
" Oke deh, pengangan yang erat ya, gua mau ngebut!" teriak Derent sambil melajukan motornya, dengan cepat Vela memegang pinggang lelaki tanpam bernama Derent itu.
Vela tidak mau terhempas di bawa angin mengingat tubuhnya yang tak berisi itu. Sebenarnya Derent hanya bercanda bahwa ia akan ngebut, tapi namanya juga nyari kesempatan dalam kesempitan.
[cuplikan]
***
" Loh kak? Kok Vela dibawa kesini? Kak Derent mau nyulik Vela ya?" tanya Vela curiga saat menyadari bahwa yang dilalui bukan rute menuju rumahnya.
" Siapa juga yang nyulik lo, gua mau ke mall dulu nih !" ucap Derent sedikit berteriak agar didengar oleh Vela, maklum suara angin di jalan cukup kencang saat itu.
" Mau ngapain kak?" tanya Vela kepo dengan nada sedikit berteriak.
" Mau beliin papa Gua kado! Pokoknya, lo ngikut aja deh !" teriak Derent sambil sesekali melirik Vela di kaca spion. Vela tak menjawab dan hanya mengangguk.
Mereka kini tengah berada di salah satu mall daerah Ciputan. Suana disini juga masih terasa panas, mengingat siang siang bolong begini siapa saja pasti akan berkeringat. Begitu pula yang dirasakan Vela dan Derent panas gerah dan berkeringat.
" Yuk sini," ajak Derent kepada Vela. Vela pun hanya membuntuti pria tersebut sampai di sebuah toko jam tangan.
" Mbak liat yang jam itu dong! " seru Derent kepada mbak mbak penjaga toko.
" Ya dik, sebentar," jawab mbak mbak itu sambil mengambil salah satu jam tangan berwarna rosegold itu.
" Gimana menurut lo Vel? Bagus gak?" tanya Derent sambil memandang wajah Vela.
" Emm bagus kak! " seru Vela sambil mengacungkan ke dua ibu jarinya.
" Ya deh saya ambil yang ini mbak!" kata Derent sambil menyodorkan kembali jam tangan tersebut.
" Yuk Vela, sekarang kita nyari wadah buat kado jam tangan ini," ucap Derent sambil mengenggam tangan Vela lalu menariknya untuk beranjak pergi menuju tempat lain.
Melihat hal itu, Vela membeku di tempat tanpa ekspresi dan hanya memandang tangannya yang digenggam Derent.
__ADS_1
Merasa Vela yang kaku, ia menoleh kebelakang dan menatap tangannya yang menggenggam tangan Vela, merasa tak nyaman ia melepas genggamannya.
" Eee, yuk Vel !" seru Derent sambil menampilkan senyum getirnya. Vela hanya mengangguk pelan. Lalu mereka berjalan berdampingan.
Mereka sampai di tempat aksesoris dan funiture, Derent mencari apa yang dibutuhkan seperti bungkus kado dan pita kecil sebagai hiasan.
" Kak Derent, liat bingkai fotonya bagus ya?" kata Vela sambil melihat sebuah bingkai polaroid.
" Iya bagus," balas Derent.
" Kak Derent, punya gak foto sama ayah kakak?" tanya Vela tiba tiba sambil menatap wajah Derent.
" Kayaknya ada sih di gedget," jawab Derent yang masih sibuk melihat lihat pita dan bungkus kado.
" Vela punya ide kak !" seru Vela semangat.
" Hah?" sahut Derent heran.
" Ya kak, gimana kalo nanti kita ke tempat cetak foto terus bingkai aja foto kak Derent sama ayahnya kakak, kasi hiasan dikit terus kasi tulisan dibawah foto, gimana?" tanya Vela meminta pendapat. Derent sepertinya mulai tertarik terhadap ide Vela tersebut.
" Idih sampe merah gitu pipi lo, hahahahaha." lanjut Derent sambil tertawa kecil. Sontak hal itu membuat Vela semakin blushing dan kini ia hanya menunduk.
Setelah usai di toko hiasan dan menyelesaikan pembayaran, Vela dan Derent kemudian pergi ke tempat cetak foto. Di tempat cetak foto tersebut Vela yang memilih foto Derent bersama papanya, ia juga yang akan berinisiatif untuk menghiasanya.
Sungguh gadis kretif, begitulah pikir Derent sambil memerhatikan Vela menghias dan menambah tulisan di komputer milik tukang print foto. Lalu mereka pergi dan kembali mejanjutkan perjalanan
" Lo laper gak?" tanya Derent yang tengah mengendarai motornya.
" Sedikit kak," ucap Vela jujur.
" Makan yuk?"
" Gak usah kak, sampai rumah aja Vela makannya, " jawab Vela menolak ajakan Derent dengan sopan.
" Gakpapa kalik, yuk lo ngikut aja !" lanjut Derent agar Vela bisa ikut dengannya. Disatu sisi Vela hanya pasrah lalu terdiam.
__ADS_1
" Maafin Vela kak, Vela selalu nyusahin kakak," ucap Vela sendu mersa tak enak dengan Derent.
" Sante aja sama gua, gak usah minta maaf, lo gak ada salah sama gua, gua yang justru minta maaf karena selalu maksa lo buat ikut, tapi gakpapa kan? " ucap Derent sedikit berteriak.
" Iya kak, gakapa apa," sahut Vela. Lalu mereka menuju sebuah cafe untuk makan siang bersama, menurut Derent ini merupakan hari yang indah bersama Vela.
Entah apa yang membuatnya nyaman bersama Vela. Tapi Vela merasa ada yang aneh dalam dirinya dia merasa lebih tenang dan kadang gugup jika didekat Derent.
Setelah selesai di cafe itu, mereka kembali melanjutkan perjalan untuk pulang, terlebih dahulu Derent mengantar Vela ke rumahnya.
Tak ada percakapan diantara mereka. Sampai tiba di dekat rumah Vela, Derent membuka sedikit pembicaraan diantara mereka.
-
-
-
-
Tapi apa sih hubungan mereka berdua?
Apa mereka akan pacaran?
Atau Derent yang memberi harapan berlebih?
Atau mungkin saja Vela yang kebaperan?
Entahlah hanya dua hati itu yang tau kepastian selanjutnya.
Really? Gimana menurut readers?
...Kasi vote dan komentarnya ya jangan lupa follow author. Follow juga sosmed author ya....
__ADS_1
...Terimakasih:)...