
Evelyn bertumpu pada meja rias yang berada diruang ganti. Matanya menunduk dan melihat telapak tanganya yang sekarang terdapat darah kering dan bekas sayatan. Dia berbohong pada adiknya,Lily tentang melukai dirinya. Nyatanya,saat Peter datang,dirinya tidak bisa mengontrol tubuhnya. Hingga telapak tangan kirinya menjadi korban untuk meredakan sakit yang tidak tahu dimana letaknya.
*Flashback
Evelyn sudah selesai memakai gaun dan melihatnya di cermin. Tapi,tiba-tiba Peter datang dan berdiri di belakangnya. Dengan wajah tampan yang pucat,dia tersenyum pada Evelyn. Senyum yang selalu membuat hatinya damai.
“Peter—“.
Peter mendekat dan merengkuh tubuh Evelyn. Ingin rasanya Evelyn berbalik dan memeluk erat Peter. Tapi tubuhnya terasa kaku. Dirinya hanya bisa memejamkan matanya.
“Your beautiful,baby.” Suara halus Peter terdengar di telinganya. Ketika membuka matanya,sosok Peter sudah tidak ada.
Dadanya terasa sesak,dia butuh pelampiasan. Dan matanya tertuju dengan gunting kuku yang mempunyai sisi tajam di ujungnya. Evelyn langsung mengambilnya dan menyembunyikanya.
Evelyn memakai alasan ingin kekamar mandi,dan setelah berada di kamar mandi dia langsung menggores telapak tanganya dengan gunting kuku itu.
Darah langsung keluar dari tanganya,tidak ada ringisan sakit atau apapun itu. Hanya ada rasa lega yang dirasakan oleh Evelyn ketika darahnya keluar.
Tidak lama,dia keluar setelah darahnya sudah tidak ada lagi di kamar mandi. Dan mengenggam tanganya selalu setelah keluar. Tidak ada yang menyadarinya,bahkan Lily sekalipun.
Flashback*
Evelyn menetralkan nafasnya dan mulai membuka gaun itu sendiri. Dia tidak mau ada yang mengetahui luka ini,atau nanti ibunya akan heboh. Setelah selesai berganti pakaian,Evelyn keluar dari ruang ganti dan menghampiri mereka bertiga.
Samar-samar,dirinya mendengar suara tawa ibunya dan juga Russel. Entah apa yang mereka bicarakan hingga tertawa,tapi hal itu membuat Evelyn tahu jika Russel memang berniat mendekati ibunya. Entah ada maksud tertentu atau tidak. Ketukan sepatu nya yang bergesekan dengan lantai membuat mereka mengalihkan perhatianya padanya.
Russel mengulurkan tangan nya pada Evelyn dan menarik nya duduk disamping nya.”Duduklah disini,aku akan berganti pakaian.”ucap Russel dengan tersenyum,lalu beralih menatap Nancy.”Saya ganti pakaian dulu,Mom. Tidak akan lama.”ucapnya pada Nancy yang diangguki oleh calon mertuanya itu.
Setelah Russel pergi,wajah Nancy berubah khawatir.”Kau benar tidak apa-apa?” Tanya Nancy mengenggam tangan Evelyn yang langsung ditarik olehnya.
Nancy tersenyum kecut ketika menerima perlakuan Evelyn yang dingin padanya. Dia tahu jika putrinya itu masih kecewa padanya. Dan ia menerima nya dengan lapang dada.
Tapi,alasan Evelyn bersikap seperti itu karena dia tidak ingin Momma nya tahu jika tanganya terluka. Dia hanya tidak ingin Momma nya sakit lagi jika memikirkan dirinya. Sudah cukup dirinya membuat susah keluarganya yang selama ini selalu ada disampingnya.
Lily mendesah melihat sepasang anak dan ibu itu. Dia tidak bisa menyalahkan kakak nya Evelyn karena bersikap dingin pada ibu mereka,dia tahu pasti jika Evelyn mempunyai alasan kenapa dia melakukan hal ini.
Evelyn bukan anak yang bisa membangkang dengan mudah. Bahkan,Evelyn adalah anak yang paling menurutnya sangat patuh terhadap orang tuanya. Berbeda dengan nya yang selalu protes jika sesuatu tidak berjalan semestinya.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja Mom.” Ucap Lily mewakilkan suaranya.
Nancy tersenyum maklum,”Kau terlihat sangat cantik dengan gaun tadi. Kau tahu,gaun tadi adalah pilihan Russel.”Ucap Nancy memberitahukan pada Evelyn.
Evelyn menatap ibunya tidak percaya,bukankah laki-laki itu tidak memiliki waktu luang untuk memilih gaun? Tidak mungkin.
Nancy tahu jika putrinya tidak percaya dengan perkataan nya.”Kau boleh tidak percaya,sayang. Tapi,hal itu benar adanya. Russel memang tidak secara langsung pergi ke Bridal Boutique untuk memilih gaun mu,tapi dia sudah memilihkan gaun mu lewat e-mail pada pemilik Bridal Boutique ini. Dan secara khusus,gaun itu memang untukmu.” Jelasnya agar putrinya itu mengerti.
Evelyn termenung,benarkah? Untuk apa Russel memberikan gaun itu padanya,bahkan secara khusus? Apakah,pernikahan ini baginya juga special? Tidak mungkin. Bukankah mereka sudah sepakat jika pernikahan ini hanya berlandasan diatas kertas. Mereka sama-sama menyetujui pernikahan ini karena tidak memiliki pilihan lain.
Lamunan Evelyn buyar ketika Russel bergabung dengan mereka. Pakaian nya juga sudah berganti seperti tadi,kemeja dan jas hitamnya yang selalu melekat.
“Kami ingin makan malam,apakah kalian ingin bergabung?”tanya nya pada calon mertua dan calon adik iparnya.
Evelyn menoleh dan memicing kepada Russel,laki-laki itu tadi tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Dan sekarang tiba-tiba saja dia mengatakan mereka ingin makan malam? For good shake. Laki-laki ini benar-benar sesuatu.
Nancy mengulum senyum nya melihat keakraban mereka beruda. Sepertinya mereka sudah semakin dekat. Sedangkan Lily hanya menatap datar wajah Russel yang sekarang terlihat seperti orang yang sedang kasmaran. Lily tidak yakin jika Russel natural dalam bertindak,ada yang memang dia rencanakan dan entah itu apa.
“Tidak,kami langsung pulang saja. Benar kan,Lily?”Tolak Nancy secara halus dan menoleh ke arah putrinya. Mau tidak mau,Lily hanya menganggukan kepalanya menyetujui ucapan ibunya.
“Baiklah. Kalau begitu kita keluar bersama saja.”
“Aku tidak tahu jika kita akan makan malam.” Celetuk Evelyn menatap sisnis Russel ketika mengaitkan seatbelt nya.
“Aku sendiri yang memutuskan nya.” Jawab Russel santai.
Mata Evelyn memicing.”Bagaimana jika aku tidak menyetujuinya?” tanyanya menantang.
Russel menoleh dan menyeringai,seolah pertanyaan Evelyn mudah ia jawab. “Aku akan memaksamu didepan ibumu. Dan kau tidak akan berkutik.” Ucapnya yang memang benar adanya.
Evelyn mendengus dan meluruskan tubuhnya menatap lurus kedepan tanpa melihat wajah Russel yang sekarang sudah pasti mengoloknya. Menyebalkan.
Russel membawanya ke sebuah tempat makan yang lebih sepi dari pada terkahir kali mereka makan bersama. Entah berada dimana,Evelyn tidak tahu yang terpenting ialah masih sekitar London.
Mereka masuk dan Russel memesan satu loyang pizza besar untuk mereka dan juga minuman dingin.
“So, empat hari lagi pernikahan akan berlangsung. Apa kau sudah siap?” tanya Russel pada Evelyn dengan gayanya yang bebas itu.
__ADS_1
“Apa yang harus dipersiapkan?”Tanyanya tidak tahu maksud dari Russel.
Russel memiringkan kepalanya menatap Evelyn,wanita didepanya ini benar-benar santai,bahkan saat dekat dengan hari pernikahan mereka,tidak ada raut gelisah ataupun gugup diwajahnya.
“Yeah,mungkin mentalmu untuk menghadapiku setiap hari.” Katanya asal dengan mengedikan bahunya.
Evelyn menyeringai mendengar kata-kata Russel yang mendeskripsikan dirinya memang orang yang susah diatur.
“Well,kau memang butuh pawang untuk menjinakan se ekor buaya buas. “ Ucapnya menyindir Russel yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari laki-laki itu.
Buaya buas? Lebih tepatnya buaya darat.! Batin Evelyn terkikik geli.
Tidak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Satu loyang pizza yang membuatnya merasa lapar. Russel tersenyum geli melihat Evelyn mengulum bibirnya ketika melihat pizza datang. Ekspresinya seperti anak kecil yang tidak sabaran ingin memakan nya.
Ketika pelayan itu sudah pergi,Evelyn langsung menyerbu pizza itu dan membuka mulutnya lebar-lebar. Bahkan Russel hanya geleng-geleng kepala melihat cara makan Evelyn yang seperti anak kecil.
“Makanlah dengan tenang,aku tidak akan menghabiskan nya. Kalau kau mau,kau bisa memesanya lagi.”ucap Russel tulus tanpa mengejek. Dia benar-benar akan memesankan nya lagi jika Evelyn ingin. Tapi,satu loyang ini harus di habiskan dahulu.
Evelyn tidak menjawab dan hanya melirik sinis Russel karena mengira laki-laki itu menyindirnya. Mulutnya penuh dengan pizza,dan ia butuh minum. Ketika tanganya bergerak mengambil minum, Russel menatap tajam apa yang ia lihat.
Evelyn kaget ketika tanganya tiba-tiba ditarik oleh Russel dan dibaliknya.
“Apa ini?!” Tanya Russel menatap tajam Evelyn. Russel memperlihatkan telapak tanganya yang terluka tadi di Bridal Boutique. Evelyn benar-benar ceroboh hingga lupa dengan lukanya.
Evelyn mencoba menarik tanganya,tapi Russel menahanya dengan kuat.
“Katakan Eve.! Luka apa ini?!”
Russel berubah serius,bahkan wajahnya terlihat datar dan mengerikan. Baru kali ini,Evelyn melihat wajah Russel yang serius. Menelan pizza yang masih berada di mulutnya dengan susah payah karena terlalu kering dan ia butuh minum,tapi sepertinya laki-laki didepanya ini tidak menghiraukan nya yang sedang tercekik pizza.
“Hanya tergores sedikit. Bukan luka serius.” Ucapnya setelah susah payah menelan gumpalan pizza.
“Kau yakin?!”
Russel tidak percaya jika hanya goresan semata,ini seperti sengaja di gores. Apa Evelyn pikir Russel adalah orang yang bisa dia tipu? Atau,Evelyn sudah sering berbohong pada orang lain ?
Russel tidak tahu lagi,wanita ini ada sesuatu yang belum ia tahu. Asisten nya pun tidak memberikan infromasi yang akurat. Dari semua laporan ada yang membuatnya kosong. Informasi yang sepertinya sengaja di hilangkan atau sengaja ditutupi agar orang lain tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Russel yakin,dan ia bertekad akan menguak nya entah itu saat mereka sudah bersama sebagai pasangan ataupun sebelum pernikahan ini berlangsung.