Jangan Benci Bilang Cinta

Jangan Benci Bilang Cinta
Perjodohan


__ADS_3

Matahari nampak cerah menampakan sinarnya yang begitu terang mengajarkan kita bahwa kehidupan ini tidak selamanya selalu kebahagiaandan tidak selamya selalu kesedihan,


Matahari juga mengajarkan kita bahwa tidak selamanya selalu berada di atas dan tidak selamanya berada di bawah,


Matahari juga menjadi sebuah simbol kecerahan dan kebahagiaan bagi banyak orang,


Begitu juga dengan kisah hidup seorang gadis remaja bernama nindya zahra wiratama,


"sudah lah zahra ibumu sudah tenang di sana ikhlaskan kepergian nya" ucap seorang wanita paruh baya mengelus lembut rambut zahra dan berusaha menenangkan,


Namun tubuh zahra malah nampak makin bergetar dan menangis tersedu sedu di pusara almarhumah ibunya,


Bagaimana tidak baru saja ia resign dari pekerjaan nya dan memutuskan untuk bekerja di tempat kelahiran nya sambil menghabiskan waktu yang terbuang bersama sang ibu dan mempunyai ide untuk memberi kejutan kepada sang ibu justru dia yang mendapat kejutan tersebut,


Bak di sambar petir di siang bolong di hari pertama kembalinya zahra ke indonesia dan pulang ke kampung halaman ia melihat banyak orang berada di rumah orang tuanya, dan yang paling membuatnya merasa heran kenapa ada bendera kuning di rumahnya,


dengan langkah gontai zahra menerobos masuk ke dalam rumah tersebut alangkah terkejutnya zahra ketika melihat sang ibu terbaring terbujur kaku tak bernyawa seolah sekujur tubuhnya merinding sampai membuat kedua kakinya terasa lemas dan langsung terjatuh dengan air mata yang mengalir tanpa aba aba perlahan lahan zahra bangkit dan mengusap air matanya untuk mendekatkan diri pada sang ibu,


"ibu zahra mohon jangan tinggalkan zahra lihatlah zahra sudah kembali zahra sudah pulang dan memutuskan untuk tinggal di sini menghabiskan waktu bersama ibu bukankah ini yang ibu harapkan? bangun ibu jangan tidur terus" hiks hiks,


Mendengar suara zahra dengan tangisnya membuat wanita paruh baya bernama arumi ikut terisak karna tak mampu untuk menahannya,


"zahra sudahlah jangan menangis" kata lelaki bernama zaidan akhtar yang biasa di panggil zein, berusaha menenangkan namun zahra tak mau mendengarkan perkataan dari zein,


Zahra tetap menangis sambil sesekali mencium kening almarhumah sang ibu seolah dia tak rela kalau ibunya di kebumikan saat itu juga,


Hujan terus saja mengguyur kota bandung seakan ikut merasakan kesedihan seorang gadis cantik bertubuh mungil itu namun zahra tak kunjung bangkit dari tempat pembaringan terakhir sang ibu tercinta lebih tepatnya kedua otang tuanya karna makam sang ibu bersebelahan dengan makam sang ayah yang sudah pergi mendahuluinya,


"zahra bibi mohon pulanglah badan mu sudah menggigil karna kedinginan" ucap bibi arumi,


Namun tak ada respon apapun dari zahra ia masih menangis sesegukan dan tak ada tanda tanda mengakhiri tangisan nya,

__ADS_1


"menangislah zahra jika itu bisa membuatmu tenang tapi setelah tangisan itu berhenti bibi mohon jangan pernah lagi menangis ikhlaskan kepergian nya karna kamu masih harus terus melanjutkan hidupmu," ucap bibi arumi,


Zahra pun langsung memeluk erat bibinya karna untuk saat ini dia lah satu satunya keluarga zahra sedangkan ayah nya zahra sudah pergi meninggalkan zahra sejak zahra masih duduk di bangku SD


"sekarang kita pulang!" ucap bi arumi dan langsung di beri anggukan oleh zahra, belum ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir zahra sejak ibunya sudah bergasil di kebumikan sampai detik ini bibirnya seolah kelu tak mampu berbicara,


empat puluh hari telah berlalu sejak kepergian sang ibu "kini zahra tinggal bersama bibi arumi karna arumi tak membiarkan zahra hidup seorang diri terlebih zahra adalah seorang anak gadis yang masih polos, selain itu almarhumah ibunya zahra juga sudah menitipkan zahra kepadanya,


"zahra ada hal penting yang ingin bibi sampaikan kepadamu!" ucap arumi,


"apa"


"menikahlah dengan zein"


Zahra mengerutkan keningnya, mungkin bibi sedang bercanda pikirnya, senyum melengkung terlukis di bibir zahra,


"bibi ini kalau bercanda jangan keterlaluan mana mungkin zahra menikah dengan zein orang yang baru beberapa kali bertemu bahkan zahra hanya sempat berbicara satu kali ketika ibunya akan di shalatkan dulu setelah itu mereka tak pernah lagi bertatap muka,


Flash back on!


"zein apakah kamu bersedia menikahi anak ibu?" ucap andini ibunya zahra, dengan nafas beratnya, zein tercekat setelah mendengar permintaan ibu andini bagaimana pun zein berhutang nyawa padanya,


"ibu mohon padamu menikahlah dengan zahra" pintanya lagi kali ini dengan memohon,


Zein yang tidak tega melihat kondisi ibu andini yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit usai mengalami kecelakaan karna menyelamatkan dirinya,


Malam itu zein tidak sadar jika ada truk yang melintas ke arahnya, beruntung ibu andini datang di saat yang tepat jika tidak maka zein lah yang akan mengalami nasib tragis itu


"apa ibu yakin dengan keputusan ibu? zein hanya seorang buruh pabrik dan bukankah ibu tau gaji zein mungkin tak sebanding dengan gaji anak ibu!" ucap zein dengan suara bergetar,


bukan nya menolak justru bu andini semakin yakin menjodohkan putrinya dengan zein,

__ADS_1


Lengkungan di sudut bu andini terlihat dengan sangat jelas


"ibu yakin kamulah orang yang bisa membimbing zahra ibu titipkan zahra kepadamu meski kalian tidak saling mencintai lebih tepat nya belum saling mencintai tapi ibu yakin seiring berjalan nya waktu suatu saat nanti cinta itu akan datang di waktu yang tepat sekarang ibu ingin bertanya sekali lagi apakah kamu bersedia menikahi putri ibu?" ucap ibu andini lagi,


"bismillah...insya allah saya siap bu,!" jawab zein tegas


"tapi zein ikhlaskan" tanya andini ia khawatir zein terpaksa, padahal jelas jelas secara tidak langsung dirinya telah memaksa zein,


"insya allah ikhlas, bu" jawab zein


"alhamdulilah ...syukurlah kalau begitu ibu sudah tenang" lirihnya dengan nafas tersenggal merasakan sesak nafas di dadanya,


Pandangannya mulai kabur zein dan arumi yang melihatnya sadar jika bu andini sedang menghadapi sakaratul maut,


Meski zein bukan seorang ustadz ia paham apa yang harus dirinya lakukan saat melihat kondisi sesama muslim mengalami hal itu,


Seketika arumi terus menekan tombol yang ada di atas kepala pasien berharap dokter segera datang,


Sedangkan zein mentalqin bu andini menuntun nya menghadap allah swt. dengan dua kalimat syahadat seketika suasana menjadi tegang,


"innalilahi wainnalilahirojiun," ucap zein setelah memeriksa hidung dan denyut nadi di pergelangan tangan andini sudah tidak berdenyut lagi,


Flash back off


"besok malam zein dan kedua orang tuanya akan datang untuk melamarmu jadi bersiap siaplah" ucap arumi


"tapi bibi zahra tak mengenal zein bagaimana bisa zahra menerima lamaran nya" sahut zahra namun tak ada reaksi apapun dari arumi


"ini adalah perintah kamu tidak bisa menolaknya jika kamu masih menganggap bibi ini keluargamu" ucap arumi dengan wajah datarnya


"apa maksud bibi?"

__ADS_1


__ADS_2