KAKAK OSIS

KAKAK OSIS
AH SIAL !


__ADS_3


" Ayah! Vela kangen sama ayah," ucap Vela sambil menangis tersedu sedu.


" Jangan nagis nak, ayah selalu ada buat Vela,"


" Ayah bohong ayah ninggalin Vela, maafin Vela ayah," tangis Vela semakin keras saja.


" Vela jagain kak Vano sama mama ya, jadi kebanggan ayah terus," ucap lelaki itu yang tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Vela yang tengah terisak, kemudian lelaki paruh baya itu menghilang di balik cahaya terang."


***


" Vela sayang.... Ayo bangun," ucap Winda ibu Vela, yang datang memnghampiri anak gadisnya yang masih tertidur.


" Ma! Tadi Vela mimpiin ayah, huaa," ucap Vela saat terbangun dan langsung menangis tersedu sambil memeluk tubuh mamanya.


" Vela jangan nangis, Vela nggak mau kan ayah sedih disana kalo ngeliat Vela nangis? Lagi pula disini masih ada mama sama kak Vano yang sayang sama Vela," ucap Winda menenangkan anak bungsunya itu.


Vela mengusap air matanya kasar, seolah tegar dengan apa yang telah terjadi 8 bulan yang lalu.


" Vela kuat kok ma! Ayah disana jagaain Vela, mama sama Kak Vano, " ucap Vela sambil menengadah ke atas penuh harap.


" Udah jangan nangis lagi ya, nanti cantiknya ilang loh," ucap mamanya sambil mencubit hidung milik Vela.


Vela hanya membalas dengan anggukannya.


" Udah cepetan siap siap! mama mau nyiapin sarapan dulu," ucap Winda yang beranjak dari tempat tidur Vela.


" Oh ya nanti kamu diantar jemput sama kak Vano, mama ada meeting di perusahaan pagi dan siang nanti," lanjut Winda saat sampai di amabang pintu kamar Vela.


" Iya mama," sahut Vela singkat.


Memang selama kepergian Ayahnya Vela, semua urusan perusahaan menjadi tanggung jawab Winda, mama dari dua orang anak bernama Vela dan Vano.


Tapi Winda merupakan sosok pekerja keras sehingga jarang memiliki waktu dengan anak anaknya. Bukan maksudnya menghilang dari tanggung jawab sebagai ibu, tapi ia harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua buah hatinya.


Vano yang tengah menempuh kuliah itu sudah mengerti betul keadaan dari mamanya.Begitu pula dengan adiknya Vela yang selalu merasa kasihan kepada mamanya, karena harus pergi pagi pulang malam setiap hari kecuali hari Minggu. Karena hari Minggu adalah tugas Vano untuk mengawasi perusahaan.


Ya itung itung buat persiapan belajar mengelola bisnis perusahaan, ia juga ingin membantu meringankan beban mamanya.


" Vela ayo turun! Sarapannya sudah siap," teriak Winda, yang tengah mengoleskan selai nanas kesukaan Vela di atas roti tawar lembut itu.


" Ya maa... " sahut Vela sambil menuruni tangga.


Vela, Vano dan mamanya pun sarapan bersama untuk mengawali pagi mereka. Setelah meneguk segelas susu Vela lalu beranjak dari meja makan.


" Ayo kak, nanti Vela telat," ucap Vela penuh semangat.


" Ya sabar dik," sahut Stevano Wijaya yang sedang membersihkan bibirnya dengan tisu, kemudian melihat jam tangan miliknya yang menunjukan pukul 06.28, lalu ia segera bangkit dan berjalan ke luar menuju garasi.

__ADS_1


Tin tin...


" Yok dik, kakak udah siap ni, jangan lupa pamitan sama mama," teriak pria tampan berpakaian biru navy itu.


" Mama, Vela sama kak Vano berangkat dulu ya," ucap Vela sambil mencium punggung tangan milik Winda Wijaya itu.


" Iya nak hati hati dijalan, jalan lupa suruh kakak mu buat jemput kamu nanti siang," sahut mama Vela.


" Iya maa," ucap Vela menjauh sambil melambaikan tangannya kearah Winda.


Kemudian ia masuk ke sebuah mobil sport berwarna hitam legam. Mobil pun melaju lalu sekali lagi ia melambai ke arah Winda mama kesayangannya itu.


Winda hanya tersenyum melihat tingkah ajaib putrinya yang sudah duduk di kelas 11 SMA itu.


***


Tak gendong kemana mana, tak gendong kemana, anak tau mantap tau dari pada naik pesawat kedinginnan....


" Kak boleh ganti lagunya ya? Vela gak suka," kata Vela cemberut mendengar lagu tersebut.


" Iss apaan sih, ni lagu musik legend tau! Kamu mana ngerti," ucap Vano sedikit kesal. Vela pun hanya bisa mendengus melihat tingkah kakaknya.


" Idih, adik kakak ngambek, hahaha," tawa Vano puas. Ia memang sangat senang menjahili adiknya itu.


Duarr...


Dengan tiba tiba Vano mengerem mobilnya saat terdengar suara ledakan yang cukup keras. Badan keduanya pun sedikit tersentak ke depan.


" Nggak tau dik, cobak kakak cek dulu," sahut Vano yang kebingungan. Lalu ia kemudian membuka pintu untuk memeriksa ada apa dengan mobil sportnya itu.


" Sialan!" umpat Vano.


" Kenapa kak?" tanya Vela melihat keluar jendela.


" Ban mobilnya pecah dik, lo bisa nunggu 35 menit lagi gak?" tanya Vano sambil memcoba mencabut paku yang menusuk ban mobilnya.


Vela pun terdiam, sepertinya ia berpikir waktu 35 menit itu akan membuatnya telat pergi ke sekolah.


" Gini aja kak, Vela jalan kaki ke sekolah ya? Jugaan sekolah Vela deket tinggal 300 meter dari sini," ucapnya kepada kakaknya, lalu ia membuka pintu untuk keluar dari mobil.


" Aduh dik, gimana kalo kakak pesenin ojol aja deh," tawar Vano.


" Ngak usah kak, Vela jalan aja nggakpapa kan?" tanya Vela sambil mengeluarkan wajah memelas.


Vano yang melihat hal tersebut pun hanya meng'iya'kan keinginan adiknya itu. Dan hanya bisa pasrah saat melihat tingkah memelasnya yang diluar kebiasaan. Amazing!


" Ya deh, tapi hati hati ya! Lo liat liat kalo jalan," peringat dari Vano kepada adiknya itu.


" Iya kak, oh ya nanti jangan lupa jemput Vela ya soalnya mama ada meeting, " ucap Vela mengingatkan.

__ADS_1


" Oke sip deh! " sahut Vano seadanya.


" Vela berangkat ya kak," ucap Vela sambil mengulas senyum diwajahnya


lalu kemudian berjalan meninggalkan kakaknya yang tengah mengotak atik ponsel, sepertinya ia akan menghubungi seseorang, mungkin saja bengkel.


Vela melebarkan langkahnya, sudah hampir 200 meter ia berjalan. Ia tidak pernah tahu, bahwa ia sudah telat atau belum, yang ia pikir sekarang bagaimana caranya agar cepat sampai di sekolah. Vela dengan tergesa gesa menyebrang jalan dan.....


Tinnnn....


Suara bel sepeda.


Sontak Vela kaget dan mengurungkan niatnya menyebrang. Lalu laki laki yang mengendarai moge tersebut memberhentikan motornya. Vela yang ketakutan hanya diam menunduk.


" Lo kalo nyebrang hati hati dong! " bentak laki laki itu sambil mencoba melepas helm yang dipakainya. Vela masih tertunduk memainkan jarinya.


" Ma-ma-maaf" sahut Vela terbata bata.


" Lo Vela kan?" ucap laki laki itu.


Vela yang mendengar namanya disebut kemudian melirik sekilas dan ia terkejut bahwa laki laki itu adalah Derent.


" Kok lo bisa ada disini? Lo jalan kaki? " tanya Derent dengan suara yang lebih direndahkan.


" I-iya kak, ta-ta-di mobil kakak Vela bannya me-meledak," ucap Vela masih terbata bata.


" Ohh gitu. Eh maafin gue tadi bentak lo, jangan takut gitu deh! Sebagai permintaan maaf yuk ikut gue aja bareng ke sekolah," tawar Derent.


" Eng-ng-gak usah kak," jawab Vela cepat.


" Udah nggakpapa kok, dari pada lo jalan nanti telat deh," jawab Derent.


" Yuk buruan naik! " titah Derent kepada Vela yang masih menunduk.


Vela hanya mengangguk kemudian ia naik ke motor merah milik Derent.


" Pegangan yang erat ya! Soalnya lo gak pakek helm," titah Derent sambil menarik tanggan Vela agar melingkar di pinggangnya.


Vela yang ketakutan pun hanya bisa pasrah, kini telapak tangan dan kaki Vela pun mulai basah dan dingin. Motor Derent kemudian melaju dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan Vela berpikir seperti apa nanti reaksi para siswa yang melihat mereka berdua saat samapi di sekolah.


WADUH ! gumamnya.


...Kalo kalian diajak boncengan sama kakak ganteng mau gak sih?...


...Kalo author sih mau banget >o< apalagi cogan yang ngajak aduhayy, uwu....


...Gimana cerita hari ini? Kalo liat tanda bintang tekan ya terus tekan juga kolom kementar....

__ADS_1


...TERIMAKASI :)...


__ADS_2