Janda Seminggu

Janda Seminggu
Merintis Cita-cita


__ADS_3

Universitas Demi Bangsa jurusan Komunikasi. Disinilah tempat Algin merintis cita-cita.


Gin tersenyum kecut.


"Cita-cita? Lebih tepat memenuhi keinginan orangtua." Gumam Gin sambil memandang cermin. πŸ˜“


Algin anak perempuan ke dua dari tiga bersaudara itu, menjalani kehidupannya sesuai dengan keinginan orangtua.


Pergaulan dan pendidikan bahkan sampai pernikahan semua dilakoni sesuai keinginan orangtua.


Jika ditanya pendapat ayahnya. Maka jawab sang Ayah : "orangtua pasti ingon yang terbaik buat anaknya".


Jika ditanya sang Ibu. Maka jawabnya : "surga ditelapak kaki ibu."


Bagi Algin dan ke dua saudaranya : ibarat makan buah simalakama, atau ibarat pencuri masuk gang buntu bertembok. πŸ˜“ Hanya ada satu pilihan bagi mereka : nurut bae. Setidaknya mereka sudah berusaha menyenangkan hati orangtuanya.


Miwww. Awww. Awww.


Gin mengambil HP nya. Mira, nama yang tertera di layar HP nya.


"Hay sayang, udah dimana? Jangan sampai telat ya." Sapa suara dari seberang.


"Iya, aku udah jalan nih!" Balas Gin sambil buru-buru meraih tasnya.


"Jalan mana say? tempat tidur juga ada jalannya. Hehehe." Canda Mira sambil terkekeh. 🀣🀣


"Aisshh nih anak, ada aja jawabnya. Kayak reporter sidak." Balas Gin sambil tersenyum.


Gin tahu betul watak sahabatnya yang satu ini. Mira tipe orang yang percaya kalau sudah melihat langsung dengan mata kepalanya.


"Jurusan kita komunikasi say, ya wajarlah banyak omong dan tanya. Kalau diam saja namanya MINGKEMUNIKASI hahaha." 🀣🀣Tawa Mira terdengar keras di telinga Gin.


Algin pun tertawa mendengar balasan sahabatnya itu. "Ok Mir, aq udah mau sampai nih, tunggu ya."


"Ibu..! Aku berangkat kuliyah ya!" Teriak Algin sembari menutup pintu rumahnya.


"Aduhhhhh anak wedokku yang satu ini main teriak aja, nyalam ibunya gak, main pergi ajh!" Ujar Ibu Algin sembari memutar tombol mesin cuci.


Algin bergegas turun dari bus. Berjalan terburu-buru menuju Universitas tempat dia merintis cita-cita, dan disana sudah ada sahabatnya yang menunggu kedatangannya.


"Semoga hari ini berjalan lancar." Harap Gin dalam hati. Dia yakin jika sesuatu yang dimulai berjalan lancar. Maka sampai akhir juga akan berjalan lancar. ✌


"Gin, sini!" teriak suara dari sudut halaman gedung jurusan komunikasi, tempatnya memulai perkuliahannya.


"Suara serak yang melengking itu pasti Rere." Gumam Gin dalam hati.


Tebakan Algin benar. Tampak Rere tersenyum sambil melambaikan tangan kekarnya memanggil Gin. Algin berlari kecil menuju tempat Rere dan para mahasiswa baru sejurusannya.


Tapi tiba-tiba saja....


Brukkk!!!


"Awww sakit!" Algin meringis sambil memegang lengan kirinya. "Siapa sih jalan ga pake mata! Pekik Gin emosi. 😠


Tampak anak perempuan kecil berbadan semok, senyum nyengir sambil mengambil bonekanya.


"Alamak anak kecil, ga mungkin dimarahi apalagi dilawan." Gumam Gin cemberut. 😏


Dengan senyum lembut Gin mendekati anak itu sambil berkata "anak manis mau kemana? Jalannya hati-hati ya, nanti kalau jatuh sakit loh."


Anak itu memandangi Gin. 1 detik, 30 detik, 1 menit.. Algin mulai canggung dengan situasi tatapan ini. Hellowwww kok seperti cerita drama ato iklan di tv ya, tatap-tatapan gitu. πŸ˜‚ Gumam Gin dalam hati.


Mau berpaling takut anaknya nangis. Tapi bertahan diposisi seperti ini juga bikin puyeng, soalnya matahari udah mulai membara πŸ€’.


"Janda!" ucap anak itu tiba-tiba setelah diam bertatapan dengan Algin beberapa saat lamanya.


"Kamu bakal jadi janda!" ucap anak itu sambil berlari pergi meninggalkan Algin.


Beberapa pulu meter dari tempat itu, ada seorang perempuan paruh baya berdiri menunggu anak tersebut. Anak itu pun mendapati perempuan paruh baya itu dan memegang tangannya. Keduanya lantas berjalan bersama sampai hilang dari pandangan Algin.


Bagai petir di siang bolong. ⚑ Algin sontak kaget mendengar ucapan anak itu. Dia ingin memperjelasnya, tapi anak itu keburu pergi.


Algin terdiam dengan pikiran yang dipenuhi perkataan anak kecil tadi. Sampai ia dikejutkan Mira.


"Woi melamun di tengah jalan pamali neng!" Ucap Mira sambil menepuk pundak Algin.


"Ahh.. em.. gak melamun koq" Pungkas Gin gelagapan.


"Aissh ya udalah, yuk kita ke sana." Ucap Mira menunjuk tempat Rere dan mahasiwa baru lainnya.


Sesampainya di tempat itu, Rere langsung menyambutnya dengan celotehan.


" Ya ampun cah ayu kenapa bisa tumburan ma anak kecil? Aku yang pake kacamata, kamu yang jalan gak lihat sekitar, amsyong deh!"

__ADS_1


"Au ah gelap" jawab Gin sekenanya.


"Hadeehh ya uda nih perlengkapan bwt dipakai besok dan selama orientasi. Jangan ampe hilang ya neng." Ucap Rere sambil menyerahkan sebuah bungkusan.


Tiba-tiba saja....


"Hay, apa kabar mahasiswa baru? Uda dapat perlengkapan buat orientasi besok kan? Sapa seorang cowok yang ditemani 2 orang cewek.


Melihay dari name takenya, ketiga sahabat ini tahu.kalau itu senior mereka yang juga panitia orientasi.


"Ahhh iya kak, semuanya lengkap koq kak. 😊 Jawab Mira dengan senyum terpana akan ketampanan sang senior.


"Bagus deh kalau uda lengkap. Jangan ampe ada yang tertinggal, bakal tanggung resikonya. Paham?" Balas cewek yang berdiri disamping cowok tersebut dengan ketus dan sinis.


Ketiga sahabat itu spontan telan ludah. Mereka mengerti ucapan cewek teraebut, kode keras melarang mereka mendekati cowok tersebut.


"Iya kak, kita paham koq." Jawab Algin kaku dengan hati yang penuh doa agar para seniornya ini segera pergi meninggalkan mereka.


Cowok tersebut tersenyum lembut. "Jangan kaku begitu. Kami para senior kalian ini gak makan orang koq."


"Ehhhh luka apa itu?" Tanya cowok itu penasaran sambil menyentuh luka Algin.


"Awww.. bukan apa-apa kak, cuma kebentur gak sengaja koq kak."


"Bawa ke Ruang Medis deh di gedung sebelah Barat. Atau kakak antar aja sekalian ya." Pinta cowok itu dengan lembut.


Hati Rere dan Mira melayang di awan-awan melihat respon perhatian senior cowok tersebut. Ucapan dan perhatian cowok itu buat hati adem seperti di ruangan full AC. Dalam hati mereka berkata "mamiiii mau donk diperhatiin kakak cowok itu."


Tapi mereka sontak tersadar setelah mendengar ucapan senior cewek tersebut. Suasana adem langsung berubah total jadi panas gerah seperti siang hari di gurun pasir.😱


"Hadeuhh luka kecil gini aja dikasi plester selesai koq. Manja amat pake ke Ruang Medis!" Ucap senior cewek itu ketus dengan tatapan bak silet yang mengiris pedih. Awww 😫


"Iya kak, aku bawa kotak P3K sendiri koq. Ga perlu di anter ke Ruang Medis." Jawab Algin dengan senyum kikuk sambil mengambil jarak dari senior cowok tersebut.


"Betul kak, tar kita bantuin buat ngobatin lukanya." Timpal Rere dengan harap agar para senior ini segera pergi.


Senior cowok itu kembali tersenyum. "Ok deh kalau begitu. Kami pergi dulu ya. Sampai jumpa besok." 😊


"Iya kak, makasi kaka senior semua." Jawab ketiga sahabat itu sambil melambaikan tangan penuh harap agar para senior itu segera pergi.


Setelah ketiga senior itu pergi. Kompak Algin, Mira dan Rere tarik nafas " Haaaaah aman." 😀😌😌


Kembali bertiga...


Mira mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"Aku gak tahu Gin, mudah-mudahan bukan anak dosen apalagi rektor, habislah kau!" jawab Rere menakut-nakuti.


"Ngapain anak dosen atau rektor berkeliaran di halaman kampus kita Rere Oneng! Memangnya taman bermain?" sanggah Mira


"Bisa jadi" jawab Rere ceplos dan Mira pun hanya bisa tepuk jidat.


"Aku serius guys" keluh Algin


"Memangnya kenapa sih Gin?" tanya Rere penasaran


Algin pun menceritakan perihal tabrakan dirinya dengan anak kecil di halaman kampus tadi. Ia juga menceritakan bagaimana ucapan anak itu kepada Algin yang sampai membuatnya galau dan terus terngiang di telinganya.


"Begitu ceritanya. Aku kepikiran banget nih sama ucapan anak itu" keluh Algin


"Janga-jangan anak indigo Gin!" seru Rere spontan


"Hah, apa iya?" tanya Algin makin galau.


"Hadeh kamu tuh ya Re jangan buat teman jadi down donk!" kritik Mira


"Ya udah deh nanti aku coba cari tahu siapa anak itu" ucap Rere mencoba menenangkan Algin.


"Caranya gimana? Kita kan masih baru di kampus ini" tanya Algin bingung


"Percuma donk 3 tahun di SMA aku dijuluki nyai lambe. Info apa sih yang gak bisa Rere dapatkan?!" jawab Rere penuh keyakinan.


"Lingkup SMA kita dengan kampus kita yang sekarang beda jauh nyai lambe.. memangnya gampang apa?" pungkas Mira


"Algin sayang.. serahkan saja pada eike si nyai lambe pasti kita bakal tahu siapa tuh anak, Ok?" balas Rere meyakinkan Algin.


"Terserah deh tapi jangan sampai buat masalah ya nyai" jawab Algin pasrah


Rere pun mengiyakan permintaan sahabatnya itu dengan mengangkat jempol tangannya. Tak butuh waktu lama bagi Rere untuk menemukan identitas anak kecil yang dimaksud Algin. Ia pun segera memberitahukan kepada Algin dan Mira.


Di kelas usai mata kuliah...


"Jadi Gin, anak kecil yang buat kamu penasaran itu ternyata putri bungsunya mang Udin salah satu OB kampus kita dan cuma keluarga mang Udin itu yg berumah di kampus kita. Makanya tuh bocah sering seliweran di kampus kita" terang Rere panjang lebar.

__ADS_1


"Berarti ibu-ibu yang pergi bareng anak itu ibunya ya?" tanya Algin memastikan.


"Aduh kalau soal itu aku gak tahu Gin, kan kamu yang melihat ibu itu" jawab Rere ceplos.


"Ya sudah, daripada penasaran mendingan habis jam kuliah kita samperin saja" ajak Mira


"Setuju" ucap Rere spontan sedang Algin hanya mengangguk tanda setuju.


Ke rumah mang Udin...


"Benar ini rumahnya Re?" tanya Algin.


"Berdasarkan info yang didapat sih memang ini rumahnya" jawab Rere


"Ya sudah kita samperin saja" ajak Mira toge the point.


"Nyari siapa neng?" tanya seorang perempuan paruh baya.


Ketiga cewek itu kompak melihat ke arah datangnya suara.


"Itu ibu-ibu yang kemarin" ucap Algin kepada Rere dan Mira setengah berbisik.


"Ohh kita mau main ke rumah ibu, sambil nungguin jemputan, boleh bu?" tanya Mira berbohong.


"Ohhh mari sini masuk neng" undang si ibu ramah.


"Kalian mahasiswa disini ya?" tanya si ibu sambil menyuguhkan teh kepada Algin, Rere dan Mira.


"Iya bu, tapi kita mahasiswa baru jadi belum kenal ibu dan keluarga.


"Ohh pantesan rada bingung" jawab si ibu tersenyum.


"Panggil saja saya bu Dede, suami saya yang kerja disini jadi tukang bersih-bersih. Orang-orang disini memanggilnya mang Udin" terang bu Dede.


"Ibu sama bapak tinggal di sini cuma berdua?" giliran Algin yang bertanya.


Ibu dan bapak punya sepasang anak, yang sulung laki masih SMA di depan pamannya dan yang bungsu wedok masih TK" terang bu Dede kembali.


"Ibu Nita pulang" sapa seorang anak perempuan seraya berjalan menuju ke arah bu Dede.


"Wah anak ibu sudah pulang toh, tuh ada kakak-kakak mahasiswa, hayo disalam" ajak bu Dede.


Nita pun menuruti ajakan ibunya dan mulai menyalami mereka. Nita dengan santai menyalami Rere dan Mira. Tapi ketika tiba giliran dengan Algin. Anak itu kembali menatap Algin dengan mimik serius.


"Kenapa ndok? kok diam saja, hayo disalam" ucap bu Dede menyadarkan Nita dan Algin.


Dengan ragu-ragu dan berat hati Nita menyalami Algin dan setelah itu ia langsung berlari memeluk ibunya.


"Kamu kenapa ndok? malu ya?" tanya Bu Dede lembut kepada putri semata wayangnya itu.


Nita hanya diam saja sambil terus memandangi Algin. Suasana ini pun menimbulkan kecanggungan bagi mereka semua.


"Maaf ya neng, Nita mungkin merasa malu karena baru pertama ketemu" ucap bu Dede mencoba mencairkan suasana.


"Gak apa-apa kok bu" ucap Rere dan didukung dengan anggukan Mira dan Algin.


"Kita juga sewaktu anak-anak pasti suka begitu" timpal Mira.


"Ibu..kakak itu bakal jadi janda" ucap Nita tiba-tiba.


Sontak bu Dede, Algin, Rere dan Mira terkejut dan suasana kembali canggung.


"Kamu ngomong apa ndok, gak baik itu" larang bu Dede kepada putrinya.


"Tapi benar kok bu.." ucap Nita bersikeras.


Algin pun mulai pucat mendengar ucapan anak itu. Awalnya dia berpikir bahwa ucapan Nita saat bertabrakan dengannya hanya omongan yang salah dengar. Tapi dipertemukan kedua, Nita kembali mengucapkan kalimat yang sama.


"Bu.. Nita anak indigo ya?" tanya Rere to the point.


"Ahh kalau itu ibu kurang tahu, mungkin Nita asal ngomong" jawab bu Dede sambil menghela nafas berat.


"Kasih tahu kita yang sebenarnya bu, soalnya ini sudah kedua kalinya Nita ngomong begitu ke Algin" ucap Mira memohon.


Algin hanya bisa diam. ia bingung harus berkata apa. Disatu sisi dia ingin tahu kebenaran atas ucapan Nita. Disisi lain Algin tak ingin mempersulit bu Dede di hari pertama kunjungan mereka bertamu ke rumahnya.


"Nita bukan anak indigo. Dia sama seperti anak normal lainnya" ucap mang Udin sembari masuk ke rumah.


"Aahh bapak sudah pulang!" teriak Nita kegirangan sambil berlari kepangkuan ayahnya.


"Apa yang diucapkan Nita jangan diambil hati ya neng, namanya juga anak kecil" ucap mang Udin kembali sambil membelai rambut putri bungsunya itu.


Apa yang diucapkan mang Udin dan bu Dede tidak menjawab rasa penasaran Algin terhadap Nita. Siapapun tahu bahwa anak kecil sulit berbohong. Apa yang mereka katakan merupakan ungkapan isi hatinya. Akan tetapi karena kedua orangtua Nita bersikeras mengatakan bahwa Nita anak yang normal dan apa yang diucapkannya hanya asal ngomong, Algin dan kedua sahabatnya pun enggan meneruskan pertanyaannya.

__ADS_1


__ADS_2