dirinya merasakan perasaan yang bukan darinya.


“Yah,gaun ini membuatku sesak.”jawabnya ketus. “keluarlah jika hanya menganggu.!” Usir Evelyn.


Tidak ingin berdebat,Lily akhirnya keluar.


Tidak lama,terdengar nafas tersenggal dari dalam ruang ganti. Lalu di iringi tangis yang lirih. Diluar ruang ganti,Lily berdiri dan mendengar semua nya. Dia tidak pernah salah,Evelyn menyimpan semuanya sendiri.


“Aku tidak bodoh,kak. Aku merasakan apa yang kau rasakan.”ucapnya lirih dengan mengepalkan tanganya menahan tangis yang membuatnya sesak.



Thanks for Reading. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like and coment. â˜șđŸ€—.


Hope Enjoy... đŸ˜șđŸ˜ș.

__ADS_1


__ADS_2