
Sebelum baca alangkah baiknya ,tinggalkan jejak like
comen favorit 😍
______________________
Dengan langkah tergesa-gesa Sena menuju ruangan CEO Anora ,yang berada di lantai paling atas. Tubuhnya sejak tadi menahan gemetar, bukan hanya pekerjaan yang dipertaruhkan saat ini tapi juga biaya hidupnya untuk tinggal di kota. Sena amat sangat menyayangkan jika harus sampai dipecat dari tempatnya bekerja saat ini.
"Ya tuhan,semoga saja tuan Raga tidak memecat, ku." Sejak tadi Sena terus saja membantin pikirannya sudah melayang memikirkan apa yang akan dilakukan oleh tuan Raga.Bisa saja dia akan menampar Sena atau malah memecatnya mengingat pertemuan terakhirnya yang kurang mengenakan dengan CEO ANORA itu.
Satu lantai lagi,Sena akan sampai tempat yang di tuju.Keringat sudah membanjiri pelipis Sena, baju yang dipakainya pun sedikit basah oleh keringat.
"Dasar orang kaya punya lift saja tidak boleh dipakai.Gini amat ya,rasanya jadi orang miskin," cicit Sena sambil terus berjalan menuju pintu akhir dari ruangan itu.
Sena sudah sampai pada lantai atas,tepat dimana dia saat ini bediri.Sebelum bertemu dengan bos besar Anora grup.Sena memperbaiki kembali penampilannya yang dirasa kurang rapi.
"Semangat Sena, kamu pasti bisa."
Tok .... Tok ... Tok
"Permisi tuan,ini saya Sena." Ujar wanita itu dari luar. Satu menit sudah Sena berada diluar ruangan menunggu sang bos mempersilakan masuk, sejujurnya ia sangat kesal dengan Bosnya itu. Sena pikir lelaki itu memang sengaja membuatnya berdiri lama diluar ruangan.
"Tuh orang budek apa gimana ya,gedek lama-lama disini," gadis itu tidak sadar jika sang bos besar berada tepat dibelakangnya.Lelaki itu menatapnya tajam dengan tangan yang dimasukanya ke dalam saku celana.
"Apa katamu? Kau mengataiku budek?" tanya Anoraga sambil menatap tajam kearah Sena.
"Ti ... Tidak tuan.Mungkin anda salah dengar," ucapnya mencoba membodohi lelaki di depannya .Hampir saja jantungnya lompat mendengar suara menakutkan dari bosnya.
"Apa kau pikir aku tuli,hah? Masuk!" Ucap Anoraga lalu masuk begitu saja kedalam ruangan diikuti Sena dibelakangnya.
" Maafkan saya tuan.Saya tidak bermaksut seperti itu .Anda salah dengar tuan,anda sangat baik dan tampan," Sena mencoba meyakinkan Anoraga dengan kata-katanya.Ia berharap lelaki kadal itu percaya dengan semua ucapannya,walau sejujurnya ia menyesali telah mengucapkan kata-kata itu.
"Tutup mulut bodohmu itu! Kau pikir aku bisa tertipu dengan semua kata manismu.Mendengarnya dari mulut membuat ku ingin muntah. Mulai sekarang kau harus menghafal semua peraturan yang ada di kertas ini sedikit saja kau lalai dalam tugasmu ,bukan hanya gajimu yang hangus.Kau juga tidak akan mendapat pesangon jika ku pecat!"
Skak mati, Sena terdiam membisu setelah mendengar ancaman dari bosnya.
Anoraga melemparkan lembaran kertas yang sudah diatur sedemikian rupa itu kearah Sena.Tentu saja semua peraturan yang ada di dalamnya sangat menguntungkan dirinya.
"Bagaimana mungkin tuan.Tidak mungkin saya bisa menyelesaikan lembaran setebal ini.Dan juga ini terlalu menguntungkan anda," ucap Sena.
" Sudah baca saja tidak usah banyak bicara, kau bicara pun tidak ada gunanya," jawab Anoraga.
Jelas saja gadis itu tidak terima dengan apa yang dibacanya saat ini. Ada 50 poin didalamnya,dari semua poin tidak ada satupun yang menguntungkan dirinya.Semua berkedok perusahaan Anora grub. Dengan cepat Sena membaca poin-poin penting yang tercantum di kertas itu
"Waktumu habis.Cepat kau tanda tangani kertas itu!" Perintah Anoraga.
Anoraga melempar bolpoint merah kearah Sena untung saja gadis itu sigap menangkap sinyal dari bosnya.Jika telat sedikit saja, mungkin keningnya akan benjol akibat ulah kekejaman dari bosnya.Bukan hanya malu yang di dapat sepulang dari ruangan ini tentu saja akan banyak pertanyaan dari teman cerewetnya itu. Dan Sena memilih menghindari itu semua.
Setelah perjanjian telah tertanda tangani,Anoraga tersenyum remeh kearah Sena lalu ia merebut kembali kertas yang semula berada ditangan wanita itu.Lelaki itu hanya memberikan salinanya saja pada wanita di depannya.
__ADS_1
"Buatkan aku kopi,"ucap Anoraga memerintah.
"Baik tuan,saya izin undur diri dulu."
Akhirnya gadis itu bernafas dengan lega,keringat dingin yang semula berada di pelipisnya ia seka kembali menggunakan ujung baju.
......
Setelah keluar dari ruangan CEO, Sena kembali menuju pantry khusus untuk pekerja vip dilantai atas .
Sena membuatkan kopi untuk tuan raga, jika saja tidak mengingat hutang dan kebutuhan keluarganya dikampung halaman tentu saja Sena memilih membuatkanya kopi sianida dan keluar dari kantor tempatnya bekerja. Tapi sayang semuanya adalah kehaluan Sena.
Selesai membuatkan kopi untuk tuan Raga,dengan hati-hati Sena membawanya masuk kedalam ruangan. Sena berharap manusia keji itu menyukai kopi buatannya.
"Permisi tuan,saya mengantarkan kopi pesanan anda," ujar Sena dari luar.
"Masuklah,dan taruh disitu." Tunjuk tuan Raga tepat pada meja disebelah kirinya.
Sena segera,meletakkan kopi yang dibawanya dan berniat ingin keluar.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar apa kau tak membaca poin ke 5 di surat kontrak itu?" tanya Anoraga menatap dingin kearah Sena.
"Tapi tuan, saya kan ..."
"Berdiri disitu!!"
" Baik ,tuan." jawab Sena.
"Dasar manusia gila,tega sekali kau menyiksa anak orang seperti ini.Sampai kapan dia akan menyuruhku tetap berdiri,"batin Sena sambil melirik kearah bosnya .
. .......
Pukul 12 siang.
Semua karyawan lain keluar kantor untuk segera kekantin membeli makan atau sekedar mengistirahatkan tubuhnya dari tumpukan kertas-kertas di meja kerjanya. Tapi tidak untuk Sena,gadis itu masih saja berdiri.
"Kau bodoh atau apa, duduklah kalau kau tidak ingin kakimu patah!"
"Baik,tuan." Jawab Sena lalu segera duduk di sofa ruangan itu.
"Manusia kadal, tidak berperasaan." Batin Sena.
Sejujurnya sejak tadi Anoraga sesekali melirik manusia tidak normal di depanya.Ingin rasanya ia menyuruhnya duduk namun ia terlalu gengsi mengutarakan niatnya.
"Memang benar-benar gadis aneh," batin Anoraga .
Jika terlambat sedikit saja kaki wanita itu sudah pasti tidak dapat lagi menahan ,beban berat tubuhnya.Keram dan kebas itulah yang Sena rasakan.
"Dasar manusia tidak punya hati,tidak peka. Ngomong dari tadi kek,apa susahnya sih.Apa tidak lihat kakiku sampai gemetar," cicit Sena sambil mengurut kedua kakinya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Kamu membicarakan,ku?" tanya Anoraga melirik tajam kearahnya.
"Tidak tuan,saya tidak membicarakan anda."
Lagi dan lagi Kesabaran Sena teruji kembali ,melihat kopi yang ia buat masih saja tidak tersentuh. Lelaki itu memilih melanjutkan kegiatanya .Sena yakin itu adalah akal-akalan lelaki itu.
"Tuan,diminum kopinya nanti dingin,"ucap Sena lirih.
"Siapa yang mengijinkanmu berbicara? Kau ingin merusak gendang telingaku ?"
"Ti-Tidak tuan,bukan begitu.Saya hanya tidak ingin kopi anda terlanjur dingin," sela Sena .
Menyesal sudah,Sena mengingatkan manusia kadal didepanya.
"Lihat saja jika sampai tidak diminumnya,aku benar-benar akan mencampurnya dengan sianida," batin Sena.
"Awas saja jika sampai kopinya,tidak sesuai yang kuminta.Ku pastikan bulan depan kamu tidak gajian."
Anoraga mencoba kopi buatan gadis aneh di depannya. Gadis yang mulai saat ini ia jadikan pesuruh pribadinya.
"Baru kali ini aku merasakan kopi ternikmat,gadis ini boleh juga. Tidak Ga,loe gak boleh terlihat memuji gadis tengil itu. Loe harus buat dia menyesali perbuatannya," batin Raga.
Anoraga sengaja membuat seolah-olah kopi yang ia minum terlihat tidak enak.
"Cuihh, kopi apa yang kamu buat.Rasanya tidak enak terlalu pahit tidak sesuai takaran," ujar Anoraga sembari tersenyum sinis.
"Masa sih tuan,tadi sudah sesuai takaran kok. Saya membuatnya sesuai petunjuk yang tuan berikan," Sena berusaha membela diri tak terima jika dirinya disalahkan .
"Cepat ,buatkan yang baru!"
"Tapi tuan itu kan masih ..."
"Buang!" Perintah Anoraga.
"Baik tuan,akan saya buatkan yang baru."
Gadis itu lantas membawa secangkir kopi itu dengan perasaan dongkol.Jika saja derajatnya lebih tinggi sudah pasti habis lelaki kadal itu ditangan Sena.
Anoraga tersenyum puas,setelah gadis itu keluar dari ruangannya. Sungguh baru kali ini dirinya mendapatkan mainan menarik .
"Ini baru awal gadis selokan,tunggu saja kejutan berikutnya."
.
.
.Bersambung
.
__ADS_1
.
Bersambung