
Seperti yang sudah di perintahkan oleh tuan Max kepadanya, pagi buta Nadine sudah sibuk di dapur, ia memasak makanan yang ada di daftar menu yang sudah di tentukan oleh tuan Max selama sebulan, di hari pertama dia membuat Baquette atau french bread dan garlic bread sebagai sarapan pagi ditambah cream soup, setelah dua jam kurang lebih ia di dapur, tepat jam enam semua sudah terhidang di atas meja makan, dengan cepat Nadine segera mandi dan berdiap-siap untuk pergi ke kampus sebelum nanti sarapan pagi pada pukul setengah tujuh pagi di meja makan bersama dengan seluruh anggota keluarga.
Nadine masuk ke dalam kamar, ia melihat Chaow Max yang maish tertiur pulas dibalut dnegan selimut tebal di bawah lantai, "Chaow, bangun, bangun, heiii, sudah jam enam pagi, apa kamu tidak berangkat kerja hari ini?" seru Nadine yang sedikit kesusahan membangunkan Chaow.
"Dasar lelaki, taunya hanya tidur saja, apa dia tidak lihat aku sudah sibuk di dapur dari pagi-pagi buta" gerutu Nadine, ia mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Saat ia sedang sibuk mandi, ternyata di sebelah ada Chaow yang sedang cuci muka dan gosok gigi, karena kamar mandi mereka di desain terpisah dan dibatasi oleh dinding kaca yang blur, jadi jika ada orang yang sedang mandi, hanya kelihatan kaki dan kepalanya saja,"Huaaaaaa! sedang apa kamu disini" teriak Nadine buru-buru megakhiri aktifitasnya, ia mengambil bath towel lalu keluar.
"Aku nanti telat jika harus menunggumu selesai mandi, lagian aku tidah melihat semuanya, walaupun aku lihat kan gapapa, secara hukum dan agama kita itu resmi menikah" ujar Chaow santai.
"Dasar!" umpat Nadine dengan ekspresi jijik.
Kini semua anggota keluarga sudah berpakaian rapi dan siap untuk melakukan sarapan di ruang makan, Nadine menujukkan ekspresi memuaskan melihat menu yang sudah terhidang di atas meja makan, semua ikut kagum dan tidak sabar untuk mencoba masakan tersebut, berbeda dengan Tuan Max,ia memasang wajah yang kesal, seolah-olah ia tidak terima keberhasilan Naidine kali ini.
"Wah, kalau begini kita kan semakin semangat untuk berangkat kerja" seru Arthit.
"Iya dek, kamu juga akan semangat berangkatnya sayang" sambung Diana mengelus bahu Ahlan lalu duduk bersamaan.
Mendengar semua pujian-pujian yang di berikan oleh anak dan istrinya, tuan Max hanya diam lalu duduk di bangkunya.
__ADS_1
"Ayah, kamu mau makan apa dulu, biar saya ambilkan" ujar Nadine lembut dan bergegas berdiri melayani ayah mertuanya, lagi-lagi dia dia dapat penolakan dari tuan Max.
"Tidak usah, urus dirimu sendiri" jawab tuan Max singkat.
Melihat sang istri yang diperlakukan sedemikian rupa oleh ayahnya, Chaow berusaha untuk menutupi perasaan kecewa Nadine, "Sayang, tolong ambilkan aku cream soup buatanmu, aku ingin rasakan lembutnya setiap suapan di dalamnya seperti perlakuanmu setiap malam kepadaku" ujar Chaow tersenyum.
Mendengar ucapan Chaow semua anggota keluarga tersenyum geli mendengar hubungan suami istri mereka, tak segan-segan Nadine menginjak kaki Chaow yang sedang menggodanya habis-habisan.
"Sudah-sudah! lanjutkan makan kalian, jangan terlalu banyak mengoceh, kita sebentar lagi amu pergi kerja" timpal Tuan Max.
Seperti biasa, para suami pergi berpamitan dan diantar oleh istri ke depan pintu, diawali dari tuan mAx dan nyonya Eva lalu anak-anaknya, lagi-lagi Chaow memamerkan kemesraan mereka di depan kakak dan kakak iparnya, "Sayang, aku berangkat dulu ya, kamu jangan nakal, cukup setiap malam saja kamu nakal, ingat, jangan lupa makan dan jaga dirimu baik-baik, aku mencintaimu" ungkap Chaow lalo mencium kening Nadine, bukan hanya iparnya saja yang kaget dan senyum, Nadine pun hanya menganga atas perlakukan Chaow barusan kepadanya, rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut Chaow yang begitu lemes.
"Wahh, pengantin baru memang ada aja yang mau di tunjukkan, kamu tenang saja Chaow, istrimu aman bersama ibu di rumah, lagian kan dia nanti kuliah dulu, kamu perlu mengantar dan menjemputnya setiap hari jika jadwal kalian bersamaan" timmpal Eva.
Di dalam mobil, Nadine sudah tidak tahan untuk mengahajar Chaow yang seenaknya memeperlakukannya se[erti itu di depan keluarga, "Apa maksudmu bicara begitu, dengan kamu memperlakukan aku seperti itu, ayah akan semakin benci kepadaku, sudahlah Chaow, jangan menambah beban pikiranku lagi, apa kamu tidak kasihan melihatku" umpat Nadine dengan segala kekesalannya.
"Aku hanya berusaha membuatmu merasa terlindungi dan tidak sendiri, jika aku tidak memperhatikanmu maka mereka akan curiga dan ayah akan semena-mena terhadap kamu, yang ada aku akan di jodohkan lagi" jawab Chaow
"Huhhhh, sudahlah, aku masuk dulu ya, terimakasih, hati-hati di jalan" ucap Nadine lalu kelruar dari mobil Chaow karena mereka sudah tiba di depan gedung kedokteran.
__ADS_1
"Hanya itu saja yang dia ucapkan, dia tidak ada mengucapkan tanda kasih sayang kepadaku" timpal Chaow kebingungan lalu melajukan mobilnya untuk pergi ke kantornya.
Di desa Whitestone, Cloe dan Gabriel begitu merindukan sosok Nadine yang begitu ceria, semangat, tidak pernah mengeluh, bahkan dia tidak pernah membawa suasana hatinya ke dalam pekerjaan, dia selalu ramah kepada setiap pasien sehingga banyak masyarakat yang semangat untuk berkonsultasi ke puskesmas, hal tersebut menjadi sebuah kemajuan di desa Whitestone yang dulunya, jauh dari kata bersih dan sehat, sekarang air bersih mudah di dapatknya karena berkat anak-anak kesehatan, obat-obatan juga terpenuh bagi setiap masyarakat.
"Cloe, apa Nadine tidak akan pernah ketemu kita lagi ya" ujar Gabriel dengan tatapan kosong ke depan, mereka sedang duduk di tepi sungai yang jernih.
"Aku yakin dia akan kesini lagi, karena desa ini adalah tempat pengabdiannya pertama, dia tidak akan lupa" jawab Cloe.
"Kita hanya dua bulan lagi disini, akan ada gantinya yang baru, aku rindu dengan suasana desa ini nantinya, masyarakatnya ramah sekali bahkan pak Ago juga sangat senang kita berada disini" tutur Gabriel memainkan air dengan kakinya.
"Ehhh, ya kalau galau ya galau aja, ngga usah nendang air ke atas juga ege, kena muka gua nih, udah pakai skincare ntar luntur lagi' ujar Gabriel menjauh.
Karena tidak terima dengan penolakan Cloe , ia memainkan air dengan kakinya dan menciprat kemana-mana, kini keduanya saling siram-siraman hingga membuat keduanya basah kuyup.
"Cloee! Cloe!" suara seorang pria tengah memanggil nama Cloe
Ternyata pak Ago yang sedang menghampiir mereka berdua, "Ada apa pak?" tanya Cloe tersenyum.
"Kalian sedang apa di sini, itu tolong bantu yang lain, ada pasien demam tinggi dan matanya tidak bisa ditutup, sepertinya dia stek" ujar pak Ago dengan panik.
__ADS_1
"Stek? sepertinya dia buka stek pak, tapi Step" ucap Gabriel pelan.
"Udah ayo buruan, bukan saatnya untuk latihan mengeja!" ucap Cloe.