
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Happy Reading🤗
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Wanita berkerudung putih itu nampak cantik bagaikan seorang putri kerajaan. Mahkota kecil telah menghiasi kepalanya yang tertutup. Sungguh mengharukan.
Ia terus menatap pangeran tampan di hadapannya yang telah resmi menjadi suaminya. Di tambah lagi berada di sekeliling orang yang menyayanginya. Dia benar-benar telah menemukan kebahagiaan.
Yang kesekian kalinya, lelaki berjas putih itu mengusap air mata yang terus mengalir di pipi sang istri. Tangannya kini dapat menggenggam tangan mungil wanita pujaannya.
Rintangan yang mereka hadapi dapat terbayarkan dengan ini semua. Bibir ini kelu, tubuh ini gemetar, rasa ini mengharukan, saat pertama kali kau sebut namaku dalam ijab qobul. Kau hadiah dari Tuhan untukku.
•°•°Cerita Akan Di Mulai•°•°
"Milka!"
Remaja berambut pendek itu mendekat. "Aku sungguh tak percaya. Kau memenangkan olimpiade matematika tingkat nasional!"
Milka tersenyum, lalu menutup bukunya yang tengah ia baca.
"Itu semua juga berkat bantuan kalian."
"Kau hebat!"
Dia berteriak girang sambil memeluk tubuh Milka. "Kau membuat bangga kelas kita dan sekolah..."
"Kau berlebihan. Bukan hanya aku, tapi seluruh tim ku yang menang."
Milka nampak membereskan mejanya.
"Tapi jika di lihat dari nilai individu, kau yang tertinggi."
Milka tersenyum,
"Kita sambung lain waktu, ya, aku harus menemui Bu Lily."
"Oke, sayang. Aku tunggu di depan gerbang, ya."
Mereka melambaikan tangan sebelum berpisah. Milka melangkah menuju ruang guru untuk menemui Bu Lily, wali kelasnya.
"Permisi..."
Milka menundukkan kepalanya saat bertemu para guru yang sedang berbincang-bincang.
__ADS_1
"Bu Lily mencari saya?" tanya Milka saat ia melihat seorang wanita berusia 36 tahun yang tengah berkutat dengan laptopnya.
"Milka, kau sudah datang? Duduklah..."
Bu Lily mempersilahkan Milka duduk di depannya.
Milka melepaskan tas ranselnya dan menyenderkannya di samping kursi yang ia duduki. Bu Lily tampak sedang mengambil sesuatu di balik meja, sehingga tak dapat Milka lihat.
"Ini ada sesuatu dari ibu."
Bu Lily meletakkan sebuah kotak besar di atas meja. "Dan ini,..."
Lagi-lagi Bu Lily meletakkan selembar amplop putih. "Dari kepala sekolah."
Milka mengerutkan keningnya.
"Saya sudah menerima uang dari beliau, Bu."
Milka menolak halus, karena ia benar-benar sudah menerima sejumlah uang dari kepala sekolah dari hasil olimpiade.
"Ini dari beliau pribadi untukmu. Bukan dari hasil kejuaraan olimpiade. Terimalah,"
Bu Lily menyelipkan amplop itu ke tangan Milka.
"Itu pasti. Sekarang kau boleh pulang."
"Sekali lagi terimakasih, Bu. Saya pamit pulang. Permisi..."
Amanda Milka, seorang siswi SMA yang memiliki banyak prestasi. Namanya sudah tersebar luas dimana-mana. Bukan hanya kepintarannya yang membuat semua orang ikut dekat dengannya, tapi juga karena kebaikan dan kecantikannya.
Nada bicara halus dan lembut. Senyum selalu terlihat di bibirnya. Matanya indah berkilau. Tak pernah ada yang melihatnya marah atau menangis. Dia seperti bidadari di sekolah ini. Semua orang menyukai sosoknya.
Tapi Milka adalah orang yang sangat penutup. Ia tak pernah menceritakan masalahnya pada siapapun. Ia selalu tersenyum dan tertawa. Membuat orang sekitar mengira ia baik-baik saja.
Tapi saat itu, sekolah di buat gempar olehnya. Sudah 4 hari Milka absen. Tak ada kabar kenapa gadis itu tak masuk sekolah. Guru-guru hanya mendapat kabar bahwa Milka sakit. Tapi selama ini, Milka tak pernah tak masuk walau sehari pun.
Ini adalah hari Jumat. Kami berencana untuk menengok Milka. Tak semua, hanya Bu Lily sebagai wali kelas, Bu Rena selaku ketua kurikulum dan tiga orang anak perwakilan dari kelas.
Kami berjalan kaki menuju rumah Milka. Jarak sekolah ke rumahnya tak jauh. Berkali-kali kami menanyakan alamat pada warga sekitar. Perumahan yang padat penduduk membuat kami sedikit bingung.
Akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana berlantai dua dengan garasi dan taman di samping rumahnya. Bu Lily dan Bu Rena mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah. Tapi tak ada jawaban.
Kami berteriak dan mengetuk pintu lebih keras, tapi hasilnya tetap nihil. Bu Rena mengira bahwa Milka dan orang tuanya tak ada di rumah, mungkin lain waktu mereka berkunjung lagi.
Saat hendak keluar dari pagar rumah Milka, kami berpapasan dengan segerombolan ibu-ibu. Bu Lily pun bertanya kepada mereka. Dan jawabannya membuat kami terkejut.
__ADS_1
"Kita sudah hampir seminggu tidak melihat Milka keluar rumah. Biasanya Milka anak rajin, dia suka merapihkan tanamannya. Kadang suka menyapu halaman hingga jalan." sahut salah satu ibu-ibu.
"Kami juga sempat dengar keributan waktu malam Kamis. Bapaknya pergi naik mobil sekitar jam 12. Terus ibunya pergi juga subuh tadi, di jemput seseorang dengan mobil hitam." sambung ibu lainnya.
Bu Lily yang mendengar sempat tak percaya.
"Lalu, apa Milka juga keluar?"
"Kami kurang tahu kalau itu. Soalnya Milka tidak pernah terlihat sejak saat itu, Bu guru."
Bu Lily dan Bu Rena saling pandang. Mungkinkah Milka masih di rumah.
"Saya akan coba mengetuk pintu lagi." ujar Bu Rena yang di balas anggukan.
Reyhan, Keysha, dan Rendy –perwakilan kelas– ikut membantu. Mereka mencoba mencari pintu belakang. Gerombolan ibu-ibu itu pun ikut membantu memanggil Milka.
"Bu, pintu belakang tidak di kunci!" teriak Rendy yang langsung mengundang banyak perhatian.
Mereka langsung masuk, dan langsung di buat terkejut. Kondisi rumah benar-benar kacau. Seperti kapal pecah. Kursi terbalik, piring-piring pecah, bingkai foto jatuh dan retak. Genangan air di mana-mana.
"Milka!"
Mereka berpencar. Ada yang ke ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, lalu ada yang naik kelantai atas.
"Ya Allah, Milka...!!"
Bu Rena menjerit saat menemukan seorang remaja tergeletak di lantai kamar mandi.
Dress putihnya terdapat noda darah di mana-mana. Wajahnya yang putih terlihat pucat dan tirus. Salah satu ibu-ibu itu langsung menghubungi ambulance dan polisi.
Reyhan dan Rendy membantu Bu Rena menggotong tubuh Milka keluar kamar mandi. Tubuhnya terasa ringan. Bibirnya biru dan terdapat luka di ujung bibirnya.
"Bu Rena..."
Suara Milka yang terdengar lirih membuat kami semua menoleh.
"Iya, sayang..."
Bu Rena mengusap rambut Milka yang setengah basah.
"Papa dan mama bertengkar,..." ujarnya lagi yang setengah sadar. "Milka takut, Bu..."
Bu Rena langsung memeluk tubuh Milka. Keysha mengambil segelas air putih untuk Milka. Sedangkan Bu Lily sedang mengambil selembar selimut tebal untuk menutupi tubuh Milka yang basah.
Kami mendengar isakan tangis Milka saat di pelukan Bu Rena. Lalu hilang. Kami tak mendengar isakan nya lagi. Milka tak sadarkan diri. Tak lama salah seorang warga masuk yang bersamaan dengan suara sirine mobil ambulance.
__ADS_1