
Bab 4
"Ini kamu buat sendiri?" tanya Kenzo begitu Mimi menyerahkan kotak bekal.
"Iya," jawab Himawari singkat dengan perasaan cemas.
"Kenapa?" tanya Kenzo sambil menatap dalam wajah imut Himawari yang memerah dalam jarak yang sangat dekat.
"Se–moga Kak Ken su–ka," jawab Himawari gugup dengan mata tertutup karena jarak muka mereka tidak sampai 10 sentimeter.
Kenzo diam terpana melihat wajah Himawari yang keimutannya di level tinggi. Pipi merona, bulu mata yang lentik, hidung kecil yang mancung, terutama bibir ranum berwarna pink segar. Pemuda itu hanya bisa menelan saliva karena penasaran dengan rasa benda yang selalu menggoda untuk kaum Adam.
Saat ini kedua remaja itu duduk di bawah pohon di halaman belakang bangunan perpustakaan. Di sana jarang ada yang lewat, kecuali jika ingin berkumpul dengan teman dan butuh tempat yang nyaman.
Kenzo pun memakan sarapan buatan Himawari yang dibuat dengan cantik tertata di kotak bekal. Pemuda itu begitu menikmati nasi goreng seafood buatan sang pelayan baru miliknya. Dalam waktu lima menit semua isi di kotak bekal itu sudah ke dalam perutnya.
"Enak sekali bekal yang kamu bawa," puji Kenzo dengan senyum lebar.
Ini pertama kali Himawari melihat Kenzo tersenyum seperti orang normal. Biasanya sering terlihat senyum mengejek atau menyeringai dan itu membuat si gadis sering ketakutan.
"Syukurlah kalau Kak Ken suka," balas Himawari dengan senyum tipis dan mata berbinar.
Jantung Kenzo lagi-lagi bertalu-talu dan kali ini di dalam perutnya juga terasa ada ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan menari-nari. Tentu saja hal ini pertama kali dirasakan oleh sang ketua OSIS.
'Lagi-lagi ... sebenarnya ada apa dengan diriku? Ini bukan penyakit mematikan, bukan?' batin Kenzo sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Mata Kenzo terus memperhatikan Himawari yang sedang merapikan bekas bekal sarapan barusan. Perasaan dia semakin kacau dan tidak bisa dia mengerti setelah bertemu dengan adik kelasnya ini.
Bunyi lonceng masuk kelas berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Kenzo dan Himawari pun bergegas ke kelas masing-masing.
"Jangan lupa makan siang nanti kita makan bersama juga!" teriak Kenzo baru ingat setelah mereka berpisah beberapa langkah. Himawari hanya mengangguk lalu melanjutkan menuju kelasnya.
***
Mata Kenzo memicing tajam saat melihat ada Hinata ikut serta Himawari datang sambil membawa bekal. Mereka bertiga pun makan bekal masing-masing. Seperti biasa tempat mereka makan di halaman belakang gedung perpustakaan.
Di bawah pohon yang rindang oleh dedaunan, ketiga orang itu makan dengan santai. Himawari dan Hinata saling tukar menu makan siang mereka dan saling memuji rasa masakan temannya.
"Hinata, telur gulung buatan kamu ternyata enak!" puji Himawari dengan tersenyum bahagia.
"Justru udang tempura buatan kamu yang enak. Kapan-kapan aku akan belajar memasak sama kamu, ya?" Himawari memuji balik.
"Kenzo. Ada berita tidak mengenakkan terjadi kepada salah seorang murid Sakura Internasional School," ucap Ren dengan napas memburu.
Tatapan Kenzo kini beralih kepada dua orang anggota OSIS lainnya. Bukan hal aneh jika ada masalah dengan murid di sekolahnya ini. Baik menjadi pelaku mau pun korban. Nanti tugas dia sebagai ketua OSIS akan mengambil keputusan akhir atas tindakan apa yang akan merek dilakukan.
"Ada yang terjadi?" tanya Kenzo datar.
"Salah seorang murid kelas XI-3 dikeroyok oleh anak sekolah SMA MERCURIUS semalam sepulang dari les bimbel," jawab Ren.
Sementara itu, Hana terus saja melihat ke arah Himawari yang ikut mendengarkan pembicaraan antara Kenzo dan Ren. Ada rasa tidak suka dari tatapan matanya kepada gadis polos itu.
__ADS_1
"Ada permasalah apa di antara mereka sebelumnya?" tanya Kenzo.
"Katanya ini ada sangkut pautnya dengan kejadian dua bulan yang lalu. Kamu ingat kasus Reina, murid perempuan yang dipalak dan disiksa oleh geng perempuan murid SMA Nadeshiko? Kita balas mereka, 'kan? Nah, beberapa orang itu punya kekasih di sekolahan yang sama. Salah satunya adalah kekasih Eric, ketua preman SMA Nadeshiko, dia bilang akan memberi pelajaran kepada semua murid SMA Sakura Internasional School di mana pun mereka bertemu," jelas Ren.
Mendengar penjelasan itu Kenzo tentu saja marah dan langsung berdiri. Pemuda itu bergegas pergi dari tempat itu dan meninggalkan Himawari bersama dengan Hinata.
Wajah kedua gadis kelas X-2 itu berubah pucat. Keduanya ketakutan setelah mendengar ucapan Ren tadi.
"Aku takut," ucap Himawari lirih.
Selama ini Himawari pulang dan pergi sekolah naik bis. Sekolah melarang murid membawa kendaraan sendiri. Jalur tempat dia menuntut ilmu berbeda arah dengan kantor papanya.
"Aku juga. Bagaimana jika kita bertemu murid-murid SMA Nadeshiko saat di terminal bis?" Hinata dan Himawari saling berpelukan.
Di tempat lain Kenzo memimpin pertemuan dengan semua anggota OSIS. Mereka sedang merencanakan misi pembalasan kepada kelompok geng preman sekolahnya SMA Nadeshiko.
"Apa sudah ada balasan pesan dari pihak SMA Nadeshiko?" tanya Kenzo.
"Belum ada. Sepertinya mereka mengabaikan surat peringatan dari kita seperti dahulu," jawab Hana yang menjabat sebagai sekretaris OSIS.
"Sepertinya mereka sangat suka sekali dengan kekerasan," lanjut Ren dengan tangan kanan terkepal dan dipukul-pukul ke telapak tangan kirinya.
"Oke, jika itu pilihan mereka. Kita serang sekolah SMA Nadeshiko!" titah Kenzo dan disambut teriakan semangat dari anggota OSIS yang hadir.
***
__ADS_1
Akankah terjadi tawuran antar sekolah? ikuti terus kisah mereka, ya!