
KEDIAMAN WAFI ANSHARY.
"Allaahumma sholli sholaatan, kaamilatan wasallim salaamaan, taamman alaa sayyidinaa, muhammadinil ladzii. tanhallu bihiluqodu watanfariju bihilkurobu, watuqdhoo bihilhawaaiju, watunaalu bihir roghooibu."
"Wafi, ayoo le, di sudahi dulu sholawatnya. kamu kan sudah membaca sholawat 100x lebih, insyaAllah dengan sholawat yang kamu baca, Allah sudah melindungi kamu le,"
Ummi Wafi memberi tahu putranya. Wafi tetap melafalkan sholawat terus hingga hitungan 120 kali. Ada lebih banyak fadhilah saat Wafi menambah lebih angka sholawatnya.
"Wafi.. ini sudah jam tujuh le, kamu belum tau di mana kantor almarhum paman?? Silma sudah menelpon abbah dari tadi, kok kamu masih belum bersiap-siap to," ucap abah Wafi.
"Dari tadi sudah ummi beritahu bi, Wafi masih terus melanjutkan sholawatnya." sambung Ummi Wafi.
"Biarkan dulu Ummi, dia dilema dan masih butuh waktu dalam menerima ini semua,"
"Baik bah."
Abbah Wafi memandangi putra sulungnya itu.
Lantunan sholawat menggema indah di ruang keluarga. Tangannya memangku buku sholawat kecil. Suara merdu Wafi, mengentas rasa haus ingin jumpa dengan sang Rosul.
Wafi menutup buku. Dengan sendiri, ia menyudahi sholawat sejak pukul 06.00 pagi. Wafi beranjak menemui Ummi dan Abbah jalan ke meja makan.
Ummi Wafi tersenyum. Abbah Wafi turut senang, ternyata Wafi tidak menunda keberangkatan kerja hari ini.
Wafi menarik kursi, ia duduk di samping meja makan.
"Duduk dulu le, Ummi sudah siapkan roti dan susu sebelum kamu berangkat ke kantor,"
"Terima kasih ummi."
"Abbah kira kamu tetap akan seperti itu sampai nanti sore Waf, ternyata abbah salah hehe," goda abbah.
"Tidak bah, Wafi tetap akan berangkat. Tadi memang sengaja Wafi tambah sholawatnya jadi sedikit lama," muka Wafi berusaha ikhlas.
"Ya memang semua itu butuh waktu le, abbah tau pasti kamu merasa sedih sebab karena amanat pakde, banyak impian kamu yang terhalang."
Wafi diam saja.
"Semua sudah digariskan oleh Allah Wafi, meneruskan amanat orang yang sudah meninggal itu lebih baik, dan tentu akan membuat Silma serta Ummi Sulis bahagia. InshaAllah pahalanya berlibat ganda," sambung ummi.
"Tapi nanti pulang kantor Wafi akan langsung ke pesantren saja, Wafi mau menenangkan diri dulu di sana."
"Baik, silahkan..!! kalau memang itu membuat kamu tenang, abbah pasti izinkan. Jangan pulang larut malam dari pesantren, sekarang kamu punya tugas bagus dari almarhum paman."
Hari ini adalah hari pertama Wafi bekerja ke kantor. Sebagai pengganti CEO di perusahaan Dakatta Company.
Belum ada 40 hari kepergian paman Shidiq, perusahaan besar mendiang paman Wafi yang baru saja meninggal tersebut, di pasrahkan langsung oleh istri almarhum Om Shidiq Anshary pada Wafi.
Situasi pada saat ini, memang hanya Wafi yang mampu meneruskan bisnis kawakan almarhum pamannya. Sehingga, kapal perusahaan masih bisa berlayar dengan nahkoda yang benar.
******************
RUMAH ARUMI.
__ADS_1
Sudah pukul 07.00, Arumi belum mau beranjak dari tempat tidur. Entah dengan cara apa lagi papanya harus membangunkan, gadis berusia 25 tahun tersebut masih malas-malasan di atas kasur.
Took.. took.. tok..
"Arumi sayang ini sudah jam 9 Arumi, ayoo.. bangun Arumi."
"Rum, bangun Rum, Arumanis," panggil Gian.
"Arumi, mau berangkat kerja jam berapa? sayang," mama Arumi terus-terusan memanggil.
Arumi sudah hafal, mama, papa dan adiknya pasti ramai-ramai membangunkan dia.
"Berangkat jam 9 mama, mama jangan bohong ini baru jam 7, Arumi tau itu."
"Ya, ya, namanya anak perempuan Arumi, jangan malas-malasan seperti itu, mama khawatir jodoh kamu jauh sayang." suara mama Arumi semakin memelas di depan pintu.
Bruuukk..
Bruukk..
Bruuuukk...
Arumi keluar dari persembunyian.
"Ceklek..," pintu kamar di buka.
"Mama, mama itu bisa nggak sih, jangan parno masalah jodoh, jodoh, jodoh."
"Ya gimana sayang? takutnya jodoh kamu nggak datang-datang karena ada hubungannya dengan kamu yang sering bangun siang, dulu orang di desa mama sering bilang begitu," mama Arumi meremasi tangan.
"Heleeeehh, penguatan aja mah. Dari dulu ngomongnya juga gitu, mulai dari umur 20 sampe sekarang 25 tahun," lidah papa Arumi menjulur panjang.
"Papaaaa...," teriaknya sambil merengek.
Arumi adalah putri pertama dari pasangan Bramasetyo dan Kartika. Adiknya laki-laki bernama Giandra Estiawan. Usia 21 tahun masih kuliah.
Arumi turun ke lantai satu.
Setiap pagi, ritual membangunkan Arumi adalah yang paling utama.
Rombongan mama, papa dan Gian harus menjadi garda terdepan untuk membangunkan Arumi, setelah itu baru bibi yang ada di rumah.
Di rumah hanya Arumi yang paling siang bangun, hanya Arumi juga yang sholatnya selalu kesiangan.
"Udah Arumi bilang, kalau ngebangunin Arumi itu nggak usah ramai-ramai, sudah kayak pasar malam aja," ketus Arumi kesal.
"Tadi sudah sholat atau belum Rumi?," tanya papa.
"Sudah pah."
"Jam berapa? telat nggak?."
"Nggak kok, setengah 6."
__ADS_1
"Ya Allah," ucap mama Arumi menggeleng kepala.
"Astagfirullah," papa Arumi sudah kesal di ubun-ubun.
"Subhanallah," puji Gian.
"Plakkkk.. loe harusnya istighfar kayak mama papa, bukan malah takjub oneng," Arumi memarahi adiknya.
"Ya biarin, gue bangga tau kak, punya kakak perempuan kayak loe, asliiii.... seneng banget gue."
"Serius loe Gian? emang kenapa loe bangga, ahh.. loe bisa aja," Arumi merasa bahagia.
"Heem seneng banget, karena oneng'nya masih nggak ketulungan sampai sekarang. Hadohh.. gue ikutan takut kayak mama tau kak, ntar gimana kalau loe nggak dapat jodoh."
"Kurang ajar, bruuukkk." Arumi menimpuk Gian.
Selama hampir 24 tahun, kebiasaan tersebut selalu terjadi setiap paginya. Sudah berumur 24 tahun, Arumi sama sekali tidak ada dewasa-dewasanya.
Di saat semua perempuan seusia Arumi sudah mendapat jodoh, perempuan cantik tersebut yang paling santai perihal urusan pendamping.
Arumi mandi, ia ingat hari ini di perusahaan akan ada penyambutan CEO baru. Di grup perusahaan, sudah ramai perbincangan, bahwa pengganti Bapak Shidiq Anshary adalah jebolan dari pondok pesantren.
CEO perusahaan di tempat Arumi bekerja, sebelumnya meninggal 30 hari yang lalu karena penyakit serangan jantung. Sehingga, kerabat dari pemilik perusahaan yang berhasil menggantikan posisi pengganti CEO.
"Arumi.. siapa nama CEO baru di kantor kamu? yang menggantikan Pak Shidiq," tanya papa Arumi.
"Nggak tau pa, tapi pemimpinnya tetap laki-laki, Arumi nggak tau namanya."
Arumi asyik bermain HP sembari menyalakan televisi ruang tengah yang kebetulan satu tempat dengan meja makan.
"Dari pondok pesantren?." ulang papa Arumi.
"Nggak tau papa, Arumi nggak ngurusin begitu-begitu, yang penting Arumi kerja, dapat gaji udah."
Mulut Arumi penuh sesak dengan makanan hangat roti goreng keju.
"Mama sama papa pengen sekali Rum, kamu mendapatkan suami yang sholih, yang bisa membimbing kamu, kalau bisa dari pondok pesantren, biar bisa menyempurnakan sholat kamu yang acak kadul itu."
"Curhat lagi," Gian menyenggol Arumi.
"Tau tuh, mama," jawab mereka berdua.
"Kakak adik yang kompak menyalahkan mama." papa Arumi tersenyum.
Hari semakin siang, papa Arumi juga belum berangkat kerja. Menjadi pengawas dalam salah satu perusahaan bonavit, membuat papa Arumi mendapat perlakuan emas.
Arumi melihat papa dan mamanya sebentar.
Raut wajah mama Arumi memang sedikit serius dengan harapan yang di inginkan. Arumi beranjak, ia mendekati mama yang menyiapkan sarapan untuk Arumi.
"Mama, Arumi tau, orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ya mama boleh berharap, tapi jangan berlebihan takutnya mama nanti yang kecewa, Ya..!!"
Arumi mengusap pundak mama'nya.
__ADS_1
"Mama tu, harusnya nangis kalau Kak Arumi bilang kayak gitu, biar seperti keluarga cemara gitu, biar seolah Kak Arumi adalah anak baik-baik," tandas Gian.
Mama dan Arumi tersenyum. Papa Arumi sendiri menaruh senyum simpati dan kasihan, sampai sekarang anaknya belum menikah.