Jingga Langit Kelabu

Jingga Langit Kelabu
Dia Atau Dia


__ADS_3

"Ran, lo kenapa?" Alaska memburu saat melihat Rani membuka mata.


Yah, dia ditugaskan menjaga kakaknya itu sampai ia siuman. Rani menatap sekelilingnya dan berkedip takkala mengingat hal yang menimpanya. Yah, ia sedikit kecewa pada dirinya sendiri yang mengembalikan sikap phobia itu semenjak jauh dari Tama. Padahal dulunya, ia bisa sembuh karena tak ada sehari pun tanpa luka di tubuh Tama.


"Dimana Laura dan Rania?" katanya mencoba bangkit.


"Lo kok nanyain orang lain sementara Lo masih butuh perawatan sih?" Balas Alaska menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Rani bangkit dan segera keluar kamar. Yah, ia bisa memastikan kalau urusan itu pasti diserahkan pada pihak polisi dan ia harus menemui kedua orang itu sekarang. Ia begitu tergesa-gesa sami lupa sosok Geo yang duduk di halaman depan taman mawarnya.


"Mau kemana lo? Yakin ngga papa kalau keluar?"


Meski bicara tanpa menoleh, Rani merasa kalau ada keajaiban yang sedang terjadi karena ini adalah kali pertama mereka berbicara satu sama lain meski tinggal serumah dalam waktu yang lumayan lama. Rani berhenti dan melirik ke arah Geo yang masih tidak bergeming seakan bukan dia yang bicara tadinya.


"Lo ngomong ama gue?" kata Rani.


"Menurut lo?" Geo menatapnya seketika.


"Yah...."


"Masuk!"


Rani menghela nafas dan menyunggingkan senyuman sinis karena merasa Geo yang tidak punya hubungan apapun dengannya malah mengaturnya. "Apa urusannya ama lo?" katanya.


"Orang tua gue mau datang ntar malam buat_" Geo berhenti.


"Buat?"


"Lo ngga akan bisa miliki kakak gue tanpa seijin gue." Alaska yang muncul tiba-tiba mewakili perasaanya Rani yang sebenarnya.


"Setelah ini, gue jamin lo akan menyesal dengan kata-kata lo sendiri." kata Geo santai.


Alaska maju dan langsung menarik kerah kaos oblong yang dipakai Geomerdo. "Lo...."


"Al," Rani menarik adiknya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Gue akan nerima perjodohan itu, jika dalam 3 bulan lo bisa buat gue jatuh cinta ama lo." kata Rani tiba-tiba.


"Lo gila?" Alaska menatap heran kakaknya yang tiba-tiba eror.

__ADS_1


Rani menggeleng kepala sambil terus memegangi adiknya. "Mampu ngga lo?" katanya pada Alaska.


Pemuda itu tampak tersenyum senang." Tak perlu waktu tiga bulan. Hanya dengan 3 Minggu, gue jamin lo bakalan nerima gue." katanya yakin.


"Sekarang, gue mau pergi dan jangan sekali-kali cegah gue. Soal urusan lamaran atau apa, gue hanya mau ngikutin kata Bokap gue." balas Rani.


"Om Yusuf nyuruh_"


"Lo antarin gue!" potong Rani bicara pada Alaska.


Tanpa menunggu jawaban pemuda itu, ia menyeret Alaska tanpa perduli bagaimana respon Geomerdo lagi. Mau tak mau, Alaska terpaksa mengikuti kakaknya itu dengan wajah cemberut karena masih dalam mode kesal. Bahkan sepanjang jalan, ia hanya diam dan menekan klakson sembarangan seakan semua orang harus bertanggung jawab pada hatinya.


"Lo marah ke gue ya Al?" kata Rani saat mereka terjebak macat.


"Enggak."


"Al, liat gue kalau ngomong. Lo ngga_"


"Sialan amet sih!!! Udah tau_"


Makian Alaska terhenti saat Rani menggenggam tangannya hangat. Yah, ini adalah kekalahannya. Rani yang sangat membenci sentuhan fisik melakukan hal itu takkala harinya sangat buruk dan ia butuh bahu yang menjadi sandaran. Memang sih, dirinya tau pasti kakaknya itu tidak serius dengan ucapannya tapi ia merasa sangat kesal melihat ulah Papanya yang tak bisavat dahulu.


"Kalau lo nikah, Lo butuh restu gue?" katanya pelan.


Alaska menatap kakaknya itu dalam sejenak dan kembali fokus ke jalanan. " Lo hanya boleh nikah dengan bang Tama aja. Ngga ada yang lain, kalau Lo mau restu gue." katanya tegas.


Rani menyunggingkan senyumnya meski ia merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya. Ia tak tau bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Tama sehingga mendengar namanya saja mampu membuatnya sesakit ini. Yah, Alaska tidak tau apa-apa karena ia memang hencak cek-in ke Tokyo walau akhirnya ia pergi ke Malang mengenang sakit akan perginya cinta pertamanya.


"Kenapa diam? Lo ada masalah ama bang Tama?" kata Alaska lagi.


Rani menggelengkan kepala cepat. " Bukan masalah, tapi aku juga ngga ingin ngecewain Papa dan Mama." katanya.


Tiba-tiba Alaska menikung ke sudut jalan dengan kecepatan abal-abal sambil membenating stirnya keras. "Lo gila?" katanya.


"Al, gue udah nyari tau kalau bokap Geomerdo _"


"Lo rela dijual Papa demi karier dan kejayaannya? "


Rani menunduk perlahan. Sulit rasanya menjelaskan pada adiknya yang punya darah muda ini tentang hal yang ia pikirkan. Yah, ia sempat membenci Papanya karena tak bicara padanya sebelumnya. Tapi sekarang, ia malah membenci dirinya sendiri alih-alih Papanya.

__ADS_1


"Lo ngga cinta ama bang Tama?" kata Alaska.


"Gue udah terbiasa kecewa sejak dulu, Alaska " katanya


"Jawab iya atau engga aja Ran."


Rani menelan ludah." Perjuangan gue cuma sampai dia lulus pendidikan." katanya.


"Siapa yang minta putus?"


Lagi-lagi Alaska mengepal tangan dengan mata ber api-api. Yah, jika ia tak berhasil membuat kakaknya itu bahagia, maka ia harus mempertanggungjawabkan membuat kakaknya jatuh cinta padanya. Setidaknya itulah yang dipikirkan pemuda itu.


"Bukan masalah putus atau gimana, tapi_"


Rani berhenti lagi dan menggigit bibir bawahnya menahan perih. Yah, Alaska tidak boleh tau soal Tama yang selingkuh karena bisa saja terjadi pertumpahan darah yang tak main-main. Melihat kakaknya yang menunduk, Alaska merasaka kalau mereka memang sedang dalam Maslah.


"Gue akan ngomong ama_"


"Aku yang ngga mau Al." kata Rani tiba-tiba.


"Maksud lo?"


"Gue ngerasa ngga pantas buat dia."


Alaska menggelengkan kepala." Bang Tama bilang apa?" katanya kepo.


Rani menelan ludah." Dia bilang gue harus nungguin dia sampai pulang, karena dia ngga bisa mutusin gitu aja." katanya.


Jika ada peringkat kebohongan yang paling sulit, mungkin inilah saat yang dimaksud itu. Rani merasa sangat sesak saat mengetahui ia bisa berbohong selancar ibu apalagi soal perasaannya sendiri. Alaska mengangkat dagu kalanya yang sedari tadi menunduk dan mencari celah kebohongan di mata itu, namun tak kunjung ia temukan.


"Lo blom move on dari masa lalu?" katanya.


"Mereka dua orang yang berbeda, Al." balas Rani.


"Bagaimana dengan Geomerdo? Lo ngga nyaman ama dia kan?"


"Gue bisa ngebuat dia ngejauh dari gue." kata Rani yakin.


Alaska kehabisan kata-kata segera dan hanya bisa menghela nafas dan mulai menyetir mengikut arah ajlan karena ia tau tak ada gunanya ia bersikeras pada Rani.

__ADS_1


"Gue cuma ingin lo bahagia dan hidup baik tanpa doxepin lagi." kata Alaska lagi.


Ia melirik kakaknya itu. " Persetan dengan bokap dan nyokap, yang paling itu bahagia lo. " lanjutnya*


__ADS_2