Jodoh Dari Pesantren

Jodoh Dari Pesantren
6. Di Pelukan Arumi


__ADS_3

Wafi mengemas makan siang yang sudah di nikmati sebagian, ia mencoba memanggil Arumi dan turut berlari. Menanyakan perihal sarung dan bajunya untuk segera di kembalikan.


"Heii.. Arumii.."


"Arumii..," serunya sangat jelas.


Arumi menoleh.


Rambutnya berkibas cantik.


"Kabuuuurrrrrr...," kata Arumi semakin kencang berlari.


Perempuan cantik itu hilang bersama dengan ketiga temannya. Kejadian tersebut membuat Wafi menjadi sorotan di kantin. Ia lupa bagaimana bersikap sampai terjadi hal konyol seperti hari ini.


"Wafi, kamu ini atasan.. kenapa susah susah memanggil Arumi, harusnya panggil aja langsung ke ruangan untuk membawakan lagi sarung dan bajumu," gerutu Wafi dalam hati.


Wafi berjalan menuju ke luar kantin.


"Pak Wafi," panggil seseorang.


Wafi menoleh pada suara itu.


"Pak maaf, ini kunci mobil bapak ketinggalan di meja," ucap Imelda.


"Ya Allah, terimakasih banyak ya, siapa tadi namanya? lupa." Wafi berusaha keras mengingat.


"Imelda pak," senyum dan menunduk.


"Ouh iya Imelda, terima kasih ya.."


"Sama sama pak."


"Saya permisi dulu, mari." Wafi berjalan mundur selangkah lalu pergi ke ruangan.


Di jalan Wafi mencari ke mana perginya Arumi. Gadis tersebut benar-benar menjadi pembuka cerita pertama saat Wafi menjabat sebagai CEO.


Laki-laki tampan itu mendorong pintu dan masuk ruang yang bertuliskan Direktur utama. Ia memencet telepon kantor dan memanggil Pak Adi untuk segera memanggil Arumi.


"Halo Pak Adi, bisa panggilkan Arumi untuk ke ruangan saya membawa sarung dan baju yang sudah dipinjam tadi."


"Baik Pak Wafi, ditunggu."


"Terimakasih."


Wafi pun melihat jam tangan, jarum menunjuk pukul 13.10, dimana ia ada kegiatan pondok sebagai juri tahfidz yang diadakan oleh pondok abah milik Wafi.


Baju yang seharusnya digunakan untuk acara nanti sore justru dikotori oleh Arumi dengan kejadian memalukan pagi tadi. Hanya saja Wafi tidak mempermasalahkan itu.


Di Ruangan Arumi.


Pak Adi membuka pintu.


"Arumi sudah masuk? atau masih istirahat?," tanya Pak Adi ke Ara.


"Ada Pak, di tempatnya." jawabnya.

__ADS_1


Pak Adi melihat Arumi menjepit sebagian kanan kiri rambutnya menjadi satu ditengah. Tampaknya Arumi sudah mengerjakan tugas laporan kantor.


"Arumi, di panggil Pak Wafi ke ruangannya."


"Hah? saya lagi Pak?," dia menunjuk diri tidak percaya.


"Iya kamu, siapa lagi di kantor ini yang namanya Arumi? beliau minta dibawa juga sarung dan baju yang sudah kamu pinjam."


Mata Arumi terbelalak.


"Cepat ya..," Pak Adi pergi.


"Iiiyaa.."


Muka Arumi terlihat pucat pasi, tumpukan sarung dan baju harus dikembalikan detik ini. Sementara, suara Wafi diruangan mengatakan untuk dicuci.


"Jeng, loundry mana yang deket kantor?." deru Arumi sangat panik.


"Bajunya Pak Wafi disuruh ngembalikan sekarang juga Jeng, aduuuhhh.. Tutorial hidup yang mau ke neraka nih," suaranya serak.


"Hey, dimana ada loundry?? loundry di kantor aja di belakang pakai seadanya aja sabun sama pewangi," Alona memberi ide.


"Husstt, Arumi nggak pernah nyuci baju dirumah, emang dia bisa nyuci." Ara mengingatkan.


"Ouh iya ya," Alona menepuk jidat.


"Udah Arumi, temui aja Pak Wafinya minta maaf belum bisa nyuci sekarang, pasti orangnya juga paham kan. yang penting lo udah minta maaf dulu, lagian waktunya mepet," tegas Ara.


"Bener yang diomongin Ara, atau lo alasan aja ada laporan laporan yang banyak dikerjakan hari ini, jadi nggak bisa loundry sekarang," Ajeng bersemangat.


"Ya udah, ya udah, saran kalian masuk akal juga, gue lipet dulu bajunya." sambung Arumi.


"Arumi, jangan lupa kasih parfum lo, biar keringat yang mengucur ke baju itu langsung tersamarkan." bisik Ara.


"Ouh iya juga ya, oke siap," jawabnya tersenyum.


Pertemanan yang sangat hiperbola. Mengingat Arumi hanya menggunakan baju tersebut sebentar dan tidak mungkin ada yang namanya bau keringat.


Di ruangannya Wafi sudah mendapati telfon dari pengurus pondok pesantren untuk segera datang sebagai tamu khusus dan penilai di tahfidz kali ini.


Tidak lama, pintu ruangan Wafi sudah terketuk. Arumi terlihat menampakkan hidungnya dari sudut pintu yang di buka. Sarung serta baju di dekapnya erat dalam pelukan.


"Pak," sapanya membungkuk.


"Ya, silahkan. Saya hanya mau mengambil sarung dan kemeja saya," pinta Wafi dingin.


"Ouh ini Pak," kata Arumi.


Wafi mengulur sambil menadahkan tangannya.


Mereka berdua saling berpandangan. Sembari Wafi memberi kode meminta bajunya.


"Mana?."


"Aaaa, ini."

__ADS_1


Wafi mengambil bajunya.


"Maaf pak, itu bajunya belum sempat saya cuci. tapi InsyaAllah tidak bau, sekali lagi saya minta maaf ya pak."


"Ini bukan lebaran, jadi tidak waktunya minta maaf," jawab Wafi ketus.


"Ouh begitu, aaa.. Iya, ya pak." dengan muka sok manis tetapi mata Arumi melotot kesal.


"Kenapa?." Wafi memastikan.


"Tidak apa-apa pak," balas Arumi dengan senyuman.


Laki-laki tampan tersebut lalu mempersilahkan Arumi untuk keluar, sebab setelah ini Wafi akan pergi meninggalkan kantor dan melanjutkan ke pondok.


Arumi berbalik badan kembali ke ruangannya. Wafi mengikuti Arumi karena akan mengganti baju sekaligus sholat di ruang musholla.


Tidak sengaja dari arah kiri kaki Arumi tertabrak balon berwarna merah hati. Sedikit matanya langsung terbelalak, tiba-tiba nafas Arumi sesak, pusing, dan detak jantung meningkat.


Wafi merasa aneh, kenapa Arumi terhenti.


"Kamu kenapa Arumi?."


"Pak," Arumi tersungkur ke belakang.


Brukkkk.....


Tubuh Arumi di pegangi Wafi.


"Hei, hei kenapa?," Wafi terlihat panik.


Kaki Arumi gemeteran, ia melihat balon itu tidak pergi dari kakinya. Kulit betisnya menempel dengan balon semakin membuat Arumi mendadak kaku.


"Aaaaaa... balonnya singkirkan," kata Arumi menangis.


"Ada apa dengan balonnya?," Wafi tidak tau, tapi ia mencoba menjauhkan balon itu dari pandangan Arumi.


Tidak kuat mengimbangi Arumi yang sambil menangis, Wafi menopang tubuh Arumi meski tangannya ditutup kepala Arumi yang ketakutan.


"Pergi, balonnya pergi." tangisan Arumi.


"Sudah, sudah pergi," ucap Wafi menenangkan.


Wafi sempat panik, matanya mengikuti kemana balon merah tersebut tetap berjalan sesuai udara ac di ruangannya.


"Nggak mau balon, singkirkan pak." Arumi menangis memeluk erat tangan Wafi.


"Hey Arumi, dengarkan, sudah." Wafi turut gemetaran. karena baru kali ini ia memegangi perempuan dengan sedekat itu.


Wafi mencoba memberi tahu, ia mengangkat kepala Arumi berdiri tepat di depannya. Lengannya mencoba mengangkat kepala Arumi yang bersembunyi.


Wajah cantik perempuan lucu itu merah sembab. Bibirnya masih bergetar menurun nangis. "Takut pak." ucapnya menyibak rambutnya yang penuhi pipi.


"Oke, oke, ayoo kita keluar aja, kamu masih bisa jalan kan?."


Arumi mengangguk.

__ADS_1


Kemudian Wafi mengantar Arumi ke luar ruangan. Di depan ruangan, Wafi langsung disambut orang-orang yang melihat ia mendudukkan Arumi di kursi samping pintu.


__ADS_2