
"Sebenarnya, aku mau ngomong serius ama kamu Tam." kata Rani menatap wajah itu dalam.
"Ngomong apa?" balas Tama mengeratkan pelukannya.
Rani mendadak panas dingin dan sesak nafas. Selalu saja seperti ini setiap kali ia ingin mengutarakan sebuah masalah yang menurutnya sangat penting. Dan, Tama mengetahui hal itu sedari dulu. Ia mendaratkan ciuman di pipi Rani sambil berbisik di telinganya. "Kalau ngga kuat, ngga usah dipaksa."katanya.
"Sejak kapan kamu tau nama aku?"
"Hah?"
"Papa mau jodihin aku, Tam." kata Rani.
Seketika wajah Tama memerah menahan marah. Tapi ia memilih melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh gadis itu dan menatap matanya dalam-dalam.
"Apa yang kamu pikirkan?" katanya teramat pelan.
"Aku tetap milih kamu."
"Aku cuma butuh satu hal, Ran. Tak perduli apa yang kamu rasakan, aku akan terus bertahan selama aku masih mencintaimu. Aku tak akan melepasmu!" kata Tama pasti.
"Aku hanya ingin kamu berjuang dan menyelesaikan semuanya tepat waktu dan_"
"Aku tak akan melepas kamu, Rani." potong Tama.
Entah mengapa, Rani merasa ingin menangis mendengar kata-kata itu. Tama yang ia kenal tak pernah menyebut namanya meskipun hanya sekali, hingga banyak orang mengatakan kalau Tama tak tau siapa nama Rani yang sebenarnya.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Tama, bukan membuat Rani tenang melainkan membuatnya semakin khawatir tak menentu. Yah, entah mengapa ia merasa semakin jauh dari Tama meskipun banyak kemajuan yang ditunjukkan Tama tentang dirinya.
"Apakah orang itu Nathan?" kata Tama beberapa saat kemudian.
Rani menggeleng."Dia berbeda dengan kalian." katanya.
"Bedanya?"
"Anak teman Papa yang tinggal dirumah, namun melakukan semuanya seturut kehendaknya tanpa pernah melibatkan aku."
"Lalu?"
"Sebenarnya aku tak begitu khawatir karena kita tak pernah terlibat satu sama lain. Yah, ia memusuhiku seperti aku memusuhinya juga. "
Tama menghela nafas yang lumayan berat tanpa mengutarakan pikirannya yang tiba-tiba kusut. Entah mengapa ia lebih takut dengan orang baru yang misterius daripada harus melihat Nathan yang mendekati kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kenapa sesak nafas?" kata Rani.
"Masih berteman dengan doxepin?" balas Tama mengalihkan pembicaraan.
Rani menelan ludah sukar."Yah, dia membantuku kuat." katanya.
"Kamu yakin?"
"Kita jangan bahas hal ini yah, Tam."kata Rani kurang suka.
Yah, ia tau suatu saat nanti doxepin akan melemahkan nadinya dan bahkan membuatnya lenyap dari dunia ini. Tapi, hidup tanpa obat itu ia tak yakin mampu dan malah mempercepat menghilangnya dirinya nanti.
"Aku ngga bisa tidur kalau belum dapat kabar dari kamu. Ngga tau sampai kapan aku akan seper ini, alih-alih terbiasa dengan keadaan."kata Rani lagi.
Tama tersenyum lembut "Makasih." katanya.
"Kamu serius?" balas Rani kaget.
Yah, untuk pertama kalinya kata-kata makasih keluar dari mulut Tama tanpa paksaan. Biasanya ia selalu meremehkan orang lain dan bahkan tak menganggap orang lain ada. Tama mengusap rambut Rani lembut dan mengecup puncak kepalanya lagi dan lagi.
"Kamu merubah banyak hal tentang aku Ran." bisiknya.
Seminggu Rani menghabiskan waktu di Jawa tengah sambil menemani Tama liburan. Mereka berdua tampak bahagia meskipun hanya hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan berdua. Yah, seperti saat ini keduanya sedang menunggu pesanan bakso sebagai pengganjal perut sementara. Entah mengapa, sedari tadi penjual bakso itu selalu mencuri pandang Rani dan Tama. Awalnya Rani merasa tak apa-apa, tapi lama-kelamaan ia mulai risih dan mengkode Tama.
"Kamu kenal Mang baksonya?" katanya.
"Enggak, Napa?"
"Kok dia kirain kita terus?"
"Ya biarin aja Ran, mungkin dia_"
Belum sempat Tama menyelesaikan ucapannya, bakso yang mereka pesan tiba meski hanya 1 mangkok saja. Awalnya Rani berfikiran kalau bakso yang satunya belum selesai, tapi ia harus melongo heran saat Tama menyerahkan sendok dan garpu padanya.
"Ngga punya uang?" kata Rani merasa canggung harus makan dibagi setengah.
"Ntar kalau kamu ngerasa kurang, tinggal minta satu porsi lagi, Ran." kata Tama enteng
Rani tidak mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu, tapi tak bisa dicegah wajahnya merah menahan malu karena semua mata menatap pada mereka dan mengatakan kalau mereka sangat romantis.
"Kamu dengar kan? mereka bilang kita romantis." kata Tama dengan senyuman penuh kemenangan.
__ADS_1
"Romantis pala lo." Rani bangkit dan ingin pergi saja.
"Tumben Mas datang dengan orang berbeda, biasanya kan makan semangkuk berdua ama_"
Mang bakso yang datang mengantar minuman menutup mulutnya dengan tangannya karena kode dari Tama yang mengatakan kalau ia sudah kelewat batas. Tapi bagi Rani ini adalah titik terang bahwa ia bukan satu-satunya. Ia akhirnya sadar kalau Mang bakso melihatnya sedari tadi bukan karena semangkok bakso dibagi dua, melainkan karena ia orang yang berbeda dengan yang dikencani Tama selama ini.
Rani berbalik, dan Mang bakso segera pergi karena tak ingin menyaksikan warungnya yang hancur karena ulah mulutnya. Setelah itu, Rani berlari pergi tanpa kata. Otomatis, Tama mengejar sang kekasih yang sebentar lagi mungkin mengirimnya ke akhirat. Tak berapa lama, ia menyusul langkah Rani yang berhenti di tepi jalan. Tama yang merasa kedoknya terbongkar, segera mendekat dan menggenggam tangan Rani.
"Jangan salah paham, beb. Maksud_"
"Handphone lo mana?" kata gadis itu dingin.
"Kita selesaikan di rumah yah, sini_"
"Handphone lo mana bego?" bentak Rani.
Mau tak mau Tama memberikan ponselnya juga. Ia bingung kenapa ponsel yang diminta Rani alih-alih bertanya siapa yang dimaksud mang bakso itu. Rani membuka kontak WhatsApp Tama dan menatap pemuda itu tajam.
"Siapa lo save nomornya?" katanya.
"Ran, jangan salah paham dulu. Aku bisa jelasin semuanya," pinta Tama.
"Yang mana? kasih tau atau gue banting ponsel lo?" ancamnya.
"Ran, dia cuma_"
Ucapan Tama berhenti saat Rani melepas kalung yang ia beri bersamaan dengan cincin yang ada di jarinya. Yah, ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia akan menyesali hal itu seumur hidupnya.
"Ran, please _" pintanya.
Rani membuka telapak tangan Tama dan meletakkan barang-barang itu disana. Yah, tampak dari raut wajahnya kalau ia berusaha menahan tangis dilengkapi suaranya yang semakin serak.
"Pakaikan ke gue lagi, kala lo udah siap."
"Ran, aku bisa jelasin."
"Jelasin apa lagi sih? gue nanya namanya siapa aja lo ngga ngasih tau ******! Apa yang mau lo jelasin?" katanya emosi.
ia menghela nafas panjang yang berat. " Lo tau kan gue pernah bilang kalau gue harus jadi yang pertama, utama dan terakhir? Gue ngga akan minta putus, tapi datanglah saat lo udah siap!" kata Rani melangkah pergi.
Tama hanya terpukau tak berdaya. Tampak ia ilmu militer yang selama ini ia dapat tak ada apa-apanya dalam menghadapi amarah Rani. *
__ADS_1