Jingga Langit Kelabu

Jingga Langit Kelabu
Masa Lalu VS Masa Depan


__ADS_3

Tak perduli bagaimana cara Tama membuat hubungannya kembali aman dan terkendali, semuanya tetap sama karena sekarang ia bukan pribadi yang sama seperti dulu lagi. Ia punya tugas dan tanggung jawab yang telah ia ikrarkan dan tak mungkin ia lewatkan.


Yah, ia memang memiliki cuti beberapa hari sebelum penempatan. Tapi, ia tak bisa menemui Rani karena gadis itu sengaja menghindarinya. Ia pulang keesokan harinya, tepat sebelum Tama seutuhnya sadar. Dan ia mengganti nomor ponselnya, sehingga Tama tak bisa menghubungi dirinya. Bahkan saat Tama pulang ke rumah, Alaska bilang kalau Rani sedang berlibur ke Tokyo sehingga Tama tak bisa menghubunginya.


Hingga suatu malam, pemuda itu menatap langit-langit kamarnya yang bercorak langit asli dengan pikiran yang melayang-layang. Yah, besok ia akan segera berangkat menuju kawasan yang sangat rawan untuk dijaga. Yah, dirinya yang sekarang bertugas sebagai pasukan khusus harus menjaga Negara ini tanpa gentar. Namun entah mengapa, Tama enggan berangkat karena ia belum menemui Rani. Ia merasa semuanya akan percuma saja jika gadis itu sudah tak mau berdamai dengannya.


Tapi benarkah Rani ada di Tokyo?


Tentu tidak. Saat ini ia tengah menikmati pemandangan indah di candi Borobudur yang termasuk ke dalam kekayaan Nusantara. Yah, semuanya berawal disini. Pertemuan dirinya dengan sang cinta pertama yang kemudian pergi tanpa pamit, meninggalkan segalur luka yang teramat dalam.


"Aku akan menikahi kamu, Rani."


Ucapan itu masih terngiang-ngiang di telinga Rani setiap ia kemari. Kencan yang begitu sempurna meski harus berakhir dalam kecelakaan mobil. Yah, saat itu ia masih 12 tahun. Usia yang masih sangat muda, namun mampu membuat dirinya mati rasa sebelum Tama menemukannya. Tapi, semua orang ternyata sama saja. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Rani saat ini.


Raka Syidan. Pemuda yang dijodohkan dengannya sedari kecil, menjadi cinta pertama dan sosok keluarga yang ia sayangi. Yah, dia adalah kakak Azka yang sekarang juga mengatakan kalau ia punya rasa pada dirinya.


Kadang terpikir dalam benak Rani, jika saja ia tak memaksa Raka menyetir malam itu mungkin saat ini mereka akan tersenyum bahagia bersama.


Rani mengangkat kelingkingnya dan melihatnya sambil tersenyum sendu. "Saat itu, kamu bilang kalau kamu ngga akan ninggalin aku apapun yang akan terjadi. Tapi kenapa kamu ngelakuin itu? harusnya aku yang mati, bukan kamu." Isak Rani.


Yah, tanpa ia sadari air mata itu jatuh juga. Rasanya sangat berat sampai ia kesulitan walau hanya sekedar bernafas,dan tersenyum. Ia mengingat masa-masa indah itu, dan menduga mungkin ia tak perlu mengenal Tama jika kejadian itu tak datang.


"Ternyata kamu disini?"


Suara yang datang tiba-tiba itu mengagetkan Rani dan membuatnya segera menghapus air matanya. Ia melihat sosok itu dan tentu saja merasa asing karena mereka memang baru pertama kali bertemu.


"Jangan bilang lo nungguin bang Tama disini." kata gadis yang tak lain adalah Kaira.


Rani segera memahami situasi. Jika gadis itu bukan petunjuk untuk dirinya, ia tak mungkin mengenal Tama. Rani memasang senyuman yang sangat mahir ia mainkan dan mengulurkan tangan sebagai lambang perkenalan.


"Rani." katanya sopan.


Kaira melipat tangannya di depan dada tanpa niat membalas uluran tangan Rani. " Oh, jadi lo termasuk korban-korban bang Tama juga yah?" katanya angkuh.


"Gitu ya?" Rani menarik tangannya.

__ADS_1


"Gue Kaira, masa depan bang Tama." kata gadis itu.


Degggggg


Jantung Rani lagi-lagi kaget bukan main. Sedekat itukah dirinya dengan Tama sampai ia tau masa lalu Tama sedetail itu? Atau ia adalah orang yang menjadi pihak ke tidak dalam hubungannya dan Tama?


"Kalau dilihat-lihat, kamu bukan pacarnya Tama. Kok tau banyak soal dia?" kata Rani mencoba sesantai mungkin meski dadanya serasa sesak.


"Yah, aku adalah masa depan bang Tama kalau kamu_"


"Wait." potong Rani.


ia menghela nafas dan tetap tersenyum lebar. "Kamu bilang aku? kamu kenal ama aku?" katanya.


"Lo pacar nya bang Tama kan?"


"Kalau iya?"


"Lo simpanan nya bego, bukan pacarnya. " ralat Kaira.


"Masalahnya?"


"Suka ya ama Tama?" kata Rani lagi.


"Tama itu milik aku dari dulu."


"Kenapa ngga sekarang? kenapa harus dulu? ngga bosen ya ama masa lalu?" balas Rani dengan senyuman yang kian lebar.


"Lo sadar ngga sih, kalau lo cuma mainan buat bang Tama? dia bilang ke gue, kalau dia akan menikahi wanita yang ngga ada hubungannya dengan Rani. Ngerti ngga sih?" katanya kesal.


"Oh, gitu?"


"Rani lo_"


"Sorry, gue ngga tau ada hubungan apa lo ama pacar gue. Tapi satu hal yan pasti, gue ngga mau ngaku-ngaku tanpa ikata yang jelas." kata Rani beranjak.

__ADS_1


Yah, saat itu ia benar-benar ditampar kenyataan. Jika ia memikirkan secara logika, gadis itu ada benarnya juga. Ia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Tama dulu, bahwa hanya ada satu Rani yang layak memilikinya dan Rani yang itu sudah mati. Jadi, ia akan menikahi gadis yang tidak ada hubungannya dengan Rani, dan hanya bermain dengan gadis bernama Rani.


kringgggg


Tiba-tiba ponselnya berbunyi saat ia tengah asik-asiknya melamun. Mata Rani membesar takkala melihat nomor baru yang terpanggang disana. Yah, ia meminta semua anggota keluarganya agar tak memberikan nomornya pada siapapun.


"Halo?" kata Rani menyambungkan telepon meskipun ia agak gugup.


Deggggg


lagi-lagi, dunia ngeprank dirinya yang sudah hampir kehilangan jantung. Yah, selalu saja seperti ini jika ada kejutan yang sangat berlebihan. Untung saja saat ini ia sedikit lebih kuat sehingga ia tak jatuh pingsan seperti biasanya.


Didepan sana, Tama berdiri dengan ponsel di telinga Yah, sudah tak salah lagi kalau ia adalah penelepon yang barusan disambungkan Rani. Rani yang merasa berada dalam kesulitan segera berbalik dan niat berlari.


"Ran, aku mau ngomong." Tangannya ditahan Tama.


"Udah ngga ada yang mau diomongin lagi, Tam." kata Rani meronta.


"Aku akan tugas di Papua."


Seketika perlawanan Rani melemah. Yah, ia benar-benar sadar kalau ada tak ada dirinya sama saja bagi Tama. Jadi ia tak akan memaksakan dirinya lagi untuk selalu berharap pada Tama.


"Selamat yah." katanya.


"Cuma kata itu doang?"


Rani menelan ludah. " Kamu mau aku bilang apa?" katanya.


Tama memutar tubuh gadis itu menghadap padanya. " Aku udah mutusin buat_"


Tama terpaksa berhenti saat Rani menyumpal mulutnya dengan jarinya. "Jika kamu harus mati, satu-satunya orang yang bisa ngebunuh kamu adalah aku." kata Rani.


"Ran_"


"Pergilah, dan ingat pulang karena kita masih ada hal yang harus dibicarakan." kata Rani mulus.

__ADS_1


Yah, lagi-lagi ia mengesampingkan egonya agar Tama kembali. Masa lalu dan masa depannya sama saja, dan tak mungkin bisa ia ubah.


*


__ADS_2