Izinkan Aku Menjadi Cahayamu

Izinkan Aku Menjadi Cahayamu
•°• Chapter 3 •°•


__ADS_3

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Happy Reading🤗


Ditunggu like, vote dan komentarnya 😘


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


•°• Flashback On •°•


"Wah, boneka beruang..."


Seru gadis kecil itu sambil memeluk boneka beruang berwarna cokelat susu. "Terimakasih, papa. Aku sayang papa."


"Kau suka?"


Lelaki itu mengelus rambut putrinya.


"Iya." balasnya penuh senyuman. Lalu ia menatap kembali ke arah bonekanya. Senyumannya tiba-tiba menghilang. "Tapi kenapa papa membelikan boneka beruang yang besar?"


"Papa ingin boneka beruang ini bisa menjagamu selama papa pergi."


Laki-laki itu menatap lekat dengan mata berwarna hazel nya.


"Papa ingin pergi?"


Gadis kecil itu mengatup mulutnya menahan tangis.


"Milka, dengarkan papa."


Dia memegang kedua pipi gadis itu, hingga mata hazel mereka bertemu.


"Ingatlah bahwa, papa akan selalu mencintaimu dan menyayangimu. Kau adalah putri papa. Kau separuh dari hidup papa. Kau segalanya bagi papa, Mil."


Suaranya terdengar bergetar tapi tetap terkesan tegas. Butiran-butiran air mata masih tertahan.


"Aku tau, pah. Aku juga sangat mencintai papa..."


Laki-laki itu mengusap air mata yang keluar dari sela-sela mata Milka yang saat itu berusia 5 tahun.


"Tuan putri, papa harus pergi."


Laki-laki itu berhenti. Ia tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun.

__ADS_1


"Urusan kantor?" tanya Milka dengan polos.


"Iya, sayang. Dan mungkin ini akan lebih lama dari sebelumnya."


Maafkan papa, Mil. Papa tak mungkin memberitahumu tentang ini. Kau masih terlalu kecil. Biarkan waktu yang menjawab semua pertanyaanmu itu. Dan semoga, kau tak membenci papa mu ini.


"Berapa hari?" tanya Milka. Matanya menatap sang ayah yang tengah menunduk.


"Mungkin selamanya." gumamnya.


Lelaki itu tak kuasa menahan tangisannya. Ia langsung menarik tangan Milka dan memeluknya dengan erat. Ia juga mengecup rambut Milka berkali-kali.


"Apa Milka bisa ikut, pah?"


"Papa maunya juga seperti itu. Tapi tidak memungkinkan. Papa tidak bisa mengajakmu."


"Kenapa?"


Yang kesekian kalinya. Ia menatap mata putrinya yang mulai berkaca-kaca.


"Karena papa tak ingin melukaimu. Papa tidak ingin membuatmu terus bersedih. Papa ingin kamu bahagia. Kejar mimpi kamu, nak."


Milka terdiam. Ini bukan yang pertama sang ayah pergi. Tapi kali ini terasa sangat berat bagi anak dan ayah itu.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval yang berwarna biru cerah.


"Pakai ini dan jangan sampai kau lepas. Anggap saja bahwa kalung ini adalah papa. Jadi saat kau rindu dengan papa, kau tinggal mencium Kalung ini."


Milka segera mengusap sisa air matanya. Ia mengangguk sambil menatap wajah sang ayah yang mungkin untuk terakhir kalinya.


"Aku akan menjaga kalung ini, pah."


"Bagus, itu baru anak papa..."


•°• Flashback Off •°•


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ini sudah bulan keempat sejak kejadian itu terjadi. Kami tak pernah mendengar kabar tentang Milka selama itu. Yang kami tau, Milka di bawa oleh Pak Wildan–ketua yayasan–bersama istrinya.


Pak Wildan memiliki dua orang anak. Yang pertama Andrea dan si bungsu Anggita. Mereka telah menikah dan tinggal terpisah. Kini Wildan dan istrinya hanya tinggal berdua sambil menanti kedatangan anak dan cucu mereka.


Kehadiran Milka seolah membawakan warna kedalam hati kerinduan orang tua pada anaknya. Wildan dan istrinya begitu penyayang. Bukan hanya Milka yang menjadi anak angkatnya, tapi juga ada dua orang anak yang telah mereka angkat.

__ADS_1


Aldi dan Chika adalah salah satu anak yang beruntung dari banyaknya anak di panti asuhan. Sekarang mereka tengah mengejar mimpinya menjadi seorang aktor dan desainer.


Dan kini, kelas XI-B tengah terjadi sesuatu hingga anak-anak menjerit kegirangan. Kabar kembalinya Milka menjadi penyebab utama. Selama empat bulan ini kelas terasa tak bernyawa tanpa kehadiran Amanda Milka.


Dan sekarang, sang bidadari kelas akan kembali lagi bersekolah.


"Bisakah kalian diam?! Kembali ke tempat duduknya masing-masing!" seru Rendy, si ketua kelas.


"Uh, berisik sekali. Sebenarnya mereka sadar usia tidak? Selalu bertingkah seperti anak TK saja." gerutu Reyhan, siswa yang cukup tak banyak bicara dan bermuka datar.


Meydila datang dan duduk di meja samping Reyhan.


"Yah, mau bagaimana lagi. Si Ratu kelas akan kembali."


"Aku penasaran dengannya. Apa dia berubah atau sama seperti dulu yang selalu ceria." timpal Kimora yang setia pada kacamatanya.


"Hmm, aku merindukannya,..."


Keysha melipat kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja, lalu menjadikannya bantal untuk kepalanya.


"Aku juga,..." sahut Kim dan Meydila bersamaan.


"Kau tidak merindukan Milka, Rey?"


Seketika kepala Keysha terangkat.


Dengan wajah datarnya, ia melirik sebentar lalu berpaling lagi.


"Tentu saja."


Semua terhenyak mendengar penuturan Reyhan. Bahkan Kimora yang tengah membaca buku fisika yang sangat tebal itu langsung menutupnya setelah mendengar ucapan Reyhan, si pria es batu.


"M-maksudku merindukan sebagai teman. Apa salah seorang teman merindukan salah satu temannya yang sudah lama tidak bertemu?" ralat Reyhan yang berusaha menutupi kegugupannya karena hampir terciduk.


Keysha langsung berdiri dari tempatnya, lalu berdiri didepan meja Reyhan.


"Benarkah?"


Tatapan mata Keysha selalu membuat semua orang merinding.


"Hmm,"


Reyhan melipat kedua tangannya di atas dada sambil mengangguk mantap.

__ADS_1


__ADS_2