Istriku Cintaku

Istriku Cintaku
Episode 7


__ADS_3

HAPPY READING..


BUDAYAKAN VOTE DAN LIKE SEBELUM BACA. DUKUNG AUTHOR .. GRATIS KOK... πŸ€—πŸ€—


__________________________________


"Seminggu lagi, pernikahan kalian akan berlangsung. "


Kata-kata itu terus terngiang di kepala Evelyn. Beberapa menit lalu, kata-kata itu keluar dari Dadda nya. Jelas hal itu membuat Evelyn tidak suka, karena sebelumnya mereka sudah sepakat jika pernikahan ini tidak akan berlangsung dalam waktu dekat.


Tapi Dadda dan Momma nya mengingkari janji mereka padanya. Dan hal itu membuat Evelyn kecewa dan keluar dari ruangan VVIP itu tanpa tahu harus kemana.


Alhasil, sekarang dirinya terdampar di taman di tengah kota London. Dengan hanya memakai gaun terusan hitam yang tipis, membuat kulitnya kedinginan. Suasana taman malam ini tidak begitu ramai. Hanya ada satu atau dua orang yang berada di taman ini. Mungkin karena hawa dingin yang sekarang ia rasakan membuat orang-orang lebih baik berselimut di dalam kamar mereka masing-masing.


Tiba-tiba dia merasakan sesuatu di pundaknya, dan tubuhnya tertutup. Ketika menoleh, dia melihat jas hitam membungkus tubuhnya dari dinginya malam.


"Wow, malam ini langit begitu cerah.. " Pandangan Evelyn beralih kepada seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Menyenderkan tubuhnya yang hanya di balut oleh kemeja putih polos dan dua kancing atas yang terbuka, membuat Evelyn bisa melihat dada bidang orang itu.


Evelyn mendengus dan merilekskan tubuhnya, begitu melihat Russel mengikutinya. Dia tidak tahu maksud Russel mengikutinya sampai disini. Mendongak, Evelyn melihat langit yang memang benar apa yang dikatakan oleh Russel jika malam ini langit begitu cerah.


Walau kelam, tapi bintang bertaburan dimana-mana, membuat langit menjadi cantik. Ketika melihat begitu banyak bintang di langit, ingatan Evelyn terbang ke saat dirinya bersama dengan Peter.


"Baby, jika suatu hari nanti aku tidak ada disampingmu, pandanglah langit dan tatap bintang-bintang itu. Yakinlah, jika aku akan melihatmu dari atas sana dengan tersenyum. "


Kata-kata Peter saat itu begitu normal, tidak ada raut kesedihan hanya kebahagiaan yang terpancar di mata dan bibirnya. Bahkan ketika itu, Evelyn memarahinya dan mendiamkan Peter seminggu karena perkataan nya yang menurutnya keterlaluan.


Hingga Peter setiap hari menemuinya dan meminta maaf padanya. Tapi Evelyn hanya diam tidak peduli, hingga akhirnya dia luluh dan memaafkan Peter waktu itu. Peter berjanji tidak akan mengatakan hal-hal seperti itu lagi, tapi sekarang Evelyn merasa jika Peter benar-benar tersenyum melihatnya di atas sana.


Rasanya Evelyn begitu merindukan Peter, hingga rasanya ingin mati. Dadanya begitu sesak, ketika Evelyn tersadar jika Peter tidak akan pernah bisa ia temui kecuali dia mati.


Rasanya seperti gila. Dia ingin menyentuh dan memeluk Peter, tapi dia tidak bisa. Rindu ini begitu menyesakan.


Russel menoleh dan tertegun ketika melihat ada air mata yang turun di mata Evelyn ketika mendongak menatap langit malam. Russel heran, apakah begitu terharunya dengan kata-kata nya hingga Evelyn menangis? Apa begitu hebat kata-kata yang barusan ia katakan?


Russel menatap langit dan hanya menemukan bintang disana. Apa yang dilihat oleh Evelyn hingga menangis dalam diam? Russel benar-benar tidak tahu, dan hal itu membuatnya penasaran.


"Are you crying? " Tanya Russel membuat Evelyn tersentak dan dengan cepat menghapus air matanya.


"No. Ini karena angin, mataku jadi perih dan berair. " Jawab Evelyn dengan suara serak yang menandakan jika dirinya memang menangis tadi.

__ADS_1


Russel menaikan alisnya sebelah, melihat Evelyn berbohong padanya dan tidak menatapnya sekarang. Evelyn melihat sekeliling untuk menghindari tatapan Russel yang sekarang seperti menatapnya tajam.


Russel ingin bertanya kembali, tetapi terhenti ketika dirinya mendengar suara perut. Sontak, mereka berdua diam tidak bergerak. Russel yakin jika itu bukan suara perutnya, dan Evelyn meringis malu karena itu adalah suara perutnya yang lapar.


Dia menggigit bibirnya dan berpaling. Russel menyeringai ketika mengetahui jika itu adalah suara perut Evelyn.


"Kau lapar? " Tanya Russel yang seperti mengejek Evelyn. Jika saja Evelyn tidak berpaling, dia pasti melihat wajah Russel yang menjengkelkan.


Evelyn tidak menjawab karena terlalu malu. Sebelum dia ke restaurant Core by Clare Smyth, dia sama sekali tidak makan. Karena dia mengira jika hanya keluarganya yang ada, dan Evelyn sudah merencanakan jika nanti dirinya akan memesan makanan yang lebih. Tapi rencana tinggal rencana. Karena di depan orang yang akan menjadi mertuanya, Evelyn bersikap anggun dalam makan. Hal itu bukan Evelyn sekali, karena Evelyn sangat menyukai makanan.


Russel terkekeh karena melihat Evelyn malu dan menundukan kepalanya. Menurutnya, Evelyn sangat lucu ketika lapar. Russel tiba-tiba berdiri dan menarik Evelyn pergi dari taman.


Sontak Evelyn kaget dengan perlakuan Russel yang tiba-tiba itu. "Hei, lepaskan tanganku.! " Teriak Evelyn yang tidak dihiraukan oleh Russel yang mengenggam tangan Evelyn erat.


Evelyn berontak tapi dia kalah tenaga dengan Russel yang laki-laki. Evelyn mendesah dan mengikuti kemana Russel menariknya.


Russel berjalan menuju mobilnya yang tidak jauh dia parkir kan. Tadi dirinya mengikuti Evelyn menggunakan mobil nya karena Evelyn memakai taksi. Entah kemana mobil wanita itu hingga memakai taksi, bahkan ketika turun, wanita itu hanya melenggang pergi tanpa membayar. Dan lagi-lagi, Russel yang yang membayar tagihan taksi itu walau sebelumnya dia di caci maki oleh sopirnya karena mengira dia adalah suami Evelyn. Walau itu tidak lama lagi, dirinya benar-benar menjadi suami Evelyn. Tapi tetap saja, belum jadi suami dirinya sudah susah, apalagi jika nanti mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri? Astaga, Russel tidak bisa membayangkannya.


Mereka masuk kedalam mobil, Evelyn menatap Russel dengan mata memicing. "Kita mau kemana? " Tanyanya, tapi Russel tidak menjawab dan mulai menghidupkan mobilnya keluar dari taman Hyde.


"Pakai seatbelt mu. " Ucap Russel tanpa melihat Evelyn yang kesal padanya.


Evelyn mendengsus kesal dan memakai seatbelt nya. Sedangkan Russel diam-diam mengulum senyum melihat Evelyn yang kesal padanya. Entah kenapa, rasanya menyenangkan melihat ekspresi Evelyn selain datar dan dingin.


Tidak lama mobil SUV hitam milik Russel tiba di salah satu street food yang tidak jauh dari taman Hyde tadi. Evelyn sedikit bingung karena dia belum pernah makan ditempat seperti ini.



Russel memarkirkan mobilnya dan menoleh melihat Evelyn yang memandang kedepan dengan tatapan bingung.


"Tempat apa ini? " Tanya Evelyn yang kemudian beralih menatap Russel.


"Kau belum pernah kesini? " Bukannya menjawab, Russel justru balik bertanya pada Evelyn.


"Aku tidak akan bertanya jika aku pernah kesini. " Jawab Evelyn dengan datar.


Russel mengulum senyumnya dan melepas seatbelt nya. "Turunlah, kau akan tahu tempat apa ini. " Katanya lalu membuka pintu mobil. Evelyn mendengus dan mau tak mau ikut keluar bersama Russel. Sialnya, Evelyn tidak membawa ponsel ataupun dompet, hal itu bahkan baru ia ingat tadi.


Ketika keluar dari mobil, Evelyn bisa melihat banyaknya orang yang berada di sana. Suara tawa, orang berbincang dan juga teriakan yang memekakan telinga nya bersautan di tempat itu.

__ADS_1


Russel menunggu Evelyn berjalan mengikutinya dan ketika sudah dekat Russel menggenggam tangan Evelyn. Sontak hal itu membuat Evelyn kaget dan ingin melepas. Tapi Russel tetap menggenggamnya dan masuk ke tampat itu.


Tempat ini bisa dikatakan sebagai restoran, tapi restoran untuk kalangan bawah. Karena harga dan juga tempatnya lebih murah dan juga sederhana.


Tapi, untuk rasa tempat ini bisa disamakan dengan restoran lainya. Mungkim tidak ada steak, ataupun lasagna dan makanan yang biasa di restoran mahal. Disini hanya ada burger, chicken, hotdog dan lainya.


Ketika masuk, Evelyn bisa merasakan banyak mata yang menatapnya. Tapi dia tidak menghiraukan nya dan mengikuti kemana Russel membawanya.


Mereka akhirnya sampai di salah satu bangku kayu yang kosong. Evelyn dan Russel duduk berhadapan.


Tidak lama, seseorang datang di meja mereka dan menanyakan pesanan.


"Hey bro, lama kau tidak kesini. " Ucap laki-laki yang Evelyn kira berumur 30 an menyapa Russel seperti sudah kenal lama.


"Yeah, sorry aku sedang sibuk. " Jawab Russel dengan santai.



Laki-laki itu menyeringai dan menatap Evelyn. "Sibuk bersama wanita cantik ini? Hey ladies, kenalkan aku James, pemilik tempat ini sekaligus teman pacar mu itu. " Laki-laki bernama James itu mengulurkan tangan padanya.


"Evelyn."


James mengangkat alisnya ketika Evelyn hanya mengatakan namanya tanpa mau menjabat tangan nya? Wow, angkuh sekali wanita ini, pikir James.


Russel menahan tawa melihat temanya itu di acuhkan. James mengangkat tanganya yang diabaikan dan menyugar rambutnya ke belakang. Senyum paksa terlihat di wajahnya.


"Baiklah, kalian pesan apa? " Tanya James yang tidak ingin berlama-lama diantara mereka. Terutama dengan wanita bernama Evelyn itu.


"Pesan kan saja apa yang aku pesan biasanya, tapi berikan dua kali lipatnya. " Kata Russel pada James yang langsung diangguki olehnya. Kemudian James pergi dan hanya tinggal mereka.


"Kau tidak bertanya padaku terlebih dahulu? " Evelyn memicing tidak suka. Bagaimana jika makanan yang dipesan oleh Russel tidak ia sukai? Dia akan tetap kelaparan dan hanya melihat Russel makan? Menyebalkan.


Russel menyeringai, "kau akan suka dengan makanan yang aku pesan." Jawabnya agar Evelyn tidak khawatir dengan makanan yang akan mereka santap.


Evelyn mengalihkan pandangan nya kearah lain dan melipat tanganya kedepan. Seperti anak kecil yang merajuk dan hal itu sukses membuat Russel tersenyum geli.


Baginya, apapun yang dilakukan oleh Evelyn adalah hal yang bisa membuatnya tersenyum. Entah apa yang dirasakan olehnya, tapi ini hal yang baru baginya.


__ADS_1


Thanks for Reading. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like and coment. β˜ΊπŸ€—.


Hope Enjoy... 😺😺.


__ADS_2