Jadi Pelayan Ketos Galak

Jadi Pelayan Ketos Galak
Bab 7. Hubungan Buruk


__ADS_3

Bab 7


Himawari sangat ketakutan karena sudah kepergok oleh guru dan kepala sekolah. Dia berpikir kalau dirinya sudah melakukan perbuatan salah dan melanggar peraturan sekolah. Keringat dingin sebesar biji jagung kini memenuhi kening, leher, dan sekujur badan. Sungguh ini pertama kalinya dalam hidup gadis itu ditegur oleh guru, apalagi kepala sekolah.


Mata Kenzo melirik ke arah Himawari. Dia melihat kalau gadis itu sedang dalam ketakutan. Lalu, dia pun menggenggam tangannya agar lebih tenang dan tidak panik atau takut.


"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa," bisik Kenzo.


Walau sudah mendengar ucapan Kenzo, tetap saja Himawari masih tetap tidak tenang. Ketiga orang dewasa terus saja melihat ke arahnya. Dia tidak pernah ditatap seperti itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Kenzo sambil memakai kembali kemeja sekolahnya.


"Kamu harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kemarin di depan dewan sekolah," jawab kepala sekolah.


Laki-laki paruh baya itu sudah sering dibuat repot oleh tindakan yang dilakukan oleh Kenzo dan teman-temannya. Menurut aturan sekolah tentu saja ini salah. Namun, dia juga tidak bisa melindungi murid-muridnya. Apalagi jika yang dihadapi adalah dari keluarga berpengaruh.


"Aku rasa aku itu tidak perlu hadir, Pak. Ada Ren dan Hana yang tahu dengan jelas permasalahan yang terjadi kemarin," tukas Kenzo sambil berjalan mendekati ketiga orang itu setelah selesai merapikan seragamnya.


"Tetap saja kamu sebagai ketua OSIS harus hadir. Apalagi kamu membuat seorang anak orang sampai babak belur begitu, ditambah digantung terbalik. Kedua orang tuanya tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Semalam mereka mengirim utusan ke rumah Bapak," ucap kelapa sekolah dengan nada kesal.


Kenzo malah berjalan dengan santai dan kembali untuk menggandeng tangan Himawari karena bunyi lonceng masuk kelas berbunyi. Dia akan mengantarkan dulu gadis itu ke kelasnya.

__ADS_1


"Kak Ken, beneran tidak akan terjadi apa-apa kepada kalian?" tanya Himawari sambil berbisik.


"Kamu tenang saja. Kita tidak berada di posisi yang salah. Justru kita melakukan hal itu untuk melakukan pembelaan diri dan memberi pelajaran kepada mereka agar jangan berbuat semena-mena lagi kepada murid di sekolah kita. Jika kamu nanti mendapatkan kesulitan oleh murid lain baik di sekolah ini atau dari sekolah lain, bilang kepadaku. Dengan senang hati aku akan memberikan mereka pelajaran," jawab Kenzo menyeringai dan Himawari terdiam hanya bisa menelan saliva. Dia tidak mau menanggapi omongan si ketua OSIS, takut menambah masalah untuk dirinya di masa depan.


***


Kini beberapa orang dari jajaran OSIS sedang berdiri di depan dewan sekolah, guru pembina, dan kepala sekolah. Mereka sebenarnya sudah bosan berhadapan dengan Kenzo dan teman-temannya ini. Bukan sekali dua kali mereka mengadakan pertemuan. Setiap bulan bahkan hampir setiap dua minggu sekali ada saja permasalahan yang diatasi oleh OSIS dengan cara Kenzo. Tidak mempan pakai bahasa mulut, maka tangan dan kaki yang akan bicara.


"Kenapa harus dengan cara seperti itu lagi? Apa tidak cukup dengan menghajarnya saja?" pekik seorang perempuan berdandan glamour dan elegan.


Mata wanita itu menatap tajam ke arah Kenzo. Namun, pemuda itu seakan cuek dan tak acuh dengan apa yang sedang diucapkan orang yang duduk di depannya.


"Bu Tomoyo, perbuatan Eric dan gengnya itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Justru kami mendapatkan ucapan banyak terima kasih dari orang-orang yang pernah ditindas oleh Eric and the gang," balas Ren sambil melirik ke arah Kenzo.


"Tetap saja kalian sudah mencoreng nama baik sekolah ini," lanjut Bu Tomoyo dengan tegas. Meski wanita ini memiliki wajah yang cantik, tetapi tatapan matanya tajam, rahang keras, dan alis hitam tebal.


"Nama baik sekolah? Sejak dahulu sekolah ini sudah banyak tercoreng karena kelakuan para dewan sekolah yang korup, guru yang lalai, murid sombong dan suka merundung temannya. Nama baik yang mana, yang Anda maksud itu?" balas Kenzo tidak kalah pedas.


"Kenzo!" Bu Tomoyo melemparkan berkas laporan yang diberikan oleh Hana tadi ke arah Kenzo.


"Tuh, benarkan apa yang aku bilang. Kelakuan ketua dewan saja seperti ini kepada anak di bawah umur. Apa Anda tidak malu dengan ucapan tadi? Nama baik? Anda sendiri juga tidak peduli dengan hal itu," balas Kenzo.

__ADS_1


"Diam kau, Ken! Tidak ada rasa hormat kamu kepada orang tua?" bentak Bu Tomoyo.


"Orang tua seperti apa dulu yang pantas di hormati. Kalau hanya mengandung dan melahirkan, setelah itu dibiarkan begitu saja tidak diberi kasih sayang dan merawatnya, untuk apa menghormatinya. Toh, si anak juga tidak mau dilahirkan olehnya," balas Kenzo dengan tatapan sengit.


Semua orang tahu hubungan Bu Tomoyo dan Kenzo sejak dahulu sudah tidak baik. Wanita itu terlalu sibuk dengan karirnya yang seorang aktris, model, dan penyanyi. Setelah mengalami kecelakaan dan menewaskan kembaran Kenzo, dia pun memutuskan untuk berhenti di dunia hiburan dan beralih menjadi pembisnis. Meski tidak jauh-jauh dari dunia wanita. Dia membuka butik, toko perhiasan, Wedding Organizer, dan pimpinan dewan sekolah. Meski sudah dilarang oleh suaminya, dia bersikeras ingin melakukan apa yang diinginkan olehnya.


Bu Tomoyo selalu kehabisan kata-kata jika Kenzo sudah menyinggung masalah peran orang tua. Wanita itu mengakui kalau tidak menjalankan tugas seorang ibu dengan baik.


Suasana di dalam ruangan itu malah semakin mencekam gara-gara pertengkaran ibu dan anak. Jika Bu Tomoyo keras, maka Kenzo pun akan lebih keras. Mereka ibu dan anak yang wataknya sama-sama keras.


"Baiklah karena ini berawal dari kesalahan murid SMA Nadeshiko, jadi kalian anggota OSIS dinyatakan tidak bersalah karena melakukan pembelaan dan melindungi murid sekolah ini," ucap kepala sekolah mengakhiri pertemuan ini.


Murid-murid yang merupakan pengurus OSIS merasa senang karena mereka tidak mendapatkan hukuman dari pihak sekolah. Namun, suasan hati Kenzo masih buruk. Selalu saja terjadi pertengkaran jika sudah berada di satu tempat bersama ibunya.


'Aku harus mencari Hima. Hanya dengan menjahili dia suasana hatiku bisa membaik,' batin Kenzo.


Pemuda itu merasa bersyukur karena Himawari sekarang menjadi pelayan baginya. Orang yang bisa jadi tempat pelampiasan saat sedang butuh hiburan.


'Aku ajak dia pergi, ah!' batin Kenzo yang melangkah dengan penuh semangat menuju jelas Himawari.


Bu Tomoyo menatap Kenzo dari kejauhan. Dia berharap kalau hubungannya dengan anak semata wayangnya itu bisa baik, kayaknya ibu dan anak.

__ADS_1


'Sampai kapan akan terus seperti ini?' tanya Bu Tomoyo di dalam hatinya.


***


__ADS_2