
"ini adalah perintah kamu tidak bisa menolaknya jika kamu masih menganggap bibi ini keluargamu" ucap arumi dengan wajah datarnya,
"apa maksud bibi?"
Hari yang di tunggu oleh arumi akhirnya tiba zein ternyata menepati janjinya untuk melamar zahra,
dengan wajah sumringah arumi menyambut kedatangan zein dengan kedua orang tuanya
namun tidak dengan zahra hatinya gelisah ingin menolak perjodohan yang menurutnya sangat konyol namun apalah daya zahra tak bisa menolak karna ini adalah permintaan terakhir sang ibu apalagi bibinya juga sudah memperingati zahra untuk tak menolak perjodohan ini dengan sedikit mengancam,
bukan egois justru arumi menginginkan jodoh terbaik untuk keponakan nya karna ia yakin
kalau zein adalah laki laki shaleh yang bisa menuntun zahra selalu berada di jalan nya meski ia belum mengenal lama tentang kepribadian zein,
Zein pun mengutarakan niatnya yang sengaja datang untuk melamar zahra,
"ma'af bisa kita bicara sebentar?" tanya zahra
"iya silahkan" sahut zein
"tidak di sini karna saya ingin bicara empat mata"
Akhirnya mereka pun bicara empat mata
"silahkan mau bicara apa?" tanya zein
__ADS_1
"saya gak tahu harus bicara dari mana tapi bingung kenapa kamu mau melamar saya padahal sebelumnya kita tidak saling kenal memangnya kamu mau menghabiskan sisa hidupmu bersama orang yang tidak akan pernah mencintaimu?" tanya zahra
"apa ada alasan saya untuk menolak permintaan terakhir ibu andini? terlebih saya berhutang nyawa terhadap beliau!"
Zahra mengerutkan alisnya ia tak percaya bahwa zein menyikapinya dengan begitu santai,
"ya jelas ada untuk apa kamu memaksakan sesuatu hal yang nantinya akan menyakiti perasaan mu sendiri? Apa kamu ingin merusak masa depan saya" zein tersenyum simpul,
"laki laki mana yang merusak masa depan seorang wanita dengan menikahinya?"
Zahra tercekat karna setiap pertanyaan zein selalu bisa menjawabnya,
"tapi saya tidak mau menikah dengan om om sepertimu! Saya minta kamu menolak dan membatalkan permintaan almarhumah ibu saya dulu" umpat zahra kesal
"baiklah jika itu maumu kita akan menikah tapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti kamu jatuh cinta padaku dan aku tidak akan pernah membalasnya karna aku sangat membencimu"
"zahra jangan benci bilang cinta karna antara benci dan cinta hanya berbeda tipis" jelas zein dan meninggalkan zahra begitu saja,
"kau ini belum apa apa sudah membuatku naik darah" umpat zahra kesal sambil menghentak hentakan kakinya,
Beberapa hari telah
berlalu setelah acara lamaran yang hanya di hadiri kedua orang tua zein dan beberapa kerabat almarhum kedua orang tuanya, termasuk uwa salman yang nantinya akan menjadi wali nikah zahra,
Kini hari pernikahan itu akan segera di laksanakan,
__ADS_1
"Qobiltu nikahaha wa tazwihaha bii mahril madzkur halalan!" Dengan satu tarikan nafas zein mengucapkan kalimat sakral itu dan di balas kata "halal" oleh para saksi,
Zahra menangis terharu karna statusnya sudah menjadi seorang istri zahra memeluk arumi ia masih tidak menyangka bahwa secepat ini pernikahan nya akan berlangsung, "sudah jangan menangis sayang nanti make up nya luntur" ucap arumi menghapus air mata zahra,
"sekarang cium tangan suamimu" titah arumi
Zein langsung menyerahkan punggung tangan nya untuk di cium oleh zahra,
zahra pun meraih tangan zein dan mencium punggung tangan nya zein membacakan do'a di atas kepala zahra,
"allahuma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirima jabal tahaa'alaih wa udzubika min syariha wa syarima jabal taha'alaih"
Artinya: ya allah sesungguhnya aku mohon kepada-mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang enkau tentukan atas dirinya dan aku berlindung kepada-mu dari kejelekan nya dan kejelekan yang enkau tetapkan atas dirinya,
Kemudian mereka kembali ke meja di mana acara sakral tadi di laksanakan,
Zahra dan zein menanda tangani surat surat yang ada lalu mendatangi kedua orang tua zein,
"barakallahu lakuma wa baraka alaika wa jama'a baina kumaa fii khoiir" ucap pak akhtar abinya zein artinya: semoga allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga ia limpahkan barakah atasmu dan semoga ia himpun kalian berdua dalam kebaikan,
Setelah itu mendatangi umi nya zein dan memeluknya "semoga sakinah mawadah warahmah" ucap umi aisyah ibunda zein,
pelukan hangat yang dirasakan zahra ketika memeluk ibu mertuanya membuat hati zahra luluh apalagi ketika menatap wajah teduh sang umi ia dapat merasakan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya,
Setelah semua acara pernikahan selesai zahra langsung di bawa ke rumah yang menurutnya tidak terlalu besar dari rumahnya tapi sangat rapi dan sejuk
__ADS_1