Jodoh Dari Pesantren

Jodoh Dari Pesantren
3. Panggilan Khusus Untuk Arumi


__ADS_3

Wafi sudah lama dan hampir tidak pernah melihat tatanan model perempuan seperti itu di dunia asli. Tapi hari ini, aurat sebegitu dipertontonkan dalam perusahaan almarhum milik ayah Silma.


"Kak Wafi, tunggu," kejar Silma sopan.


"Aruuuuumiii... bodohnya kamu..!!," Ara sangat sakit hati.


"Parah lo Arumi, sumpah, lo malu-maluin semua staff kita," Ajeng hilang kesabaran.


"Arumi, segera ganti pakaian kamu." pinta Pak Adi selaku kepala staff dibagian Arumi.


"Baik pak, maaf." jawabnya pelan.


Tongkat mobile legend entah yang di dapat Arumi dari sewa pakaian daerah mana, yang jelas perempuan cantik tersebut sangat sedih dan terpukul hari ini.


Bagaimana mungkin hari ini Arumi bisa memalukan semua divisi yang berusaha memberikan image yang baik pada CEO baru hari ini.


Rambut panjang Arumi tadi menyelimuti wajah sampai bagian yang tak terlihat, ia semacam genderuwo yang sedang berjalan di lantai perusahaan.


Karena kesalahan Arumi, penyambutan sedikit mengalami kegagalan. Pemotongan tumpeng yang dianggap sebagai pembukaan pertama, diminta Paj Wafi untuk menikmati secara langsung tanpa menunggu dirinya.


"Arumiii...," kejar Ara.


"Apa lo?? gue pengen pulang aja, kesel gue." bibirnya udah mulai menahan.


"Arumi, mi, lo harus ganti baju dulu," Alona menyusul dari belakang.


"Lo nggak usah nyuruh, gue juga mau ganti baju." Arumi sedikit merasa jengkel.


"Ya lo sih, ada-ada aja. Kemarin kita bercanda malah lo jadiin beneran, heran gue sama lo" Ajeng membersamai jalan.


"Yaa, gue pikir kan emang beneran. Soalnya pas lagi nggak ada boss, jadi kantor kan nggak ketat gitu. Gue malu sekarang, terus gue pakai baju apa'an?."


"Ahhhh.. mimi gimana sih? katanya lo bawa baju ganti? lo nggak bawa?" Alona memberhentikan jalan.


"Enggak, cuma ini baju gue."


GUBRAAAAKKKK...


empat sekawan ini merasa depresi. Alona, Ara, dan Ajeng mencari cara. Sedangkan, Arumi disembunyikan oleh mereka di kamar dapur kantor.


Sembari mencari cara, lirikan mata mereka semua berbeda-beda arahnya. Sampai akhirnya Arumi menemukan ruang musholla yang berada di samping dapur.


"Beli'in baju aja lah, eh.. Lona, lo mending izin keluar beliin Arumi baju di mall sebelah," suruh Ara.


"Oke, tapi nggak kelamaan nih, habis ini jam kantor masuk kali Ra..!! cara yang lebih jitu dong." Lona pun ada benarnya.


"Ya gimana nih, pusing gue, Arumi lo bawa jas hujan nggak? pakai dulu napa jas hujan lo," usul Ajeng sudah buntu.


"Gue bawa moobill Jeng, lagian diruangan tempat ber Ac kenapa lo mau ngutuk gue jadi manusia plastik."


"Hahhhahaha, anjiiirrr udah ah, jangan bercanda mulu." Ara harap-harap cemas.


"Gue berangkat dulu ya, kasihan nanti Arumi kalau kita gerombolan kayak gini terus nggak ngasih solusi."


"Iya nih, Alona lo buruan pergi."


Setelah itu, Alona pergi meninggalkan kantor. Mengingat ia memiliki tugas lapangan hari ini. Jadi semakin memudahkan alasan pergi keluar kantor untuk hal lain.


Ajeng, Ara, dan Arumi saling berjajar seperti tiang bendera di dalam dapur. Mereka ikut menemani untuk merasa senasib sepenanggungan. Karena bercandaan mereka juga, Arumi jadi seperti ini.

__ADS_1


*Tring Ting.. Tring Ting..


Suara bel masuk pertama*.


Mengingat setelah ini jam masuk kantor setelah apel, Arumi mengambil inisiatif pergi ke ruangan sebelah yaitu mushola. Tidak fikir panjang ia mengambil sarung laki-laki yang di sediakan kantor.


Beberapa cleaning service juga mulai terlihat keluar masuk mengerjakan tugas membuatkan minuman di dapur. Arumi memanggil CS.


"Pak, mukenanya ini nggak ada kemana?," tanya Arumi ke cleaning service.


"Di pakai bapak ya?,"


"Masih di loundry mbak, cuma sarung aja dan sajadah yang tersedia mbak." jawabnya ke Arumi.


Ajeng dan Ara yang baru sadar kemudian jalan ke mushola, datang ke Arumi.


"Eh, Arumi, lo seriusan mau pakai sarung, Rum, lo jangan gila deh, nanti lo kena pasal dari bos baru kita lagi loh..!! dia keluaran pondok, jangan main-main deh," Ajeng menakuti.


"Keluaran pondok mana? pondok makan? apa pondok yang lain?."


"Arumiiiiiiiii.. direktur kita yang baru itu keluarganya dari pondok pesantren, dan siapanya gitu adalah pengasuh pondok pesantren, haduuuh," Ajeng merasa depresi hahaha.


"Iya Arumi, bukan pondok makan, apalagi pondok ragunan," sanggah Ara.


"Iya kali Rum, jangan jangan nanti takutnya ada dalil tentang dunia persarungan yang nggak kita tau Arumi.. nanti lo malah bikin dobel salah lagi," Ara juga berseru takut.


"Gue lama-lama jengkel tau sama kalian."


Arumi menatap mata Ajeng dan Ara secara bergantian dengan sangat tajam.


"Gue terus harus gimana? perkara dosa urusan belakangan dulu lah, itu pikirin nanti..!! yang jelas sekarang kiamat udah dekat. lihat tu jam berapa?."


"Iya Ra, udah setengah 10 lebih, lo masuk selesai'in tugas yang diminta Pak Adi aja, pasti Pak Adi nyariin kita diruangan."


"Iya Ra, mending lo masuk ruangan dulu," saran Arumi.


"Ya udah gue masuk duluan ya.." Ara pun keluar ruang mushola.


"Arumi, lo bisa pakai sarung beneran nggak, awas Arumi takut melorot nanti jadi tambah bikin malu," kata Ajeng.


"Bisa, bisa. Gue sering kok lihatin papa gue gimana pakai sarung."


Arumi melilit bagian perutnya yang langsing dengan sarung warna hijau tua berpadu corak warna hitam. Baju taqwa warna putih di lilit ke atas oleh Arumi agar semacam menjadi kemeja.


Kostum ala mobile legend segera di semayamkan pada kresek hitam yang dibawa perempuan cantik tersebut. Baju taqwa berukuran setengah lengan tersebut cukup membuat Arumi dalam posisi aman.


Kemudian mereka kembali ke ruangan.


Akibat tingkah konyol Arumi, namanya mulai dibicarakan oleh divisi-divisi lain. Mulai dari staff CS, Staff lapangan, dan semuanya.


Beruntung, kantor terlihat sepi. Semua orang berada di tugasnya masing-masing. Mengingat memang hari ini adalah hari pertama atasan baru. Jadi hal tersebut dianggap lumrah.


"kreeeeeekkk"


Arumi membuka pintu ruangan.


Sudah ada Ara, Selly, hingga Rossa.


"Arumi, lo habis ngeronda? macam jadi pakai sarung sih?," Rossa menggeleng ilfil.

__ADS_1


"Hey Arumi, plisss lah, ini bukan hari pertandingan kostum, jadi ngapain lo rubah rubah penampilan," ketus Selly.


"Nggak sih, menghormati Pak siapa itu?? atasan kita yang baru aja. Kan lulusan pondok tu." Arumi gelagapan merasa malu.


"Lain kali jangan malu-maluin divisi desain lagi ya Rum, boleh kita bercanda tapi jangan sampe ada kesalahan fatal seperti ini lagi," Alin menasehati.


"Iya kak, maaf..!! maafkan gue temen-temen. gue janji nggak akan bikin nama anak desain rusak lagi." jawab Arumi.


"Saya juga minta maaf untuk semuanya Kak Alin, Rosa, Selly dan temen temen desain, ini kesalahan kami." tambah Ara.


Ajeng mengangguk mengakui kesalahan juga. Alin tampak menyetujui, begitupun dengan Rosa dan Selly. Memang A4 desain selalu banyak bercanda, akan tetapi sebelum sebelumnya tidak ada kejadian yang membahayakan sampai seperti sekarang.


Ara yang sudah duduk duluan, gerak gerik matanya terlihat tidak santai. Ajeng yang mengetahui langsung mengernyitkan dahi.


"Arumi, kena SP." bisik Ara.


"Seriusan lo," gerak bibir Ajeng.


Arumi langsung mendudukkan diri ke kursi. Hari ini ia ingin sekali kembali pulang dan memeluk guling lagi. Tidak usah bangun, tidur, tidur, dan terus tidur.


"Arumi, Arumi.. mama papa lo dirumah udah pengen banget lo nikah, di kantor lo malah kekanak-kanakan banget," keluhnya di hati.


Poni rambut yang menyila kesamping, dibiarkan tidak dibenahi sama sekali menutupi wajah. Kepala tertelungkup diatas lengan yang saling bahu membahu dimeja.


"Sabar Arumi," bisik Ara.


"Gue pengen pulang aja,"


"Belum waktunya pulang."


"Kreeeekkkk"


Ada yang membuka pintu.


Arumi mengamati sosok laki-laki yang masuk ke ruang divisi. Hari ini, decitan pintu ruangan sangat terlihat sensitif bagi pendengaran Arumi.


"Pak Adi," batin Arumi.


Pria paruh baya tersebut berhasil mengangkat tensi darah Arumi yang sudah naik turun sedari tadi. Komisaris III perusahaan Wafi itu cukup berdiri di depan pintu.


"Ada panggilan khusus," ucapnya.


"Apanya yang mulus pak?." tanya Ara.


"Khuuusus bukan usus, apalagi mulus," Pak Adi menggeleng.


"Arumi ada?." cari Pak Adi.


"Ada pak," seru para staff.


"Ya Pak Adi," jantung Arumi berdegup kencang.


"Kamu diminta segera ke ruang Pak Wafi."


Duaarrrrr......


Hati rasanya tersambar halilintar. Parah, Arumi mendapat firasat bahwa SP 3 akan langsung didapatkannya. Bola matanya membesar seketika.


"Iya Pak Adi, saya segera ke sana."

__ADS_1


Pak Adi menganggukkan kepala.


__ADS_2