Jingga Langit Kelabu

Jingga Langit Kelabu
Menggapai Masa Depan


__ADS_3

Sementara itu, jauh di hutan belantara sana Tama melamun sendirian sembari menunggu perintah pimpinannya untuk bergerak dan mengakhiri jam istirahat lebih cepat. Entah mengapa harinya begitu buruk bersamaan dengan kondisi hati ya yang aneh dan selalu tertuju pada sosok Rani yang sangat dirindukannya mendadak. Yah, ini bukan kali pertama ia menjalin ikatan LDR, dan ini sudah hampir kelewatan batas karena sebelumnya ia tak pernah seribu ini.


"Kenapa tidak telpon aja," Radith selalu tak seperjalanannya memberikannya ide yang lumayan cemerlang.


Namun, dengan tatapan mata sayu dan tanpa gairah, Tama menggelengkan kepala cepat. " Emang sejak kapan ada sinyal ditempat kaya gini." katanya.


Radith manggut-manggut mengiakan. Yah, inilah nasib buruk yang selalu mereka takutkan. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang berbau masa depan karena tak akan ada yang namanya wanita disini meskipun ingin dibeli. Yang ada hanyalah hewan buas yang terpaksa bersahabat dengan mereka meski enggan, dan selalu mendengarkan curhatan mereka meski tak secara langsung.


"Capeknya ntar kita dituduh selingkuh lagi, Tam." katanya menatap kosong di depan.


Yah, lelaki yang satu ini pastinya sudah sangat merindukan keluarga kecilnya yang ditinggalkannya disana. Ibu dan adik-adiknya juga tunangan nya yang selalu mendukung nya dalam kondisi apapun.


"Aku tidak tau ada apa dengan diriku. Tidak biasanya aku seperti ini," keluh Tama.


Yah, bagaimana jantungnya bisa tenang saat wanita yang ia sayangi tengah menghadapi belenggu yang sangat sulit.


Karena tak ingin Alaska mendapatkan masalah, Rani memaksa adiknya itu untuk mengembalikan dirinya ke rumah tanpa menemui kedua temannya.


Dan sekarang dihadapannya, orang yang memiliki kemungkinan terbesar akan berlebel sebagai mertuanya itu tampak tersenyum sambil mengusap rambutnya lembut.


"Tante sangat berharap kamu mau menerima lamaran ini." katanya.


Rani yang semenjak tadi menunduk, mengangkat wajahnya menatap kedua orang tuanya yang mengangguk pasti.


"Rani boleh ngomong dengan Geo bentar?" katanya takut-takut.


"Ngomong apaan Ran?" kata Yusuf menatap Putrinya dalam.


Yah, ia memang tak pernah melarang Rani berhubungan dengan siapapun selama ia orang baik-baik. Tentang Tama, Yusuf tak pernah memberikan lampu merah maupun hijau, karena ia mengenal Tama dalam versi baiknya saja tanpa tau masa lalunya yang sebenarnya. Dan ia lebih menyukai Geomerdo karena lebih melihat adanya masa depan dengannya.


Tapi, tatapannya melemah takkala Mita menahan tangannya. Yah, seperti ibu pada umumnya Mita lebih mengerti perasaan Rani daripada Yusuf sendiri sebagai ayah kandung gadis itu.


Kerena itu, Yusuf menghela nafas dan memilih diam dan menunggu apa yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


"Boleh ngga Om, Tante?" kata Rani lagi.


"Tentu saja boleh." kata Mama Geo pasti dengan senyuman lebar meski dadanya deg-degan.


Yah, dari tatapan Rani ia tau tak ada rasa cinta untuk Puteranya. Tapi mereka selalu percaya kalau waktu bisa mengambil peran paling penting dalam kehidupan. Maka ia tak pernah ragu akan masa depan nantinya.


"Makasih, Tan." kata Rani bangkit dan mendelik pada Geo.


Dengan deheman yang tanpa arti, Geomerdo mengikuti langkah gadis itu menuju luar rumah. Yah, meski sebelumnya mereka tak begitu akrab namun rasa deg-degan itu terasa nyata dalam diri Geo.


"Lo mau ngomong apa sih?" katanya saat mereka tiba di kolam renang.


"Menurut Lo?"


"Ya engga tau. Kalau tau, kenapa harus nanya ke lo."katanya lagi.


Rani menatap Pemuda di hadapannya itu dalam." Gue cinta ama orang lain." katanya.


"Masalahnya ama gue apa?" balas Geo sesantai mungkin.


Geomerdo membalas tatapan Rani dengan senyuman tipis. "Toh, kita menikah bukan atas nama cinta. Kenapa gue harus perduli tentang masa lalu lo." katanya santai.


Rani membalas senyuman itu tanpa makna. Yah, entah ia kecewa atau bagaimana sulit diekspresikan dalam raut wajahnya.


"Kalau lo ngga cinta ama gue, tolak perjodohan itu." katanya.


"Kenapa harus?"


"Geo!" bentak Rani.


Geomerdo mengulurkan tangannya dan menyelipkan rambut Rani ke belakang daun telinganya. "Ran, Lo itu tiket paling berharga yang harus gue dapatin. Persetan Dengan cinta karena gue ngga_"


Prakkkkkkk

__ADS_1


Tamparan keras melayang ke pipi Geo tanpa aba-aba. Tapi jelas terlihat raut kecewa, marah dan kesal di wajah Rani. Yah, ia lumayan tersinggung dengan sikap Geomerdo.


"Lo kecewa pada kenyataan yang ada?" katanya tersenyum sinis.


"Lo ngga punya otak? Gue_"


"Lo pernah mikir perasaan gue, Ran?" potong Geo.


Ia tiba-tiba berubah tajam dan menyeramkan." Sejak dulu, waktu lo dan gue masih terbalut seragam TK gue berapa kali pernah ngasih harapan buat lo. Tapi lo pernah ngasih gue harapan? engga kan? Lo ingat ngga janji yang lo ucapin dulu tuk jadi bagian dari masa depan gue? Tapi gue datang lo malah suka ama orang lain Ran. Yang ngga bisa menghargai perasaan itu lo atau gue sih?" kata Geomerdo.


Tubuh Rani bergetar hebat. Tapi ia yakin itu bukan buat Geomerdo, kata-kata yang dulu ia abadikan sebagai janji. Yah, harusnya bukan Geo.


"Itu bukan_"


"Sampai kapan Ran?" potong Geomerdo.


Ia mencekal bahu Rani hingga gadis itu semakin bergetar hebat. "Gue Geomerdo, Ran. Sampai kapan lo nganggap kalau orang yang lo cintai itu_"


"Cukup!"


Bentakan Rani membuat Geomerdo hilang harapan. Ia tak menyangka kalau kembarannya akan mengambil alih posisinya dengan cara seperti ini. Yah, mungkin ia tak akan sesakit ini kalau kembarannya itu tidak pergi secepat itu, meninggalkan gadis ini dalam kesendiriannya.


"Sekarang terserah lo, Ran. Gue ngga tau mau bilang apa lagi." kata Geomerdo serasa sulit bernafas.


Setelah itu, ia melangkah masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Rani yang masih mematung.


Melihat orang tua mereka yang terlibat pembicaraan yang serius, membuat Geomerdo kesulitan masuk. Hatinya begitu hancur melebihi sebelumnya. Percuma ia mengorbankan dirinya di rumah ini, jauh dari orang tua jika ia tak bisa meraih masa depannya kembali dengan sang cinta pertama yang juga menjadi cinta sejatinya ini.


Benarkah Rani tak mengingat siapa orang yang menjadi cinta pertamanya?


Rani menekuk lutut dan menangis sesunggukan. Yah, rasanya sangat berat takkala mengingat hatinya saat ini masih milik Tama yang jauh disana. Ia bukannya tidak tau kalau sang cinta pertama ada di hadapannya. Tapi, kembaran Geo jauh lebih unggul dalam membuatnya nyaman sampai akhir hayatnya. Dan soal Geo, Rani sengaja pura-pura tak mengenali pemuda itu karena ia tak ingin salah paham dengan Tama.


Tapi sekarang, mampukah ia bertahan dan bersikap sebagai mungkin untuk Tama?

__ADS_1


Jangankan dirinya, waktu pun enggan untuk mengambil alih*


__ADS_2