
Arthit sudah sangat rapi dari rumah, ia jarang sekali melepas jas nya, kali ini ia melepas jas nya dan hanya mengenakan kemeja cream dan celana hitam, ia berpamitan kepada Max dan juga Eva yang tengah berbincang di ruang tamu, "Ma, Pa, Arthit pamit pergi dulu ya, ada janjian makan siang"
"Ooo tentu saja boleh, kalau bisa malamnya bawa dia kerumah, bukan begitu ma?" ujar Max sumringah
"hehhe iya nak, papa kamu benar, kalau bisa dan serius bawa saja makan malam dengan kita, kita juga bisa menilai dia benar-benar serius atau tidak" timpal Eva
"Iya, Arthit usahakan segera ya, bye" seru Arthit yang mempercepat langkahnya sebelum kedua orang tuanya meminta hal yang aneh-aneh, karena jujur saja Arthit juga belum terlalu nyaman jika langsung ke hubungan yang serius, dia mau lihat dulu bagaimana sifat Leony sebenarnya, tak menunggu lama Arthit sudah tiba di Restaurant tersebut,ia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Leony, ternyata dia ada di meja tengah, segera Arthit menemuinya
"Hai, maaf ya menunggu lama, tadi ada sedikit urusan, kamu udah mesen makan atau minum mungkin?" ujar Arthit basa-basi"
"Hai, belum kok aku juga baru aja sampai, kita pesen barengan aja kan namanya makan bareng masa aku duluan yang makan" timpal Leony ddan memanggil pelayan restaurant
"Permisi ada yang bisa dibantu?" tanya sang pelayan
"Mba kita mau mesen, saya mau carbonara satu sama ocean blue satu"
"Ada lagi pesanan lainnya?"
"Emm, saya mau steak satu sama orange osaka satu" timpal Arthit
"Baik saya ulangi ya pesanannya, carbonara satu, ocean blue satu, steak satu sama orange osaka, mohon maaf steak nya mau pakai sauce apa pak? mau komplit atau pakai mushroom saja, kalau mau komplit kita ada kena biaya lagi yah sebesar 4$ bagaimana bapak?" ucap sang pelayan
"Mau komplit aja deh, soalnya saya ngga bisa makan mushroom" jawab Arthit
__ADS_1
"baik, mohon di tunggu pesanannya yah, terimakasih" ujar sang pelayan lalu pergi
"Pinter banget yah pelayannya up selling hahaha" ujar Leony
"Ya itu kan sudah biasa seperti itu, aku lebih suka sih sama pekerja yang seperti itu jadi mereka menawarkan produk lain di luar produk yang dibeli, kalau pelanggan suka ya dibeli kalau ngga tiggal bilang ngga kan" kata Arthit santai
"benar sih, tapi kan kalau kita ngga mau beli jadinya ngga enak kalau nolak dan terpaksa si pembeli harus beli" jawab Leony lagi
"ahh sudahlah kita lupakan saja itu, kamu tadi naik apa kesini?" tanya Arthit berusaha mengalihkan topik
"Tadi naik taxi sih soalnya mobil aku lagi di bengkel jadi aku naik Taxi aja kesini" gumam Leony
"yaudah nanti bareng aku aja ya pualngnya"
sepuluh menit kemudian di tengah obrolan mereka yang makin asik, pesanan mereka tiba, mereka menikmati makanan yang datang sambil ngobrol asik berdua
"hei, apa yang kalian lakukan disana" teriak salah satu dari mereka dan berlari ke arah Chaow dan Nadine, dengan sigap Cahow menarik tangan Nadine agar segera pergi, mereka membuat kericuhan di pasar karena aksi kejar-kejaran, setelah merasa cukup jauh dari ketiga pria tadi akhirnya mereka berhenti berlari
"Huh, apa yang kita lakukan disini, main kejar-kejaran seperti di serial TV? kamu membuat keadaan kacau, huhh sudah ayo kita pergi saja sekarang hari mau hujan nanti kita ngga bisa lewat " ujar Nadine ngos-ngosan
"Iya maafkan aku, aku juga tidak tahu mengapa mereka mengejar kita" gumam Chaow seperti tidak tahu apa-apa
Keduanya menuju parkiran motor lalu segera pulang ke desa
__ADS_1
Gabriel dan Cloe sedang melakukan aksi bersih-bersih ruangan tidur, sebagai anak kesehatan tentunya mereka risih jika keadaan kamar tidak nyaman, keduanya asik bongkar-bongkar tempat tidur dan memindahkan beberapa gantungan baju yang tidak beraturan, saat memindahkan jaket, ada benda jatuh dari jaket tersebut yang tak lain adalah kartu identitas, Cloe segera meraihnya berniat untuk mengembalikan ke jaket tersebut, namun ia tidak sengaja melihat identitas pemilik kartu, sontak ia kaget melihat apa yang sebenarnya "Oh my god!" seru Cloe,
"Kenapa? ada apa, ada ular? mana? woii mana" teriak Gabriel ketakutan
"Nooo, let see" ujar Cloe menyerahkan kartu identitas itu
"Ha, Kapten Chao Max!, dia ternyata seorang pembohong, dia menipu kita selama seminggu apa dia gila, apa sebenarnya yang dia mau, kita harus segera memberi tahu Nadine bahwa Chaow adalah seorang intel kepolisian" geram Gabriel mengepalkan tangannya
"Haiii kami datang" teriak Nadine dari luar
"Ayo kita temui mereka" ujar Gabriel kepada Cloe, lalu mereka keluar dengan wajah datar dan kesal
"Nadine, kamu seharusnya tidak berteman dengan pembohong itu" seru Gabriel, menunjuk ke arah Chaow yang belum tahu apa yang terjadi
"Why me?" seru Chaow tak terima
"Iya bener kamu, seorang polisi intelejen yang menyamar menjadi mahasiswa KKN disini, apa yang sebenarnya kamu mau sehingga kamu berbohong kepada kita semua disini?" ujar Cloe geram
"apa-apaan ini, maksud kalian apa?" tanya Nadine yang masih kebingungan
"Ini, kamu harus lihat ini" kata Gabriel seraya menyerahkan kartu identitas kepolisian milik Chaow
Melihat kartu identitsnya yang ada di tangan mereka, Chaow hanya diam tak berkutik
"apa ini, coba kamu jelaskan Chaow, kamu seorang polisi? jadi selama ini aku membantu seorang polisi yang penipu" ujar Nadine dengan nada kesal
__ADS_1
"aku harap kamu bisa jelaskan semua hari ini ke pak Ago, kalau kamu memang benar seorang yang bertanggung jawab kamu akan selesaikan masalah ini segera dan pergi dari desa ini, kamu hanya sebagai pengacau saja disini" ucap Nadine lalu pergi dengan mata yang sendu
\````