
...Chapter 31. Orc daratan tinggi, Emma....
Dihari 48, aku berkelana bersama Mia dan Gosa.
Kenapa seperti itu?
Karena perhatian Altair teralih pada novel ringan yang telah ku ciptakan dengan mengunakan Transmutasi disertai kemampuan baru ku yakni ...
Drawing.
Kemampuan yang kudapatkan dari manusia yang mati di Goa sarang Goblin Shaman dan aku pun menyantapnya.
Selain Skill Drawing, aku juga mendapatkan ...
Earth Manipulation.
Dan, Wind Manipulation dari Goblin Shaman.
Namun, aku tidak bisa naik level lagi.
Lalu, kami pun saat ini sedang berada di sebuah perbukitan tandus. Jika tidak memiliki dimensi ruang.
Mungkin, kami sudah mati.
Beberapa saat kemudian, kami pun mendengar suara wanita dari kejauhan.
"Siapa pun ... Tolong aku ..."
Mendengar itu, kami sontak menghentikan langkah dan aku pun mencari sumber suara.
"Ketua, ada apa?" tanya Mia.
"Apakah kalian mendengar suara?" tanya ku seraya melihat sekitar.
Namun, aku tidak menemukan nya. Lalu, aku pun menutup mata dan mengunakan skill Echolocation untuk mencari sumber suara.
"Siapa pun ... tolong aku!"
Lalu, aku pun melihat ada Orc betina kecil yang sedang disergap oleh serigala besar berkepala dua.
"Ketemu!"
Lalu, aku pun membuka mata dan melihat kearah Gosa dan Mia.
"Gosa, Mia! Aku akan pergi duluan!"
"Baik, Ketua!" jawab serempak Mia dan Gosa.
Lalu, aku pun menutup mata kembali dan mengunakan Echolocation lagi kearah gadis Orc yang sedang disergap. Setelah itu ...
"Teleport."
Dalam sekejap, aku berada didepan gadis Orc dan hadapan serigala berkepala dua. Kehadiran ku yang tiba-tiba membuat mereka terkejut.
Lalu, aku menoleh kearah gadis Orc.
"Dengan senang hati," ucap ku dengan gadis Orc.
Gadis Orc itu mengerutkan keningnya dan terheran melihat ku.
"Goblin? Bisa berbicara?"
Serigala berkepala dua itu pun berbicara kepada ku, "Siapa kamu ini?!"
Mendengar itu, aku menyadari bahwa Aku bisa berkomunikasi dengan monster bertipe serigala dan monster buas lainnya.
Beast Language.
Sesaat bertanya seperti itu, serigala berkepala dua sontak menyerang ku. Tapi, aku mengunakan teknik baru.
"Dimension Move."
Sebuah teknik berpindah ruang jarak dekat dan aku pun berpindah ke atas nya.
__ADS_1
"Halo, salam kenal. Aku Goblin, Key."
Jawab ku seraya mengayunkan pedang yang kuambil dari sihir penyimpanan dan ...
"Fox Slash."
Sebuah teknik buatan yang dimana teknik berbentuk tebasan udara wujud musang dan mencincang serigala berkepala dua tersebut.
Dan, pertarungan pun dimenangkan dengan mudah.
Setelah itu, aku merapalkan unique skill ...
"Gluttony."
Sebuah asap hitam keluar dari tangan nya dan menutup jasad serigala berkepala dua.
Setelah terbungkus sempurna, asap hitam tersedot kembali kedalam tubuhku.
Gadis Orc yang melihat pertarungan itu, dia sontak takut hingga gemetaran dan terduduk.
Lalu, saat aku melihat kearah nya. Gadis Orc itu semakin ketakutan.
Hal itu sebenarnya wajar yang mana Goblin dan Orc merupakan musuh bebuyutan namun, tidak dengan ku.
Sejak kejadian itu, aku memutuskan sesuatu ...
Seusai memindahkan semua penduduk desa Goblin yang berisikan Goblin, manusia, Kobolt dan Direwolf. Altair bertanya sesuatu kepada ku.
"Tuan, aku ingin bertanya kepada mu?"
"Bertanya apa?"
"Tuan mengumpulkan mereka untuk apa kah? Apakah untuk menjadi raja iblis?"
Pertanyaan itu, membuat ku terkejut dan sontak mengelak nya.
"Tidak. Tidak. Aku hanya ingin membuat tempat yang damai dan nyaman terutama untuk para saudara ku juga sebuah tempat yang dimana seluruh ras bisa berbagi senyuman."
"Keinginan Tuan sungguh-sungguh sulit bahkan mendekati mustahil meski begitu, aku akan tetap membantu, Tuan."
"Terimakasih, Altair," jawab ku yang juga tersenyum kecil.
Lalu, aku pun mengembalikan kesadaran kepada Gadis Orc yang ingin mengendap-endap pergi.
"Tunggu!"
Mendengar seruan ku, dia pun terkejut dan melihat kearah ku.
"Eh? Iya."
"Kamu baik-baik saja?"
Gadis Orc itu pun mengerutkan keningnya.
"Kenapa Goblin bisa bicara padaku?"
Aku pun tersenyum kecil, "Tidak perlu cemas. Aku Goblin yang baik dan kebetulan lewat saja."
Mendengar itu, gadis Orc itu menatap ku aneh dan melirik kearah serigala berkepala dua.
"Seperti nya tidak ..."
"Bukan kah yang penting itu aku sudah menyelamatkan mu dengan kata lain, aku ada dipihakmu," ucap bangga ku.
"Iya, saya mengerti. Maaf ketidaksopanan saya."
"Jadi, apakah kamu tahu desa Goblin didekat sini?"
"Di sekitar sini tidak ada desa Goblin ataupun sarang Goblin karena seperti yang anda lihat sendiri. Tempat ini merupakan gurun tandus."
Mendengar itu, aku pun menghela nafas lantaran informasi sama seperti para Slime dan Echolocation bahwa aku tidak menemukan sarang atau desa Goblin dan seperti nya aku memang tersesat.
"A-Aku Orc daratan tinggi, Emma."
__ADS_1
"Aku Key, salam kenal. Apakah desa mu ada disekitar sini? Atau kah camp?"
Mendengar pertanyaan ku, Emma pun menurunkan ekpresi nya.
"Tidak. Aku ... Sedang dalam perjalanan menuju Gunung Ilahi untuk menyerah diriku sebagai tumbal kepada Sang Naga Agung, Altair."
Mendengar itu, aku langsung terikat akan Altair yang sedang sibuk membaca komik di ruangan.
"Ahh, altair kah ..." gumam pelan ku.
"Beberapa tahun terakhir, desaku diselimuti kabut tebal dan membuat tanaman berhenti berproduksi. Dengan menawari tumbal maka kabut bisa mengurangi kabut."
"Jadi, sekarang giliran mu?"
"Didepan sana ada tempat untuk menyucikan diri sebagai imbalan telah menyelamatkan ku dari serigala berkepala dua. Jadi, Aku pergi dahulu."
Seusai mengatakan itu, Emma pun pergi meninggalkan tapi aku merasa iba kepada nya karena itu sudah dipastikan sebuah kebohongan. Meski dia Orc, aku harus menolong nya dan mengungkapkan kebenaran nya.
"Emma, Tunggu!"
Emma sontak menghentikan langkah dan menoleh kearah ku dengan berlahan.
"Iya, ada apa?"
"Aku akan membantu mu."
"Eh?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Extra Chapter:
Nama nya Tia, dia seorang gadis desa yang cantik dan berbakat. Ayah nya seorang pandai besi. Lalu, dia pun belajar pandai besi dari kecil namun, akibat peperangan dia menjadi yatim piatu.
Sesaat Tia melihat kemampuan Transmutasi milik Tuan nya, Key. Dia pun merasa rendah. Kemampuan dan bakat nya yang diasah dari kecil sudah menjadi sangat rendah dimata Key.
Key pun menyadari itu. Maka, dia pun menghampiri Tia sesaat dia melamun didepan perapian.
"Tia ..."
Mendengar itu, Tia sontak mengembalikan lamunan nya dan melihat kearah Key.
"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Tia seraya membungkukkan badannya.
"Tia, apakah kamu ingin aku wariskan skill Transmutasi?"
Tia yang terkejut tanpa sadar dia mengembalikan posisi badannya.
"Apa maksud, Tuan?"
"Aku ingin kamu lebih kuat karena bakat dan keahlian mu akan menguntungkan untuk desa kabut ini maka, aku akan memberikan skill Transmutasi."
Saat Key menawarkan sebuah kemampuan yang luar biasa, Tia pun berpikir bahwa itu akan ada bayaran nya.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"
"Jadi lah Harem ku dan hanya dengan aku berstubuh dengan mu kemampuan ku bisa kubagi."
Mendengar itu, Tia pun mengalami dilema yang besar hingga membuat nya meremas rok nya dengan kuat.
Tia yang prawan, apakah harus diberikan kepada seorang Goblin?
Namun, keadaan nya yang sekarang jika tidak ada bantuan Key mungkin dia sudah diprkosa Goblin jahat dan dimakan monster buas.
Maka dari itu, Tia pun menjawab nya.
"Baik, Tuan. Aku serahkan tubuh ini untuk anda."
Dan, pada malam itu juga. Key menjamah Tia dan mengunakan skill metastasis nya untuk memberikan skill Transmutasi.
Sejak saat itu, Tia mampu membuat, memperbaiki dan meningkatkan senjata dalam sekejap serta Tia bertekad untuk mengabdikan diri kepada Key seutuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1