Istriku Cintaku

Istriku Cintaku
Episode 6


__ADS_3

HAPPY READING..


BUDAYAKAN VOTE DAN LIKE SEBELUM BACA. DUKUNG AUTHOR .. GRATIS KOK... πŸ€—πŸ€—


__________________________________


Core by Clare Smyth.


Evelyn tiba di restaurant Core by Clare Smyth jam 9 malam waktu London. Restauran ini adalah restauran jamuan makan resmi yang berada di Kensington Park Rd, Notting Hill, London, Inggris Raya. Restauran ini sangat terkenal karena makanan nya yang super lezat dan mahal.


Bahkan untuk reservasi saja harus menunggu satu bulan karena restaurant ini hanya menerima tamu sebanyak 20 perhari nya. Walau begitu, omset restauran ini sangatlah banyak dan menjadikan nya salah satu restaurant termahal di London.


Evelyn mengedarkan matanya ke seluruh penjuru restaurant yang bergaya Eropa Prancis itu. Momma nya menelfon kemarin dan menyuruhnya datang ke restaurant ini. Ada sedikit trauma ketika Momma nya mengundangnya ke restaurant, karena terakhir kali ia ke restaurant justru dia dijodohkan dengan seseorang yang tidak ia kenal. Apakah malam ini akan ada kejutan lagi dari Momma nya?


Semoga saja tidak. Batinya.


Dengan menggunakan gaun terusan berwarna hitam dengan lengan panjang nya, Evelyn nampak cantik dan anggun. Dengan rambut yang ia gerai membuat nya semakin cantik. Seorang pelayan mendatanginya dan bertanya kepada nya.


"Maaf, bisa saya bantu? " Tanya nya ramah.


"Reservasi atas nama Thomas Robinson. " Evelyn menatap pelayan itu tanpa ekspresi, membuat pelayan itu canggung dan langsung mengarahkan meja yang berada di ruang VVIP.


Evelyn mengekori pelayan itu dan berhenti ketika mereka sampai di depan ruangan VVIP yang memang sedikit tersembunyi dari restaurant ini.


Pelayan itu langsung mempersilahkan Evelyn masuk dan pamit pergi. Ketika Evelyn melangkahkan kakinya masuk, ada yang menepuk bahunya. Sontak, Evelyn berbalik dan mendapati sosok tampan yang memakai jas hitam dengan rambut ikalnya yang tidak rapi, tapi ketampanan nya tidak luntur. Sosok itu menyeringai ketika melihat Evelyn mengerutkan keningnya.


"Russel? What are you doing here? "


Yah, sosok tampan yang susah disangkal itu ialah Russel. Russel memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana dan menatap Evelyn dari atas kebawah. Well, Russel akui jika Evelyn sangat cantik malam ini.


Evelyn mendesah ketika melihat tingkah Russel yang melihatnya seperti orang mesum. Ingin rasanya ia memukul kepala Russel yang ia yakin hanya ************ di dalam nya. Evelyn berbalik dan ingin masuk ketika sesuatu di fikiran nya menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Wait, jika kau berada disini, apakah itu berarti orang tuamu juga disini? " Evelyn memicingkan matanya menatap Russel dengan tajam. Berharap laki-laki yang sedari tadi hanya melihatnya itu mengucapkan kata-kata.


Russel mendongak dan menghilangkan wajah mesumnya. "Yeah, tebakan mu benar sekali. "


Evelyn memejamkan matanya dengan raut kesalnya lalu masuk kedalam di ikuti oleh Russel. Di dalam, ruangan itu sudah di isi oleh empat orang yang duduk melingkar. Ruangan yang berwarna hijau pekat itu dengan chandelier di atas meja bundar yang dikelilingi oleh kursi beludru hijau berjumlah tujuh itu terkesan seperti di hutan.



"Ohh, kalian kesini bersama? " Rosaline terpekik senang melihat Evelyn dan Russel masuk bersama.

__ADS_1


Tiga pasang mata itu pun juga menatap pasangan yang baru masuk itu. Evelyn tidak menjawab dan duduk di samping ibunya.


"No Mom, kami bertemu didepan. " Jawab Russel lalu duduk disamping Evelyn dan Mommy nya.


"Hai sis, " Mata hazel itu langsung menatap gadis yang duduk di tengah-tengah antara Momma nya dan Dadda nya. Garis kerutan terlihat di dahi Evelyn melihat seseorang yang datang tanpa mengabari nya.


"Kapan kau pulang? " Gadis itu tidak terpengaruh dengan suara datar Evelyn, malah justru senyuman terbit di bibirnya ketika melihat Evelyn.


"Semalam, sorry tidak memberitahumu terlebih dahulu. " Raut sesal terlihat di wajah gadis itu. Evelyn tidak berkata lagi dan diam. Sedangkan Russel penasaran siapa gadis itu. Dan Nancy sepertinya tahu jika Russel tidak mengenal siapa gadis di sampingnya ini.


"Oh, kenalkan dia Lily. Adik Evelyn, waktu itu kalian belum bertemu denganya karena dia sibuk kuliah di Perancis. Dia masuk di IFA. " Ucap Nancy menjawab pertanyaan Russel dalam benaknya.


"Hai, brother. Nice to meet you. " Sapa Lily tersenyum melambaikan tanganya pada Russel.


Yang dibalas oleh Russel dengan senyum lebarnya.


"Wow, anak-anak mu luar biasa. Satu pengusaha sukses, satunya lagi dia masuk di IFA?! Wow, it's amazing. Aku benar-benar iri padamu. " Ucap Rosaline mencebik. Russel memutar bola matanya ketika melihat ibunya mulai membicarakan anak.


"Ahh kau bisa saja. Aku dan Thomas tidak pernah menuntut mereka untuk menjadi apa, yang terpenting mereka senang. " Nancy menatap kedua putrinya dengan senyum lebar.


Tidak lama para pelayan datang membawa makanan untuk mereka. Evelyn menunduk menatap makanan yang pasti sudah di pesan oleh mereka terlebih dahulu. Filet mignon with browned butter red wine sauce,beef steak yang di panggang medium dengan sauce yang berbeda dari steak lainya, yaitu menggunakan red wine yang biasa dia minum di apartemen.


Nancy yang berada di samping Evelyn mengerti tatapan putrinya terhadap steak yang berada di depan nya. Ketika tanganya terulur untuk mengambil piring Evelyn, piring itu sudah diambil oleh seseorang yang berada di sebelahnya.


Evelyn diam, dan menatap tajam Russel. Ia yakin jika Russel tahu jika dirinya tidak bisa memotong steak. Maka dari itu dirinya berbuat seperti itu untuk mengambil perhatian momma nya yang sekarang sudah pasti tersenyum melihat perhatian Russel padanya.


Tidak ada kata Terima kasih yang terucap dari Evelyn. Dia hanya menyantap steak yang sudah di terpotong itu dengan diam.


"Wuah, kau tahu jika Eve tidak bisa memotong steak bukan? " Seru Lily menatap Russel dengan suara riangnya, tapi tatapan yang berbeda. Ada tatapan tajam yang Russel tangkap ketika melihatnya.


"Yeah, sebagai calon suaminya, aku harus tahu bukan kebiasaan calon istriku, Calon adik ipar? " Jawab Russel dengan santai tidak menghiraukan tatapan Lily padanya.


Mata Lily memicing tidak suka, tapi dia tidak mengeluarkan suaranya dan diam. Pelayan kembali datang dan menuangkan Red Wine ke dalam gelas tinggi mereka masing-masing.


Evelyn langsung mencicipi rasa anggur merah itu. Ketika air itu menyentuh lidahnya, Evelyn yakin jika Red Wine ini adalah Pinot Noir, jenis Red Wine yang mempunyai kualitas terbaik.


Pinot Noir mempunyai tekstur yang encer, tidak kental seperti Red Wine lainya. Kadar alkoholnya pun rendah dibandingkan Red Wine yang kental dan kadar alkohol nya tinggi. Pinot Noir sering di mix dengan makanan seperti beef dan lainya.


Russel menikmati ekspresi Evelyn ketika meminum Red Wine itu, sangat seksi.


"Apa kau tahu jenis Wine yang kau minum.? " Tiba-tiba Russel mengeluarkan suaranya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Evelyn. Sontak seluruh penghuni ruangan VVIP itu menoleh dan menatap Russel.

__ADS_1


Evelyn hanya melirik. "Pinot Noir dari Burgundy, Perancis. " Jawabnya singkat.


Russel bersiul senang ketika jawaban Evelyn benar. Ternyata apa yang dilaporkan oleh anak buahnya benar semua. Tidak rugi bukan jika dia membayar mereka mahal?


"Kakak ku memang hebat.! Dia menguasai berbagai jenis Wine tanpa melihat botol dan hanya sekali teguk, dia akan tahu jenis Wine dan juga negara produksinya. " Ucap Lily dengan bangga. Matanya melirik Evelyn yang tidak terganggu dan melanjutkan makannya.


"Well, aku juga tahu hal itu. " Ucap Russel dengan gaya menantangnya. Wajah Lily merengut tidak suka. Sejak tahu Evelyn akan dijodohkan, Lily sudah tidak menyukai calon kakak iparnya itu.


Bahkan tanpa dia mencari tahu siapa Russel pun, image itu sudah terlihat dari covernya. Dan hal itu membuatnya menentang perjodohan ini dan menyuarakan nya pada kedua orangtuanya. Tapi, hal itu hanya sia-sia, justru kedua orang tuanya malah memuji Russel yang mereka anggap pantas untuk Evelyn.


Lily benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghentikan perjodohan ini. Russel adalah pria yang mempunyai potensi kuat untuk menyakiti kakaknya. Dan hal itu membuatnya gelisah dan takut.


"Wow, jadi putraku ini diam-diam mencari tahu kebiasaan calon istrinya? Uhhh, so sweet... " Seru Rosaline senang. Wajahnya begitu gembira dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


Russel memutar bola matanya jengah. Astaga, dari mana saja Mommy itu? Sedari tadi dia melakukan hal yang tidak biasa dan baru sekarang sadar? Apakah Mommy itu tidak pernah di kode oleh Daddy nya? Atau, Mommy nya tidak peka? Ohh gosh..


Russel mendengus lirih dan mengalihkan pandangannya. Menyantap steak premium yang sudah tersaji di depan nya.


"Itu hal yang bagus. Kau juga harus seperti itu Eve. " Kata Nancy tersenyum senang.


"For what? " Ucapnya, melirik ke samping. Yang ternyata, Russel pun juga melirik nya. "Tanpa aku harus mencari tahu, semua sudah terlihat. " Sambungnya lalu memutuskan tatapanya, kembali ke steak. Kata-kata Evelyn sama dengan Lily, Russel tampak seperti buku yang terbuka.


Rosaline menganga tidak percaya jika Evelyn mengatakan hal yang jujur. Calon menantunya ini benar-benar 'sesuatu'. Dia jadi tidak enak dengan Nancy dan Thomas. Wajahnya meringis dan dia menatap suaminya yang juga merasakan hal yang sama.


Nancy dan Thomas terdiam. Seperti itulah penilaian Evelyn terhadap Russel?


"Ahhh, Evelyn sayang... Russel tidak seperti itu.. Yeah, mungkin yang kau dengar di luar sana putraku brengsek__memang brengsek__tapi, jika kau melihatnya lebih dalam, putraku ini menggemaskan. " Ucap Rosaline dengan gigi merapat menandakan dia mengatakan dengan rasa gemas dan marah. Senyum paksa terlihat ketika Rosaline menyelesaikan kata-kata nya.


Sontak semua diam dan tidak bergerak, hingga Lily tertawa keras. Russel kembali mendesah, Mommy nya ini benar-benar ajaib. Bagaimana bisa putranya ini yang gentleman dan seksi di bilang menggemaskan? What? Are you kidding?!


Nancy mencubit lengan Lily agar berhenti tertawa. Sebenarnya dia pun juga ingin tertawa, tapi ia tahan. Bahkan Nancy yakin jika Thomas akan mendengus jika tidak berada di luar. Nancy benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya itu masih 'ajaib' seperti dulu.


"Oh, Mom. You hurt me. " Ucap Lily mengusap lengan nya yang dicubit oleh Nancy. Bibirnya melengkung ke bawah, dan menatap Russel yang sekarang memasang wajah kesalnya. Hal itu justru membuat Lily menyeringai.


"Wow, aku tidak tahu jika calon kakak iparku ini menggemaskan.. " Celetuk Lily, Russel menatapnya tajam, tapi Lily tidak terpengaruh. Baginya dia sudah terbiasa dengan tatapan itu, karena Evelyn sering menatapnya tajam.


Walau seperti itu, Lily tahu jika Evelyn menyayanginya, begitupun sebaliknya.


"Sudah hentikan.. Kita lanjutkan makan malamnya, setelah itu ada yang ingin kami sampaikan pada kalian berdua. " Kata Thomas melerai kedua calon ipar yang sepertinya tidak bisa akur.


Evelyn melirik Russel yang santai menyantap steak nya, tanpa mau berfikir apa yang akan mereka katakan. Sedangkan dia, ada perasaan tidak enak dan ia yakin jika hal itu tidaklah bagus.

__ADS_1


Thanks for Reading. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like and coment. β˜ΊπŸ€—.


Hope Enjoy... 😺😺.


__ADS_2