Jangan Benci Bilang Cinta

Jangan Benci Bilang Cinta
Eneng akang


__ADS_3

"panggil aku aby"


"gak mau terlalu agamis"


"ya udah panggil aku ayah"


"gak mau kita kan belum punya anak"


"lalu maumu apa" tanya zein


"abang?"


"dikira suami mu ini tukang gado gado yang jualan dipengkolan sana,"


"mas ,tidak tidak terlalu sesuatu! akang aja deh"


"boleh juga untuk sementara waktu"


"kalo kamu manggil aku akang berarti saya panggil kamu teteh"


"enak aja teteh teteh emang muka aku keliatan tua gitu? Wajah babyface gini lagian umur aku baru dua satu" ucap aleza sambil menggerutu suaminya,


"memangnya kamu mau akang panggil apa?"


"eneng"


"ok deal jadi panggilan kita akang eneng nich?"


"deal"

__ADS_1


"neng akang mau nanya sesuatu boleh?" ucap zein,


"nanya apa an??"


"sebelum neng nikah sama akang neng punya pacar gak"


"gak "


"alhamdulilah kalo mantan punya gak?"


"cek, harus di jawab nih? Gak penting deh nanya nanya gituan"


"jawab dong kan akang cuma nanya"


"punya" jawab zahra jujur,


"kenapa neng putus sama dia?"


"oh ,ko neng gak nanya akang punya pacar atau belum?" tanya zein ,


"ngapain gak penting mau kamu punya pacar atau enggak bodo amat justru bagus deh kalau akang punya pacar biar proses perceraian kita gak susah susah amat gitu" jawab zahra asal


"neng ko kamu ngomongnya gitu sih kita kan baru nikah tadi pagi udah bilang cerai cerai aja nanti kalau ada malaikat lewat gimana? Lagian akang gak bakal cerain kamu apapun yang terjadi kita akan tetap hidup bersama jadi jangan berniat untuk mengakhiri hubungan ini" ucap zein dengan tegas,


"kita liat aja nanti aku dengan keputusanku atau kamu dengan pertahananmu" ucap zahra seolah dia yakin tidak akan jatuh cinta sama zein suaminya,


Siang telah berlalu berganti dengan gelap dan lampu lampu yang menyinari setiap rumah dan bangunan bangunan tinggi


"boleh aku ikut tidur di sini" tanya zein menghampiri zahra yang sudah tidur di ranjang miliknya

__ADS_1


"heummh, "


"makasih" sahut zein dan ikut berbaring di ranjang berukuran king size miliknya yang baru di beli beberapa hari yang lalu sebelum pernikahan nya dengan zahra,


"ingat guling ini sebagai pembatas dan jangan coba coba untuk melewatinya" ucap zahra,


"kita lihat aja nanti siapa yang akan melewatinya bisa saja kan kamu yang membuat batas ini kamu juga yang melanggar karna pesona ku" ucap zein dengan nada menggoda,


"idih jangan ngarep! " sahut zahra sambil mencebikan bibirnya dan tertidur membelakangi suaminya begitu juga zein yang ikut terlelap barsama sang istri,


Ke esokan harinya zein terbangun lebih dulu dari pada istrinya ia menatap lekat wajah teduh dan nafas yang teratur di hadapan nya,


"kamu cantik zahra tapi sayang hatimu belum bisa ku milili semoga secepatnya aku bisa mendapatkan hatimu" bathin zein, kemudian ia menyingkirkan guling yang berada di tengah tengah mereka dan memposisikan seolah olah zahra yang memeluk dirinya,


Beberapa menit kemudian zahra mengerjip ngerjipkan matanya pertanda ia akan segera terbangun dari tidurnya,


"ko ada pangeran di sebelah ku" ucap zahra bermonolog ia masih belum sadar sepenuhny, "astagfirullah ini kenapa lagi tanga maen peluk peluk aja kalau dia tau bisa besar kepala dia" gerutu zahra mencoba melepaskan pelukan nya,


Namun saat ia kembali ingin melanjutkan tidurnya dan kembali memunggungi suaminya tangan zein melingkar sempurna di pinggang zahra,


"kenapa di lepas pelukan nya?"


Tanya zein berbisik di lembut di telinga zahra,


Deg!


"siapa juga yang meluk kamu jangan ge'er ada juga situ yang main peluk peluk aja tanpa permisi lagi" gerutu zahra


"oh ya! bukan nya kamu seneng yah di peluk suami gini apa lagi cuaca sangat mendukung di luar hujan deras banget kaya nya tuhan sengaja mengirim hujan ini buat pengantin baru" ucap zein

__ADS_1


"mana ada gak usah ngadi ngadi hujan ya hujan aja" ucap zahra sambil berlalu menuju kamar mandi,


__ADS_2