Jodoh Dari Pesantren

Jodoh Dari Pesantren
2. Penyambutan CEO Baru


__ADS_3

KANTOR


Wafi berada di mobil dengan Silma sepupunya. Putri tunggal almarhum paman Wafi tersebut, mengantar Wafi menjalankan tugas pertama.


Perjalanan mereka sempat mengharu biru, bahwasannya mereka mengenang kebiasaan Om Shidiq ketika berangkat ke kantor.


Pukul 08.30 pagi, Wafi sampai di kantor.


Selamat datang di Dakatta Company.


Begitulah papan reklame serta spanduk besar tersebut di baca Wafi. Di atas pagar hitam panjang pembuka kerajaan perusahaan yang di bangun paman Wafi.


"Kak Wafi, di kantor nanti kakak akan di arahkan semua oleh Pak Adi. Karena Silma sendiri tidak begitu tau dengan bisnis Abbi."


Wafi tersenyum.


"Hehehe.. tidak papa Silma.. InshaAllah, doakan Kak Wafi agar diberi kemudahan, selalu amanah meneruskan amanat, yang diberikan oleh Ummi Sulis."


"Tentu Kak Wafi," sepupunya tersebut tersenyum.


"Aaa.. tapi Kak Wafi jangan kaget ya, karena abbi kan rekan-rekan kerjanya yang berbaju begitu, berbeda dengan di pesantren Kak."


Wafi terhenyak, namun ia tetap terlihat biasa.


"Iya, nggak papa kok. Kak Wafi sudah biasa."


Silma tau, bahwa keponakan orang tuanya tersebut benar-benar sangat agamis. Silma sedikit khawatir, apabila nanti Wafi kurang bisa membaur dengan orang di kantor.


Wafi mulai panik, ia membayangkan bagaimana nanti seksinya para pegawai mendiang om'nya itu.


"Sama sama bismillah yuk.. agar keinginan kita membahagiakan Abbi Shidiq di mudahkan," mata Wafi mengerjap.


"Bismillah, semangat, semangat Kak Wafi."


Kecepatan mobil perlahan pelan, kendaraan roda empat tersebut berhenti di parkiran. Wafi keluar mobil dengan celana dan jas yang berwarna senada.


Berbeda dengan penampilan para kebanyakan CEO. Wafi mengenakan peci warna hitam yang menutupi rambut. Meski begitu, ia tetap terlihat sangat tampan.


Pakaiannya benar-benar rapi, aroma parfum Wafi sangat wangi, jam tangannya berwarna coklat tua melingkari lengan kirinya.


Silma turun dari mobil.


"Kak Wafi ngapain?,"


"Sebentar Kak Wafi ambil peci dulu," kata Wafi.


"Peci?," Silma sudah menduga.


Di luar Silma terkaget. Sempat, Silma memijit kepalanya. Wafi benar-benar tidak lupa dengan identitasnya.


"Kak Wafi tidak perlu peci, kita kan tidak mau berangkat mengaji. Kak Wafi sudah tampan kok," Silma mengigit lidah.


"Tapi Silma, itu akan lebih baik apabila kita menggunakan peci dan,"


"Aaaa.. iya, iya. Ya udah, Kak Wafi ayo, kita sudah ditunggu oleh semua orang." Silma menunggu Wafi.


Akhirnya, Wafi keluar dengan sangat tampan. Bersama dengan peci hitam, semakin membuat Wafi tampak terlihat sebagai santri pondok pesantren milik abahnya.


"Waahhh.. Kak Wafi sangat tampan dengan peci itu," Silma mengangkat jempol.


"Hahaha, sudah seperti abah Anshor ya??," Wafi menyamakan dengan abbahnya sendiri.


"Bukan, tapi seperti artis, cuma Silma lupa namanya?."


"Kak Wafi ndak pernah nonton TV, jadi Kak Wafi ndak tau. Tapi model Kak Wafi begini ndak pantes di kejar wartawan, Kak Wafi saja lupa kapan terakhir menonton televisi."


"Hahaha, Kak Wafi, Kak Wafi," tawa Silma begitu terdengar renyah.


Dari parkiran menuju pintu masuk perusahaan, penyambutan CEO baru sudah sangat terasa, hanya saja Wafi tidak menyadari itu.


Silma yang memiliki tinggi dibawah pundak Wafi tampak anggun dengan busana muslim warna biru. Hijabnya sendiri sangat panjang di atas lutut.


Ketika Wafi berjalan bersama dengan Silma, ia memegang gagang pintu, membuka untuk Silma. Hanya saja, satpam sudah lebih dulu menarik ke belakang.

__ADS_1


"Selamat pagi Bapak Wafi, selamat datang di perusahaan Dakatta Company."


"Selamat datang Bapak Wafi."


"Selamat bergabung dengan Dakatta Company Bapak."


Semua sambutan terdengar riuh, saling berganti ditelinga kanan maupun kiri Wafi. Laki-laki tampan tersebut menyambut dengan senyuman.


Para staff laki-laki terlihat sangat rapi dengan pakaiannya. Tidak luput Wafi juga memberi senyum terhadap para staff perempuan yang kebetulan mengenakan seragam nan nampak seksi-seksi.


Setelah Wafi memberi senyum, ia lantas cepat-cepat menundukkan kepala. Busana yang di kenakan para pegawai perempuan ternyata tidak semenakutkan yang di bayangkan Wafi.


Akan tetapi, laki-laki tampan tersebut benar-benar menjaga pandangan. Wafi lebih nyaman melihat para staff laki-laki.


Baik staff perempuan mengunakan rok dengan panjang di bawah lutut, sementara staff laki-laki menggunakan celana warna hitam semua.


Hanya beberapa yang terlihat menggunakan hijab, itupun Wafi tidak mengetahui namanya satu persatu.


"Selamat pagi Silma, semoga kamu dan orang tua diberikan kesehatan dan ketabahan," ujar Pak Adi.


"Terima kasih banyak atas doanya Pak." Silma mengangguk tersenyum.


"Kak Wafi, ini Pak Adi yang tadi Silma ceritakan. Selama ini Pak Adi yang menghandle semua pekerjaan kantor waktu abbi meninggal dunia."


"Iya Silma, baik." Wafi mengangguk.


Dari beberapa puluh staff perempuan, ajeng yang sudah terbahak-bahak lebih dulu dengan penampilan Wafi. Meski begitu, mereka mengakui bahwa Wafi sangat tampan.


"Ajeng, sumpah..!! ganteng banget," Alona terkesima.


Ajeng dan Ara saling menyiku tangan mereka melihat ekspresi Alona.


"Ajeng lo bisa nggak sih jangan norak. Si Arumi ke mana? dia nggak kelihatan?? udah datang belum?,"


"Iya, iya, ke mana dia?," Ara gugup.


"Wahh.. si Arumi paling lupa tuh, kalau sekarang harus berangkat pagi," Ajeng menepuk jidat.


"Coba, coba, telpon tuh..!! jangan sampai dia ngelakuin challenge yang kita bilang kemarin, bisa berabe nih?." Ara panas dingin.


Acara mulai berjalan dengan lancar.


Di hadapan para pegawai, Pak Adi sedang berkoordinasi dengan petinggi Dakatta Company terbaru. Beberapa anak tertawa cekikikan, melihat peci hitam Wafi.


Penyambutan Direktur baru perusahaan tersebut berjalan lancar. Acara lebih maju 10 menit dari perkiraan. Semua berjalan sesuai dengan tatanan event organizer.


Arumi masih di perjalanan. Karena memang kantor masuk pada pukul 09.00.


Di dalam mobil, mulut Arumi sendiri sudah komat kamit membayangkan pakaian yang di kenakan Ara, Alona dan juga Ajeng.


Tin


Tin


Tin


Arumi memberi klakson, parkiran sudah terlihat sangat sepi. Semua mobil. terparkir rapi, akan tetapi Arumi masih dengan santainya memarkir mobil.


Turun dari mobil, Arumi berjalan menuju kantor.


Yeee, prook prokkk..


Suara tepuk tangan para staff melakukan potong pita.


Suara-suara itu sedikit merambat ke telinga Arumi.


"Apa'an itu suara prok prok, kayak ada yang ulang tahun aja," Arumi justru mensenyumi.


"Tumben banget parkiran penuh semua," ia kembali merasa aneh.


Arumi tiba-tiba tertawa sendiri.


"Hahahahhaaha.."

__ADS_1


Ia tidak sabar melihatkan penampilan Arumi kali ini ke teman-temannya.



Hari ini, Arumi benar-benar memakai artibut bak tokoh di mobile legend bernama kagura. Perempuan cantik tersebut menggunakan bandana biru seperti gaya kagura.


Sepatu tinggi yang menutup semua bagian betis itu juga sama persis dengan yang di gunakan kagura (tokoh mobile legend).


Belum lagi, rok seksi di atas lutut berwarna biru-biru tosca sangat membuat Arumi terlihat seksi. Tidak sampai di situ, Arumi bahkan membawa payung jepang ala-ala orang korea.


Kreeekkk..


Arumi membuka pintu.


"Hahahaha," Arumi tertawa geli melihat ini penampilannya lagi.


Semua orang terkejut.


Wafi yang berada pas di depan pintu, matanya terbelalak, tidak berucap satu patah katapun. Pak Adi habis hati, melihat Arumi menjadi "gila".


" Arumi," Pak Adi memelototkan mata.


"Pak Adi..!!," Arumi kaget, kenapa Pak Adi ada di lantai satu.


Arumi melihat sekelilingnya.


Kedua bola mata Arumi terbelalak hebat. Puluhan staff ada di bawah lantai satu. Ia juga baru sadar bahwa ternyata dia sudah telat.


Tubuh Arumi panas dingin.


"Pakaian kamu," marah Pak Adi menyuruh Arumi.


"A, a, i-iya."


Arumi tergagap serta sangat malu. Kepalanya mendadak tidak bisa di gerakkan.


Payung ajaib ala-ala mobile legend di buka langsung, digunakan menutupi bagian paha serta tubuhnya yang seksi. Arumi lupa, bahwa hari ini adalah acara penyambutan CEO baru.


Arumi menoleh. Ia semakin kaget, ada ustad di sampingnya.


"Waaaawww..," teriak Arumi.


"Waaaawww," Wafi ikut panik, spontan dia menutup mata.


"Ma-maaf Pak Ustad." jawab lugu Arumi.


Tawa di aula bawah langsung pecah.


"Hahhahaha.."


Semua anak-anak tidak kuat lagi menahan tawa. Arumi salah tingkah, ia mengeluarkan juga jaket untuk di kenakan. Sebab, model bajunya sangat begitu seksi.


"Maaf pak ustad, maaf pak, saya mengumbar aurat saya. Saya hanya melakukan challenge," tangan Arumi terbata mengenakan jaket.


"Hahahahaha," ruangan benar-benar dibuat riuh tawa.


"Ya Tuhan, Arumi..!! Loe bodoh banget sih, itu presdir Arumi," rengek Ara di samping para staff.


Alona sendiri memeluk Ajeng, dan menyimpan mukanya dibelakang Ajeng.


"Ajeng, kok gue yang malu ya..!! Arumi gila parah," keluh Alona.


Ajeng tidak bisa berkata apa-apa.


Ajeng, Alona serta Ara menyayangkan betapa bodohnya teman staffnya tersebut. Arumi belum sadar, bahwa itu adalah Wafi Anshary, CEO pengganti yang baru.


Wafi langsung kemudian pergi.


Mata laki-laki tampan tersebut tetap konsisten tidak mau melihat Arumi. Wafi syock, dengan perawakan Arumi tepat di depan mata.


Silma juga mengikuti pergi.


Pak Adi geleng-geleng kepala. Arumi sangat meresahkan.

__ADS_1


__ADS_2