
"Ya gak boleh ! Dia kan tua !"
Aku menyipitkan mataku sembari menatap mata Ciko intens. "Lo cemburu ?"
"Gak !" Ciko berkilah.
"Terus kenapa ,kalo kak Bagas suka sama gue ?" tanyaku lagi memperjelas.
"Ya...gue ,gue cuma takutnya lo gak suka kak Bagas dan malah risih,gitu. "
"Kata siapa,gue gak suka ?" Ciko nampak terkejut dengan perkataan ku barusan dan dia langsung berpindah tempat duduk di sebelah ku.
Ciko menempelkan punggung tangannya kening ku dan berkata," Kila...lo sakit ?"
Ku turunkan tangan Ciko. "Gue sehat,kok. Kenapa ?"
"Lo beneran suka sama om-om ?"
"Heh ! Mulut lo! Enak aja,ngomong kayak gitu !"
"Yah...fakta kali ,La. "
"Kak Bagas itu masih muda. Orang sepantaran kak Izam,kok. Malah ,ya , katanya kak Bagas itu sebenernya cuma selisih dua tahun,sama gue. "
"Loh,kok, bisa ?"
"Iya ,dia loncat kelas saking pinter-nya." Raut wajah Ciko nampak tak percaya. Tapi memang benar seperti itu,adanya! Kak Bagas sendiri yang menceritakan itu semua. Kadang- kadang,kak Bagas malah menyuruh ku memanggil namanya saja. Tetap saja aku tak enak.
"Oh...tapi Kila,lo tetep gak boleh suka,ke dia!"
"Kenapa,sih? "
"Ya...nanti kalo lo jadian,gue gak ada sahabat lagi !"
"Kan gue gak akan lupa in lo ,Ciko. "
"Tau,ah...Ciko ngambek ! Mending beli ciki aja-lah ! Males,sama Kila !" Bagaimana,ya,cara mendeskripsikan ekspresi Ciko saat ini ? Lucu sekali ,sumpah ! Ciko...Ciko...bilang saja dia mencari alasan agar ku ijin kan makan ciki. Terhitung,sudah dua bulan terakhir ini,Ciko tak pernah mengkonsumsi yang namanya 'ciki' di sekolah. Entah jika di rumah kalau - kalau dia nekat makan ciki meskipun sudah di larang.
Ciko menjalankan ucapannya barusan,dan kembali ke tempat duduk dengan menenteng dua kantong kresek berukuran sedang.
Aku terbelalak kaget dan berkata ," Ciko ,lo gila ?! "
"Engga ! Ini buat ganti-nya karena lo ngeselin !"
__ADS_1
Ku ambil kedua keresek tersebut dari tangan Ciko. "Gak...gak...gue gak akan biarin lo makan semua ini !"
"Tapi,Kila...gue udah abis-in uang jajan gue selama dua hari buat beli itu semua loh...."
"Gak peduli ! Siapa suruh jajan gak sehat gitu?!" Ciko menyerah dan tertunduk lesu. Sudahlah...selalu saja ini di jadikan senjata. Tak tahukah dia ,aku merasa iba jika Ciko sudah mulai begitu ?
"Oke, fine ! Lo boleh makan ciki." Ciko tersenyum penuh kemenangan. "Tapi syarat-nya adalah,ini ciki gue taruh di loker gue,dan akan gue kasih sehari satu buat lo," lanjut ku.
"Kila ih,masa cuma satu ?" Ciko menatapku seakan tak percaya.
"Apa ? Mau bantah ? Ok ,boleh,kok. Tapi jangan berharap ciki- nya gue balikin,ya ?"
"Oke-oke...satu per hari ,loh, ya ?"
"Hmmm."
...----------------...
"Kila...udah tidur ?" panggil kak Izam dari balik pintu kamarku. Aku yang tadinya sedang mengerjakan latihan soal di meja belajarku ,kini berjalan ke arah pintu.
"Kenapa,Kak ?"
"Itu...kamu di cari Bagas." Hah ? Kak Bagas ? Apa aku mimpi ?
"Gak tau,tadi katanya pengen ketemu gitu." Aku mengangguk sambil ber-oh ria.
Ku tutup pintu kamarku ,dan membuntuti kak Izam dari belakang. Jika di novel- novel rumah sang tokoh utama tingkat dan mewah ,lain halnya denganku yang memiliki rumah sederhana beraksen kuno ini. Ya ! Rumahku memang terkesan kuno ! Tapi aku bingung dengan kak Queensa yang sangat senang berada disini. Katanya,rumah ini sangatlah nyaman dan tenang.
Saat aku sampai di ruang tamu,benar saja ada kak Bagas ,disana.
"Kak ?" panggil ku. Kak Izam sudah kembali ke kamarnya untuk melanjutkan mengerjakan tugas.
"Kila...sini," pintanya agar aku duduk di sebelahnya. Jarak kami tak terlalu jauh,yang membuatku dapat dengan jelas melihat ada yang aneh di wajah kak Bagas. Satu kata yang terlintas dalam pikiranku saat ini. Luka lebam. Pasti bertengkar !
"Kak Bagas mukanya kenapa ?"
"Oh,ini ? Tadi habis by one sama temen pas di kelab. "
"Kak Bagas masih mabuk- mabukan ya ?" Kenapa ? Terkejut aku mengetahui nya ? Kuharap tidak ! Kebiasaan buruk kak Bagas ini sudah lama ku ketahui. Kak Bagas yang senang sekali keluar masuk kelab,kak Bagas yang sering balapan liar,kak Bagas yang tak suka dikekang,kak Bagas yang cinta dunia tawuran,dan kak Bagas yang benci orangtuanya.
"Dikit doang ,kok, La."
"Tapi sama aja Kak ! Sama - sama mabuk. Kakak tau,gak , kalo kakak kayak gitu terus,bisa ngerusak tubuh kakak. " Kak Bagas malah tertawa mendengar ucapanku barusan. Memangnya lucu ? Aku serius loh ,ini ! Aku serius tak menyukai kak Bagas yang terus- terus an menggeluti dunia malam.
__ADS_1
"Cerewet banget,La. Obatin,dong, sakit nih...," ujar kak Bagas memelas.
Ku ambil kotak obat yang biasa di taruh pada lemari di bawah TV.
"Makanya...gak usah sok jagoan !" ucap ku seraya menempelkan kapas yang telah ku lumuri betadine ke pipi sebelah kanan kak Bagas.
"Aw...pelan-pelan ! "
"Ih...lemah ! Kayak gini kok sok- sok an mau ikut berantem- berantem gitu. "
"Duh...Kila. Niat gak sih,obatin-nya ?" Ku hentikan sejenak mengobati kak Bagas dan menatap nya.
"Kak Bagas,mau nurutin satu perintah aku,gak ?"
"Apa sih ,yang engga buat Kila ?"
"Kak Bagas berhenti deh,ke kelab tiap malem. Berhenti ikut tawuran gak jelas gitu. Berhenti ikut geng yang cuma bisa merusak Kak Bagas. Dan berhenti benci sama orang tua kakak," ucap ku serius kali ini.
Kak Bagas nampak menghela napas panjang dan balik menatap ku. " Oke, aku tirutin semua kata - kata kamu,Kila. Tapi maaf,untuk permintaan kamu yang terakhir aku belum sanggup. "
"Iya ,Kak ,Kila paham. Tapi bukan berarti gak usaha sama sekali,loh ,ya ?"
"Bantuin dong...."
"Iya ,nanti Kila ajarin. Sekarang Mending Kak Bagas pulang dan tidur. Istirahat ,Kak. Aku tahu, kakak pasti capek. "
"Males pulang aku. "
"Yaudah,nginep sini aja,Gas. " Itu suara kak Izam yang tiba- tiba keluar dari kamarnya.
"Gapapa ,nih, gue nginep lagi?"
"Kayak sama siapa aja,lo !" Kak Izam terkekeh menanggapi jawaban kak Bagas.
"Kila,lanjutin lah...yang ngobatin," rengek kak Bagas padaku.
"Manja banget sama adek gue. Kenapa gak minta gue aja yang ngobatin ?"
"Males ! Sama lo ntar malah tambah- tambah sakitnya. "
Selesai sudah Aku mengobati kak Bagas,dan aku pergi melangkah menuju kamarku.
"Kila !" panggil kak Bagas. Dan aku berbalik.
__ADS_1
"Itu...temenin ke dapur, dong." What?! Ada - ada saja, kak Bagas ini. Aku yakin , dia bukannya tak enak masuk- masuk dapur ku. Hanya saja kak Bagas ini memang lah seorang penakut. Gayanya aja sok berani ! Aslinya mental bubur !