
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Happy Reading🤗
Ditunggu like, vote dan komentarnya 😘
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Hari ini kita akan rayakan kembalinya Amanda Milka, sahabat kita yang tersayang,"
seru Keysha bersemangat. "Makanlah sepuasnya, aku akan mentraktir hari ini."
Sepulang sekolah, Keysha mengajak semua sahabatnya yang terdiri dari Rendy, Reyhan, Meydila, Kimora, serta si tuan putri Milka untuk makan di Cafe milik sang kakak.
Milka juga tak lupa meminta izin pada keluarga barunya yang selalu mengkhawatirkan dirinya. Ia sungguh amat merindukan suasana berkumpul seperti ini. Bercerita dan bercanda bersama. Menghabiskan waktu sore sebelum pulang ke rumah.
"Anda mau minum dan makan apa, tuan putri?" tanya Keysha layaknya seorang dayang-dayang di sebuah kerajaan antah-berantah.
Semua menahan tawa, melihat aksi Keysha yang terlihat berlebihan. Dan di lain sisi mereka takut untuk mengomentari aksi Keysha, yang pasti berakhir di pukuli olehnya. Keysha mantan anak taekwondo itu sudah menyimpan puluhan mendali di kamarnya.
"Seperti biasa saja. Kesukaanku!" jawab Milka lembut yang terkesan sopan.
__ADS_1
"Baik, tuan putri,"
Keysha membungkukkan tubuhnya. Lalu menatap teman-temannya yang tengah berusaha menahan tawa itu. "Untuk kalian, pesan saja langsung ke pelayan. Aku hanya pelayan pribadi untuk tuan putri Milka." tegasnya yang langsung membuat mereka berhenti tertawa dan mengangguk mantap agar tak di curigai.
Milka yang mengetahui keadaannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak ada seorangpun yang berani menentang anak anggota taekwondo itu. Mendapat tatapannya saja sudah membuat orang menciut. Apalagi mendapatkan tendangannya. Pasti akan berakhir di rumah sakit, Pikir semua orang.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di Waktu Yang Sama, Tempat Yang Berbeda.
Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya berwarna hitam mengkilat itu. Ia melonggarkan sedikit dasi yang melilit lehernya. Lelah, adalah satu kata yang di rasakan olehnya saat ini. Kedatangan orang-orang penting ke perusahaannya, membuatnya lelah dan mengantuk.
"Kirimkan semua itu ke email ku. Aku akan pulang cepat hari ini. Rasanya tubuhku remuk seperti di lindas mobil." ucapnya.
"Beristirahatlah, tuan Yuri. Anda telah menyelesaikan semua ini dengan baik. Saya yang akan mengambil alih pekerjaan anda, jika anda ingin cuti beberapa hari." jawab sekertaris Yuma dengan sopan.
"Kau juga butuh istirahat, Yum. Kau itu bukan robot. Jangan paksakan dirimu juga."
Yuri melepaskan jas hitamnya dan menggulung lengan kemejanya hingga sikut.
"Saya akan berusaha untuk membagi waktu antara bekerja dan beristirahat, tuan."
__ADS_1
"Kau ini keras kepala sekali," gerutu Yuri. "Besok aku akan tetap masuk kerja. Tak mungkin aku meninggalkan pekerjaan banyak itu pada sekertarisku seorang diri."
Yuma tersenyum.
"Terimakasih atas perhatiannya, tuan."
"Kau juga pulanglah. Istirahatkan tubuhmu. Aku tidak suka jika kau membantah untuk hal ini, Yuma."
"Baik, tuan Yuri Hatake."
Yuma membungkukkan tubuhnya saat Yuri beranjak keluar ruangannya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Yuri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan hanya lelah raganya, tapi juga batinnya. Terpisah dari anak sulungnya, membuat ia kesulitan tidur akhir-akhir ini. Pikirannya terus terbayang wajah sang anak.
Apakah dia bahagia? Atau malah menderita?
Ia bingung mau berbuat apa. Mereka pindah rumah setelah ia memutuskan hubungannya dengan wanita itu. Dan jejak kepindahannya hilang begitu sempurna tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Hatinya di penuhi kata rindu yang tertuju untuk putri sulungnya. Ah, ini sudah beberapa tahun lamanya. Pasti putri kecilnya itu telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik.
__ADS_1
Yuri mengambil selembar foto berlapiskan plastik agar tak mudah sobek. Ia terus menatapnya penuh cinta dan kerinduan seorang ayah pada anaknya.
"Apakah kau masih mengingat papa mu ini, Mil. Bagaimana jika suatu saat kita di pertemuan kembali? Apakah kau akan lari menjauh atau lari ke pelukan papa?"