
Jauh di sana, di pulau Jawa yang penuh tantangan Tama menatap langit sore yang membuatnya semakin merindukan sosok Rani yang selalu menghindari telepon dan chatnya meskipun nomornya belum dimasukkan ke daftar blokir.
"Bang Tama, boleh pinjam ponsel?"
Yah, dia adalah Kaira yang memendam perasaan pada Tama dan mencuri setiap kesempatan untuk pemuda itu meskipun Tama selalu meskipun Tama jelas membentangkan tabir pembatas diantara mereka. Jika bukan karena Kaira anak dari orang yang dihormatinya, ia pasti sudah menggunakan jurus maut menjauh dari gadis itu.
"Gue ngga bawa ponsel." kata Tama memilih alasan yang tepat.
Kaira menggandeng lengan Tama dan bergelayut manja disana. " Bang, kapan lagi kita makan bakso disana lagi?" katanya.
Yah, masih jelas teringat di benak Tama tentang hari itu. Hari yang sangat berat dan mungkin hari yang sangat ingin dihindarinya. Saat ia kalah taruhan dan memilih makan bakso dengan Kaira berbagi mangkuk persis yang ia ingin lakukan bersama kekasihnya nanti. Tapi, malah ia lakukan pertama kali dengan gadis yang tak disukainya sama sekali.
"Kai, Lo tau ngga gue mikirin apa?" kata Tama sembari menghembuskan nafas panjang yang berat.
"Gimana Kaira tau kalau Abang ngga ngomong?" kata gadis itu polos.
"Gue lagi mikirin pacar Abang yang jauh di sana." kata Tama tersenyum.
"Siapa bang?"
"Rani."
"Oh, namanya Rani." kata gadis itu manggut-manggut.
"Dia cinta banget ama Abang, dan selalu setia meski Abang jarang pulang."
"Kok Abang yakin banget?"
"Bertahun-tahun gue berjuang ngebuat Rani yang membenci gue suka dan cinta ama gue. Dia satu-satunya gadis yang beda dari setiap Rani yang gue kenal yang nga Mandang fisik dan juga status gue."
"Kaita juga bisa kok, Bang." kata gadis itu tiba-tiba.
Yah, ia merasa lumayan sakit melihat mata Tama yang tersenyum saat menyebut nama pacarnya seakan dia adalah satu-satunya orang yang Tama cintai sampai mati.
Mendengar ucapan gadis itu, Tama melebarkan senyuman ya dan membelai rambut gadis itu lembut. Hal itu membuat Kaira sedikit kepedean dan mengira kalau Tama membenarkan ucapannya.
"Abang ngga ingin nyakitin lo Kai, jadi... Please ngertiin gue agar lo ngga benci ama gue."katanya.
"Maksudnya?"
"Banyak gadis dalam dunia ini, tapi ga ada yang kaya Rani."
"Abang nolak Kaira?' kata gadis itu lumayan kaget.
Tama tersenyum." Semua yang terjadi selama ini uanya_"
__ADS_1
"Kaira benci ama lo, bang." potong gadis itu cemberut.
"Syukurlah." balas Tama tanpa beban.
"Apa kurangnya gue, bang? gue jamin lo kan nyesal karena hari ini." katanya
"Ini hari terakhir gue main ke sini, Kaira. Maafin gue kalau gue ada salah."
Yah, Tama benar-benar pergi dan memilih setia pada Rani yang entah masih punya rasa atau malah sebaliknya. Tapi, ia bertekad akan menemui Rani dan mengatakan kalau ia siap. Yah, ia akan berjuang kefas menjadi yang terbaik disini.
Hari berlalu hingga bulan berganti sampai kini masa terakhirnya di akademi ini menjadi nyata. Segala latihan dan pelajaran yang selama ini ia lalui akan menjadi bekal tuk hari ini.
Sampai acara pelantikan itu selesai, ia berharap dalam hati ia menjadi seorang yang bertanggung jawab bagi bangsa dan negara nantinya meskipun bertanggung jawab pada dirinya sendiri jauh lebih penting.
"Congrats bang." Laudy menepuk bahu Tama memberikannya ucapan selamat.
"Thank's ya. " katanya menjulurkan tangan agar Laudy menyalaminya.
Yah, keduanya lebih mirip sebagai sahabat daripada sebagai atasan dan bawahan. Mungkin karena keduanya berasal dari tempat yang sama, sampai terlibat dengan orang yang sama.
"Rani_"
"Kali ini lo harus kecewa bang, Dia ngga mau dateng." kata Laudy menyalami Tama.
"Tama!!"
Mamanya datang dan memeluknya erat sambil menyerahkan buket bunga yang dibawanya. Yah, air mata jatuh saat ia melepas pelukannya dan Tama memberikan hormat dan mencium kakinya. Ia tak pernah menduga Tama yang dibesarkan nya dengan cara yang salah kini menjadi seorang yang patut dibanggakan.
"Papa pasti senang melihatnya dari sana." katanya memeluk Tama sekali lagi.
"Pasti, Ma." balas Tama.
"Btw, Rani mana?" kata Ina celingukan.
"Dia... ngga datang, Ma." Kata Tama menggigit bibir bawahnya.
"Tau apa kamu, Tam? Tadi Mama datang bareng Rani."
Degggggg
Seketika senyuman mengembang di bibir Tama bersamaan dengan kepalanya yang tegak. Yah, ia bersyukur seketika dan berjanji akan memperbaiki segalanya sekarang.
Tak lama kemudian, Rani datang dengan senyuman khasnya sambil memeluk Laudy alih-alih Tama. Dengan santai meski tanpa kata, ia menyerahkan buket bunga yang dibawanya pada Tama.
"Kok diem, Ran?" kata Tama menahan tangan gadis itu.
__ADS_1
"Congrats yah." katanya santai dan segera pergi.
"Kalian ada masalah?" Ina merasa berat melihat tingkah mereka.
Tama menggaruk kepalanya yang tak gatal." Yah, gitu Ma." katanya pelan.
"Gimana kamu mau jaga Negara yang luas ini, kalau menangin hati seorang Rani aja lo ngga bisa?" kata Ina menepuk bahu Tama.
Malam itu di salah satu rumah keluarga Tama, Rani menikmati hawa malam yang menusuk kulitnya meskipun cuaca cukup hangat menurut kebanyakan orang. Tak berapa lama, ia merasa ada sebuah tubuh yang memeluknya dari belakang. Sontak ia melawan, dan berpindah beberapa centi.
"Ran,"
Yah, itu Tama yang memasang muka memelas melihat aksi Rani. Ia yang mengira semuanya sudah kembali normal dengan pelukannya, harus menelan ludah agar sadar kalau Rani berbeda dengan cewek yang biasa ia kencani.
"Gue ngga nyaman." kata Rani pelan namun tajam.
"Aku harus ngelakuin apa biar kamu percaya ama aku, Ran?"
"Aku butuh cowok yang bisa nolongin aku, alih-alih minta tolong ke aku." kata Rani dengan senyuman sinisnya.
"Iya, tapi aku beneran ngga punya gadis lain selain kamu." kata Tama berusaha meyakinkan gadis itu.
"Aku ngga papa kalau kamu punya orang lain "
"Ran, please _"
"Jangan ngemis ke gue, karena lo bukan pengemis,Tam." kata Rani lagi.
Ia menatap langit malam sambil menghela nafas. "Tugas gue dah selesai kan?" katanya.
"Tugas?"
"Gue minta maaf karena terlalu fokus pada perasaan sampai lupa kalau gue_"
"Ran!"
Kali ini Tama tak bisa terima. Yah, ia tak mau mendengar kata-kata itu keluar lagi dari mulut wanita yang dicintainya itu. Kata-kata yang berasal dari masa lalu yang ingin dilupakan Tama selamanya.
"Gue benar adanya kan?" kata Rani dengan senyumannya.
"Jangan senyum kaya gitu, kamu dah janji_"
"Maaf, gue bukan tipe orang yang mengingat janji." kata Rani
*
__ADS_1