
Menjadi Arumi memang tidak diharapkan saat ini. Padahal, Arumi dulunya merupakan karyawan kesayangan dari mendiang orang tua Silma.
Jemari dengan cat kuku warna warni sekarang saling mengucurkan keringat bersamaan. Denyut nadi dan denyut jantung, ia sudah tidak bisa lagi membedakan.
Tok .. Tok.. Tok..
"Permisi," Arumi masuk.
Merasa aneh, Arumi mundur lagi. Ucapkan salam.
"Permisi, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam" suara Wafi dan Silma bersahutan.
"Alangkah lebih baiknya, ucapkan salam lengkap," ucap Wafi menasehati.
"Hah?" Arumi bingung.
"Ooo ya, ya.. permisi assalamu'alaikum lengkap."
Silma lantas tersenyum.
"Bukan begitu kak," tuturnya lembut.
"Katanya lengkap, ouh ya, ya maaf baru paham. assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." bernada seperti ibu-ibu pengajian.
"Intonasinya biasa saja, karena ini bukan pengajian." Wafi melihat Arumi.
"Saya nggak niru di pengajian, biasanya mama kalau lihat curhat mama dede, juga pembukaannya seperti itu."
"Kalau gitu kenapa nggak sekalian bilang jamaah ooo jamaah," tukas Wafi kesal.
"Karena ini bukan pengajian." Arumi mengembalikan lagi perkataan Wafi.
"Hahahaha," Silma tertawa.
"Iya, ini kantor." Wafi kesal.
"Sudahlah kak Wafi, kembali kerumus pertama dimana perempuan selalu benar dan kak Wafi selalu salah." goda Silma.
"Rumus itu hanya berlaku untuk Dek Hafsa bukan yang lain. Apalagi pegawai disini."
"Iya, iyaaa." Silma memahami.
Wafi kemudian duduk dan mempersilahkan Arumi duduk. Akan tetapi ia baru sadar bahwa Arumi mengenakan sarung dan baju taqwa laki-laki.
"Lo.. Itu sarung siapa?, kamu dapat dari mana?." tunjuk Wafi.
"Punya cleaning servise pak, ini saya pakai di dalam musholla tadi, lihat aja baunya aroma aroma khas minyak wangi bapak-bapak di pengajian."
"Itu sarung saya." jawab Wafi tepuk jidat.
"Hah? iya kah?," Arumi merapatkan sarungnya ke bagian paha
"Ya Allah Pak, maaf Pak, sungguh Pak saya nggak tau. Saya kira ini sarungnya cleaning service. Pak, maaf pak. sungguh saya tidak bermaksud seperti itu."
"Astaghfirullah hal adzim.. Ya Allah Silma, Kak Wafi sudah ndak kuat."
__ADS_1
Silma tertawa di sofa yang sedari tadi tempat dia duduk.
"Saya benar-benar nggak tau pak, tadi saya sudah kebingungan cari ganti dari pakaian kostum saya yang memalukan pak. nanti saya akan cuci sarung dan baju ini tujuh kali pak, biar bapak ndak jijik lagi. spil juga pak, minyak wangi bibit bapak aroma nomer berapa?."
"Sudah, nggak perlu. cuci sewajarnya saja."
"Minta pakai tangan, atau pakai mesin cuci pak."
"Mesin traktor."
Arumi langsung terdiam. Sementara Wafi berkali-kali membuang nafas besar. Kelakuan Arumi sangat tidak bisa diperhitungkan lagi.
"Saya berpesan ke kamu, Arumi ya namanya?."
"Iya pak."
"Apabila kamu tidak mengetahui barang itu milik siapa, jangan langsung asal digunakan. Bisa jadi kalau pakaian itu adalah pakaian orang berpenyakit, itu akan membahayakan diri kamu sendiri."
"Tapi bapak nggak sakit kan pak? TBC atau paru-paru nggak kan pak?."
"InsyaAllah tidak, tapi sebentar lagi gejala jantung koroner."
"Jangan pak, Bapak masih muda, belum nikah, kasihan nanti belum merasakan malam pertama. Mana udah disunat lama lagi."
"hahahhahaha, Ya Allah, kak Arumi ada ada aja," tawa Silma terguling-guling.
"Kelihatannya kamu juga harus dinikahkan, segera minta nikah ke orang tua kamu, biar ada laki-laki yang membimbing kamu biar otaknya tidak berfikiran kotor terus. paham sampai sini..!!."
"Paham pak."
"Untuk itu saya jatuhi Arumi dengan SP 2. Jadi apabila anda melakukan kesalahan lagi, maka anda akan betul-betul dikeluarkan dari kantor ini."
"Baik pak, saya minta maaf atas kesalahan yang sudah saya perbuat dengan sengaja. Saya akan jadikan ini sebagai evaluasi diri saya agar nantinya saya akan menikah saja daripada bekerja."
"kamu curhat??."
"Iya pak, sedikit."
"Ya itu kembali lagi ke kamu. Tapi bukan berarti karena kesalahan kamu lantas kantor mengeluarkan ya.. tetapi kamu sudah mendapatkan surat peringatan."
"Baik pak. kalau begitu saya permisi dulu. wassalam."
"iya, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Arumi pun keluar dengan wajah yang sangat sedih. Bukan karena permasalahan dikeluarkan dari kantor nantinya. Akan tetapi dia memang benar-benar waktunya sudah menikah.
"Bener juga yang diomongin Gian, kalau gue harusnya udah nikah, Pak boss pun juga bilang seperti itu. Ya Allah, tua banget gue. mana siapa yang mau sama anak yang otaknya aja ngeleg kayak gue." gumamnya sedih.
Arumi pun kembali ke ruangan.
Gruduuukk.. gruuduuk.. grudukk..
Ajeng, Alona, Ara menyambut Arumi.
"Arumi gimana? lo diapain sama pak boss yang baru?."
"Rumi, lo di SP berapa?."
__ADS_1
"Arumi, maafin kita kita juga ya," kata Ajeng mengakhiri.
"Iya, gue sedih banget hari ini, gue dapet sp 2 dari Pak Wafi. terus gue dibilang harus waktunya nikah karena biar pikiran gue nggak kotor terus."
"Huahahahhahaha"
"Loh kok kalian ketawa sih, gue sedih ini Ajeng, Ara,Alona, tau ah kalian ini." Arumi kesal.
"Ya gue kira dipanggil tadi tu, terus Pak Wafi galak banget.. malahan loe diajak nikah."
"Mbahmu diajak nikah, disuruh nikah woyy," Arumi ngegas.
"Ya maap," Alona mengakhiri.
Arumi juga turut menceritakan tentang baju dan sarung yang ia kenakan. Semua adalah milik Wafi. Teman teman Arumi menganggap wajar apabila si cantik itu mendapatkan langsung SP 2.
Setelah mendapat baju ganti dari Lona yang beli di mall. Arumi bergegas pergi ke kamar mandi. Tak disengaja ia kembali bertemu dengan Wafi dan berpapasan.
Laju Arumi disengaja pelan agar tidak membersamai Wafi. Lalu kemudian Arumi jalan ke kamar mandi dan ternyata Wafi berdiri di sebelah ruangan. Mau tidak mau Arumi harus menyapa.
"Pak," ucapnya sambil membungkukkan badan.
Wafi diam saja memegang ponsel.
Lirikan mata Arumi berubah tajam. Ia memicingkan mata.
"Dasar, boss sombong, sok suci." ucap Arumi.
Sarung panjang yang dikenakan Arumi menyangkut ikat pinggang Wafi.
"Weeeyyy"
Bruukkk...
Arumi terjatuh di pelukan Wafi.
"Aaaa.. sarungku..??." teriaknya.
"Hussssttt...," seru Wafi.
Beruntung, bagian belakang sarung Arumi dipegang oleh Wafi sehingga tidak jatuh ke bawah. Ikatan simbol sarung yang dibuat Arumi sesuka hati, semakin memudahkan sarung tersebut lepas.
"Awass, jangan bergerak dulu." pinta Wafi.
"Pak Wafi ini ganteng banget ternyata," matanya tidak berkedip memandang wajah.
Tiba-tiba Arumi tersadar.
"Haaaaaa...., bukan muhrimnya pak, pak, lepasin pak. Pak jangan sampai saya kena SP lagi pak, karena ini termasuk salah satu adab," Arumi terlihat trauma.
"Enggak, enggak, saya nggak akan SP, ini sarung kamu nyangkut ke ikat pinggang saya, kamu diem dulu biar saya tali sarungnya ke belakang, nanti baru kamu mundur ya.."
"Jangan di SP lagi ya pak, nanti saya kena SP lagi, Hutang saya di shopepay later belum lunas pak." Arumi sangat trauma dengan SP yang didapat.
ada 2 menit, jarak Arumi dan Wafi yang begitu dekat, hidung keduanya hanya selisih 1cm akibat kejadian tidak sengaja siang ini.
Kemudian Arumi menjauhkan diri secara cepat, mendorong Wafi dan lari terbirit-birit. Perempuan cantik itu sangat trauma setelah beberapa adabnya yang kurang baik begitu di permasalahkan
__ADS_1