Jodoh Dari Pesantren

Jodoh Dari Pesantren
7. Geli Geli Sedap


__ADS_3

Wafi mendudukkan Arumi di kursi, tangannya dingin gemetaran. Ia meminta kepada salah satu pegawai mengambilkan minum.


Pegawai wanita menyodorkan minuman ke Wafi, tetapi Wafi menolak, ia meminta salah satu pegawai perempuan untuk membantu memberi minum.


"Ini Arumi, minum dulu."


Tangan Arumi gemetaran, ia meminum sebentar. Wafi ingat, ia membawa roll on penghangat tubuh, lalu mengeluarkannya.


"Coba oleskan ini ke tangannya dan bagian lehernya, biar tidak sesak pernafasannya," Wafi mengamati.


"Baik pak," ucap wanita itu meng'iya'kan.


Tak lama, Alona, Ajeng, dan Ara datang memenuhi ruangan. Mendengar Arumi hampir jatuh pingsan mereka mengecek kondisi Arumi merasa khawatir.


"Arumi, lo nggak papa?," tanya Alona.


"Eh, udah dikasih minum belum?," Ajeng panik.


"Udah kok, udah tadi." jawab teman yang lain.


"Haduuuh Arumi, apa mungkin ini yang lo maksud tutorial masuk ke neraka waktu mau masuk ke ruangan Pak Wafi," Ara merengek tidak tega.


Sontak ucapan Ara menjadi perhatian banyak orang. Wafi sendiri tertegun, seolah merasa bahwa ia adalah penyebabnya.


Arumi menampar kening Ara sekuat tenaga lemasnya tersebut. Alona langsung memegangi kepala dan seolah-olah tidak tau, begitupun juga Ajeng yang langsung memalingkan muka.


"Maaf ya, maksudnya apa yang tutorial mau masuk ke neraka?," tanya Wafi.


"Tadi waktu Arumi mau mengembalikan sarung, dia takut bertemu dengan anda Pak, dan sekarang lihat, Arumi sampe lemah tak berdaya," pungkas Ara.


"Hadduuuhh, ini anak, goblook parah anjir," Ajeng merasa ingin lepas kulit muka karena malu.


"Eee, enggak pak, maksudnya Ara, tadi kami habis nonton film azab dan salah satu tutorial masuk neraka itu adalah dengan menggunakan pakaian yang digunakan Arumi seperti tadi pagi begitu."


Wafi kebingungan. Akan tetapi ia langsung mengiyakan saja.


"Tadi di dalam, saya meniup dua balon sengaja untuk anak santri yang akan saya hadiri acaranya. Nah tidak sengaja balon itu berjalan mengenai kaki Arumi, ya kan Arumi namanya?."


"Bukan pak, Arum jeram namanya," Ara tertawa.


Ajeng menoyor kepala Ara dari belakang.


"Iya pak, namanya Arumi."


"Lalu kakinya kaku, terus keringat dingin, saya sendiri kaget soalnya mendadak sekali, akhirnya saya bawa keluar Arumi."


Wafi menceritakan kronologi bagaimana kejadian mereka di dalam tadi.


"Arumi memang phobia balon Pak Wafi, jadi apabila balon itu mengenai anggota tubuhnya, dia bakalan langsung lemas dan keringat dingin kadang juga bisa pingsan."


Teman-teman yang lain juga turut meng'iya'kan.


"Ouh begitu, maaf saya tidak tau." Wafi meminta maaf.


"Tidak apa-apa Pak, saya kira tadi malah Arumi bapak marahi, karena Arumi sangat takut dengan bapak," Ara tersenyum.

__ADS_1


Ajeng semakin kesal ingin mengobrak abrik wajah Ara. Bisa-bisanya curhatan Arumi tentang atasannya secara gamblang langsung dibocorkan tanpa basa-basi ke Pak Wafi.


"Kalau begitu, semua boleh bubar kembali ke tempat kerja masing-masing"


"Baik pak, siap"


Anak-anak lalu pergi ke meja masing-masing.


Selanjutnya, laki-laki tampan tersebut pamit undur diri karena harus mendatangi penjurian lomba tahfidz di pondoknya.


Teman-teman Arumi juga membawa Arumi ke ruangannya dengan sedikit tidak sadar, akan tetapi kaki Arumi dengan pelan mengikuti ke arah mereka.


***************************


DI RUANGAN DIVISI ARUMI DAN KAWAN KAWAN.


Ara, Alona dan Ajeng mengistirahatkan Arumi di kursi yang dua bagiannya bisa membuat Arumi beristirahat. Perempuan cantik tersebut belum bisa sadar masih diam karena pusing.


Sedangkan, Alona langsung menghampiri Ara.


"Ara, lo tadi bodoh banget sih, ngapain juga lo bisa bilang ke Pak Wafi kalau Arumi takut sama dia."


"Yaa maksud gue siapa yang nggak takut sama direktur, kan pasti takut sih? lagian itu juga untuk memperingan Arumi biar nggak kena SP lagi."


"Wahhh.. bener juga lo Ra, tumben lo punya ide brilliant. Kenapa tadi kita nggak kepikiran sampe situ?," Ajeng tersenyum senang.


"Tapi tadi gue panik banget tau, nanti semisal gara-gara itu akhirnya Pak Wafi jadi eneg kalau lihat Arumi gimana coba?," Alona mengkhawatirkan.


"Enggak lah, lo tau tadi gimana paniknya Pak Wafi?"


"Ya gue nggak tau, orang gue tadi juga baru lari barengan sama kalian," jawab Ara.


"Yaaaaaa, gitu pakai sok tau."


"Embeeerrr deh,palsu doang lo," Ajeng kesal.


"Eh tapi si Arumi kenapa bener-bener benci banget ya sama Pak Wafi, padahal dia ini kharismatik banget, tampan juga iya, idaman tau," Ara memuji.


"Ya idaman sih idaman, cuma lo tau diri juga, lo nggak bakalan jadi istri idamannya," Ajeng menyadarkan.


"Nga to the ca, alias ngaca," tambah Ara.


"hahahahaha" mereka tertawa.


Arumi mendengar suara bising dari teman-temannya. Perempuan cantik tersebut lantas membangunkan diri. Dengan minyak angin bau mint di bagian leher dan tangannya.


"Ajeng," panggil Arumi tepat saat Ajeng membelakanginya.


"Eh Arumi, lo udah sadar, syukurlah," Ajeng membalikkan diri.


Ara langsung berada disamping Arumi, dan Alona memegangi pundaknya membantu bangun.


"Hati-hati jangan banyak gerak terus, pasti lo masih pusing ya."


"Iya, tapi udah mendingan."

__ADS_1


"Arumi, lo kenapa bisa hoki banget, tadi pasti lo digendong Pak Wafi kan waktu keluar ruangan," Ajeng mulai kepo langsung.


"Apa'an sih? siapa yang digendong, kayak bayi aja, hiiii geli gue," pekiknya.


"Wiiihh, parah nih anak, digendong Pak Wafi pasti rasanya geli-geli sedap deh Rum," Ara mulai ngefly.


"Woyy, woyyy, sadarrr," Ajeng dan Alona mengacak rambut Ara.


"Hahahhaa, ihhh kalau gue jadi Arumi, gue bakalan minta nafas buatan juga, pura-pura engap, dan hidup gue tinggal sebentar lagi," Ara mengigau.


"Fikiran lo kelihatannya harus di upgrade, sejak ada Pak Wafi, situ orang mulu yang lo fikiran," Arumi melirik.


"Eh lo tau nggak Arumi, lo tadi digendong, terus bibir lo di dipegang Pak Wafi mau dikasih nafas buatan, jadi lo berhutang budi sama dia, lo jangan terlalu benci sama Pak Wafi." Alona membohongi.


"Apa'an? orang gue masih sadar tadi meskipun nggak sadar banget, masak iya sih, orang itu kayak gitu, iiihh makin geli deh gue."


"Geli geli sedappp," Alona, Ajeng dan Ara bersama-sama.


"Diem," Arumi memeloti mereka bertiga.


"Bibirku diperawani oleh direkturku," kata Alona.


"Benci ini mulai menjadi geli, geli geli sedap euuy," Ara semakin menggoda.


"Apa sih kalian? udah udah, sana kerjain tugas tugas tuh, numpuk."


"Arumi, besok lo disuruh ke ruangan Pak Wafi lagi tapi? tadi gue dikasih tau." Ajeng bernada serius.


"Masak sih? emang mau ada apa lagi?," Arumi percaya.


"Merasakan geli geli sedaap, part dua dong hahahaha," kata Ara menjahili.


"Hihhh, nggak lucu deh." Arumi mengigit bibirnya sendiri, sambil membayangkan jika benar tadi dia hampir di cium atasan nya tersebut.


Tidak berselang lama, jam kantor mulai memperlihatkan waktu pulang karyawan. Saat mengemasi beberapa dokumen ponsel milik Arumi berbunyi.


"Trriiingg.. ting... tingg..."


MAMA MEMANGGIL


"Hallo mah, ada apa?"


"Arumi, nanti jemput mamah diacaranya temen mamah ya.."


"Soalnya mobil papa masuk bengkel jadi papa nggak bisa jemput."


"Ouh gitu, oke..!! ya udah nanti mama share lok aja, ini Arumi udah mau berangkat pulang kok."


"Oke sayang, mama tunggu disini ya. assalamu'alaikum."


"Ya mah, waalaikumsalam."


Sambil berjalan sempoyongan keluar ruangan, di dalam saku baju miliknya, minyak roll on yang aromanya sama dengan ditubuh Arumi ternyata dibawa.


"Loh, ini punya siapa? jangan jangan Pak Wafi." gumam Arumi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2