Jingga Langit Kelabu

Jingga Langit Kelabu
1/2- 1/2= Adil


__ADS_3

Esok harinya Rani pergi tanpa pamit. Ia sengaja mengambil penerbangan dini hari dan tak memberitahu pada Tama. Saat ini ia merasa kepalanya sangat pusing karena semalaman ia menangis sampai tertidur.


"Ran, beneran mau pulang tanpa pamit ke Tama?" Laura yang tiba-tiba berdiri di samping Rani mengagetkannya.


Yah, mereka memang datang bersama namun tak ada acara pulang bersama juga. Laura mengatakan kalau ia akan pulang Minggu depan, tapi tak bisa membiarkan Rani pulang sendirian karena ia tau betapa gilanya gadis itu.


Rani menyunggingkan senyuman yang beku dan penuh misteri. Senyuman yang sama sebelum kehadiran Tama kini kembali menemani langkah gadis itu.


"Ran, please don't _"


Ucapan Laura terhenti karena lengannya dipegang Rani. "Gue cuma ngga mau nambah beban dia, Lau." katanya.


"Gimana kalau ia nekad pulang karena nggada kabar dari lo?"


Rani tertawa tertahan." Gue kenal Tama, Lau. Gue ngga seberharga itu buat diperjuangkan." kata Rani.


Laura hanya menghela nafas panjang yang berat. Rani tampak lebih tangguh dari dugaannya meskipun ia terlihat bucin sebelumnya.


"Lo beneran mau pulang sendiri?" Laura menahan langkah Rani yang berniat masuk ke taksi yang dipesannya begitu mereka tiba di kota asalnya.


"Lo mau nganter gue?" balas Rani memiringkan kepalanya.


"Cowok gue_"


"Gue ngga mau jadi nyamuk, Lau. Mending pulang sendiri kan?" potong Rani masuk ke dalam taksi.


Mau tak mau Laura membiarkan gadis itu pergi dengan harapan semuanya akan baik-baik saja. Ia menatap taksi itu sampai tak kelihatan oleh matanya lagi.


Benarkah Rani baik-baik saja?


Yah, sekarang di dalam taksi ia benar-benar sendirian meskipun sedari tadi sopir taksi itu selalu mengajaknya berbincang. Setidaknya tidak ada orang terdekatnya yang melihatnya bersedih hanya karena seorang Tama, dan ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika hal itu sempat terjadi.


"Neng, kayaknya barang-barang Neng itu terlalu berlebihan dibandingkan tujuan _"


"Bisa fokus nyetir aja ngga Pak?" potong Rani cepat.

__ADS_1


Tatapan matanya yang tajam mampu membungkam mulut sang sopir ditambah raut wajahnya yang sulit diartikan. Ia kemudian menyumpal telinganya dengan earphone agar tak merasa terganggu. Yah, sekarang ia mencoba memejamkan mata menenangkan hatinya yang sakit.


Namun, baru lima belas menit ia menikmati ketenangan tiba-tiba si sopir rem dadakan mobil hingga gadis itu terpental. Rani membuka matanya kesal, namun berubah saat melihat sosok yang mengambang laju mobil yang ditumpanginya.


"Rania?" gumamnya.


"Maaf Neng, saya akan mengusirnya. Biasa memang para pemulung _"


"Biarin aja, Pak. Biar saya aja yang turun. "kata Rani membuka pintu mobil.


"Ran, tolong bantu gue!" Rania memburu Rani yang baru turun.


"Lo_"


"Tolong bawa anak gue ke rumah sakit." pintanya menunjuk anak yang di dalam gendongannya.


"Masuk."


Tanpa membuang waktu lagi, Rania masuk dan Rani segera meminta pak sopir menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan tak banyak kata-kata yang terucap dari mulut keduanya karena Rani terpukau menyaksikan Rania yang menangis sepanjang jalan.


Bisa dinilai oleh Rani, mungkin Rania masih terlalu muda sebagai seorang ibu. Dan bila dilihat secara fisik, ia masih berusia 25 tahunan. Akhirnya katana ia tak mampu menahan keegoisan nya, Rani mengusap lembut punggung Rania agar ia tenang.


"Semuanya pasti baik-baik aja" katanya menghibur Rania saat para dokter mendorong anaknya menuju ICU.


Rania tak punya kata-kata lain selain menangis dan memeluk Rani. Yah, ia sangat takut kalau ada apa dengan anaknya yang merupakan tiketnya memasuki keluarga.


"Ignatius Sint Carolus."


Tanpa sengaja Rani mengulang nama balita yang sedang ditangani itu. Anak malang yang mengidap kelainan jantung dalam usianya yang masih cukup muda. Tanpa terasa air maya juga jatuh dari sudur mata Rani, mengingat itulah yang dirasakan orang tuanya dulu setiap menemaninya ke rumah sakit.


"Aku tau rasanya." bisiknya sambil terus menghibur Rania.


"Aku tak akan memaafkan diriku jika ada apa-apa dengan Iga. "kata Rania tersedu.


"Dia akan baik-baik aja, percayalah. Bokap selalu bilang hal itu ke nyokap dulu,"

__ADS_1


Rania duduk di kursi rumah sakit dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. " Gue ibu yang malang, Ran. Gue ngga punya apa-apa sementara anak gue butuh banyak duit." katanya.


"Berapa banyak yang lo butuh?"


Entah ada angin apa, malah kata-kata itu yang keluar dari mulut Rani sementara'dia juga tengah berusaha mengumpulkan banyak uang untuk menduduki bangku kuliah tahun depan. Yah, orang tuanya memang tak pernah melarangnya menggapai mimpi. Tapi Rani selalu bersikeras kalau ia akan lebih menghargai hasil dari jerih payahnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya.


"Lo serius?" mata Rania berbinar.


"Yap."


"Gue butuh banyak,Ran. "


"Minta aja berapa yang lo butuhkan. Emang sekarang gue ngga da chas, tapi gue usahain menuhin semua kebutuhan Iga agar ia bisa sembuh atau setidaknya bertahan hidup kaya gue." kata Rani tulus.


Rania segera memeluk wanita muda itu erat. " Makasih banyak, Rani." katanya sambil menangis.


Bagi Rani, itu bukan kebetulan. Ia sungguh kasihan pada anak yang sama sepertinya dengan segala keterbatasannya. Yah, sebelum pulang hari ini ia menyempatkan diri mengantar makanan pada Rania dan melunasi segala biaya rumah sakit.


Sementara tentang Tama, ia perlahan membiasakan diri dan mulai terlibat dengan orang lain meskipun hanya sebatas teman. Yah, hubungannya dengan Geo masih sama saja bekunya. Tapi ia sudah mulai mempertimbangkan kehadiran teman-teman Alsky dan yang lainnya.


Benarkah ia sudah melupakan Tama?


Sebetulnya ia hanya mencoba bersikap adil atas dirinya sendiri. Ia tak mau dikategorikan sebagai gadis bodoh, dan ia juga tak ingin sebaliknya. Maka ia akan mencoba tenang sampai kini.


"Lo kok tumben ngga galau-in bang Tama? " Alaska menepuk bahu Rani yang sedang bersenandung di taman.


"Kenapa?" balas Rani santai.


"Lo udah musuhan ama doxepin yah? muka lo seger amet."


"Bersyukur gih."


Alaska tersenyum lebar. Yah, ada kebahagiaan tersendiri jika memang hal itu benar adanya. Namun ia tak pernah tau, Rani mengkonsumsi nya dengan dosis yang berlebihan sehingga ia cukup tenang.


Yah, satu-satunya hal yang membuatnya tenang adalah si kecil Iga yang sudah mulai menjalani masa pemulihan. Entah mengapa, ia merasa sosok Iga sangat mirip dengan seseorang yang sangat dekat dengannya, meskipun ia tak tau siapa orang itu.

__ADS_1


Mungkinkah ia mirip dengan....


*


__ADS_2