
"neng bangun sebentar lagi maghrib" samar samar aku mendengar zein membangunkan ku
Ketika mataku sudah terbuka sempurna benar saja waktu menunjukan pukul lima lewat tiga puluh menit,
"akang udah siapin air hangat" ucap zain
Bergegas aku menuju kamar mandi karna ingin segera membersihkan diri,
"aww!" kekehku
"kenapa neng?" tanya zein,
"yang di bawah sakit kang" tanpa ba bi bu zein membopongku ke kamar mandi,
"mau sekalian akang mandiin" tawar zein,
"nggak usah aku bisa sendiri" jawabku ketus,
Hampir setengah jam aku berendam di air hangat rasa sakit di daerah inti ku sudah tidak sakit seperti tadi namun aku masih merasakan sesuatu di sana seperti ada yang mengganjal di daerah intiku,
Selesai mandi aku melihat zein sudah memakai baju koko serta sarungnya,
bohong kalau aku bilang dia gak ganteng, meski hatiku belum bisa menerima dia sebagai suami tapi tak bisa di pungkiri kalau zein memang teramat tampan meski dia hanya seorang buruh pabrik,
__ADS_1
Kami berdua melaksanakan shalat maghrib berjama'ah ada rasa tentram dan damai ketika aku mendengar zein melantunkan ayat suci a-lqur'an
ternyata selain tampan zein juga mempunyai kepribadiian yang sangat baik,
Sebenarnya aku tidak benar benar benci sama zein atas perjodohan ini,
terkadang aku juga merasa sakit jika aku harus terpaksa mengatai zein seperti kata waktu itu yang aku lontarkan kata om om amit amit dan sebagainya itu semua hanya bentuk kekesalan ku saja pada takdir,
kenapa pertemuan kami harus seperti ini seandainya zein datang sebelum ada orang lain yang menempati hatiku ini pasti tidaklah sulit bagiku menjalani rumah tangga atas dasar perjodohan ini,
tapi untuk sekarang aku saja bingung harus bersikap seperti apa, di satu sisi aku memang mulai menyukai zein tapi di sisi lain bagaimana dengan perkataan ku kemaren kemaren bahkan aku sering melontarkan kata awas nanti jatuh cinta,
"neng" zein sedikit mengguncang tubuhku,
" hidih pede nya over dosis"
zein hanya terkekeh sambil melihatku tidur di atas ranjang,
entah apa yang dia pikirkan saat dia melihatku melamun tadi,
"neng!"
"hemh!"
__ADS_1
"ko jalan nya kaya pinguin!" replek aku melempari zein dengan bantal yang ada di kasur,
"jangan ngeledek bisa gak?"
"ampun ampun sayang ma'afin akang, kan cuma becanda,"
"tau ah" ucapku judes
setelah kejadian siang itu hubungan ku dengan zein lebih akrab bisa di bilang kalau kami mulai saling ada rasa,
masak bersama nyuci baju bersama bahkan sampai mandi pun bersama, aku mulai terbiasa menjadi istri zein dengan segala kesederhanaanya, bahkan bibi arumi sampai menangis saking bahagianya melihat rumah tanggaku yang semakin hari semakin terlihat harmonis,
"neng ini gaji akang selama satu bulan ma'af akang cuma bisa ngasih segini," ucap zein
"gak papa kang neng trima ko makasih ya ini sisanya buat akang buat pegangan" ucapku sambil memberikan uang lima ratus ribu sama zein,
"gak usah neng, neng pegang aja semuanya lagian kalo akang kerja akang dapat katering jadi uang nya gak bakal kepake"
"gak papa kang pegang aja dulu kalo gak kepake bulan depan bisa di kasihin lagi sama zahra, " ucapku
dua bulan sudah aku menjalani hubunganku dengan zein sebagai pasangan suami istri, bahkan tekadku sudah bulat untuk terus menjalani pernikahan ini,
sampai suatu saat sesuatu terjadi,
__ADS_1