Jingga Langit Kelabu

Jingga Langit Kelabu
Hidup = Masalah


__ADS_3

"Tapi aku ngga bisa pergi sebelum ngomong ama kamu " kata Tama.


Rani menatap pria itu dalam meskipun saat ini harinya serasa hancur. Baiklah, ia akan mengorbankan egonya sekali lagi demi cita-cita Tama.


"Cuma ngomong doang kan?" katanya.


Tama tersenyum senang saat tau Rani masih perduli keselamatan dirinya. Yah, rasanya sangat menyenangkan karena artinya hubungan mereka tak sepenuhnya berakhir.


Tapi benarkah hubungan mereka belum berakhir ?


Yah, Rani memang tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Tama karena biar bagaimana pun hatinya sangat mencintai pemuda itu meski masih banyak hal yang harus ia pikirkan seorang diri.


"Siapa Kaira?" kata Rani pelan.


"Tau dari mana kamu soal_"


"Siapa dia?!" bentak Rani keras.


Yah, sikap Tama yang gelisah menandakan kalau ia tau apa yang dibicarakan Rani dan tentu saja ada kaitannya dengan dirinya. Tama menelan ludah sukar, memegang tangan Rani yang langsung ditepis gadis itu.


"Ran, aku bisa jelasin kok." katanya semakin gugup.


"Gue ngga butuh penjelasan,Tam. Yang gue butuh, cuma_"


"Ran, I don't _"


"Jangan potong ucapan gue, bego!' makinya lagi.


Tama mengangguk." Okay," katanya.


"Lo mau ngejelasin kan?"


"Benar."


"Tapi bagi gue, lo cukup jawab pertanyaan gue aja alih-alih ngejelasin." tegas Rani.


"Oke."


"Siapa dia?"


"Dia salah satu orang yang_"


"Jangan bilang kalau dia suka ama lo, tapi lo ngga suka ama dia." potong Rani.


Yah, gadis misterius ini selalu saja tak ingin orang lain memotong ucapannya meskipun itu adalah salah satu kesukaannya sejak dulu. Anehnya, kebiasaan itu sama sekali tak mengganggu orang-orang yang niat berteman dengannya meskipun terkadang ia sangat egois dan susah diatur.


"Kam emang kenyataannya, Ran." kata Tama.


"Dia bukan inisial Rani, berarti dia orang yang akan menjadi_"


"Ran, kok kamu_"


"Jangan motong ucapan gue!"


"Aku beneran ngga ada apa-apa ama Kaira, Ran. " kata Tama setengah memelas.

__ADS_1


"Tam, lo sulit banget buat bohong. "


"Aku ngga bohong, Sayang."


"Gimana gue bicara kalau_"


"Dia nemuin kamu?"


"Kalau iya?"


Tama bangkit seketika. "Kamu liat?" katanya menunjukkan kontak yang ia call.


"Lo Ngapain?"


"Aku akan manggil dia kesini buat jelasin ke kamu kalau kita ngga da hubungan apa-apa."


Rani merebut ponsel Tama dan mematikannya, "Kalau memang ngga da apa-apa, yakinin gue Tama. Ngga perlu ngebawa-bawa orang lain." katanya.


"Gimana cara aku Ran?"


"Mikir_"


Ucapan Rani terhenti saat ponsel Tama mendapat panggilan resmi. Ia kini tau kalau ini bukan waktu yang tepat untuk berperang. Ia membiarkan da menunggu Tama berbicara dengan sang atasan dengan senyuman yang sulit diterka.


"Ran, sepertinya _"


"Kapan pulang?" potong Rani.


"Mungkin 6 bulan."


Tama secepat mungkin menarik gadis itu dalam pelukannya dan membelai rambutnya dalam. Sudah sangat lama rasanya ia tak merasakan kehangatan cinta yang seperti ini hingga ia enggan melepaskan gadis itu.


"Makasih, Ran." katanya.


"Jangan menghubungi ku karena aku tak akan mengingatnya."


"Why?"


"Karena aku tau kamu ngga akan ngelakuin hal itu. " kata Rani.


*


Sehari setelah tiba di rumah, Rani mengunjungi Laura yang sekarang satu-satunya teman yang ia punya karena membuka usaha di Jakarta.


"Lo beneran putus ama Tama?" kata gadis itu sebagai sapaan pembuka saat Rani tiba di kafenya.


"Ya elah, bukannya disuguhi minuman malah ditanyain hal bego gitu." kata Rani duduk disalah satu meja.


"Lo mau minum apa?"


"Sianida ada?"


"Gila ya lo."


"Ya udah, ngapain nanya kalau lo ngga sediain?"

__ADS_1


Laura memanggil waiters dan memesan minuman yang dulunya mereka sukai saat masih bersama. Ia kembali fokus menatap wajah Rani yang tampaknya lebih baik dari dugaannya. Padahal dulu jika punya masalah dengan Tama, ia pasti lemas setengah mati.


"Beneran?"


"Kok nanya gue?" balas Rani mengikat rambutnya.


"Trus gue nanya siapa?"


"Ngga tau."


"Lo beneran_"


"Gue juga ngga tau, Lau. Kita dah putus atau gimana," terang Rani.


"Emang bisa gitu?"


" Gue butuh waktu mikir, Lau. "


Melihat ekspresi Rani, Laura tau kalau ia tak selayaknya bertanya lagi karena pasti tak akan dijawab. Yah, sebagai sahabat ia seharusnya bisa meringankan beban Rani bukannya malah memperburuk keadaan.


"Sekarang rencana lo apa?" katanya mengalihkan pembicaraan.


"Hidup."


"Ya elah, lo_"


Ucapan Laura terhenti saat melihat sosok Rania masuk bersama anaknya. Entah kenapa, sorot mata gadis itu sangat tajam seakan ia ingin menelan tubuh Rania bulat-bulat.


"Ngapain Kuntilanak merah itu masih hidup?" katanya geram.


Ia bangkit dan langsung menghampiri Rania uang sepertinya juga menunggunya. Begitu tiba, tanpa aba-aba lagi Laura menampar pipi gadis itu keras sampai gadis itu tersungkur.


"Lau!" pekik Rani menghampiri gadis itu.


Yah, ia tau Laura emosian. Tapi menampar orang tanpa aba-aba didepan para pelanggan bukan hal yang patut diacungi jempol. Ia menyingkirkan Laura dan menghampiri Rania uang terjatuh dan secepat mungkin membantu anaknya juga yang langsung menangis.


"Lo ngga papa?" katanya membantu Rania berdiri.


"Iya_"


"Lo ngga tau malu? beraninya Lo datang setelah apa yang lo lakuin." kata Laura marak dan berniat kembali menjambak rambut Rania yang sudah tak berdaya.


"Lau, tenang! Lo ngga liat banyak orang? Lo itu pengusaha Lau, jangan buat rusuh." cegah Rani.


Alhasil, tanpa sengaja kuku tajam Laura menggores pipinya sehingga gadis itu sedikit lengah karena kesakitan. Kesempatan itu tak disia-siakan Laura untuk menghabisi ibu satu anak itu sampai Laura sudah kacau balau.


Tentu saja seluruh cafe jadi pontang pantun dan banyak orang yang merekam dan memasukkan ke sosial media.


Tentu saja Rani tak mau situasi semakin runyam, ia segera menghalau semua orang untuk pergi dan jangan merekam. Ia tak perduli tubuhnya yang sangat capek dan kacau karena ia belum meminum obat karena masalah dengan Tama.


Akhirnya ia berhasil mengusir orang-orang dan mengunci cafe dan kembali merelai pertengkaran yang tak ada habisnya itu. Tak perduli sosok anak kecil yang sedari tadi menangis, dan meronta karena kesakitan.


"Cukup!' teriak Rani keras.


Ia tau ia tak mampu melewati mereka, apalagi saat melihat darah yang memenuhi wajah kedua temannya itu akibat bekas cakaran, gadis itu tak bisa menahan diri karena dia memang phobia darah sejak dulu.

__ADS_1


Maka tak ayal lagi, dirinyalah yang terkapar tak berdaya. Tentu saja itu membuat kedua orang yang sedang gelap mata itu kaget dan beralih menolong Rani. Yah, Laura berusaha membangunkan Ramo senyata Rania menggendongnya Puteranya. *


__ADS_2