
"alhamdulilah kita sudah sampai" ucap zein memarkirkan motornya, dan membawa tas besar milik zahra ke dalam rumahnya,
"kamu tinggal sendirian di sini" tanya aleza membuka perbincangan terlebih dulu,
"berdua" jawab zein singkat,
"sama siapa"
"kamu"
"maksud aku sebelum ada aku"
"sendiri"
"o" ucap aleza membulatkan mulutnya,
"kamar nya cuma dua yah aku pilih kamar yang ini deh" ucap zahra
"no kita sudah halal dan tidak akan tidur terpisah"
"tapi aku gak mau kita tidur sendiri sendiri aja" ucap zahra sambil menenteng tas besar miliknya menuju kamar yang ia pilih,
Ceklek!
"ko kosong gak ada isinya"
"memang siapa suruh milih kamar itu!"
dengan sangat terpaksa zahra ikut masuk ke kamar bersama zein dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size itu, meski tubuhnya lelah namun mata zahra tak bisa di ajak kompromi alias tak bisa merem,
__ADS_1
"sedangkan zein memilih langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri tiga puluh menit telah berlalu kini zein telah selesai melakukan ritul mandinya dan keluar hanya menggunakan handuk sebatas pinggang sambil mengibas ngibaskan rambutnya yang sedikit basah
roti sobek yang berjejer rapi dan rambut yang masih wangi shampo menambah ketampanan zein belum lagi postur tubuh yang sangat atletis membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta termasuk zahra yang tidak bisa mengedipkan matanya saking terpesona nya dia melihat gestur tubuh suaminya,
"jangan lihat lihat nanti kamu jatuh cinta dan aku tidak akan pernah membalasnya" ucap zein menirukan gaya zahra pada waktu itu,
"idih siapa juga yang liatin kamu jangan ge'er" sahut zahra sambil berlalu ke kamar mandi,
Tak terima dengan ucapan zein zahra pun keluar kamar mandi menggunakan kimono nya dan mengibas ngibaskan rambutnya yang masih sedikit basah niatnya ngin membalas perkataan zein tadi namun sayang zein terlalu sibuk dengan note book nya yang bergambar apel di gigit,
sebenarnya zahra sedikit heran dengan benda yang sedang di mainkan zein tapi karna rasa gengsi yang terlalu tinggi ia berusaha masa bodo,
Zahra lebih memilih mendekati cermin dan memakai lotion agar kulitnya terasa lembut zahra juga memakai wewangian yang cukup mencolok agar zein melihatnya tapi sayang lagi lagi zein masih di sibukan dengan notebook nya,
"karyawan aja belagu punya notebook semahal itu lagi ngerjain proyek pak?" tanya zahra dengan nada sedikit meledek karna sejak tadi keberadaan nya seolah tak di hiraukan oleh zein,
melihat istrinya misuh misuh tak jelas zein menutup notebook nya dan menyimpan nya di atas nakas,
"menurut anda?" zein terkekeh mendengarnya sebenarnya bukan hanya ucapan zahra yang membuatnya merasa lucu tetapi tingkahnya juga yang lucu apalahi saat dia selesai mandi tadi,
"kenapa tertawa ada yang lucu kah?"
"ada bidadari"
"di mana" ucap zahra sambil menoleh ke belakang"
"di depan mataku dan alhamdulilah dia sudah halal untuku"
Wajah zahra merona bak kepiting rebus mendengar gombalan dari suaminya, zahra aneh ya besti katanya gak cinta baru di gombalin gitu aja udah meleyoottt,
__ADS_1
"gak usah ngegombal gak bakal mempan tau"
"massa ko wajahnya merah"
"mana ada jangan ngadi ngadi"
Zein kembali tertawa lepas kali ini lebih kencang dari sebelumnya,
Huupp zahra membekap mulut zein dengan tangan nya,
"kalo ketawa jangan kenceng kenceng berisik tau" ucap zahra dan langsung di tarik oleh zein hingga akhirnya zahra terjatuh di pangkuan zein dengan mata yang saling bertemu,
Dan wajah yang hampir menempel hingga nafas keduanya terdengar sangat jelas,
"apa dia akan meminta hak nya malam ini " bathin zahra
"boleh aku bertanya sesuatu?"
Deg!
"tidak"
"kenapa"
"kau tak akan mendapatkan nya malam ini" ucap zahra ketus, sedangkan zein menatap nanar zahra tidak mengerti dengan jawaban zahra
"memangnya kau tau apa yang ingin ku tanyakan?"
"tentu saja dengan mudah aku dapat menebak wajah om om sepertimu"
__ADS_1
"hey umurku baru dua tujuh dan jangan panggil aku om om karna aku bukan sugar dady mu paham" jawab zein dengan menekan kata sugardady,