Jadi Pelayan Ketos Galak

Jadi Pelayan Ketos Galak
Bab 6. Mengobati Luka Kenzo


__ADS_3

Bab 6


Sepulang dari tawuran tadi, Kenzo berjalan gontai menuju apartemen miliknya. Jika dia pulang ke rumah, pasti akan ada yang melaporkan kepada kedua orang tuanya.


Dia mengambil air hangat dan membersihkan lukanya. Lalu, meminum obat penghilang rasa sakit dan pencegah infeksi. Dia juga mengoleskan obat berupa salep ke beberapa luka yang bisa dia gapai.


"Si Eric ternyata lumayan juga. Rasanya seluruh tulang di badanku ini patah," kata Kenzo sambil membaringkan tubuhnya.


***


Keesokan harinya seperti biasa, para murid Sakura International School sangat heboh karena sudah terjadi tawuran antar murid sekolah. Apalagi beberapa murid datang dengan muka penuh lebam. Namun, mereka tidak pernah khawatir karena sudah punya obat penghilang rasa sakit dan menghilangkan lebam dengan cepat.


"Kak Kenzo berhasil mengalahkan ketua geng SMA Nadeshiko. Kemarin mereka semua diikat dan di gantung di pohon yang ada di pinggir jalan," ucap salah seorang murid yang sedang berkumpul di area halaman depan sekolah dekat parkiran kendaraan milik guru dan kepala sekolah.


"Eric cari gara-gara sama Kak Kenzo. Sudah tahu bakalan kalah, sok-sokan mem-bully murid sekolah kita," lanjut yang lainnya.


Pembacaan para murid yang berkumpul di sana, bisa didengar oleh Himawari dan Hinata yang kebetulan baru saja datang. Kedua gadis itu semakin takut kepada Kenzo. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika nanti membuat ketua OSIS itu marah.


"Aku harus lebih berhati-hati kepada Kak Kenzo," bisik Himawari dengan perasaan takut.


"Iya. Kamu jangan sampai membuat dia marah sama kamu, ya! Bisa-bisa bukan hanya kamu yang mati. Aku juga akan habis riwayatku nanti," balas Hinata mengingatkan teman baiknya itu.


"Akhirnya aku menemukanmu, Hima," kata Kenzo dari arah belakang.


Jantung kedua gadis itu terasa melompat dari tempatnya, saat Kenzo tiba-tiba saja muncul di belakang mereka. Raut ketakutan terlihat jelas di garis wajah Himawari dan Hinata karena takut pembicaraan kedengaran oleh pemuda itu.

__ADS_1


"A–da apa, Kak?" tanya Himawari dengan jantung yang masih bertalu-talu, dia memberanikan diri untuk bertanya.


Di dalam hatinya gadis itu berdoa agar Kenzo tidak mendengar ucapannya bersama Hinata barusan. Dia juga berharap kalau suasana hati sang ketua OSIS saat ini dalam keadaan baik dan bahagia.


"Mana bekal sarapan untuk aku?" Kenzo mengulurkan tangannya menengadah.


Ada perasaan lega meski sedikit yang dirasakan oleh Himawari. Dengan cepat dia mengambil salah satu kotak bekal di dalam paper bag yang dijinjingnya.


"Tangan aku sakit, jadi kamu harus suapi aku!" perintah Kenzo dengan sorot mata tajam kepada Himawari dan gadis itu mau tidak mau harus menuruti keinginannya.


Hinata pergi setelah melihat tatapan mata tajam Kenzo yang dilemparkan kepadanya. Seakan menyuruhnya untuk segera meninggalkan mereka berdua.


Senyum merekah langsung menghiasi wajah Kenzo. Dia menarik tangan Himawari dan berjalan berlawanan arah dengan Hinata.


***


"Tolong olesi salep di semua luka di muka dan tanganku!" titah Kenzo kepada Himawari.


Dengan telaten dan pelan-pelan Himawari mengolesi setiap luka di wajah dan tangan sang ketua OSIS. Tidak lupa juga dia meniup-niupnya dan itu membuat tubuh Kenzo meremang. Bibir berwarna pink segar milik sang gadis begitu menggoda dirinya. Rasanya dia ingin mencium benda yang sering disebut lembut oleh beberapa temannya yang pernah ciuman.


'Jangan sampai berbuat gila Kenzo!' batin sang ketua OSIS.


Kenzo sendiri meski populer di kalangan para wanita, tetapi dia selalu menjaga jarak. Dia mempunyai rasa benci kepada beberapa tipe perempuan yang suka berlaku rendahan atau menyakiti hati sesama perempuan. Bisa dibilang Kenzo itu anti pelakor dan wanita komersil yang menjual harga dirinya demi uang dan senang-senang.


"Sudah, Kak," ucap Himawari yang kini sedang menelisik muka Kenzo. Dia takut ada luka yang terlewati saat mengolesi salep barusan.

__ADS_1


Kenzo menggerakkan tangan dan kakinya. Rasanya sudah mendingan dibanding ketika bangun tidur. Obat yang dia minum tadi pagi sudah terasa khasiatnya.


"Apa masih ada luka lainnya. Di punggung? Perut? Atau di Kaki?" tanya Himawari dengan ekspresi wajah yang khawatir. Terlihat jelas ketulusan dari netranya yang jernih.


Mendapatkan perhatian seperti ini dari Himawari, tentu saja membuat Kenzo merasa dunianya berubah menjadi pink dan berbunga-bunga. Rasa bahagia dan senang menelusup ke dalam hatinya tanpa dia sadari. Hal yang dia tahu kalau sekarang ini dirinya selalu merasa senang karena keimutan dan kelucuan Himawari.


'Akan aku manfaatkan momen ini untuk mengerjai Hima,' batin Kenzo dengan tatapan jahil.


"Apa kamu mau memeriksa punggungku dan mengobatinya jika ada luka." Kenzo menatap ke dalam manik milik Himawari dan gadis itu pun mengangguk.


Kenzo membuka seragam sekolahnya. Terlihat ada luka memar yang cukup besar. Himawari sampai merinding dibuatnya. Membayangkan betapa sakitnya luka yang diakibatkan oleh pukulan itu. 


"Ini pasti sakit sekali," kata Himawari lirih dengan tatapan nanar.


Kenzo diam saja tidak menyahut. Bagi pemuda itu ada luka yang jauh lebih sakit dari pukulan yang dilayangkan oleh Eric kemarin.


"Makanya, obati dengan lembut dan penuh perasaan agar tidak terasa sakit saat diolesi salep," ucap Kenzo datar.


Aliran darah di sekujur tubuh Kenzo berdesir halus ketika tangan lembut Himawari menyentuh punggungnya. Rasanya dia ingin menarik tangan itu dan mendekap tubuhnya.


Ketika Himawari masih mengobati luka memar di punggung Kenzo, datang dua orang guru dan kepala sekolah. Mata mereka terbelalak saat melihat penampilan sang ketua OSIS.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?" teriak kepala sekolah dengan muka yang terlibat murka.


***

__ADS_1


Apakah Kenzo dan Himawari akan mendapatkan hukuman atau teguran dari kepala sekolah? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2