
"Permisi pak" Ucap Algin
"Ohh nak Algin sudah datang toh, masuk." Sahut pria paruh baya mempersilakan Algin masuk ke ruangannya.
"Makasih pak." Ucap Algin sambil masuk.
"Saya Surya. Penanggung jawab di Sekolah ini. Mari ikut bapak, akan saya perkenalan dengan guru pengajar dan anak-anak didik disini."
Setelah berkenalan dengan para guru. Algin dan Pak Surya berjalan menuju taman bermain. Disana tampak beberapa anak sedang bernyanyi bersama seorang pria yang tengah asyik memainkan gitarnya.
Pak Surya dan Algin pun berjalan mendekati kumpulan anak-anak itu.
"Halo anak-anak, lagi pada ngapain nih? Tanya pak Surya menyapa anak-anak itu.
" Bermain dan bernyanyi opa" Jawab anak-anak itu kompak.
"Wah pantesan wajahnya pada happy." Ucap Pak Surya tersenyum dan anak-anak itu pun balas tersenyum.
"Oh ya opa mau kenalkan kakak cantik untuk bermain dengan kalian. Namanya Algin." Terang Pak Surya.
"Opa, kakak ini guru baru ya?" Tanya seorang anak perempuan.
"Iya, kalian suka?" Tanya pak Surya.
Kompak anak-anak itu menjawab "sukaaaa"
Algin dan Pak Surya tersenyum.
Tampak ditengah anak-anak itu, seorang cowok yang sedang duduk memegang gitar. Cowok itu juga tersenyum melihat kedatangan Pak Surya dan Algin.
"Nak Algin, ini putra bapak. Adam namanya. Dia bukan guru disini. Tapi anak-anak suka bernyanyi dengan gitarnya. Jadi dia sering datang kemari untuk menemani anak-anak ini bernyanyi."
"Halo, saya Algin mahasiswa yang lagi praktek lapangan disini." Sapa Gin.
"Hay juga, saya Adam. Semoga nyaman selama disini." Balas Adam sambil tersenyum.
"Baiklah, bapak masih ada kerjaan. Kalian lanjut saja bermain dengan anak-anak ini ya." Ucap Pak Surya sambil berlalu meninggalkan mereka.
"Bye bye opa." Seru anak-anak itu kompak.
Algin pun berinteraksi dengan anak-anak itu sambil menanyakan nama-nama mereka. Tapi tak lama kemudian terdengar suara gaduh dibelakang mereka.
Plak!!! Buukk!! Bam!!! Akkhh!! Ughh!!
Algin dan Adam sontak melihat ke sumber keributan.
"Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan?" Jerit Algin panik.
Dihadapannya dua orang anak sedang berkelahi dan keduanya babak belur.
Adam langsung sigap menengahi perkelahian tersebut.
"Ada apa ini?" Tanya Adam lembut kepada kedua anak itu.
"Dia yang mulai kak." Ucap anak yang di sebelah kiri penuh emosi.
"Dia bilang gak ada yang mau jadi orang tua aku. Makanya kutonjok." Balas anak yang di kanan juga tak kalah emosi.
"Gak kak, aq gak bilang gitu koq." Ucap anak di kiri membela diri.
"Bohong!" Jerit anak yang di kanan sambil mengepalkan tangannya hendak memukul anak yang di kiri.
"Aq cuma bilang kalau dia songong begitu, siapa yang mau jadi orangtuanya." Jelas anak yang disebelah kiri membela diri.
"Aq gak songong koq" Balas anak yang disebelah kanan.
"Hey sudah jangan didengarin. Malu dilihat kakak yang manis itu." Ucap Adam sambil menunjuk Algin.
Algin tersipu malu mendengar ucapan Adam. Di tengah situasi begini Algin masih sempat-sempatnya ge er mendengar ucapan Adam. Wajahnya pun langsung merah padam.
"Ahhhh kakak ada permen dan coklat nih. Ada yang mau?" Tanya Algin mencairkan suasana.
Kompak anak-anak itu menjawab " mau kak!!"
"Kalau mau duduk yang manis biar semua kebagian." Perintah Algin kepada anak-anak itu.
Anak-anak itu mengerubungi Algin berlomba duduk yang manis demi mendapatkan permen dan coklat dari Algin.
Suasana pun kembali berubah menjadi akrab dan ceria. Sambil bernyanyi dengan gitar Adam, anak-anak itu menikmati permen dan coklat dari Algin.
Setelah anak-anak itu lelah bernyanyi. Mereka kembali ke asrama. Tinggallah Algin dan Adam.
"Kakak yang manis, cokelatnya masih ada?" Goda Adam meniru suara anak kecil.
"Ada nih, mau?" Jawab Algin tak mau kalah.
"Ho oh" Ucap Adam sambil menganggukan kepala seperti anak kecil.
Algin pun tersenyum geli sambil menyerahkan sebungkus permen.
Adam menerima permen tersebut dan keduanya tertawa melihat tingkah masing-masing.
"Boleh tanya gak?" Ucap Adam tiba-tiba.
Algin menganggukan kepalanya "boleh, tanya apa?"
"Jurusan komunikasi praktek lapangan di Sekolah Luar Biasa seperti ini, gak salah non?" Tanya Adam penasaran.
"Gak" Jawab Algin tersenyum.
"Kenapa milih Sekolah ini? Kenapa gak pilih praktek di kantor tv, pariwisata atau stasiun radio gitu." Tanya Adam lagi.
"Anak-anak di sekolah ini menarik, aku suka." Ucap Algin santai.
"Oh ya?"
"Ya! Berkomunikasi dengan orang dewasa dan anak-anak normal itu gak sulit. Tapi dengan anak-anak yang Luar Biasa begini? Tutur Algin terbuka.
"Trus selain anak didiknya yang menarik, apalagi yang menarik?" Tanya Adam menggoda.
"Apa ya?" Algin balik bertanya karena gak ngerti pertanyaan Adam.
Adam pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya "Gak apa Gin, lupain aja."
"Aq serius tertarik dengan anak-anak di sekolah ini kak, gak ada yang lain." Ucap Algin serius.
__ADS_1
Adam pun tersenyum " Iya aq ngerti. Bagus deh, jarang ada mahasiswa yang berpikiran seperti ini." Puji Adam.
"Makasih. Ahhhh telingaku tambah nih tingginya." Ucap Algin malu-malu.
"Aq juga salut ma kak Adam." Puji Algin
"Kenapa?" Tanya Adam dengan hati berbunga-bunga.
"Karena jarang ada anak muda yang menghabiskan waktu luangnya buat menemani dan menghibur anak-anak Luar Biasa, seperti yang kak Adam lakukan." Terang Algin.
"Oh ya?" Tanya Adam memastikan ucapan Algin.
"Iya! Biasanya anak muda seperti kak Adam ini menghabiskan waktu luangnya dengan kongkow ma teman-temannya, atau ngedate ama gebetannya." Terang Algin kembali.
Adam pun tersenyum mendengar penjelasan Algin.
" Gin.." Panggil Adam
"Apa kak? mau permen lagi?" Balas Algin.
"Kalau kamu hari-hari kamu sibuk kuliah dan praktek lapangan di Sekolah ini, pacar kamu gak komplain?" Tanya Adam memancing.
"Aq gak punya pacar kak." Jawab Algin jujur.
"Bohong dosa loh." Ucap Adam dengan hati kegirangan.
"Benar kak, gak bohong." Balas Algin jujur.
"Gadis manis dan baik hati kayak kamu pasti banyak cowok yang dekatin." Ucap Adam penuh selidik.
"Idih kak Adam udah kayak reporter gosip yah. Kepo deh." Balas Algin.
"Kepo is care Gin." Ucap Adam dengan tersenyum.
"Kakak mau jodohin aq ya?" Tapi cowoknya harus sesuai kriteria aq ya?" Balas Algin tak mau kalah.
"Apa kriterianya?" Tanya Adam penasaran.
"Kriteria cowok itu harus : Mapan, Punya pekerjaan dan penghasilan yang tetap, tampan, body binaragawan, penyayang, sopan ma orangtua dan taat beragama.
"Woow berat juga ya kriterianya." Ucap Adam.
"He em! dan satu lagi!"
Kembali Adam bertanya "Apa itu?"
"Dia harus laki-laki normal dan tulen!" Ucap Algin mantap.
"Hahaha, ya kamu benar! Harus normal dan tulen. Gelak Adam mendengar semua penjelasan Algin.
Adam pun kehabisan kata dengan semua jawaban Algin. Adam pun kembali meraih gitarnya dan mulai memainkannya.
"Nyanyi yok Gin!" Ajak Adam
"Lagu apa kak?" Tanya Algin penasaran
"Lagu lama Iwan Fals" Jawab Adam
"This song for you Gin". Ucap Adam kembali sambil mulai bernyanyi.
senyummu Juwita
Kalau ada yang tak suka
mungkin sedang ******
Engkau baik, engkau cantik
Kau wanita, aku cinta
Mata indah bola pingpong,
masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungku yang aduhai
plok plok plok.. Algin bertepuk tangan seperti guru yang baru selesai melihat performa muridnya
"yeeaay keren" Puji Algin dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Lagu ini gak ada Maksud tertentu kan? Jangan sampai aq ge er." Pikir Algin dalam hati
"Makasih bapak ibu, tolong saweran seikhlasnya, semoga perjalanannya nyaman dan selamat sampai tujuan." Ucap Adam meniru kalimat khas pengamen di bus.
Algin pun tertawa mendengarnya.
"Kak Adam bisa aja. Hampir aja aq ge er dengerin lagunya." Ucap Algin ngekode.
"Ge er juga gak papa Gin. Aq malah ngarep." Balas Adam sambil melirik Algin.
"Ahhhh jangan ngegombal tengah hari kak, pamali." Ucap Algin mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa?" Tanya Adam penasaran.
"Tengah hari, cuaca panas gini itu enaknya pulang ke rumah, minum yang dingin terus tidur siang." Jawab Algin sambil bangkit berdiri meninggalkan Adam.
"Uda ya kak, aq pamit pulang dulu." Tambah Algin sambil melambaikan tangannya.
Adam pun balas melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Aq gak gombal koq Gin, Aq serius." Ucap Adam setelah sosok Algin menghilang dari pandangannya.
Sepanjang perjalanan lagu yang dinyanyikan Adam terngiang terus di telinganya. Lagu itu bukan lagi yang asing baginya. Dia tahu liriknya dan sudah pernah mendengarnya. Tapi sejak Adam yang memainkannya, lagu itu kini menjadi spesial baginya.
"Aq pulang." Salam Algin ketika masuk ke rumahnya.
"Anak gadis sudah pulang toh" Jawab Pak Heru, ayahnya Algin.
"Gimana kegiatan di sekolah tadi Gin?" Tanya Bu Hanum, ibunya Algin.
"Aman terkendali Bu, Algin gitu loh!" Jawab Algin menepuk dadanya bangga.
"Syukurlah" Ucap Bu Hanum sambil melirik Pak Heru suaminya.
__ADS_1
Pak Heru pun menanggapi lirikan istrinya itu dengan senyum ngekode.
"Gimana respon Pak Surya, Gin?" tanya ayahnya Algin
"Baik yah, ramah lagi." terang Algin.
"Terus gimana dengan para gurunya?" Kembali Pak Heru bertanya.
"Mereka responsif koq yah!" Terang Algin kembali.
"Oya, anak-anak didiknya gimana?" Pak Heru terus bertanya.
"Eemmm asyik n lucu loh yah, walaupun tadi sempat ada yang berkelahi."
"Oh ya?" Tanya ayahnya penasaran.
"Ho oh" Jawab Algin menganggukan kepala.
"Tapi, untungnya ada kak Adam, aman deh." Tambah Algin menjelaskan.
"Siapa Adam? Guru di sekolah itu? Tanya pak Heru kembali.
"Bukan yah, tapi anaknya Pak Surya." Bantah Algin menjelaskan.
"Oohh kirain gurunya. Melerai anak-anak yang berkelahi itu hal yang biasa Gin." Ucap ayahnya santai.
"Bukan masalah melerai yah." Sanggah Algin.
"Lantas apa?" Tanya Bu Hanum menimpali pernyataan suaminya.
"Aq salut sama kak Adam karena dia mau menghabiskan waktu luangnya dengan menghibur anak-anak seperti itu. Beda sama cowok-cowok lainnya yang lebih milih kongkow sama teman-temannya atau gebetannya." Terang Algin panjang lebar.
"Oooww gitu toh." Balas ayah dan ibunya kompak.
"Idihhh koq responya begitu aja! Ucap Algin tak puas.
"Lah lantas harus gimana? Tanya ibunya melirik sang ayah.
Pak Heru pun menganggukkan kepalanya sependapat dengan sang isteri.
"Aahh ayah dan ibu gitu deh, main-main melulu kalau merespon cerita anaknya." Algin pun cemberut.
"Lah.. perasaan dari tadi ayah dan ibu serius koq dengarkan cerita kamu." Ucap Pak Heru meyakinkan putri kesayangannya itu.
"Iya loh ndok" Timpal ibunya.
"Aahh udah deh, Algin masuk kamar dulu, mau istirahat" Balas Algin cemberut
"Lohh gak makan dulu ndok? ibu udah masak makanan kesukaanmu loh" tanya ibunya
"Gak ah bu, ntar aja. Aq capek mau rebahan dulu." Jawab Algin sambil terus berjalan masuk ke kamarnya.
Algin menjatuhkan tubuhnya ke atas kasurnya.
"Aahh nyamannya, kasur emang teman terbaik buat badan yang lagi capek" Ucap Algin dalam hati.
Tak berapa lama, Algin pun tertidur pulas. Dalam tidurnya ia bermimpi Adam menyanyikan lagu itu kembali untuknya.
miawww... miawww.. miawww
Nada dering panggilan masuk HP Algin.
"Ya Pak? saya pak? oh baik pak, saya akan datang tepat waktu" Ucap Algin sambil menutup panggilan di HP nya.
"Siapa Gin?" Tanya Rere
"Pak Irwan, beliau minta aq datang ke ruangannya tar siang habis kelasnya." Jawab Algin
"Ohhh, paling juga ngebahas laporan praktekmu" Tebak Mira
"Ya apalagi" Balas Algin
"Jangan sampai telat datang Gin, Pak Irwan kan orangnya on time." Mira mengingatkan Algin
"Iya aq tahu, thanks ya" Balas Algin berterima kasih.
Mira pun menganggukan kepalanya.
Tak lama kemudian..
Mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong..
Nada dering panggilan masuk HP Algin kembali berbunyi.
"Ya kak, sore ini? emmm sepertinya gak bisa deh, ada janji ketemu dosen kak. Besok? Ok aq bisa. Bye." Algin menutup panggilan HP nya.
"Siapa Gin? Koq nada panggilnya beda, gak seperti yang biasa." Tanya Rere penasaran.
"Eemm bu.. bukan siapa-siapa." Jawab Algin gugup.
"Biasanya dan tadi juga nadany miawww, lah sekarang lagu cinta jadul." Kritik Mira.
"Jangan bilang itu nada spesial untuk seseorang." Timpal Rere penuh curiga
"Hadeuuh kalian kenapa sih, Kepo banget!" Ucap Algin menutupi kegugupannya.
"Algin sayang, kamu itu orang yang ekspresif. Semuanya tergambar di wajah kamu! Ucap Mira
"Hayo Gin, kasih tahu kita siapa tuh orang! Pacar baru ya? Tanya Rere penasaran.
"Gak koq, bukan siapa-siapa! Jawab Algin dengan muka memerah.
"Kamu tega ya Gin, katanya sahabat tapi ga mau jujur." Keluh Mira
"Iya Gin, jangan main rahasia-rahasiaan donk sama kita" pinta Rere memelas
Algin merasa bersalah kepada kedua sahabatnya itu. Tapi dia tidak tahu apa yang mau diceritakan, karena itu hanya perasaan suka sepihak bagi Algin.
"Bukan begitu Mir.. cuma aq itu.." Algin kehabisan kata-kata.
"Cuma apa Gin, yok cerita pelan-pelan" Bujuk Mira
"Kita kan sahabat, pasti saling dukung" Timpal Rere menyakinkan Algin.
Algin pun mencoba terbuka kepada kedua sahabatnya itu. Ia mulai menceritakan sosok Adam, awal mula mereka saling kenal hingga perasaannya pada Adam.
__ADS_1
Rere dan Mira mendengarkan penuturan Algin dengan serius. Mereka gak nyangka kalau hati sahabatnya itu bisa luluh dengan sosok cowok bernama Adam. Dari beberapa cowok yang berusaha mendekatinya selama ini, Adamlah yang berhasil menarik perhatian Algin.