Janda Seminggu

Janda Seminggu
'Ku Malu-malu Tapi Mau


__ADS_3

"Aq suka sama kamu Re, kamu mau gak jadi pacar aq" ucap Ray dengan jantung yang berdetak kencang.


"Ok, aq mau jadi pacar kamu!" jawab Rere mantap


"Serius Re?" kembali Ray bertanya untuk meyakinkan dirinya diterima Rere


Rere menganggukan kepalanya "yakin"


"Yes, makasih ya Re! mudah-mudahan kita rukun selalu" ucap Ray bahagia


Rere tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Ray.


"Kalau gitu hari ini kita ngedate yuk" ajak Ray bersemangat.


"Maaf ya Ray, hari ini aq sudah janji pulang bareng Algin" tolak Rere sopan.


"Yah gak apa-apa deh, masih ada hari esok" balas Ray sedikit kecewa.


"Dia sahabatku, dari kami bertiga, tinggal dia deh yang masih jomblo, kasihan kalau ditinggal sendiri" papar Rere jujur.


"Algin kan banyak disukai cowok di kampus kita, koq masih jomblo?" tanya Ray penasaran.


"Itu mah soal selera, kita mana bisa paksakan" bela Rere


"Iya juga sih" ucap Ray setuju.


"Udah ya, aq mau jemput Algin dulu buat pulang bareng" Rere pamit pada Ray yang sekarang resmi jadi pacarnya.


"Ok, hati-hati!" balas Ray sambil melambaikan tangannya.


Di pintu keluar kampus...


"Lama nunggu ya Gin?" tanya Rere


"Gak koq, gimana urusannya? sudah kelar?" Algin balik bertanya.


Rere mengangkat jari tangannya membentuk kode Ok!


"Terus apa jawaban kamu ke Ray?" Algin terus bertanya karena penasaran.


"Aq suka dia, dia suka aq, ya kujawab saja Ok! Gampang kan?" jawab Rere santai.


"Berarti sekarang kalian pacaran donk! Selamat ya Rere musim semi buatmu telah tiba" Ucap Algin bersemangat.


Rere membalasnya dengan senyum manis " Thank you"


"Rere hebat bisa jujur sama perasaan sendiri" keluh Algin


"Makanya neng, kamu juga jujur saja ke Adam" ucap Rere menyarankan.


"Aq malu Re, jantungku langsung berdetak gak karuan" jawaban Algin sedih.


"Tapi kamu mau kan kalau seandainya kak Adam nembak kamu?" tanya Rere meyakinkan perasaan sahabatnya itu.


"Aq mau Re tapi aq malu" ucap Algin jujur.


"Aish kayak lagu aja ku malu-malu tapi mau" balas Rere tersenyum genit.


Algin pun ikut tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Dalam hati, dia mengakui ucapan Rere itu benar.


Sabtu sore..


Algin dan Rere berkunjung ke rumah Mira. Hal ini merupakan kegiatan rutin mereka setiap Sabtu. Ngumpul bareng buat nonton Drakor yang menguras air mata.


Mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong..


HP Algin, ketiga sahabat itu tahu siapa yang menelepon. Sementara Algin menjawab panggilan masuk, Rere dan Mira memperhatikan sambil cekikikan.


"Udah pergi aja Gin, kita gak apa-apa kok" ucap Mira mendukung. Rere pun mengangguk tanda setuju.


"Tapi ini kan hari kita ngumpul buat quality time" jawab Algin ragu.


"Yaelah kayak gak ada hari lain saja, kita ikhlas kok melepaskan kepergian jamu" balas Rere


Mira pun bangkit berdiri hendak bernyanyi


"Pergilah Algin kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu"


Rere ikut menimpali "jangan hiraukan diriku, aq rela berpisah demi untuk dirimu, semoga tercapai segala keinginanmu"


Algin pun habis tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Ok, aq pergi dulu ya, yang rukun kalau ditinggal aq ya" ucap Algin pamit meninggalkan mereka.


Sepeninggalnya Algin..


"Rere, menurut kamu kapan ya Algin dan kak Adam jadian?" tanya Mira


"Mbooh, Algin nya diam saja, gak mau jujur" jawab Rere mengangkat bahunya.


"Sebenarnya aku senang banget klo Algin nerima kak Adam. Biar dia bisa lepas dari bayangan Danu!" ucap Mira.


Rere kaget dan penasaran mendengar ucapan Mira. Ia pun menghadapkan wajahnya ke Mira.


"Maksudmu apa Mir? Emang Algin pernah dekat sama Danu?" tanya Rere penuh rasa penasaran.


"Sepertinya sih iya. Tapi bukan pacaran" jelas Mira semampunya.


"Maksud kamu TTM gitu? Kok aku bisa gak tahu?" tanya Rere semakin penasaran.


"Awalnya aq juga gak tahu tapi masih ingat kejadian waktu kita di sekolah ngurus berkas izajah?" tanya Mira mencoba menjelaskan

__ADS_1


"Emang kenapa dengan waktu itu?" Rere balik tanya


"Masih ingat waktu kita nyari Algin dan menemukannya di Ruang UKS bareng Danu?" Tanya Rere lebih terperinci


"Iya, aku ingat, lantas dimana hubungannya?" tanya Rere kembali belum paham


"Hadeuh kamu ya tulalit banget. Begini loh bla..bla..bla..bla" tutur Rere menceritakan panjang lebar


"Ya ampun aq ngeh sekarang! Tapi kok Algin ga cerita ke kita? Terus kenapa sampai sekarang Algin dan Danu gak pernah ketemua n?" tanya Rere bertubi-tubi penuh penasaran


" Aku juga gak tahu gimana kelanjutannya, Algin gak ada cerita ke kita" jawab Mira sambil mengangkat bahunya


"Terus kenapa kenapa kamu juga gak cerita ke aku Mir? Kok cuma aku aja yang gak ngeh?" Rere terus bertanya-tanya


"Yah awalnya aku juga gak kepikiran kesitu Re.. Tapi kemarin aku ga sengaja mergokin Algin termenung sambil megang photo Danu di ruang kuliah!" jawab Rere


"Terus kamu ada tanya gak ke Algin soal Danu?" Rere masih bertanya


"Gak. Takut makin buat Algin kepikiran. Kebayang gak selama ini Algin nyimpan perasaannya sendirian?" ucap Mira lirih


Rere pun terpaku seraya setuju dengan sikap Mira.


"Gimana kalau kita tanya ke Danu?" usul Rere


"Memangnya kamu tahu dimana Danu sekarang?" Mira balik tanya


Rere menggelengkan kepalanya.


"Gimana kalau kita ke rumah Danu tanya sama keluarganya?" usul Rere


"Danu dan keluarganya sudah pindah sejak lulus SMA! Gak ada yang tahu pindah kemana?" tutur Mira putus asa


"Lah terus gimana donk? Apa kita tega lihat Algin begini terus? Nungguin yang gak jelas?" tanya Rere kesal


"Makanya aku berharap Algin jadian dengan kak Adam. Supaya dia gak mikirin Danu melulu" jawab Mira penuh harap


" Semoga ya Mir. Kasihan Algin kalau begini terus" timpal Rere


Tiba-tiba HP Mira berdering..


"Halo Gin. Apa! Ya sudah kamu tenang ya, kita kesana sekarang! ucap Mira menyahut panggilan di HPnya yang membuat Rere bingung


"Kenapa Mir?" tanya Rere


"Algin di Rumah Sakit, kak Adam terluka katanya!" jawab Mira


"Ya ampun. Terus gimana?" tanya Rere kembali


"Kita ke Rumah sakit temani Algin!" ajak Mira dan keduanya pun berangkat


Tiba di Rumah Sakit......


"Gimana kondisi kak Adam Gin?" tanya Mira hati-hati


"Lagi ditangani dokter" jawab Algin lemah


"Sabar ya Gin, kak Adam pasti baik-baik saja" ucap Rere menyemangati


"Gimana ceritanya Gin sampai kak Adam begini?" tanya Mira kembali


"Waktu mau ketemuan sama kak Adam aku diikuti pria ga jelas. Karena takut aku jalan sambil kontak kak Adam kasih tahu situasiku. Kak Adam langsung datang tapi pria itu malah menyerangku. Kak Adam akhirnya berkelahi dengan pria itu sampai luka dan pria itu kabur" cerita Algin sambil terisak


"Ya ampun! Harus dilapor polisi tuh pria brengsek! Siapa tahu penjahat" ujar Rere kesal


Algin hanya merespo dengan isakan tangisnya.


"Sekarang kita fokus ke kondisi kak Adam saja dulu. Soal melaporkan pria asing itu kita urus belakangan!" ucap Mira menyarankan


"Sabar ya Gin, kak Adam pasti baik-baik saja! Dia pria yang kuat" ucap Mira menyemangati


Algin hanya mengangguk lemah sambil tetap terisak.


Dokter keluar dari ruangan dan menemui Algin, Mira dan Rere


"Siapa keluarga pasien?" tanya dokter


"Tidak ada dok, belum dikabari. Kami temannya" jawav Algin lemah


"Kondisi pasien sangat lemah, mudah-mudahan pasien kuat sampai masa kritis terlewati" terang dokter


"Bolehkah saya menjenguk pasien dok?" Tanya Algin penuh harap


"Boleh tapi tolong perhatikan kondisi pasien" ucap dokter mengizinkan


Algin, Mira dan Rere pun masuk ke ruang dimana Adam mendapat perawatan medis. Dari pintu tampak Adam terbaring lemah menggunakan masker oksigen.


"Maafkan Algin kak. Semua gara-gara Algin" ucap Algin terisak


"Sabar Gin, kak Adam pasti pulih" ucap Rere menghibur


"Iya Gin, kak Adam orang yg kuat. Pasti pulih" timpal Mira meyakinkan


"Klo hari ini tidak janji ketemuan, pasti kak Adam gak bakal begini" ucap Algin tetap terisak


"Kamu harus positif thinking Gin" Sela Mira


"Nah klo kak Adam pulih, kamu mau kasih jawaban apa ke kak Adam?" tanya Rere mengalihkan suasana hati Algin.


"Kalau kak Adam pulih, aku mau terima kak Adam jadi pacarku" jawab Algin masih terisak


"Kurang jelas, tolong diulangi" ucap Adam tiba-tiba

__ADS_1


Ketiganya spontan melihat Adam, yang terbaring dengan senyum nakalnya


"Kak Adam uda sadar? Sejak kapan?" tanya Algin malu


"Aku sadar sejak dengar ucapan kamu Gin, tapi kurang jelas" jawab Adam menggoda


"Gak lucu kak! Aku takut setengah mati!" ucap Algin marah


"Kenapa takut? Yang harusnya takut dengan kondisiku itu orangtua dan pacarku" jawab Adam santai


"Jadi kamu itu orangtua atau pacar aku?" tanya Adam menggoda


"Aku bukan pacar kak Adam!" jawab Algin sembari pergi meninggalkan ruangan


"Sepertinya tadi ada yang ngomong mau jadikan aku pacaranya" ucap Adam


"Kakak salah dengar!" balas Algin membela diri


"Tapi aku senang meski salah dengar" balas Adam tak mau kalah


Algin diam mendengar ucapan Adam. Hatinya berdegub kencang dan pipinya mulai merona.


"Katakan saja kalau kamu mau tapi malu" imbuh Adam sembari mengedipkan sebelah matanya


"Siapa yang malu? Siapa yang mau? Kak Adam salah dengar" sanggah Algin menahan malu


"Yah kamu memamg tidak malu, kan tadi sudah bilang mau jadi pacar aku" goda Adam kembali


"Si..siapa yang mau jadi pacar kak Adam?" sanggah Algin tak mau kalah


Rere dan Mira saling mengkode untuk melangkah pelan-pelan meninggalkan Adam dan Algin di ruangan dengan kecekcokan mereka.


"Berhenti! Kalian mau kemana?" Ucap Algin menghentikan langkah Mira dan Rere.


"Ahh aku dan Rere ingat bahwa hari ini ada kecan jadi kami pergi dulu" ucap Mira seraya menarik Rere untuk segera meninggalkan tempat itu


"Semoga sukses, kabari kami ya" timpal Rere sambil melangkah keluar ruangan


Algin syok. Dia tidak menyangka bahwa kedua sahabatnya akan meninggalkannya dalam keadaan begitu.


Entah apa yang merasuki mereka berdua. Kenapa tega meninggalkan aku sendiri dengan kak Adam yang notabene sedang menjahilinya dengan lelucon yang membuatnya ketakutan setengah mati.


"So bagaimana?" tanya Adam dengan tatapan menggoda


"Bagaimana apanya? Aku marah kak! Ternyata kaka cuma mau ngerjain aku ya?!" omel Algin dengan perasaan senang bercampur kesal.


Algin senang karena ternyata Adam baik-baik saja. Tapi dia kesal karena ternyata semua kejadian itu hanya keisengan Adam.


"Ayolah jangan malu-malu. Aku sudah dengar pengakuanmu" goda Adam terus menerus


"Aku ga malu!" bantah Algin kikuk


"Malu-malu tapi mau kan?" goda Adam berkelanjutan


"Aku ga malu juga ga mau!" bantah Algin tetap bertahan


"Tapi aku suka kamu malu tapi mau" celoteh Adam sembari berdiri dan memeluk Algin


"Gin.. makasih ya. Akhirnya usahaku berhasil" ucap Adam berbisik lembut di telinga Algin


Algin hanya diam. Dia menerima saja semua perlakuan Adam. Tangannya pun perlahan membalas pelukan Adam.


Sedetik kemudian Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Algin, bersiap hendak memberikan kecupan lembut untuk memastikan perasaan Algin kepadanya.


Algin pun memejamkan matanya, sebagai kode untuk tindakan Adam yang ingin mengecupnya


Tiba-tiba pintu terbuka. Dokter dan perawat yang menangani merasa kikuk karena telah membuyarkan momen tomantis sepasang insan yang mulai menjalin hubungannya


"ehhh maaf.. sepertinya saya salah ruangan. Silahkan lanjutkan urusan kalian. Anggap saja kami tidak pernah muncul" ucap sang dokter sembari menutup pintu ruangan kamar rawat Adam


Adam dan Mira pun tertegun. Tak tahu harus berkata apa. Adam merasa kesal dengan kehadiran dokter dan suster tersebut. Mereka telah membuyarkan moment indahnya bersama Algin.


Disisi lain Algin malah merasa sangat malu dengan kejadian tersebut. Ia merasa seperti maling yang tertangkap basah. Algin tak punya cukup keberanian untuk keluar dari ruangan tersebut dan berpikir bagaimana pandangan dokter dan suster tersebut terhadap dirinya dan Adam.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi" ucap Adam menyadarkan Algin dari pikirannya


"Melanjutkan apa?" tanya Algin menghindari tatapan Adam


"Hemm sepertinya ada yang malu-malu disini" ucap Adam menggertak


"Siapa yang malu-malu? Aku tidak" ucap Algin membela diri


"Kalau begitu kamu mau kan?" tanya Adam semakin mendekat


"Mau apa?" tanya Algin


Sedetik kemudian Adam mendekatkan wajahnya bersiap mengecup Algin untuk meyakinkan dirinya bahwa Algin memerimanya.


"Mesum! Jangan mendekat..ahh lepaskan.. kak Adam.." Algin pun tak bisa berkata lagi.


Adam telah mengecup bibirnya dengan lembut. Ini adalah ciuman pertama Algin. Meskipun Adam bukanlah sosok cinta pertamanya. Tapi dalam diri Algin mulai tumbuh perasaan khusus.


Rasa panas menjalar ditubuh Algin. Seolah dia meneguk puluhan botol miras. Ciuman Adam.membuat tubuhnya bergetar. Ia terhanyut dalam suasana.


"Aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku" bisik Adam kepada Algin.


Algin pun memeluk Adam seraya mengiyakan permintaan Adam.


"Aku mau kak" jawab Algin dengan tetap memeluk Adam.


Adam merasa sangat bahagia. Gadis pujaan hati yang selama ini pontang panting dikejarnya, kini menerimanya. Segala perjuangannya membuahkan hasil. Cintanya kepada Algin tak lagi bertepuk sebelah tangan. Ia sangat bahagia karena Algin telah menerimanya menjadi kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2