Istriku Cintaku

Istriku Cintaku
Episode 4


__ADS_3

HAPPY READING..


BUDAYAKAN VOTE DAN LIKE SEBELUM BACA. DUKUNG AUTHOR .. GRATIS KOK... πŸ€—πŸ€—


__________________________________


Suara dentuman musik keras memenuhi ruangan itu. Lampu warna warni dan juga teriakan banyak orang yang mewarnai club adalah hal biasa. Di salah satu stand, ada beberapa pria yang duduk mengahadap bartender.


Russel menatap gelas crystal yang sudah di isi dengan air berwarna kuning dan juga es batu di dalamnya.


"So, kau akan di jodohkan begitu? "Tanya Stainley dengan wajah mengejeknya.


Russel menghembuskan nafas kesalnya dan menoleh menatap Stainley tajam. " Sekali lagi kau bertanya, akan kubuat wajahmu lebam, dude.! "


Stainley terkekeh."wuah.. Oke.. But, siapa calon istrimu itu? Aku penasaran... "Kata Stainley menenggak minuman nya.


" Benar, aku juga penasaran.. "Ucap Gallen yang duduk disamping Russel.


Gallen dan Stainley adalah teman Russel. Mereka sudah menjadi teman sejak masa senior highschool. Stainley dan Russel sama-sama playboy, tapi Gallen tidak. Dia tidak berminat untuk seperti kedua teman nya. Gallen lebih berfikir rasional dan mencari cintanya sendiri.


Russel mengangkat wajahnya, mencoba mengingat wajah calon istrinya. Sudah dua hari ini sejak mereka bertemu di restaurant itu. Orang tuanya belum menemui nya lagi. Mungkin mereka menyerah?


"Dia cantik. Seperti biasa. " Kata Russel mengedikan bahunya, kembali menenggak minuman nya.


"Jadi, kau akan berhenti menjadi playboy? " Tanya Stainley menaikan alisnya dan senyum miring.


"Tergantung, jika dia tidak bisa memuaskan ku, maka aku akan cari yang lain." Ucap Russel terlihat santai.


Gallen hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Russel. Teman nya ini benar-benar tidak waras.


Tiba-tiba ada wanita yang menghampiri mereka dan merayunya. Wanita itu menggelanyut dan duduk di pangkuan Russel.


"Pergilah. Aku sedang malas. " Kata nya mendorong wanita itu dari pangkuan nya. Wanita itu mencebik dan pergi dari sana.


"Wuah.. Kau aneh bro.. Baru kali ini aku melihat kau menolak wanita. " Ucap Stainley heran.


"Aku sedang malas. " Jawab Russel sekenanya. Dia tidak ingin membahas yang tidak perlu.


Dia masih heran dengan calon istrinya itu. Russel merasa tertarik dengan wanita bernama Evelyn itu. Rasanya ada yang berbeda darinya, tidak seperti wanita kebanyakan.


Russel mendesah ketika otaknya benar-benar kacau sekarang. Berada di club tidak membuatnya senang, justru semakin suntuk. Akhirnya, dia berdiri dan pergi dari club itu.


"Hey dude. Kau mau kemana? " Teriak Stainley ketika melihat Russel pergi.


Russel hanya melambaikan tanganya tanpa berbalik. Dia ingin menyegarkan pikirannya ditempat sepi.


Malam itu, Russel hanya berputar-putar tidak jelas di jalanan hingga fajar.


...


Russel mengerang ketika mendengar suara bell apartemen nya yang tidak berhenti berbunyi. Dia baru menutup matanya beberapa menit yang lalu. Dan sekarang, ada yang menganggu nya untuk istirahat?


Hell.!


"Ishhh... Siapa sih pagi-pagi bertamu... " Gerutunya sambil berjalan.


Ketika membuka pintu, Russel sudah siap untuk menyumpahi siapa saja yang menganggu acara tidurnya. Tapi, ketika melihat Mommy nya yang datang dengan wajah kesalnya, dia mengurungkan niatnya itu.


Bisa dipecat dari ahli waris dia...


"Ahhh Mommy.. " Sapa Russel dengan cengiran di wajahnya. Rambutnya acak-acakan, dan wajahnya benar-benar lelah.


Rosaline bertolak pinggang melihat putranya acak-acakan dengan kantung mata di bawahnya. "Ckkk kau minum lagi? Jam berapa kau pulang? " Tanyanya sambil masuk dengan membawa kotak makan yang dibawanya dari rumah.

__ADS_1


"Baru saja.. " Jawab nya santai. Hal itu membuat Rosaline memejamkan matanya, dia begitu geram dengan kehidupan putranya dan kebiasaan nya itu.


"Astaga Russel. Bisakah kau hilangkan kebiasaan mu ke club? Sebentar lagi kau akan menjadi suami, jadi sebaiknya kau hilangkan kebiasaan mu pergi ke club.! " Ujar Rosaline menceramahi putranya.


Russel mendengus, dia berjalan ke arah pantry dan mengambil minum. Rosaline hanya geleng-geleng kepala. Dia membawa kotak makan itu kedapur dan membukanya.


"Memangnya dia sudah setuju? " Tanya Russel ketika selesai minum dan duduk di kursi tinggi menghadap ibunya yang berada di dapur.


"Yah, semalam Nancy menelfon ku. Dan katanya, Evelyn menyetujui pernikahan ini. Tapi, dia tidak ingin terburu-buru. " Jawab Rosaline kemudian dia berbalik dan memberikan sarapan itu pada putranya.


"Makan lah. Perutmu akan sakit jika hanya alkohol yang masuk." Ucap Rosaline perhatian dengan putranya.


Russel mengerutkan keningnya ketika mendengar hal itu. Jadi, wanita itu menyetujui pernikahan ini? Wow. Kenapa mudah sekali?


Dia menatap makanan yang dibawa ibunya, nasi goreng dengan telur mata sapi, simple. Memang seperti itulah Russel. Dia tidak memilih makanan. Apapun yang dimasak ibunya akan ia makan.


Rosaline menatap putranya yang mulai makan. "Nanti siang, kau pergilah ke kantor Evelyn. " Ucapnya membuat Russel mendongak dengan kerutan di dahinya.


"Untuk apa? " Tanyanya setelah nasi itu maauk kedalam tenggorokan nya.


"Kalian bisa ngobrol. Mengenal satu sama lain. Hal itu perlu Russel. " Jawab Rosaline.


Russel mendesah, harinya benar-benar kacau. Rencananya dia akan seharian ini dirumah, tapi karena perintah Nyonya besar, maka itu harus ia lakukan.


"Ishhh.. Wanita itu pasti diancam oleh orang tuanya.. " Gumam nya tapi terdengar oleh Rosaline.


"Itu bukan urusanmu, son. Bukankah sudah kubilang.! Mau dia diancam atau tidak, yang terpenting ialah dia mau. " Dengus Rosaline.


"Yeah, siapa juga yang akan menolak pesonaku. " Ucapnya bangga lalu memasukan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.


Rosaline memasang wajah menjijikan. "Ckckck.. Kau terlalu bangga pada dirimu sendiri. Ketahuilah son, didunia ini ada yang tidak terpengaruh karena pesonamu. Dan itu adalah istrimu nantinya, kau belum terlalu mengenal Evelyn. Tapi, jangan shock jika kau nanti diabaikan olehnya. " Ucap Rosaline mengejek.


"Mom, kau sebenarnya ibunya siapa sih? Kenapa kau membela nya dari pada membela ku?! " Sungut Russel yang tidak terima.


Russel melongo ketika dia di samakan dengan Daddy nya yang usil. Hei, dia memang hasil ciptaan Daddy nya, tapi dia tidak akan tercipta jika Mommy nya tidak ikut campur tangan bukan?


Huftt dasar Mommy. Maunya menang sendiri.


...


Evelyn kembali seperti biasa lagi. Melakukan aktivitas yang selama ini dia lakukan. Bekerja dan bertemu client.


Seperti sekarang, dia berkutat dengan laptop di ruangan nya. Selebaran kertas putih yang sudah ter coret-coret dengan pensilnya berserakan di mejanya.


Kertas itu adalah hasil desain nya, Evelyn terkadang membuat desain nya menggunakan manual. Dan selebihnya memakai notebook yang canggih untuk mempresentasikan hasilnya kepada klien.


Banyak desain nya yang membuat para klien nya puas dengan hasil kerjanya. Evelyn patut berbangga hati karena perusahaannya maju pesat.


Fokusnya terhenti ketika ketukan pintu membuatnya mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa? " Tanyanya pada sekretaris nya.


"Maaf mam, tapi ada yang ingin bertemu dengan anda. " Ucap Anie meringis melihat raut wajah Evelyn yang tajam. Sebelum nya, Evelyn sudah mengatakan jika dirinya sibuk dan tidak ingin ada yang menganggu nya.


"Bukankah sudah kubilang Anie? Aku tidak menerima siapapun. Jadi usir saja dia.. " Ucapnya mengibaskan tanganya dan kembali fokus ke laptopnya.


"Tapi mam.... "


"Aku yang datang.. " Suara bariton itu membuat Evelyn mengehentikan tanganya diatas keyboard dan menatap sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan jas hitam dan celana kain, dengan kemeja putih didalamnya.


Wajahnya tampan dengan rambut ikal yang panjang sedikit.


Evelyn mengerutakan keningnya, merasa tidak mengenal laki-laki dihadapanya.

__ADS_1


"Sorry sir, but who are you? " Tanya nya kemudian melepas kaca mata yang dia pakai.


Rahang Russel jatuh tidak percaya. Wanita di depannya ini tidak mengenalnya? What the hell?!


"Kau tidak tahu siapa aku?! " Tanya Russel menunjuk dirinya dengan tampang tidak percaya.


"I'm sorry sir. But, aku tidak mengenalmu. " Ucapnya dengan wajah datar.


Russel mengusap rambutnya frustasi. Dia kembali menoleh menatap Evelyn tidak percaya. "Russel Hawkes Robinson. " Ucapnya mengatakan namanya penuh penekanan.


Evelyn mengerutkan keningnya sekali lagi ketika mendengar nama itu. Russel,? Apakah Russel yang itu,?


"Jadi, kau orangnya? " Ujar Evelyn santai bahkan menyenderkan tubuh nya kebelakang melihat reaksi laki-laki didepanya yang seperti cacing kepanasan.


Lagi dan lagi. Russel tidak percaya jika hanya itu reaksi Evelyn ketika mendengar namanya. Jika orang lain maka mereka akan berteriak histeris dan terpesona denganya. Tapi ini, bahkan Evelyn hanya menatapnya datar?! Datar?!


Oh my God.!!


"Ya, aku adalah calon suamimu. " Ucapnya membuat Evelyn merubah wajahnya lebih dingin. Hal itu mengingat kan nya lagi dengan pernikahan yang tidak dia inginkan.


"So, apa yang membuatmu kemari? " Tanya Evelyn tanpa basa-basi. Bahkan dia tidak mempersilahkan nya untuk duduk.


"Mommy ku 'memaksaku' untuk menemuimu. " Katanya dengan menekan kan kata memaksa.


"Untuk.? "


"Yeah, katanya untuk sekedar ngobrol dengan mu. " Jawabnya dengan mengedikan bahunya.


Evelyn mengangkat alisnya heran. Mengobrol? Hanya buang-buang waktu, pikirnya.


"Aku tidak punya waktu. Kau bisa keluar dari ruangan ku, aku banyak pekerjaan. " Usir nya lalu kembali menegakan tubuhnya.


"What? kau mengusir ku? Kau fikir aku juga tidak punya pekerjaan?! " Sungut Russel yang tidak terima di usir.


"Kalau kau punya pekerjaan, lebih baik kau pergi sir. " Jawabnya santai tanpa menatap Russel yang geram.


Russel merasa terhina, dia belum pernah di usir seperti ini. Apalagi dengan wanita? Oh God.!


"Oke, akan aku tunggu sampai pekerjaan mu selesai. " Ucap Russel keukeuh.


"Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain huh?! " Tanyanya memicing kesal.


"No. Aku pengangguran hari ini. " Jawabnya santai lalu duduk di sofa dengan nyaman.


"Kau berikan saja aku makanan dan minuman agar tidak bosan. " Usulnya dengan wajah tengil dan senyum lebarnya.


Evelyn mendesah kesal. "Kau mau kupanggil security atau kau pergi sendiri?! " Ucapnya memberi ultimatum kepada Russel.


"Well, kau yang harusnya pilih, aku menelfon ibuku lalu dia akan menelfon ibumu, atau kau ingin keluar denganku saat ini?! " Ucap Russel membalik keadaan.


Evelyn menggeram. "F*ck.. Fine. Kita pergi sekarang.! "


Russel terseyum senang, dia berdiri dengan semangat. Menghampiri Evelyn yang sedang beberes. "Harusnya sedari tadi kau mau. Kenapa harus memakai pemaksaan, baby? " Ucapnya dengan terkekeh.


Evelyn langsung melotot tajam ketika Russel memanggilnya baby.


"Don't call me baby.!! " Desis Evelyn dengan tatapan tajam.


Russel kaget dengan tatapan itu. Wow, seperti ada aura yang mencekam.


Belum sempat menjawab, Evelyn sudah keluar dari ruangan itu meninggalkan Russel sendiri. Akhirnya Russel mengikuti Evelyn keluar dan mereka pergi ke salah satu cafe terdekat di kantor.


Thanks for Reading. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like and coment. β˜ΊπŸ€—.

__ADS_1


Hope Enjoy... 😺😺.


__ADS_2