
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Happy Reading🤗
Ditunggu like, vote dan komentarnya 😘
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Milka tengah bersiap untuk kembali ke sekolah setelah empat bulan ia absen. Seragam kesayangannya telah terpasang di tubuh mungilnya. Tubuhnya sudah kembali sehat. Semua berkat pak Wildan, selaku ketua yayasan sekolahnya.
Ia benar-benar telah menemukan kebahagiaannya. Setelah pak Wildan mengangkatnya menjadi seorang anak. Milka semakin banyak di kelilingi orang yang benar-benar menyayanginya dan mencintainya.
Tok,
Tok,
Tok,
"Dek...?!"
Seseorang mengetuk pintu kamarnya setelah mengetuk pintu.
"Sebentar, mbak Chika..." sahut Milka dari dalam.
Milka langsung menyelesaikan ikatan dasi yang telah rapi melilit lehernya. Ia membuka pintu kayu berwarna putih itu. Nampak seorang wanita berusia 21 tahun tengah menunggunya.
"Maaf lama, mbak," ucap Milka tak enak.
"Tidak apa-apa. Ayo, yang lain sudah menunggumu di bawah untuk sarapan."
Chika menggandeng tangan Milka yang telah menjadi adik angkatnya tiga bulan yang lalu.
Mereka berjalan beriringan sambil bercerita dengan sela-sela tertawa. Senyumannya kini benar-benar asli tanpa kebohongan. Matanya terpancar kalau ia benar-benar bahagia.
__ADS_1
"Lihatlah, kedua putriku begitu cantik pagi ini," gerutu Wildan dengan uban yang sudah hampir menguasai rambutnya.
"Putri kita, mas. P-u-t-r-i k-i-t-a!"
Dahlia tampak tak terima saat sang suami menyebut Chika dan Milka sebagai anaknya. Walaupun mereka berdua tak ada hubungan darah dengan Wildan maupun Dhalia.
"Iya, sayang..."
Wildan mengelus rambut Dhalia yang panjang dengan mesra.
Kedua orang itu tak tanggung-tanggung menunjukkan kemesraan mereka di depan anak-anaknya.
"Chika, Milka, kemarilah." panggil Anggita sambil menata piring di atas meja makan yang besar.
"Kalian ini sudah membuat bunda marah sama ayah pagi-pagi." ujar Andrea yang sudah duduk manis di bangkunya.
"Loh, memangnya kenapa, yah?" tanya Chika khawatir.
"Ayahmu mengaku-ngaku kalau kalian berdua adalah anaknya. Seharusnya dia bilang "anak kita," bukan "anakku,". Memang aku siapa?" timpal Dhalia kesal sambil mengaduk-aduk nasinya.
Wildan terlihat sedang membujuk istrinya yang tengah merajuk karena keteledorannya.
Sedangkan Andrea, Anggita dan Aldi menahan tawa melihat sang ayah yang memohon di depan wanita tercintanya.
"Kakek harus minta maaf pada nenek. Lalu cium dan peluk nenek." seru seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.
"Rafa,..."
Anggita langsung menggendongnya dan meletakkannya duduk di samping bangku Andrea.
"Aku bisa jalan sendiri ke bangku, Tante..."
Rafa tampak cemberut.
__ADS_1
"Sayang, cepat makan sarapanmu. Nanti telat sekolah kalau harus cemberut." imbuh nyonya Andrea dengan lembut.
"Iya, mama."
Rafa langsung melahap roti panggangnya ke dalam mulut yang mengundang banyak tawa.
"Anak papa pintar."
Andrea mengelus rambut Rafa hingga acak-acakan.
"Papa, aduh,..."
Rafa menepuk dahinya. "Aku sudah tampan seperti ini. Papa malah mengacak-acak rambutku lagi." umpat Rafa kesal.
"Ehh, memangnya anak papa ini tampan, ya?" ledek Andrea.
"Ah, sudahlah. Aku lelah jika harus bicara dengan papa. Aku harus cepat menghabiskan rotinya. Jika tidak, mama akan marah padaku." jawab Rafa. "Papa seperti tidak tau saja jika mama marah." sambungnya.
Semua orang menatap kearahnya.
"Rumah ini bisa runtuh jika mama marah." bisiknya yang masih dapat di dengar.
Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Rafa, termasuk Milka. Selama ini ia tak pernah bisa merasakan bagaimana kebahagiaan jika dapat makan satu meja dengan seluruh anggota keluarga.
Dan kini Milka dapat merasakannya. Bahkan lebih dari apa yang ia bayangkan.
"Rafa,..."
Suara Ghina–istri Andrea–yang pelan tapi terkesan menyeramkan membuat bocah itu berhenti tertawa.
"Tidak, mah. Tidak, mah."
Dengan mulut yang masih penuh, ia beranjak dari duduknya. "Pak Adi, ayo berangkat ke sekolah. Aku sudah telat!" teriak Rafa, hanya untuk bisa melarikan diri dari amukan mamanya.
__ADS_1
Semua orang yang melihat kelicikannya yang menurun dari sang papa itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.