
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Happy Reading🤗
Ditunggu like, vote dan komentarnya 😘
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Milka menatap penuh rindu kearah teman-temannya. Empat bulan adalah waktu yang cukup lama tak berjumpa dengan mereka. Yang selalu heboh, ramai, lucu, dan kadang juga suka jahil.
Di sini, di tempat Milka berdiri untuk menyapa kembali teman-temannya. Suasana kelas yang hangat, kebersamaan yang mengharukan. Aura berbeda mulai muncul mengelilingi tubuh mungil gadis remaja itu. Ia sungguh terharu.
Tak menyangka bahwa mereka semua sudah menyiapkan sambutan hangat untuknya. Kelas XI-B disulap menjadi ruangan penuh pita dan balon. Pelukan pertama ia dapat dari sahabat lamanya, Keysha.
"Ibu harap, kelas XI-B bisa terus bersama hingga kelulusan tiba. Tetaplah kompak dan saling menyayangi satu sama lain." Sambut Bu Lily.
Acara selanjutnya adalah pemotongan kue yang telah di siapkan oleh Balqis, anak dari pemilik toko kue ternama. Acara ini memang hanya di hadiri anak-anak kelas XI-B saja dan beberapa guru yang sudah banyak berperan dalam kelas ini.
Gadis berambut sebahu itu kembali menelusuri tiap tatapan sang teman. Penuh sayang dan cinta. Ia tak mengira akan memiliki banyak teman seperti sekarang ini. Mama selalu berkata,
"Anak haram tak pantas di cintai, kau tau? Kau itu sampah! Tak ada yang menginginkan kehadiranmu, termasuk papa yang selalu kau banggakan itu".
Tapi walau begitu sulit kehidupan gadis keturunan Jepang itu, ia tak pernah mundur. Langkahnya seolah hanya mengenal kata maju. Matanya yang bening itu terpancarkan masa depannya yang cerah.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
•°• Flashback On •°•
Kejadian Yang menyimpan Jawaban,
Kenapa Fauzi –Ayah tiri Milka– Pergi Tengah Malam Di Hari Itu?
"Ku kira kau benar-benar telah berubah, Tan,"
Lelaki itu menatap tajam. "Ternyata tidak. Kau membuatku hina dan malu atas kelakuanmu."
Tania terduduk di lantai menatap tak percaya. Padahal selama ini ia begitu hati-hati melakukannya. Dan kenyataan itu membuat sang pujaan hati, Fauzi marah besar.
"Aku sudah mau ikhlas saat tau kau janda beranak satu yang di tinggal suami pergi. Aku tetap mau menikahimu dan menerima Milka seperti anakku sendiri. Tapi apa yang kau lakukan?,"
"Itu tak seperti yang kau kira, mas,..."
Tania terisak yang masih terduduk di lantai sambil terus memegang tangan Fauzi.
"Lalu seperti apa?,"
Fauzi kini merendahkan suaranya. "Ceritakan semuanya tanpa kebohongan sedikit pun!"
__ADS_1
Tania tak bergeming. Bibirnya seakan takut berkata yang sebenarnya.
Fauzi menghela nafas. Ia berjongkok sambil menarik dagu Tania agar mereka saling bertatapan.
"Siapa ayah dari bayi yang kau kandung? Jika kau sudah hamil sebelum aku keluar kota selama tiga bulan, maka usia perkiraan bayi itu lebih dari dua belas minggu. Dan aku baru meniduri mu kemarin malam. Tentu tidak mungkin jika bayi itu langsung menginjak enam minggu, bukan," cecar Fauzi dengan tatapan tajam yang seolah ingin membunuh.
"Sungguh tidak masuk akal," gerutu Fauzi kesal sambil beranjak berdiri. "Aku akan mengirimkan surat gugatan cerai padamu besok."
Fauzi telah rapi dan hendak keluar rumah.
Dengan segera, Tania menghalangi jalan Fauzi dengan mata yang memerah.
"Tolong jangan pergi, mas. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon,..."
Fauzi terus menatap wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Katakan sekarang juga, apakah dia anakku atau bukan?," tanya Fauzi dengan tegas. "Jika iya, aku takkan pergi. Dan jika dia bukan darah dagingku, maka aku akan pergi. Tapi jika kau berani berbohong padaku, aku tak segan-segan untuk membuatmu hidup menderita. Camkan itu baik-baik!"
Tania berusaha mengumpulkan segenap kekuatan untuk berkata jujur. Ia tau, Fauzi bukan orang sembarangan dan selalu menepati janjinya, terlebih tentang membuat seseorang hidup menderita. Ialah ahlinya.
Dengan perlahan, Tania mengangkat kepalanya, sampai mereka saling bertatapan.
"Kau bukan ayah dari bayi ini, mas," ucap Tania bergetar ketakutan. "Tapi ketahuilah, hanya kamu satu-satunya orang yang ku cintai, mas. Hanya kamu."
__ADS_1
Malam itu setelah kepergian Fauzi, Tania mengamuk untuk kesekian kalinya. Bahkan ia juga melampiaskan semua kemarahannya pada Milka yang tengah belajar di kamarnya itu.
Dan setelah puas memukulinya, Tania pergi di jemput seseorang dengan mobil, subuh di hari itu.