Jangan Benci Bilang Cinta

Jangan Benci Bilang Cinta
Keterpaksaan


__ADS_3

Di dalam kamar mandi zahra sedang menetralkan hatinya,


"jantung diam deh gak usah dag dig dug gitu malu kalo kedengeran zein" ucap zahra sambil memegang detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya,


keluar dari kamar mandi zahra memasang wajah biasa saja,


"ternyata kamu udah betah aja yah tinggal di rumah sempit ini sampai di kamar mandi aja menghabiskan waktu satu jam lebih!"


"terserah aku lah suka suka aku mau berendem seharian ke mau tidur seharian ke apa urusan nya sama situ? Inget yah pernikahan yang kita jalani hanya sebuah keterpaksaan jadi jangan pernah berharap lebih!"


"raut wajah zein pun berubah dingin ketika mendengar kata kata yang di lontarkan zahra terhadapnya,


memang benar apa kata pepatah kalau mulut itu bisa lebih tajam dari sebuah silet,


Tak ingin menangapi sang istri zein memilih pergi meninggalkan kamar dan bergegas menuju dapur untuk memenuhi kebutuhan para cacing yang ada di perut nya karna mereka sudah mereog reog minta di isi makanan,


Zein pun lebih memilih membuat nasi goreng selain tubuh nya menginginkan yang hangat hangat karna di luar hujan cukup deras persediaan makanan pun tak cukup banyak karna zein terlalu pokus pada acara pernikahan nya hingga ia melupakan isi lemari pendingin nya,


Zahra yang berada di dapur mencium wangi aroma masakan pun turut keluar dari kamarnya mengikuti arah angin yang membawanya ke tempat di mana aroma sedap itu berada,


"lagi masak apa?"

__ADS_1


"nasi goreng"


"emang kamu bisa masak?"


"bisa tapi gak tau juga makanan ini enak atau enggak"


"kalau gak enak aku gak mau makan ah" ucap zahra dan duduk di meja makan menunggu masakan suaminya itu matang,


Zein membawakan sebuah piring ke meja makan dengan antusias zahra menaroh sendok dan garpu ke dalam piring tersebut, "terima kasih" ucap zein dan menarik piring yang berada di hadapan zahra


"kenapa di ambil piringnya?"


"bukan kah kamu tidak mau makan masakan yang gak enak ini!"


"kalau mau ambil sendiri sana saya ini suami kamu saya yang harusnya di layani" ucap zein ia sengaja melakukan hal itu untuk di jadikan sebuah peringatan kepada zahra agar ia tak sembarangan bicara,


Zahra pun kembali ke dapur karna perutnya sudah benar benar tak bisa di ajak kompromi namun ia kesulitan mengambil piring karna tinggi tubuh nya tak sampai, zein yang melihatnya sengaja diam karna ia ingin mendengar istrinya yang meminta tolong langsung terhadapnya,


"kang tolong piringnya gak sampai!" akhirnya kata kata yang ingin di dengar zein pun terlontar juga dari mulut manisnya,


Zein pun menghampiri istrinya dan mengambilkan sebuah piring dan gelas untuknya,

__ADS_1


"terima kasih" zein hanya sedikit menganggukan kepalanya tak ada kata yang keluar dari mulut zein membuat hati zahra bertanya tanya,


"dia kenapa tumben diam aja apa dia sedang marah??"


Di meja makan keduanya sibuk dengan pikiran nya masing masing hingga tak ada yang bersuara hingga keheningan menyelimuti keduanya,


"enak juga masakan zein" bathin zahra hingga tak sadar ia sudah menghabiskan satu piring nasi goreng padahal itu bukanlah porsinya,


Mungkin karna cuaca dingin dan hujan cukup daras atau bisa juga karna masakan zein cukup lezat,


"akang gak kerja?" ucap zahra membuka perbincangan di antara keduanya,


"di kasih cuti tiga hari"


"ohhh" sahut zahra membulatkan mulutnya,


Tok tok tok!


"asalamu' alaikum!"


"walaikum salam" ucap zein dan langsung bergegas menuju pintu

__ADS_1


"sepertinya tamu itu seorang perempuan" meski tak terlihat jelas oleh zahra namun pendengaran nya cukup jelas bahwa seseorang yang mengobrol dengan suaminya di luar sana adalah seorang wanita,


"siapa wanita itu???"


__ADS_2