
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Happy Reading🤗
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Mama, lihat..."
Gadis kecil itu menunjukkan sebuah gambar. "Ini aku, mama, dan papa. Kita hidup bahagia bersama."
"Bodoh!"
Wanita itu mengambil kertasnya dan merobek-robeknya. "Pria yang kau panggil papa itu tidak akan pernah kembali! Aku tidak akan bisa bahagia bersama dengan kalian."
Gadis itu mengatup mulutnya menahan tangis.
"Tapi papa bilang akan kembali. Papa menyayangiku dan menyayangi mama." ucapnya dengan wajah polos.
Plak,
"Sudah ku katakan berkali-kali padamu. Pria itu tidak menyayangiku apalagi denganmu, bodoh. Dia hanya memanfaatkan kita demi kariernya!"
__ADS_1
Wanita itu mencengkeram erat kedua bahu Milka yang saat itu berusia 6 tahun.
"Tapi, mah..."
"Berhenti menatapku. Matamu itu membuatku mengingat pria brengsek itu!"
Milka memejamkan matanya. Mama membenci dirinya karena memiliki mata yang sama dengan papa. Mungkin saat merubahnya, rasa benci mama pada Milka berkurang.
Ternyata hasilnya percuma. Milka telah memakai softlens warna agar terlihat mirip dengan mama, tapi Milka masih menjadi pelampiasan kemarahan mama.
Kadang mama menceburkan kepala Milka ke dalam wastafel yang berisi penuh air.
"Panggil papa mu itu. Suruh dia datang untuk menolongmu!"
"Kau menghancurkan hidupku!!"
Yang paling mengerikan saat mama memarut jari telunjuk Milka dengan pemarut keju.
"Mah, ampun. Sakit, mah..."
"Sakit? Itu tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan hingga membuatku seperti ini!"
__ADS_1
Rasanya sakit, perih, dan ngilu. Bekas pukulannya pun masih membekas di tubuh Milka.
Mama selalu membanting, memukul, mencambuk tubuh mungil Milka. Tapi ajaibnya, tulang-tulangnya tak pernah patah ataupun retak.
Milka tak pernah di bawa ke rumah sakit ataupun mendapat pengobatan. Luka-lukanya hanya Milka guyur dengan air keran.
"Papa, pulanglah. Aku takut dengan sikap mama. Pah, tolong jemput aku. Aku sangat merindukanmu, pah. Beritahu aku, kenapa mama selalu menyalahkan ku. Aku lelah dengan semua ini. Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku mati. Aku ingin bertemu Oma. Aku tak mau bersama mama lagi..."
Milka selalu meringkuk di dalam selimut sambil mengusap selembar foto dan sebuah kalung liontin berwarna biru terang. Hanya itu pemberian dari sang ayah untuknya. Rasa rindu selalu ia lampiaskan pada foto seorang pria.
Apa aku harus mencari papa di luar sana? Bagaimana jika papa benar-benar tidak menyayangiku?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Pasien mengalami dehidrasi. Tubuhnya demam. Kami menemukan luka robek di pelipisnya–terletak di sisi kepala tepat di samping mata–dan leher sebelah kanan. Pasien hampir kehabisan darah, jika saja kalian telat membawanya. Sekarang pasien mengalami koma."
Bu Rena tak henti-hentinya berlinang air mata. Ia tak menyangka bahwa ada seorang ibu yang sangat kejam dengan anak kandungnya sendiri. Di lain sisi, Bu Lily sedang mengabarkan kepada para guru dan ketua yayasan.
Milka terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Kulitnya yang putih dan lembut, bulu mata yang lentik, dan bibir yang mungil.
Para warga tengah membantu melaporkan kepada pihak polisi. Mereka menceritakan semua yang mereka tau. Saat ini polisi tengah mencari posisi sang ibu yang tega menganiaya putrinya sendiri.
__ADS_1
Setidaknya itu membuat Bu Rena dan Bu Lily lega. Sekarang mereka ingin fokus pada kondisi Milka dan nasib siswi terbaik itu.