
"Ya Tuhan, Arumi loe apes banget," ucap Arumi lari tanpa meminta maaf.
Tubuh Arumi panas dingin seolah kembali mengingatkan bagaimana SP 2 yang baru ia terima.
"Jauh jauh Tuhan itu direktur baru, kasta religi kita berbeda jauh ya Tuhan," cerocos Arumi.
Rambut panjang dengan bawahan sarung yang masih terpakai, Arumi mengganti pakaiannya ke kamar mandi. Tangan lentiknya begitu anti melihat sarung yang telah menyelamatkan martabatnya tadi.
Setelah mengganti baju dari mall, penampilan Arumi tampak wajar seperti pegawai lain. Meskipun tidak menggunakan kerudung, akan tetapi terlihat sopan.
Arumi keluar dari ruang ganti.
Perempuan cantik itu jalan menuju ruangan.
Dari sudut lobby kantor, Arumi melihat Wafi sedang tersenyum manis terhadap Imelda, salah satu pegawai berjilbab dan terbilang cukup cantik.
"Iiiihhhhh, ternyata matanya nggak se religius dakwahnya, dasar culamitan," Arumi merasa ill fil.
"Ara, Ajeng, sama Alona harus tau nih, kelakuan si penghuni surga yang kayak gini."
Arumi lalu kemudian masuk ke dalam ruangannya. Dimana jam istirahat sudah berjalan dari sepuluh menit yang lalu.
"Arumiiii, loe akhirnya cantik lagi setelah tadi kayak bapak bapak komplek jaga pos ronda," peluk Ajeng.
"Heleeehhh, tadi pas gue pake sarung mana mau lo meluk gue kayak gini?," sindir Arumi.
"Ya kali Rum, meluk lo waktu pakai sarung vibesnya tuh kayak gue lagi meluk opa gue yang bau minyak angin," Ajeng cengengesan.
"Ajengg nih, gak boleh gitu ya sama Arumi, tadi baunya dia berasa kayak bapak bapak pengajian," Alona mulai menggibah.
"Ya iya lah, ini kan sarung dan bajunya si penghuni surga, dan lo tau nggak, sumpah gue bete, bete banget, asli nggak pake kw kw."
sarung dan baju Wafi masih disampirkan pada lengan kiri Arumi.
"Ini kan nanti loe bisa alesan balikin sarung sama bajunya dan pedekate dikit dikit Arumi, ya nggak? kayak ftv sctv gitu," goda Lona.
"Iya Arumi, pas nih, atau gue aja yang balikin ke Pak Wafi juga mau banget, siapa tau endingnya beneran kayak ftv ftv sctv gitu hahaha," Ara tertawa geli.
"Ara, mending halu lo yang model begituan cut dulu deh, gue jamin 1000% itu boss penghuni surga endingnya fix kayak ftv azab indosiar, terbang terbang itu kerandanya."
"Anjiiirrr Arumi, lo kata si Pak Wafi penuh dosa, dendam sih boleh Arumi, cuma realitanya dia ganteng, berprestasi, yang paling penting agamis, idaman banget tuh." puji Ara.
"Iya bener nih, bener."
"Pak Wafi nih karismanya luar biasa," Lona mengakui.
__ADS_1
"Mending jupiter daripada karisma," sanggah Arumi tidak suka.
Mereka berempat pergi ke kantin. Beberapa makanan sudah dipesan oleh Ajeng. Dengan angin sepoi sepoi di kantin, menambah sejuk suasana kantor.
Imelda tampak bersama dengan teman seruangannya, Arumi melihat secara santai. Sedang, Alona, Ara dan Ajeng masih asyik membahas tentang informasi terbaru dari CEO kantor hari ini.
"Kira kira kriteria istri Pak Wafi kayak gimana ya? gue jadi pengen memantaskan diri buat dia," kata Ajeng.
"Lebay," Arumi mengaduk minuman.
"Apa harus gue hijrah ya Rum..??," Ajeng bertanya ke Ara.
"Hijrah ke London," jawab malas Arumi.
"Apa'an? Ajeng, lo inget nggak, baca al-qur'an aja lo nggak lancar mau jadi istrinya Pak Wafi. haiisshh.. memalukan banget," Alona mengingatkan.
"Hahahahhahaha"
Tawa anak-anak langsung menggema.
"Gaes, ibarat kata pak wafi itu terlalu Starbucks untuk kita yang kopi sachetan tempat warung warung kopi." Ara menyadarkan.
"Imanmu lo masih kalah tinggi sama boss penghuni surga, kalian kalian tuh berbeda kasta dari segi agama, jadi cukup mending jadi diri sendiri aja deh." Arumi bersikeras mengingatkan.
"Jadi kayak Imelda dulu, baru bisa memasuki hidupnya Wafi Anshary," sindir Arumi.
"Aseeeemmm lo, duka Arumi lo jadiin jokes," Ara melempar keripik pedas ke Alona.
Nampaknya Wafi telah menjadi bahan perbincangan yang asyik di kantor hari ini. Hari pertama dimana CEO tampan masuk cukup menyita perhatian dari anak anak.
Imelda bersama dengan Rosita dan Melani pun turut membahas dengan kehadiran sosok Wafi.
"Melda, tadi lo diajakin ngobrol apa aja sama Pak Wafi?." tanya Rosi.
"Ciee.. ciee... bau baunya ada yang lagi dideketin nih." Melani membumbui.
"Kalian bisa aja, eh iya sih, tapi tadi gue ditanya, gue dari divisi apa? terus sudah berapa lama kerja dikantor ini? terus Pak Wafi bilang " ouh ya udah selamat melanjutkan pekerjaan lagi" begitu katanya."
"Aaaaaaa... Imelda, itu lampu hijau banget. tandanya si boss mulai tertarik sama lo, nggak heran lo cantik mana pakai jilbab lagi." puji Rosi.
"Ahhh.. Kalian, udah lah nggak usah dipikirin, tapi gue juga berharap begitu," Imelda tersenyum.
"Aaaaaa..... cieee," sorak mereka bertiga diatas kursi kantin.
Seruan "cie" dari tempat Imelda sempat membuat Lona dan Ara melihat ke arah Imelda. Perempuan berambut ikal tersebut kemudian mengingat ucapan dari Arumi.
__ADS_1
"Arumi.."
"Hmmmmm...," bernada malas.
"Lo kan tadi bilang, harus gimana Rum? harus jadi Imelda dulu? kalau deket sama Pak Wafi," Ara penasaran.
Lona dan Ajeng sama sama mengernyitkan dahi. Gerakan mata mereka juga melihat ke bangku Imelda dan teman temannya.
"Emang Pak Wafi lagi deket sama Imelda? nggak mungkin deh," Lona menjawab sendiri.
"Arumi, lo pasti tau sesuatu kan?," tanya Ara.
"Sesuatu apa? emang gue syahrini? gue nggak tau apa-apa, cuma tadi gue tau si penghuni surga itu senyum ke Imelda terus ngobrol gitu waktu gue mau ke kamar mandi ganti baju." terang Arumi.
"Wahhh.. gawat, gawat, saingan mulai terlihat.. tapi nggak kaget juga sih, Imelda emang orangnya caper" Ara menggeleng tak tega.
"Cari perhatian, dan sampe Pak Wafi deket sama dia, waduuuhhh sayang banget sama Wafinya gaes." Lona menonjok lengan Ara.
"Aduuuuhhhh, iya iya, biasa aja tapi lo. sakit nih lengan gue." ucap Ara.
"Utututu, maaf besti," mereka saling peluk.
Pembahasan Wafi yang tiada henti semakin membuat Arumi tidak bernafsu makan. Ia merasa tidak adil saja dengan atasan barunya, semudah itu memberi SP dan bersikap manis pada perempuan.
" Jadi gue kasih tau, Ara, Alona, Ajeng, kalian itu nggak usah lah berekspektasi tinggi ke penghuni surga itu, dimana mana seagamis apa, syahwatnya juga tetep ada kalau lihat cewek cantik berhijab, sok ganteng, amit amit," Arumi mengangkat geli pundaknya.
"Arumi," panggil Ajeng.
"Apa? gue kurang suka sama dia yang terlalu arogan sama kita yang nggak menutup aurat, giliran sama yang berhijab beuuuhhh manisnya sampe bikin diabetes naik," Arumi memasukkan keripik ke mulut.
"Pak Wafi," lirik Alona.
"Volume, volume," Ara mengkode berhenti.
Arumi menoleh, disebelahnya persis Wafi sedang menikmati bekal makan siang dan satu gelas minuman yang baru datang.
Anak-anak kemudian bergegas untuk pergi. Mengingat solidaritas antara Ara, Ajeng, Alona pada Arumi sangat tinggi.
Sebelum pergi, Wafi mendapati Arumi mengemas keripiknya.
"Arumi," panggil Wafi.
"Aaa.. ada suara yang manggil, siapa ya? ouh, Ajeng lo manggil gue ya?," teriak Arumi.
Ajeng, Ara dan Alona yang pergi duluan dikejar oleh Arumi.
__ADS_1
"Ajeng... tungguin gue," teriaknya terbirit-birit.
Perempuan cantik tersebut lupa, bahwa baju dan sarung yang dibawanya adalah milik Wafi. Teman-teman Arumi merasa, bahwa Arumi telah gila.