KAKAK OSIS

KAKAK OSIS
SUPPORT


__ADS_3

Ni lanjutan cerita aku!


Kuy dibaca dulu semoga kalian suka.


Follow : @ptevinataa dan @travirissa ( ig )



"Nggak selamanya seseorang akan down, ada kalanya ia juga akan bahagia dengan orang orang yang paling ia cintai, reda hujan timbulah penlangi" - salam penulis.


***


Suasana ricuh setelah barisan pagi ini dibubarkan, terlihat para siswa bergegas memasuki ruang kelas mereka masing-masing.


Termasuk juga Genk Macan, Vela dan Sifa, sungguh sangat kebetulan yang memuakan 1 kelas dengan si Gank Macan.


" Aduhh..." rintih Vela karena merasa kakinya tersandung.


" Eh lo kalo jalan liat liat dong!" teriak Clara, sontak seisi kelas memandangi hal apa yang terjadi lagi diantara mereka.


Ini merupakan pemandangan yang lazim bagi teman teman mereka. Ya bagaimana tidak, pasti si Gank Macan berulah lagi pagi ini.


" Ma-maaf Clara, tadi kan kakinya Clara yang nyandung kaki Vela," ucap Vela dengan nada pelan.


" Nih anak nggak ngerti ngerti juga, jangan panggil gue Clara! Panggil gue Princes Clara! You understand?" kata Clara dengan nada ditekankan.


" Iya Princes Clara," sahut Vela lalu menunduk.


" Noh sono pergi dari hadapan gua! Ganggu suasa pagi aja nih bocah ingusan!" gertak Clara, sedangkan teman duduknya si Vian merasa puas melihat keadaan Vela.


Vela hanya mengangguk dan pergi ke tempat duduknya.


" Kamu nggak apa apakan?" tanya Sifa.


" Emm nggak apa apa?" ucap Vela memaksakan diri untuk tersenyum. Sedangkan Sifa hanya mengangguk memahami.


Terdengar langkah kaki menuju kelas, semua siswa berhamburan mencari tempat duduknya masing masing.


" Selamat pagi anak anak! " seru bu Tia sang guru kimia.


" SELAMAT PAGI BU!! "


" Okey... Hari ini saya akan mengadakan ulangan! " kata guru kimia itu.


Sontak seisi kelas menjadi ricuh karena menghadapi ulangan dadakan, siapa cobak yang nggak kesel dikasi ulangan dadakan.


" Eitss... Kenapa ribut? "


Seketika semua terdiam.


" Peraturannya kalo ada siswa yang ketahuan mencontek, ibu akan potong nilainya, dan akan ibu suruh keluar kelas menuju lapangan upacara untuk hormat tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi!" kata Bu Tia tegas.


" Waktu mengerjakan soal 30 menit dengan 5 buah soal essay. Bagaimana anak anak, mengerti?" tanya Bu Tia memastikan.


" MENGERTI BU!!!" sahut para siswanya kompak.

__ADS_1


Bu Tia pun mulai membagikan lembar kerja kepada setiap siswa dan para siswa sudah tampak mulai mengerjakan soal soal kimia yang amat sulit tersebut.


12 menit berlalu....


Tiba tiba sebuah kertas yang dikepal membulat, mendarat tepat di meja Vela. Vela yang heran dengan santainya membuka kertas tersebut.


" BU TIA, VELA NYONTEK!" teriak Clara dengan keras, seketika semua mata menuju ke arah Vela.


" Apa benar Vela?" tanya Bu Tia dengan tatapan tajam menohok kepada Vela.


" Enggak Bu! Tadi ada yang melempar kertas ini dari bangku depan, " sahut Vela jujur.


" Bohong bu! Buktinya kertas itu ada di tangan Vela, tadi nggak sengaja saya denger Vela sama Sifa, bisik bisik ke Vian minta contekan bu! Kalo nggak percaya cek aja tulisannya bu! " tutur Clara panjang lebar.


" Loh kok jadi bawa bawa nama gua?" tanya Vian tak terima.


" Usstt diem loh!" sahut Clara cepat.


Bu Tia pun melangkah ke bangku Vela dan mengambil kertas berisi jawaban tersebut, lalu ia mencocokannya dengan tulisan milik Vian dan ternyata....


Pas sama!


Sebenarnga Clara sudah mensiasati hal ini, ia meminta Vian agar menyalin jawabannya ke kertas. Tapi kertas itu malah ia lempar ke Vela, dan menuduh Vian, Vela dan Sifa mencontek.


Menurut Clara ini merupakan kesenangan tersendiri, ia tak peduli temannya Vian harus ikut menderita. Teman jadi jadi korban asal ia bahagia.


" Untuk kalian bertiga Vian, Vela dan Sifa, keluar! Hormat tiang bendera sampai bel istirahat berbunyi, LJK nya taruh dimeja saja!" teriak tegas dari Bu Tia.


" Tapi bu.., " nampak pembelaan dari Vian.


Teman teman sekelas lainnya tidak bisa berbuat apa apa. Clara kemudian tersenyum puas saat mereka diusir dari kelas, ia merasa dirinya sungguh cerdik dalam mengakali seseorang. Apalagi yang dihukum adalah Vela dan Sifa sungguh hqq kejahatan Clara ini.


" Anak anak silahkan lanjutkan mengerjakan soalnya, ingat jangan mencontek! Ingat juga waktunya masih banyak jangan terburu buru, ibu ingin supaya hasil nilai kalian bagus!" tutur panjang guru yang tengah berdiri itu.


***


Vela, Vian dan Sifa menuruni tangga untuk menuju lapamgan upacara. Mereka berbaris lalu hormat kepada bendera merah putih.


Suasana hari ini begitu panas, melihat hari yang begitu cerah tersebut dan matahari yang sudah menampakan dirinya. Menbuat keringat menetes dipelipis mereka.


" Dasar lo Clara! Udah untung gua sering bantuin lo malah lo giniin gua? Gak punya otak kali ya?" celetoh Vian yang nampak begitu kesal.


Vela dan Sifa hanya meliriknya sesaat. Dan kembali kepada tugas untuk hormat ke tiang bendera.


Tak lama, Vian terlihat memegangi kepalanya. Bibirnya nampak memutih dan wajahnya juga nampak pucat pasi, sepertinya dia kelelahan.


" Vian, kamu gakpapa?" tanya Vela prihatin.


" Ngak ngak gua gak apa apa! " jawab Vian sedikit membentak.


" Emm nih ambil obat Vela!" suruh Vela sambil mengeluarkan sebuah tablet merah dari saku bajunya.


" Ini apa?" tanya Vian.


" Ini obat anemia Vela, minum ya keliatannya Vian juga anemia ya?"

__ADS_1


" Hemm iya...gua punya riwayat anemia juga, makasih ya," jawab Vian dengan sedikit tersenyum.


" Tadi pasti kamu lupa minum obat? Sudah ku duga, " kata Sifa sok meramal saja.


" Iya," jawab Vian setelah menelan kapsul anemia yang diberi Vela. Lalu mereka kembali menatap bendera dengan posisi hormat.


" Kok lo masih baik sih sama gua? Padahal gua sering jahatin lo," tanya Vian heran.


" Kata ayah Vela, kita harus berbuat baik kepada siapa saja. Soalnya perbuatan baik akan kembali kepada kita, hanya saja di waktu yang berbeda," jawab Vela sambil tersenyum tipis.


" Pasti bokap sama nyokap lo bangga punya anak kayak lo ya?" tanya Vian takjub.


" Hem, Mungkin," jawab Vela menunduk karena ia mengingat Ayahnya.


"Btw nama bokap lo siapa? Mungkin aja bokap gua juga tau dan bisa diajak mitra bisnisnya," tanya Vela sekali lagi dengan antusiasnya.


" Nama ayah Vela... Antonia Wijaya," jawab Vela lirih, ia mulai menelan ludahnya dengan susah payah.


" Loh jadi lo anak Om Anton, OMG... Udah lama banget gua nggak denger kabar dari Om Anton, apa Om Anton pindah ke Jakarta? Titip salam sama ayah lo ya! " seru Vian terkejut karena ia mengenal Ayahnya Vela.


" Kenapa lo nangis Vela?" tanya Vian mulai merasa ada yang aneh.


" Vian...Om Anton udah meninggal 8 bulan yang lalu karena kecelakan mobil," ucap Sifa lirih.


" M-ma-maafin gu-gua Vela, " suara Vian mulai terdengar sedikit kaku karena merasa tak enak dengan Vela.


" Gak apa apa Vian, Vela tegar kok," kata Vela sambil mengelap kasar air matanya dan menunjukan senyum getirnya kepada Vian.


" Sabar ya Vela, gua janji gua gak akan ganggu lo lagi," ucap Vian sambil mengangkat jari kelingkingnya kemudian disambut hangat dengan jari kelingking milik Vela. Sekali lagi Vela hanya tersenyum paksa, mengingat kesedihannya itu.


" Semoga Om Anton tenang disana ya, maafin aku Om Anton karena udah ganggu anak Om," kata Vian sambil menengadah ke langit, lalu ia memeluk Vela dengan erat.


Sifa pun ikut memeluk Vela dan Vian agar Vela tak merasa sedih lagi. Perhalan air mata menetes di pipi mereka membuat suasana menjadi haru biru. Kemudian bel istirahat berbunyi, dan mereka melepaskan pelukan itu.


Lalu mereka semua menuju ke kantin sekolah, hendak mencicipi makanan yang dibuat Bi Maimunah pagi ini.


Sejak saat kejadian itu Vian lebih sering bersama Vela dan hal itu membuat Clara memjadi iri dan semakin kesal dengan Vela, entah apa salah Vela padanya.


Clara pun sejak saat itu mencoba mencari Gank baru tapi tak seorang pun yang mau dengannya yang hanya mementingkan diri sendiri.


Sementara Vela akhir akhir ini banyak mendapat dukungan dari teman teman bahkan guru karena ia merupakan siswa yang cerdas juga baik hati.


Bulan depan juga merupakan hari istimewa sekaligus membanggakan, karena Vela akan mengikuti lomba olimpiade fisika. Mendengar hal itu Vian dan Sifa pun juga merasa bangga kepada Vela.


...°...


...°...


...°...


...Gimana kali ini ceritanya readers? Bagus nggak?...


...Jangan lupa ya follow akun author!...


...Kalau lihat tanda bintang pencet aja nggak usah malu malu, mau baku hantam dan cekcoklisnya bisa di kolom komentar !...

__ADS_1


...MAKASIH :)...


__ADS_2